fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Monopoli Penafsiran

Fiqhislam.com - Banyak hal getir dalam sejarah umat Islam. Tapi, kalau kita bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, maka yang paling getir adalah monopoli penafsiran teks-teks agama oleh para penguasa. Pada tahun 820-an M., khalifah ketujuh Dinasti Abbasiyah, al-Ma'mun, menganut pemikiran kelompok Mu'tazilah bahwa Alquran adalah makhluk; diciptakan dan tidak azali.

Namun, Ahmad bin Hanbal berpandangan lain: Alquran adalah kalam Allah, yang menyatu dengan Zat-Nya. Karena itu, Alquran tidak sama dengan bumi atau ciptaan Allah yang lain. Ia adalah abadi dan azali.

Yang direkam oleh para sejarawan bukan soal Alquran makhluk atau kalam Allah. Perbedaan pandangan tersebut mungkin penting. Tapi, yang lebih penting untuk dicatat adalah betapa getir beban yang dipikul oleh Ahmad bin Hanbal akibat monopoli penafsiran teks-teks agama oleh penguasa.

Al-Thabari dan al-Dzahabi dalam karya mereka mencatat rentetan kegetiran Ahmad bin Hanbal dengan ''tinta merah'' dan air mata. Sementara al-Maqrizi menceritakan, ''Ketika masyarakat Baghdad merindukan fatwa-fatwa Ahmad bin Hanbal, al-Mu'tashim dan al-Watsiq (dua khalifah Abbasiyah pasca al-Ma'mun) justru memenjarakan dan menyiksanya di hadapan khalayak.''

Ahmad bin Hanbal adalah bintang kejora intelektual pada eranya. Tapi, al-Mu'tashim dan al-Watsiq tak bersikukuh. Atas nama penafsiran yang dianggap paling benar, siapa pun yang menyuarakan penafsiran berbeda harus disingkirkan. Para penguasa Abbasiyah itu barangkali lupa, bahwa penafsiran yang dipaksakan melalui pedang dan kekuasaan, maka itu adalah korupsi terhadap kebenaran.

Monopoli penafsiran seperti ini memiliki senarai panjang, dan bisa terulang kapan saja dan di mana saja. Pada kasus Ahmad bin Hanbal, khalifah ke-10 Dinasti Abbasiyah, al-Mutawakkil, akhirnya harus mengakui kesalahan pendahulu-pendahulunya dan menghapuskan monopoli penafsiran yang pernah mereka paksakan. Dan mayoritas kaum Muslim, selepas pertengahan abad ke-9 itu, memenangkan pandangan Ahmad bin Hanbal dan faksinya bahwa Alquran adalah kalam Allah, bukan makhluk.

Barangkali, bagi Ahmad bin Hanbal, pengakuan atas kesalahan masa lampau tersebut tidak berarti banyak. Betapa terlambat dan percuma. Tetapi, betapa hal itu tetap sangat berarti bagi kita, bahwa penafsiran atas teks-teks agama tak pernah boleh dimonopoli. ''Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendakinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.'' (QS Ali Imran [3]:13).

Oleh Abdullah Hakam Shah MA
republika.co.id