fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Siapakah yang Menciptakan Tuhan?

"Kalau seluruh jagat raya ini diciptakan Tuhan,... lalu Siapakah Yang Menciptakan Tuhan?" Seorang ateis mengungkapkan pertanyaan ini dengan sangat bangga seolah-olah pertanyaan tersebut orisinil dari hasil kecemerlangan otaknya, sambil sesumbar bahwa pertanyaan tersebut menjadi salah satu bukti kemenangan ateisme atas agama Tuhan. Benarkah demikian? Tentu tidak samasekali. Kesalahan pertama adalah ketika ateis menyangka bahwa pertanyaan tersebut orisinil dari otak mereka. Padahal pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan pertanyaan alamiah yang bisa muncul pada setiap orang. Hanya saja ketika banyak orang beriman telah menemukan jawabannya ternyata ateis baru bertanya tanya. Alih alih mereka bangga memiliki pertanyaan "cerdas", ternyata mereka ketinggalan jauh, karena jawabannya sangat mudah bahkan tanpa harus mengernyitkan dahi, mau tau jawabannya?

Kalau ateis menyangka pertanyaan tersebut tidak ada jawabannya, dia salah besar. Yang terjadi sebenarnya ada dua kemungkinan:

1. Dia tidak mau menerima jawaban tersebut (dikarenakan kesombongannya)

2. Kapasitas otaknya tidak cukup memadai untuk menalar permasalahan yang sepele ini.

Mari kita sejenak pelajari pertanyaan tersebut.

Masalah "Tuhan Pencipta (creator)" dan "Makhluk yang Diciptakan (creature)" sebenarnya bersandar pada sebuah premis umum:

"Pencipta (creator)" bukanlah "yang dicipta (creature)"

Premis umum semacam ini bukan sesuatu yang harus dibuktikan karena merupakan alur logika alamiah  akal manusia. Sama halnya dengan pernyataan "awal" bukanlah "kemudian" atau peryataan "tinggi" bukanlah "tidak tinggi"



Namun demikian ada saja ateis yang agak lamban berfikir bertanya lagi, "Apa buktinya bahwa creator bukanlah creature?" Tentu tidak ada gunanya meladeni pertanyaan kurang akal semacam ini. karena yang dia butuhkan bukan jawaban melainkan latihan menghafal bahwa kiri bukan kanan, bahwa jauh bukan dekat, dst

Dan bagi ateis yang menerima premis tersebut ternyata semuanya gagal menghubungkannya dengan masalah yang dia tanyakan sendiri. Padahal tinggal mengganti kata creator dengan kata Tuhan, jawaban pertanyaan "cerdas" mereka langsung terjawab tuntas.

Creator bukanlah creature diganti menjadi Tuhan bukanlah creature  atau dengan kata lain "Tuhan pencipta" bukanlah "Makhluk yang diciptakan"

sehingga jawaban yang benar dari pertanyaan "Siapakah Yang Menciptakan Tuhan" adalah "Tuhan tidak diciptakan" karena jika ada sesuatu yang diciptakan maka dia bukanlah Tuhan.

Pernyataan terakhir ini sama persis dengan pernyataan berikut "Awal tidak didahului oleh sesuatu" karena jika ada sesuatu yang didahului oleh yang lain maka dia bukanlah awal atau tidak bisa disebut awal.

wiseislam.blogspot.com | bikinsegar.co.cc

 

Dia telah menyediakan jalan bagi orang-orang yang mengharapkan ridho-Nya dan orang-orang beriman hanya mencari apa yang ada pada-Nya, karena Dia sama pemurahnya tentang apa yang diminta dari-Nya maupun apa yang tidak diminta pada-Nya. Yang awal, yang tidak ada bagi-Nya `Sebelum`, sehingga mustahil ada sesuatu sebelum-Nya. Dan yang akhir, yang tidak ada bagi-Nya `Setelah`, sehingga mustahil ada sesuatu setelah-Nya. Yang menghalangi bola mata untuk dapat melihat-Nya. Zaman bagi-Nya tidak berubah, karena zaman akan menyebabkan berubahnya keadaan. Dia tidak berada dalam ruang, zaman dan waktu sehingga Dia dapat berada dimana saja sekehendak-Nya. Khayalan tidak dapat menerka-Nya dalam batas-batas gerakan anggota badan ataupun indera, Dzat-Nya tidak dapat dikatakan `Dari Mana?`. Dan batas waktu tidak dapat disifatkan kepada-Nya dengan mengatakan `Hingga`. Dia zahir, tetapi tak dapat dikatakan `Dari Apa?`. Dia tersembunyi, tetapi tidak dapat dikatakan `Didalam apa?’, Dia bukan jasad yang mati, Dia tidak dekat pada sesuatu secara sentuhan, tetapi tidak pula jauh dari-Nya secara terpisah. (Pustaka Fiqhislam.com)

 

Artikel Terkait