fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Salam Perjuangan Mujahid dari Balik Terali Besi

Kepada para sahabatku seperjuangan dan para mujahid muda di bumi Indonesia yang kucintai karena Allah.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Subhanallah, segala puji bagi Allah yang kitab-Nya menerangi hati. Shalawat dan salam buat pimpinan mujahidin, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

Dengan izin Allah, aku dapat menulis ini untuk sahabat-sahabat yang kucintai karena Allah. Puji syukurku kepada Rabbul ‘Izzati, yang memberikan kekuatan berupa kesabaran dan keistiqamahan untuk diri ini, dalam melalui setiap detik waktu di mana kebebasanku dirampas oleh para thaghut yang mereka hanya takut kepada manusia selain Penciptanya. Semua rahmat Allah ini, berupa ujian dan sebagainya, kujadikan sebagai bekal di akhirat nanti. Jalan jihad yang kupilih selama ini adalah jalan terbaik yang kurasakan, walau kadang ada saja bisikan syetan yang berusaha membuatku lemah, namun shalat dan taqarrub ilallah bisa mengusir segala bentuk kegundahan ini.

Subhanallah, hampir 5 bulan aku di sini. Hari-hari sulit itupun berlalu, yang ada sekarang ketenangan dan ketenteraman. Selama ini aku selalu merasakan bahwa setiap perjuangan jihad yang kita tempuh harus ada duri-duri yang menghalang, namun perhatikanlah wahai mujahid dan mujahidah para sahabatku, di saat engkau meridhai dan selalu ikhlas dalam segala hal yang menimpamu, kau akan selalu merasa dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala, walau kadang air matamu harus menetes di pipimu, lalu mengalir, sedang hati mu bak dicincang-cincang oleh pisau-pisau sehingga membuat sesak di dadamu dalam menahan segala kepedihan oleh siksaan dan hinaan para musuh-musuh dien ini. Demi Allah, badai pasti berlalu, Allahu Akbar! Indahnya berjuang di jalan Allah, kenapa kau harus takut dan mundur! Setiap jihad yang kau tempuh, semuanya akan berakhir dengan kemuliaan.

Wahai para pemuda-pemudi, mujahid dan mujahidah fisabililah…

Sedang apa kalian di luar sana? Apa yang kalian cari untuk hidup di dunia yang fana ini? Untuk siapakah kalian hidup? Apa yang telah kalian korbankan buat agama Allah ini? Masihkah kalian berkutat dalam sebuah permasalahan yang tidak ada habisnya dengan berdebat kusir dan saling menyalahkan? Apa kalian tidak malu dengan musuh-musuh dien ini, padahal mereka telah mempersiapkan kekuatan mereka untuk menghabisi kalian dan kehormatan wanita-wanita muslimah di luar sana? Hasbunallah wani’mal wakiil.

Ikhwani wa akhwati rahimakumullah

Kita semua bisa berbicara apa saja dengan apa yang ia miliki dari sedikit ilmu yang ia teguk dengan mempelajarinya. Namun apa itu sudah cukup untuk menjadikanmu mulia? Sebanyak mana ilmu yang kau miliki, sehingga kadang kau merasa lebih baik dari orang lain? Hati yang bersih putih itu bisa menjadi hitam gara-gara kau menyombongkan diri dengan kehebatan yang kau rasakan, dengan merasa yang paling benar di muka bumi ini. Sungguh ironis, bila ada manusia yang tidak pernah tawadhu’ dengan ilmu yang Allah karuniakan. Apa sih manfaatnya menjadi manusia takabur, hatinya penuh kedengkian, serta tidak suka sahabatnya merasakan kegembiraan, dan ia lebih suka menggunjing dan menebar fitnah sehingga membuat manusia lain terjerumus ke dalam api neraka! Apa ini akhlak pemuda dan pemudi yang mengaku berjihad di jalan Allah? Sedangkan ia belum pernah diuji dengan kesusahan dan kesulitan.

Hati ini kadang perlu nasihat dan teguran agar tidak lalai. Motivasi dan tahridh insya Allah bisa membuat hati yang keras menjadi lembut. Semua ini perlu keikhlasan. Demi Allah, aku sedih bila ada di antara sahabat-sahabat yang kukenal atau tidak, terjebak dalam hal-hal yang semestinya ia tidak perlu jatuh di dalamnya.

Mungkin kadang kalian merasa aneh, kenapa aku agak sedikit emosi dan kasar dalam mengutarakan berbagai bentuk perkara, dari hal tahridh dan motivasi. Demi Allah, karena aku adalah pemuda seperti kalian, yang juga merasakan segala hal kesulitan dalam setiap tindakan yang terjadi. Kegelisahan terhadap hal-hal yang terjadi pada umat ini, sehingga kadang melihat kezaliman-kezaliman yang terjadi di muka bumi ini membuat kita semua menjadi pemuda-pemudi yang peka zaman dan tampil menjadi sosok militan yang kadang saja melebihi orang-orang yang berpengalaman dalam hal itu.

Dari sederet hal dan masalah dalam perjuangan ini, Allah subhanahu wa ta’ala, memberikan aku sedikit ilmu, yang aku berharap ilmu ini bisa bermanfaat buat mujahid-mujahid muda di luar sana. Semoga semua nasehat dan motivasi yang bisa kusampaikan ini bisa membuat kalian lebih dewasa untuk menghadapi segala rintangan dalam membela agama Allah ini. Tujuan yang mulia ini tidaklah mudah saudaraku, bahkan cita-citaku ingin menjadi pemuda pengukir sejarah dengan darah, yang pastinya dengan dakwah dan jihad. Namun semua ini bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ia butuh banyak pengorbanan, jiwa raga, darah, dan segalanya.

Ikhwani Fillah…

Selalu sebelum ini, aku sering menyampaikan betapa pentingnya persatuan dan ukhuwah, serta aqidah. Ilmu dan amal. Ucapan tanpa perbuatan apalah artinya? Begitu juga istiqamah dan kesabaran. Semua pengalaman telah mengajarkan ku bagaimana dan untuk apa? Bagaimana caranya atau metode terbaik dalam dakwah dan jihad, dan untuk apa kita berjuang fisabilillah. Sementara itu kita mengetahui bahwa menjadi mujahid di jalan Allah tidaklah gampang dan membuahkan banyak problematika dalam urusan duniawi serta kehidupan ke depan. Renungkan hadits-hadits dan pengalaman mujahid yang ikhlas dalam menjalani ujian-ujian di medan dakwah dan jihad ini beserta seluruh tantangannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung kepada besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya. Siapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah dan siapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud)

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berikut: “Siapa yang dikehendaki Allah padanya suatu kebaikan, maka Allah akan menimpakan musibah (diberi cobaan) kepadanya.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Malik).

Subhanallah, berdasarkan hadits-hadits berikut, dan berbagai pengalaman para mujahid yang ikhlas dalam berjihad, diperoleh data bahwa berbagai bentuk ujian yang ditemui dalam medan jihad fisabilillah, yang sering menimpa ke atas mereka, sebagai berikut:

Mujahid itu menjadi asing di tengah masyarakat maupun di tengah keluarga sendiri. Reaksi ini muncul disebabkan kebodohan dan kekurangan ilmu jihad itu sendiri. Biasanya mujahid tidak banyak yang kuat menghadapi tantangan ini, karena masih ada pertalian darah dan cinta di antara istri, anak, orang tua dan lain-lain. Dan jika kita terus pada prinsip jihad ini, bisa jadi mereka sendiri yang akan melaporkan kita kepada para thaghut dan memboikot perjuangan kita.

Karena menjadi mujahid adalah orang asing dalam masyarakat, maka secara matematika, lapangan kerja dan rezeki halal menjadi sempit, serta selalu diawasi oleh thagut, dimusuhi oleh masyarakat, difitnah, dihina dan direndahkan dengan berbagai perkara yang menyakitkan.

Disebabkan sumber mencari rezeki halal menjadi sulit dan sempit, dan sulit beradaptasi di masyarakat, maka nafkah yang diperoleh menjadi terbatas, bahkan menjadi miskin.

Dikarenakan keluarga memboikot, masyarakat memusuhi, bahkan rezeki dan nafkah hampir-hampir sulit untuk diperoleh untuk diri sendiri dan keluarga, sehingga situasi ini membuat jiwa dan iman menjadi goyah dan goncang, dan membuat dirinya bertanya, apakah jihad ini harus dilanjutkan? Atau mundur sejenak demi memperbaiki ekonomi keluarga?

Berbeda dengan ujian ketika berada langsung di medan perang itu sendiri, bentuk ujian menjadi berbeda, ingat dengan dunia, perasaan takut dan khawatir menyelubungi diri, bahkan khawatir dengan serangan-serangan musuh yang begitu dahsyat dari segala penjuru. Dalam kondisi begini, sedangkan persiapan sangatlah minim dibanding pasukan musuh. Selain kekhawatiran dan rasa takut, para mujahidin juga akan merasakan kelaparan, sakit badan akibat tembakan peluru musuh-musuh Islam.

Sehingga bilamana mujahidin itu ditangkap, maka para musuh-musuh akan berlaku kejam terhadapnya, menyiksanya tanpa belas kasih, dan mencaci dengan cacian yang menyakitkan. Maka benarlah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakitimu, dan mereka ingin kamu (kembali) kafir” (QS Al-Mumtahanah 2).

Subhanallah, banyak mujahid yang gugur menghadapi bentuk ujian, bahkan berbalik menjadi spionase (mata-mata, intel) bagi pihak thaghut dalam memata-matai para mujahidin.

Ikhwani wa Akhwati Fillah

Sedikit kisah dariku dalam mengalami tindakan bejat para musuh-musuh dan thaghut ini sewaktu berada dalam tawanan mereka. Semoga kisah ini juga mewakili para mujahid yang lain, dan menjadi ladang amal untukku, dan semoga Allah menjaga keikhlasan kami dalam jihad ini. Allahumma amien.

Satu ketika, sewaktu aku dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Mataku ditutup menggunakan plastik, lalu ditempeli lakban serta tangan dan kaki diborgol. Mereka para musuh Allah ini tidak segan-segan lagi untuk menyiksaku, sungguh naif sekali mereka, Demi Allah wahai ikhwah, mereka ini lebih hina dari binatang, pengecut, hanya mampu menyiksa kita dengan kondisiku terikat. Bahkan kata-kata penghinaan terhadap jihad sering muncul, ditambah dengan ludahan dari mulut busuk mereka. Qaatalahumullah

Tidak dinafikan, situasi seperti itu akan membuat hati kita hancur, bahkan pasrah, sehingga di saat itu ingin saja lidah ini mengucapkan kata-kata menyerah serta berbalik menjadi kufur, na’udzu billah... Berat sekali ujian-ujian para da’i dan mujahid ikhwani fillah!

Kisah itu hanya sekelumit, sebenarnya banyak lagi kisah, insya Allah suatu saat nanti akan aku ceritakan. Maha Suci Allah, aku dan teman-teman mujahid yang lain melalui semua ini dengan ikhlas, walau ada juga yang tidak tahan. Semoga mereka bisa sabar dan istiqamah.

Ada juga ujian lain yang kurasakan, bahkan lebih pelik lagi. Kami selalu disalahkan, bahkan diberondong dengan tuduhan yang keji. Bagiku, aku berjuang untuk mencari keridhaan Allah dan menikmati semua pengalaman ini dengan ikhlas dan sabar, karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Dari sedikit kisah dan motivasi ini, saudaraku yang kucintai karena Allah… para mujahidin dan mujahidah muda sekalian, renungkanlah, dan muhasabahlah… mengapa kita tidak bisa bersatu? Mengapa kita suka berpecah dan saling menggembosi? Bukankah semua amalan itu bukan untuk siapapun, tapi kembali untuk diri masing-masing? Ketauhilah, cepat atau lambat Allah akan memperlihatkan mana yang haq dan mana yang batil, mana yang istiqamah dan mana yang tidak. Justru bagi yang kerjanya hanya bisa berkoar-koar dan memecah belah umat inilah yang akan sengsara, karena ilmunya tidak bermanfaat untuk manusia, tapi justru membuat kebencian diantara manusia.

Apa yang telah anda berikan untuk agama Allah ini? Karya apa yang Anda berikan untuk ‘izzatul Islam? Sehingga manusia mengingat dan mendapat manfaat darinya? Berbuatlah walaupun sedikit, dewasalah dan rendahkanlah emosi serta kesombongan sesaatmu itu. Karena tidak ada manfaatnya juga untuk dirimu jika kamu menyombongkan diri terhadap orang lain. Ilmu itu milik Allah, kapan saja Allah bisa memuliakan kamu dan menghinakan kamu. Sadarlah, umat ini butuh manusia-manusia yang luar biasa, yang bisa menuntun mereka ke satu barisan yang bisa membawa mereka ke surga. Maka jangan jadi manusia yang dangkal, seolah-olah ilmu Allah itu sedikit. Pelajari cara yang terbaik untuk menyampaikan dakwah dan jihad ini, dia tidak akan selesai jika kamu selalu memvonis, atau mengafirkan mereka!

Nabi adalah sosok qudwah hasanah, sosok terbaik dalam menyampaikan dakwahnya. Namun banyak di antara kita tidak memperhatikan realita kekinian yang ada. Kita ini berhadapan dengan manusia abad 21 yang butuh metode dakwah hebat serta modern, namun tidak keluar dari koridor Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lihatlah Dr Syaikh Abdullah ‘Azzam (rahimahullah) yang sungguh luar biasa. Beliau bisa menyatukan kaum muslimin dari timur ke barat, sehingga seluruh umat Islam berkumpul di bawah satu bendera jihad di Afghan. Bahkan para mujahid kala itu sangat menghormati hal-hal khilafiyah di antara mazhab yang dianut, dan sewaktu itu rakyat Afghanistan yang bermazhab Hanafi tidak pernah mempermasalahkan mujahid yang bermazhab Syafi’i. Luar biasa, anda tahu kenapa? Karena hati mereka telah bersatu, dalam ukhuwah dan aqidah, dan andai ada khilaf, mereka menyelesaikannya dengan baik.

Lalu bagaimana kondisi kita saat ini? sangat memprihatinkan sekali ikhwani fillah! Sebelum aku ditangkap, aku sempat melihat hal-hal pelik ini, bahkan di penjara sini, aku mendengar kabar dari beberapa saudaraku yang konsisten dalam dakwah ini, mereka bercerita tentang kondisi yang terjadi di antara yang mengaku mujahid atau da’i, justru sebaliknya saling menjegal, menjatuhkan di forum-forum Islam, merasa argumentasinya paling bagus, bahkan memvonis khawarij dan murji’ah sementara tidak tahu dengan makna tuduhan itu, serta tidak punya unsur malu dan tawadhu’. Hasbunallah wa nikmal wakil

Percayalah, jika anda yang termasuk orang yang melakukan hal tersebut, berarti anda sudah menggembirakan para thaghut dan mencoreng nama jihad itu sendiri. La hawla wa laa quwwata illa billah! Apa kalian mengaku beriman kepada Allah, sedangkan kalian belum diuji? Coba renungkan firman Allah berikut:

“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.” (Qs Al-Ankabut  23)

Janganlah sombong wahai orang-orang yang lupa diri, Allah lebih mengetahui orang-orang yang benar dan mana yang berdusta, dan bukan hanya mengaku-ngaku beriman! Bertakwalah kepada Allah! Dan bertaubatlah dan jadilah manusia yang bermanfaat.

Maka kembalilah kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah di saat semua hal yang kau perbuat telah melenceng. Menjadi manusia yang baik itu mudah, selalu muhasabah dan melihat pada kelemahan diri sebelum melihat atau menunjuk kepada diri orang lain. Ingat dengan falsafah jari sewaktu menunjuk, satu buat orang yang ditunjuk, selebihnya untuk diri kita.

Saudaraku yang kucintai karena Allah,

Aku bukanlah pemuda yang sempurna, bahkan lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya. Namun Allah memberikan pelajaran berharga kepadaku ketika aku ber-‘uzlah di penjara ini. Banyak hikmah dan manfaat yang kudapatkan. Menjadi yang terbaik buat perjalanan jihad ini adalah impian kita semua. Sehingga saling menasehati dalam kesabaran dan kebaikan adalah kerja terbaik bagi cikal bakal mujahid fisabilillah. Sebelum kita dipilih menjadi mujahid agung seperti Syaikh Abdullah Azzam, Syaikh Usamah, dan lain-lain, maka kita harus mulai dari hal-hal yang sederhana, dan melalui segala rintangan dan ujian ini dengan penuh sabar dan istiqamah.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS At Taubah 111)

Surga, oh surga yang indah, aku ingin surga yang indah ini, dan itulah janji Allah buat para mujahidnya. Begitu juga kalian. Tapi kita harus terbunuh sebagai syuhada’ dulu ikhwah. Bilamana kita sudah berani menjadikan jihad fisabilillah sebagai program hidup (yuqtal aw yaghlib) membunuh atau terbunuh, berperang atau diperangi, menang atau mati di jalan Allah, maka orang itu termasuk muflihun sejati. Namun hanya segelintir manusia seperti ini menjadi pilihan Allah. Baadiruu… Segeralah mengejarnya… Allahu Akbar!

Semoga Allah memilih kita sebagai mujahid dan bersatu dalam barisan mujahid-Nya sehingga kita meraih syahid di dalamnya. Mohon maaf atas segala kesalahan dan mohon doanya agar aku istiqamah dalam ujian ini, dan diberikan kemenangan dalam segala urusan. Aku mencintai kalian karena Allah, teruslah berjuang, dengan apapun semampu kalian. Bangkitlah dan perangilah thaghut sampai hari kiamat. Semoga kita bisa bertemu lagi di alam bebas. Yang benar hanya milik Allah, yang salah dari pribadi Aku.

Ilal liqo’, Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar! Wal ‘Izzatu lillah…!

Istana Uzlah Depok, 21 Muharram 2010

(Muhammad Jibriel AR)