10 Safar 1443  |  Sabtu 18 September 2021

basmalah.png

Banjir Jeddah, Azab Atau Bukan?

Beberapa pihak menolak bahwa banjir di Jeddah yang menyebabkan 116 orang meninggal dan ratusan rumah serta kendaraan rusak karena arus air bah, merupakan bencana yang disebabkan karena dosa. Hal ini merespon adanya pernyataan dari salah satu tokoh Saudi yang melarang perbuatan kemungkaran terang-terangan dan memperkuat peran Badan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar , serta menggiatkan dakwah, karena sesungguhnya dosa-dosa dan maksiat adalah sebab terbesar turunnya bala’. Hanya saja alarabiya.net tidak menyebutkan, siapa tokoh yang dimaksudkan.

Khalaf Al Harbi, seorang penulis Saudi, menanggapi pernyataan itu. Ia berpendapat agar semua pihak berkonsentrasi dalam menangani bencana. Tidak ada orang yang tahu berapa banyak jumlah korban meninggal dan di sisi Allah mereka tergolong syuhada’.

Ia juga menyebutkan bahwa sebagian pihak yang tertimpa bencana adalah para da’i dan orang-orang miskin.

“Saya menilai hal itu adalah terorisme pemikiran dengan memanfaatkan nash-nash agama. Lebih baik mereka bergabung dengan para relawan guna melakukan pertolongan,” katanya.

Tidak hanya menolak pernyataan pihak yang menghubungkan antara perbuatan manusia dengan bencana Jeddah, bahkan ia berpendapat bahwa pelakunya perlu ditindak.

“Harus diambil tindakan, dan perlu adanya sanksi, karena hal itu merupakan tindakan salah. Para korban saat ini perlu mendapat dukungan, bukan malah melakukan tuduhan terhadap perilaku mereka.”

Hal yang sama disampaikan oleh Shalih At Thariqi, yang juga penulis Saudi. Ia tidak setuju terhadap beberapa pihak yang menilai bahwa “banjir Jeddah” disebabkan perbuatan penduduknya.

“Saya yakin, mereka akan menolak, kalau salah satu di antara mereka mendapat musibah dalam keluarganya, kemudian ada yang mengatakan kepadanya bahwa musibah itu datang karena maksiat dan kefasikan!”

Sama dengan pendapat sebelumnya, ia menginginkan agar mereka yang menuduh pihak lain berbuat kerusakan harus bisa mendatangkan bukti, atau dikenakan hukuman.

Sedangkan Idris Ad Durais, yang juga penulis Saudi, tidak menampik adanya niatan baik dari pihak yang mengatakan bahwa bencana yang terjadi disebabkan ulah manusia. Akan tetapi ia menilai, mereka tidak tepat dalam memilih cara.


[tho/arb/hidayatullah.com]