pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


4 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 14 Juni 2021

Berjalan Menuju Surga Dunia

Perjalanan ke surga dunia, sampai kapanpun, relung2 indah pengalaman menuju ke tanah haram itu tidak akan pernah kulupakan..sampai kapanpun. Sungguh indah, langit itu seperti kulihat juga ikut bersujud untuk-Nya, bersih sekali, hingga awan bahkan bintang malam pun enggan untuk menginjakkan kakinya pas di atas poros bumi batu hitam itu

...pada saat itu hawa yang kurasakan panas, tidak terlalu panas, tapi panas.... Entah kenapa aku merasa ingin sekali tinggal di sini, ingin selamanya berada di sini...suasana sejuk hawa panas itu dengan sentuhan rendah para pembaca Quran memikat hatiku. Aku sedih...

Banyak sekali orang-orang...

Mereka semua sujud...!!!, puluhan, ratusan, ribuan bahkan hampir jutaan orang-orang itu bersujud..ke satu titik yang sama. Aku tidak kenal mereka semua, mereka semua berbeda. Hanya satu yang aku pikir menyamakan mereka, mereka takbiratul ihram, ruku, sujud di waktu yang bersamaan dan berbarengan. Aku melihat jamaah itu layaknya...akh air mata ku hampir saja menetes...!!!, aku melihat diriku yang kadang juga lalai beribadah dikeseharianku...

Jujur saja..., pertama kali meihat kabah, ya kotak hitam itu, aku tidak merasakan apa2, bahkan sempat terbersit "kok cuma begini ya....", sungguh aku tidak merasakan apapun. Hingga akhirnya aku melakukan sholat2 sunnah yang aku pikir sebagai suatu keharusan jika ingin mendapatkan pahala lebih, hanya itu. Kulanjutkan dengan sholat Fardhu..yang katanya pahalanya akan dilipatgandakan, kemudian sedikit kubaca mushaf agung itu. Sebelumnya aku sudah memakai pakaian "ihram" dimana banyak sekali pantangannya, hati dan semuanya sudah kupersiapkan. Tapi yang kurasakan hanya rutinitas ibadah saja..."Ya Allah, begitu dzalimnya kah hamba hingga tidak dapat merasakan indahnya nilai ibadah di rumah yang engkau banggakan, sudah tertutup kah hati hamba dengan segala urusan dunia hingga tidak dapat meraskan lagi ketika begitu banyak orang membacakan Takbir, Tahmid dan Tasbih untuk Mu...Ampunilah hamba Ya Allah...!!!".

Ku mulai langkah pertama melakukan putaran itu..."Thawaf" mereka menyebut putaran itu, yang katanya harus dilakukan sebanyak tujuh kali. Subhanallah, banyak sekali orang2 itu melakukan putaran, mereka berdoa, bertakbir, bertahmid dengan yakinnya...aku pun hanya mengikuti. Inikah, disinikah aku..tepat di tengah kota yang katanya akan hancur paling akhir ketika bumi diangkat dari peredarannya, dimana semua amal mulai diperhitungkan, ketika akhir dari kita semua.

Dan aku masih melakukan putaran itu...sambil melakukan putaran itu aku berdoa, berdoa u semuanya, u keluargaku, teman2 ku baik yang menitip atau tidak menitip doa..aku berdoa sebanyak mungkin, benar-benar banyak, bahkan sangat banyak. Aku meminta semuanya. Permintaanku sangat banyak...Ya Allah kabulkanlah doa hamba. Amiin. Tapi aneh....aku tidak menangis, biasanya ketika aku mengingat ibuku, apalagi berdoa untuknya aku tidak pernah tahan u tidak menangis. Ini sungguh lain aku tidak menangis...hingga terus kulanjutkan putaran itu. Shubuh itu benar-benar berbeda...hingga akhirnya aku menoleh ke kiri, ke batu itu, kemudian aku melihat banyaknya orang menghimpitku dengan doa mereka, pada akhirnya aku melihat ke atas, ya ke langit....Ya Allah sungguh ampunilah hamba. AKu menangis..aku tidak peduli lagi pada orang2, pada kotak hitam itu, pada hajar aswad, pada rukun yamani. Aku hanya menangis, dan tangisku besar...Aku merasa pada saat itu aku dekat, aku terus berdoa, dan juga terus menangis, juga terus berputar. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar....!!!

Aku masih saja menangis....kemudian adzan shubuh berkumandang, adzan itu seperti cambuk yang memecut hatiku, hatiku bergetar luar biasa...inikah yang disebut Iman. aku terus berdoa, hingga akhirnya sholat shubuh dimulai. Setelahnya kubuka sejenak mushaf kecil pemberian kakak ku, mulai kubaca ayat demi ayat, tak terasa, aku kembali menangis...aku ingin sekali menangis meraung2 pada saat itu, tapi aku malu...Ya Allah ampunilah hamba...Itu semuanya sungguh mengharu biru perasaanku...perasaan di hari pertama di tanah HAram.

Andai saja keluargaku dan teman2 semua bisa juga hadir ke sana..., merasakan apa yang di rasakan. Sejenak akhirnya merasakan titik Tuhan di hati....

Medinah, Mesjid Agung Nabawai itu benar indah, bukan hanya karena besarnya. Tapi kurasakan ini tempat terdamai ke 2 di dunia setelah Baitullah. Sayang aku tidak bisa melepaskan tidur lelah ku di sini, seperti yang biasa kulakukan di MEkah. Mesjid ini ditutp pukul 11 malam (aku pun masih tidak membenarkan alasan ini...kenapa ditutup). Banyak sekali orang2 membaca Quran, oh suara itu seperti nyanyian para penghuni surga. Aku merasa damai dan tenang...aku berfikir banyak di sini, berfikir tentang semuanya, hingga tak terasa banayk juga doa yang kuminta disini. Ah tidak papa lah, semoga Ia Yang Maha Kuasa mengabulkannya....

Aku duduk lama sekali di pilar tengah mesjid iini...sungguh aku tidak ingin bangkit jika saja teman2 ku tidak memanggilku...

Sengaja aku bangun jam 2 pagi ingin merasakan hawa dingin MEdinah dengan Tahjud kecilku...ditengah penantianku menuju Shubuh. Hanya Mushaf kecil pemberian kakak itu yang menjadi teman pahala menunggu datangnya waktu dimana pembuktian Iman umat Islam, Shubuh. Tak terasa aku baca berjam2 Quran itu hingga tak terasa ada kakek Turki yang sedari awal memperhatikanku, ia tepat duduk di sebelahku, ternyata ia tidak kuat sholat dalam keadaaan berdiri. Hei..ia mengajakku berbicara, tapi sayang aku tidak mengerti apa yang ia katakan..terang aku tidak membalas perkataannya. Hanya senyum kecil pemberian Tuhan yang akhirnya kumanfaatkan sebagai tali silaturahmi kami. Di akhir pertemuan kami ia mengusap kepalaku seraya memberikan doa indahnya untukk...Amiin, kuucapkan dalam hati. Y Allah ada oarang tua di Nabawi yang baru saja ku kenal, tapi seperti ku anggap kakek ku sendiri. Inikah yang disebut "Ukhuwah ISlamiyah.

Sungguh, andai saja aku kuat untuk memilih, andai saja aku kuat meninggalkan kehidupanku yang sedang kujalani, aku ingin sekali tinggal entah itu di Mekah atau MEdinah. Dua MEsjid besar itu seperti tempat pemberhentian ibadah hati...

Semoga relung2 di tempat itu, menjadi tameng kuat, pelindung iman, akan hati yang lemah ketika aku balik ke kehidupanku...ketika tidak ada lagi teman pengingat kebaikan, semoga pengalaman2 itu menyadarkanku....Ya Allah aku berdoa padaMu dengan segala imanku..Pelihara dan jagalah hambaMu ini....

Amiin. Segala doa kubersembahkan untuk teman2 yang membaca tulisan ini...semoga juga bisa merasakan...

[Jutomo/eramuslim.com]