21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Renungkan, Apakah Anda Sudah Menjadi Wanita Bahagia?

Dulu, ketika menjelang akhir-akhir semester, ada teman yang akan menikah. Di tengah persiapan akan menghadiri walihamannya di luar kota, kami menginap di rumah salah seorang teman agar bisa berangkat bersama. Malam hari sebelum tidur, kami sempat ngobrol sebentar.

Teman: Enak ya jadi Mbak A, bahagia sekali jalan hidupnya.

Saya: mengapa begitu?

Teman: Karena sebelum lulus kuliah, sudah ada laki-laki yang meminangnya. Jadi lulus kuliah sudah tidak lagi memikirkan pekerjaan dan langsung menjadi istri sholihah dan calon ibu.

Saya: ….

Sampai saat ini, percakapan di atas terus terngiang di benak saya. Benarkah sebatas itu kadar kebahagiaan seorang perempuan? Bukankah bahagia letaknya di dalam hati dan tak ada satu orang pun yang bisa menakar kualitas kadar kebahagiaan itu sendiri? Lalu, bahagia seperti apakah yang didambakan oleh para perempuan khususnya muslimah?

Beberapa tahun kemudian, perempuan Mbak A yang disebut ‘bahagia’ tadi sudah memperoleh beberapa anak yang lucu dan sehat. Ya….seharusnya dia memang bahagia. Tapi memandang wajahnya, saya jadi harus bertanya pada diri sendiri, bahagiakah dirinya?

Wajah yang semakin kusam tak terawat, senyum yang tak seramah dulu dan sikap yang tidak lagi bersahabat seperti dulu, entah apa yang terjadi dengan dirinya. Beberapa coretan miliknya yang saya temukan di internet, menyuarakan sesuatu: cinta, sendiri, dan kesepian. Entah apa pula maknanya.

Pikiran saya pun melayang pada beberapa tahun silam tentang pandangan ‘iri’ beberapa teman akan nasib dirinya yang menikah lebih cepat daripada teman-teman lainnya. Saya pun terpekur, berpikir, dan merenung tentang makna bahagia dan kebahagiaan itu sendiri. Di manakah ‘ia’ yang bernama bahagia itu berada?

Saya pun menoleh pada seorang teman lain yang hampir tiap tahun melahirkan. Saat ini putra dan putrinya berjumlah 6 orang dengan usia di awal kepala tiga. Uniknya, saya selalu saja ‘pangling’ setiap bertemu dengannya terlebih seusai melahirkan. Saya selalu takjub dengan nur di wajahnya yang cerah berbinar ketika bertemu teman dan sahabat. Terlepas ada 6 anak yang harus dirawat dan dididiknya, ia terlihat cerah dan ceria. Inikah bahagia?

Dua kisah nyata di atas adalah sebuah perjalanan hidup tentang perempuan menikah. Ada juga seorang teman yang masih lajang, sering bersuara agak sinis tentang kebahagiaan perempuan dalam pernikahan. Bahkan ketika akhirnya saya menikah di usia yang sudah tidak lagi dianggap muda bagi seorang perempuan, dia pun bertanya, “Bahagiakah saya?”

Saya pun tercenung. Ya…bahagiakah saya? Saya pun harus melihat ke dalam diri dan kembali mencari definisi bahagia, paling tidak secara sederhana bagi diri saya sendiri. Ketika saya belum menikah atau masih single, saya merasa bahagia. Saya tidak merasa ada yang kurang dalam diri. Sesekali suara sumbang memang ada mengingat masyarakat masih sulit menerima usia kepala tiga yang masih sendiri. Tapi itu tidak mengusik kebahagiaan saya. Saya tetap mempunyai hari-hari indah bernama bahagia.

Ketika saya kemudian menikah, bahagiakah saya? Ya, tentu saja. Saya tak akan pernah mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu apabila saya tak menemukan kebahagiaan di sana. Apakah menikah mengurangi kebahagiaan masa lajang saya? Begitu teman saya itu terus bertanya. Saya kembali tercenung. Kondisi lajang tidak mengurangi rasa bahagia saya, pun ketika menikah rasa itu tetap ada. Jadi apakah bahagia itu terutama bagi perempuan?

...Saya pun belajar bahwa bahagia adalah suatu kondisi ikhlas dalam hati apapun situasinya. Ikhlas di sini adalah rasa menerima terhadap takdir Allah baik ataupun buruk...

Saya pun belajar bahwa bahagia adalah suatu kondisi ikhlas dalam hati apapun situasinya. Ikhlas di sini adalah rasa menerima terhadap takdir Allah baik ataupun buruk. Baik dan buruk itu hanya definisi manusia, Allah saja Yang Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Kondisi lajang dan menikah itu bila diterima dengan sabar dan syukur akan menjadi sumber kebahagiaan yang penuh dalam diri.

Ketika masih lajang atau sendiri, saya tak pernah merasa sendirian. Apalagi setelah menikah, pasangan hidup membuat dunia saya makin berwarna. Lajang dan menikah, masing-masing mempunyai kontribusi untuk memberi makna bahagia dalam hidup saya. Setiap detik usia baik ketika masih lajang dulu atau sudah menikah saat ini, tak pernah mengurangi rasa syukur saya atas rasa bahagia ini. Sedangkan kesabaran, itu adalah dua sisi mata uang bersanding dengan kesyukuran.

Bila dulu saya bersabar (dan tetap bisa bersyukur) dengan kondisi lajang saya, saat ini saya pun dalam kondisi yang sama. Saya pun bersyukur (dan terus mempertebal kesabaran itu) atas anugrah-Nya berupa seorang partner berjuang meniti ridha-Nya. Apabila sebuah pernikahan tanpa adanya rasa sabar dan syukur, tentulah seseorang tak akan pernah tahu yang namanya bahagia. Dua hal inilah bekal hidup seorang mukmin mengarungi kehidupan hingga nanti saatnya tiba kita kembali pulang. Wallahu a’lam.

Ria Fariana/voa-islam.com