fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Berbagai Jalan Menuju Islam, Manakah Yang Benar?

http://3.bp.blogspot.com/_jEwL4I5g1WQ/TJDdgYuLiEI/AAAAAAAABPA/PFMd2lMYSBw/s400/2137737248_e9f3e429d1.jpgOrang-orang mengatakan begini: Ibnu Rusyd mengatakan bahwa jalan menuju kebenaran itu tidak hanya satu, tetapi banyak. Imam Al-Shan’ani  telah memberikan judul  Subulus Salam kepada sebuah kitab fiqihnya yang sangat terkenal. Subulus Salam sendiri bermakna Jalan-jalan (bukan satu jalan melainkan banyak jalan) Menuju Keselamatan. Kalau kita mau pergi ke Roma maka banyak jalan yang bisa kita tempuh. Kita bisa ke Roma melewati Arab. Kita pun bisa ke Roma melewati Amerika. Kita bisa ke Roma dengan pesawat terbang. Kita pun bisa ke Roma dengan kapal laut.

Apakah ke Roma lewat Arab lebih baik daripada lewat Amerika? Belum tentu. Masing-masing rute tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Apakah ke Roma dengan pesawat terbang juga mesti lebih baik daripada dengan kapal laut? Belum tentu juga. Masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.

Untuk bisa menguasai sebuah materi Kalkulus, para mahasiswa memiliki cara belajar yang beraneka ragam. Setiap cara belajar tidak bisa kita katakan lebih baik daripada cara belajar yang lain. Namun, kita bisa mengatakan bahwa cara X memang paling baik bagi si A dan cara Y paling baik bagi si B dan seterusnya. Cara belajar dengan visualisasi yang dominan barangkali paling baik bagi mahasiswa yang bertipe visualis. Cara belajar kinestetis barangkali juga paling baik bagi mahasiswa yang bertipe kinestetis. Demikian seterusnya.

Demikian pula dengan Islam sebagai suatu idealisme yang ingin diraih. Jalan menuju Islam, atau jalan menuju Allah, tidak harus satu dan monoton, namun bisa bervariasi. Jika kita mengartikan Islam sebagai agama tauhid sepanjang sejarah manusia, maka jalan menuju Islam pun sangat beragam. Masing-masing kaum memiliki jalannya sendiri-sendiri. Kaum Adam punya jalan mereka sendiri. Kaum Nuh punya jalan mereka sendiri. Kaum Ibrahim punya jalan sendiri. Kaum Musa punya jalan mereka sendiri. Kaum Isa punya jalan mereka sendiri. Akhirnya, kaum Muhammad pun punya jalan mereka sendiri. Masing-masing jalan baik bagi pemiliknya.

Apabila kita mengartikan Islam sebagai syariat Muhammad, maka jalan menuju Islam pun tetap terbuka bagi adanya variasi. Dalam perjalanan sejarah umat Muhammad, berbagai variasi ber-Islam bisa kita kelompokkan dalam tiga kelas besar, yaitu Rasionalis, Literalis, dan Sufistik. Tiga corak keber-Islam-an ini juga tercermin dari tiga khazanah klasik dalam sejarah Islam, yaitu Filsafat Islam dan Kalam,  Fiqih, dan Tashawwuf (Sufisme).  Ketiga corak tersebut dikatakan sebagai corak-corak utama karena dalam kenyataannya masing-masing dari ketiganya memiliki variasinya sendiri-sendiri.

Filsafat Islam misalnya, bisa dibedakan atas Filsafat Peripatetik (Masysya-i), Filsafat Pencerahan (Iluminasionis, Isyraqiyyah), dan Filsafat Mistis (Al-Hikmat Al-Muta’alliyat). Fiqih, berdasarkan metode pendekatannya, bisa dibedakan atas fiqih rasionalis, fiqih moderat, dan fiqih literalis (al-zhahiriyyat al-harfiyyat). Dengan bersandar pada para tokohnya, fiqih telah berkembang dalam beberapa madzhab, yang saat ini tinggal tersisa lima madzhab utama di kalangan Sunni dan satu madzhab utama di kalangan Syi’ah. Dalam dunia tashawwuf, kita bisa membedakan antara tashawwuf akhlaq (seperti tashawwuf milik Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim) dan tashawwuf wujud dengan panglima besarnya Ibnu Arabi.

Adanya variasi ber-Islam bukan berarti  bahwa Islam itu  banyak dan terpisah satu sama lain. Variasi disini hanya berarti perbedaan kecenderungan pada corak-corak tertentu,   tetapi dengan tetap memegang segenap corak yang menyusun bangunan Islam. Jadi, variasi disini tidak identik dengan parsialitas. Kita harus memahami bahwa dalam gagasan Islam yang kaaffah dan integral, variasi  tetap merupakan sebuah keniscayaan.

Sebagaimana digambarkan secara metaforis di awal tulisan ini, variasi-variasi dalam ber-Islam hanya bisa dinilai dalam kaitannya dengan pelakunya. Suatu bentuk variasi bisa jadi cocok dan baik untuk si A dan tidak untuk si B, sementara si B pun menganut bentuk variasi yang cocok dan baik baginya namun tidak untuk si A. Dalam sejarah, kita bisa melihat bahwa Ibnu Rusyd telah cukup sukses mendekati Islam melalui filsafat, sementara Al-Ghazali barangkali tidak terlalu sukses.

Sebaliknya, Al-Ghazali kita katakan sangat sukses dalam mendekati Islam lewat tashawwuf, sementara Ibnu Rusyd sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan pendekatan tashawwuf. Apakah Ibnu Rusyd salah? Atau Al-Ghazali salah? Kita katakan masing-masing benar dengan jalannya sendiri-sendiri. Pertanyaan selanjutnya, apakah Ibnu Rusyd ataupun Al-Ghazali telah bersikap parsial dalam keber-Islam-an mereka? Kita terlalu lancang untuk mengatakan ya.

Keduanya kita ketahui telah melakukan perjalanan intelektual dan ruhani yang cukup panjang, melewati pernik-pernik (baca: corak-corak) dalam samudera Islam yang amat luas. Ibnu Rusyd, disamping seorang filosof besar, adalah juga seorang ahli fiqih yang handal. Al-Ghazali telah melakukan transformasi yang melelahkan dari fiqih, kalam, filsafat, sampai berakhir ke tashawwuf.

Memang, sebuah taman tidak cukup indah apabila hanya berisi satu jenis bunga saja. Akan menjadi lebih indah dan mempesona apabila taman itu dipenuhi dengan bunga yang beraneka ragam, yang tersusun dalam sebuah pola yang rapi.

Saya berpendapat: Memang benar apa-apa yang telah diutarakan diatas, tapi tidak seluruhnya. Jalan menuju Roma memang tidak hanya satu, tapi itu tidak berarti semua jalan bisa kan? Demikian pula dengan cara kita ber-Islam. Kecenderungan-kecenderungan yang berbeda dalam ber-Islam memang boleh-boleh saja, bahkan memang sebuah kenyataan yang tidak bisa ditolak. Akan tetapi perbedaan-perbedaan tersebut tetaplah harus berada dalam bingkai besar yang bernama 'Islam yang Benar'.

Artinya, segala bentuk perbedaan yang sudah berada diluar 'Islam yang Benar' dengan sendirinya adalah cara yang salah. Apakah ini tidak berarti menafikan perbedaan? Tentu saja tidak. Bingkai 'Islam yang Benar' masih sangat akomodatif bagi terciptanya berbagai cara yang berbeda dalam ber-Islam'. Pendek kata, boleh saja berbeda satu sama lain, asalkan masih dalam bingkai yang benar.

menaraislam.com | suaramedia.com

 

Artikel Terkait