fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


7 Ramadhan 1442  |  Senin 19 April 2021

Agama Perspektif Kaum Fasis

http://2.bp.blogspot.com/_vMQfeVSYbqk/RiQxCUUW4GI/AAAAAAAAAEg/NQKBUnoqQi8/s400/America%2B-%2BFreedom%2Bto%2BFascism.jpgFasisme ini dapat kita artikan sebagai ideologi politik nasionalis yang berpola pemerintahan otoriter dan dalam sejarahnya digunakan pertama kali oleh Benito Mussolini di Italia pada tahun 1922. Fasisme seringkali disebut dengan sistem politik yang merendahkan, dan mengandung kekerasan, kebrutalan, penindasan, dan kediktatoran.

Untuk lebih sedikit memahami ideologi fasis ini, kita bisa mengutip dari ungkapan Adolf Hitler yang dikutip dalam buku Inside Hitler's Bunker: The Last Days of the Third Reich dan dituangkan dalam film Downfall, menjelang keruntuhan Nazi Jerman saat serangan Rusia memasuki Berlin. Ia mengatakan:

Hidup tidak mengampuni kelemahan. Yang disebut kemanusiaan itu adalah omong kosong. Belas kasih adalah dosa abadi. Merasa kasihan pada yang lemah adalah pengkhianatan terhadap alam. Yang kuat hanya bisa menang jika yang lemah musnah. Dalam kesetiaanku kepada hukum ini, aku tidak pernah punya belas kasihan. Aku selalu kejam ketika dihadapkan pada oposisi internal dan ras lainnya. Dan itulah satu-satunya cara dalam menghadapinya. Gorila misalnya, menindas yang di luarnya sampai mati. Dan apa yang berlaku pada gorila, harus diterapkan pada manusia.

Begitulah paham fasis yang hampir semua kalangan sependapat bahwa paham ini adalah pengusung kekerasan, diktator, rasis, dan diselimuti rasa ingin balas dendam.

Perkembangan Fasisme dan Fin De Siecle

Fasisme sering kali dihubungkan dengan Darwinisme. Hal ini memang karena keterkaitan kuat antara fasisme dan ideologi Darwin. Darwin mengemukakan bahwa perjuangan untuk bertahan hidup yang mematikan, terjadi di alam ini. Ia menyatakan bahwa prinsip ini berlaku baik pada masyarakat maupun individu. Prinsip ini adalah suatu perjuangan sampai mati, dan sangat wajar bila ras-ras yang berbeda berusaha untuk saling melenyapkan demi kepentingan masing-masing.

Keterkaitan fasisme dengan Darwin ini bukan tidak beralasan. Bukan hanya sekedar kesamaan ideologi saja, namun keterpengaruhan fasisme dengan ideologi Darwin itu sangat jelas dalam sejarah. Hal ini bisa kita lacak dari bagaimana perkembangan sosial dan pemikiran di Eropa pada akhir abad ke-18 dan pada abad ke-19.

Abad ke-19 sering kali disebut dengan revolusi industri kedua. Pada masa ini terjadi ekspansi dan inovasi besar-besaran dalam dunia industri. Teknologi komunikasi dan transportasi sudah mulai modern. Namun pada masa ini pula, budaya-budaya dan bangunan spiritual semakin parah, bahkan kacau dan ditumbangkan. Seperti yang digambarkan oleh Stanley dalam bukunya A History of Fascism 1914-45, “while the cultural and spiritual foundations of the nineteenth century worldview were severely challenged and increasingly subverted”.

Masa perubahan sosial dan kemajuan teknologi ini yang sering kali diistilahkan dengan fin de siecle. Ketika itu, kepentingan dan kebutuhan sosial masyarakat sudah dihubungkan dengan konsumsi komersil dan produksi industri. Namun perubahan tersebut tidak terjadi pada tataran sosial masyarakat saja, melainkan juga terjadi dalam ranah pemikiran. Bahkan pemikiran di masa ini telah mengalami invasi yang sangat radikal. Pada abad ini, liberalisme politik dan materialisme menjadi sangat dominan. Salah satu pemikir yang terkenal dan sangat berpengaruh di masa fin de siecle ini adalah filsuf Jerman Friedrich Nietzsche yang terkenal sebagai ‘pembunuh Tuhan’.

Friedrich Nietzsche adalah salah satu pemikir Jerman yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran Barat. Bahkan pengaruh Nietzsche tidak hanya terhadap para penulis dan kalangan intelektual saja, melainkan juga sampai kepada tataran sosial dan politik. Hinton Thomas dalam bukunya yang berjudul Nietzsche in German Politics and Society 1890-1918, menggambarkan ketenaran Nietzsche pada waktu itu sebagai berikut:

“From around 1890 Nietzsche became for the first time a figure of major general importance. This applied not merely to writers and intellectuals. It included also people directly and predominantly involved in social and political activities, …”

Pengaruh Nietzsche tersebut juga ada pada ideologi fasis. Bahkan sebenarnya Mussolini dan Hitler bukanlah orang yang menciptakan ideologi fasis. Fasisme juga bukan ideologi yang baru terbentuk di abad ke-20 di Italia dan Jerman saja. Ide-ide tentang fasis ini sudah muncul sejak abad ke-19 melalui berbagai macam tulisan para ahli politik dan para filsuf sains dari Prancis, Austria, Jerman dan Italia, termasuk oleh pemikirannya Nietzsche.

Pemikiran-pemikiran Nietzsche ternyata tidak jauh berbeda dengan pemikiran Darwin. Banyak bukti yang menjelaskan alur pemikiran Nietzsche yang sama dengan Darwinisme. Salah satunya adalah ide Nietzsche yang mendukung perang sebagai jalan untuk mempertahankan kehormatan. Dalam bukunya yang sangat terkenal, Thus Spake Zarathustra, Nietzsche menulis: “Of all that is written, I love only what a person hath written with his blood. Write with blood, and thou wilt find that blood is spirit.” Artinya, “Dari semua yang tertulis, aku hanya menyukai yang telah ditulis manusia dengan darahnya. Tulislah dengan darah, dan kau akan merasakan bahwa darah adalah roh.”

Darwinis Daniel C,. Dennett dalam bukunya Darwin's Dangerous Idea telah banyak menjelaskan keterpengaruhan Nietzsche terhadap Darwin. Bahkan ia mengatakan bahwa, jika Nietzsche sering disebut sebagai bapak eksistensialisme, maka Darwin pantas disebut sebagai kakeknya.

Karena pemikirannya itu, bahkan Nietzsche sering kali disebut sebagai salah seorang penyebab terjadinya Perang Dunia Pertama. Banyak buku dan artikel yang menyebutkan Nietzsche sebagai biang keladi dan penghasut perang. Hinton Thomas juga menyebutkan: “During the First World War, Nietzsche had often been regarded, particularly in England, as having helped to cause it.” Namun meski demikian, ternyata Nazi justru mengidolakan Nietzsche.

Dalam bukunya The Anti-Christ, Nietzsche menulis, “What is good? Whatever augments the feeling of power, the will to power, power itself, in man. What is evil? Whatever springs from weakness…Not contentment, but more power; not peace at any price, but war; not virtue, but efficiency.”

Bisa kita lihat, pemikiran Nietzsche ini tidak ada bedanya dengan ungkapan Hitler ketika Nazi Jerman kalah dalam Perang Dunia II, seperti yang dikutip sebelumnya. Ini juga merupakan bukti keterpengaruhan kuat Hitler dengan Nietzsche.

Bukti kedekatan Hitler dengan Nietzsche yang lainnya juga sangat jelas sekali. Mengenai hal ini, H. F. Peters dalam bukunya “Zarathustra's Sister: The case of Elisabeth and Friedrich Nietzsche” mengatakan bahwa Hitlerjugend (Kaum Muda Hitler) yang merupakan sayap kepemudaan dari gerakan Nazi, menjadikan buku Nietzsche Thus Spake Zarathustra sebagai sebuah naskah keramat. Adolf Hitler bahkan memerintahkan pembangunan monumen khusus untuk mengenang Nietzsche, dan merintis pendirian pusat-pusat pendidikan dan perpustakaan di mana para pemuda Jerman dapat diajarkan doktrin Nietzsche mengenai ras unggul.

Pengaruh Nietzsche tersebut juga tidak hanya pada Hitler di Jerman saja, melainkan juga sampai kepada Mussolini di Italia. Penyair Gabriele D’Annunzio, yang dapat dianggap sebagai sumber inspirasi bagi Mussolini, sangat dipengaruhi oleh filsafat Nietzsche. Dan jika kita melihat perjalanan hidup Mussolini, tercatat ia banyak membaca berbagai macam karya-karya filsuf seperti, Immanuel Kant, Benedict de Spinoza, Peter Kropotkin, dan termasuk juga Friedrich Nietzsche.

Dottrina del Fascismo: Sakralisasi Fasisme

Fasisme di Italia dapat berkembang subur pasca-Perang Dunia I. Perang ini menyebabkan terjadinya krisis ekonomi dan sosial yang mendalam bagi masyarakat Italia. Sekitar 650.00 orang Italia tewas, dan ratusan ribu lainnya cacat. Angka pengangguran ketika itu juga tinggi. Banyak hal yang dirugikan oleh Italia akibat Perang Dunia I itu.

Akibat Perang Dunia I itulah, akhirnya tumbuh di masyarakat perasaan ingin membangun citra yang agung dan dihormati di mata dunia internasional. Italia ingin bernostalgia dengan kedigdayaan Kekaisaran Romawi dulu. Ia ingin mengulangi kedigdayaan Romawi zaman dulu di zaman modern. Mussolini juga dikatakan ingin mengikuti jejak Kaisar Augustus, pendiri Kekaisaran Romawi. Italia adalah Mussolini, dan Mussolini adalah Italia.

Stanley juga menggambarkan politik luar negeri Mussolini sebagai berikut: “Mussolini had no specific grand desaign in foreign policy other than to increase Italy's prestige and build a larger empire, a "modern Rome," probably outside Europe proper.”

Melalui National Fascist Party, Mussolini begitu cepat mengambil kekuasaan di Italia. Partai ini menguasai Italia dari tahun 1922 dengan sistem diktator dan sistem totaliter. Selanjutnya untuk memperkuat kekuasaannya dan menanamkan ideologi fasis kepada masyarakat Italia, Mussolini memulainya kepada anak-anak sejak usia yang sangat dini sekali. Sejak usia sekitar 4 tahunan, anak-anak di Italia sudah dididik ideologi fasis.

Kharismatik Mussolini, baik di mata pengikutnya maupun di mata musuh-musuhnya, merupakan sosok yang tidak bisa didebat, karena ia dianggap tidak pernah salah. Ia bukan hanya seorang diktator saja, melainkan juga sosok yang dituhankan oleh pengikutnya.

Rezim fasis ini semakin menjadi-jadi. Bahkan ia telah menjadi sesuatu yang disakralkan. Fasis sudah dianggap seperti agama yang memberikan petunjuk kehidupan. Pada tahun 1932, Mussolini mendeklarasikan Dottrina del Fascismo: "Fascism ia a religious conception of life, and Fascists formed a spiritual community.”

Selanjutnya pada tahun 1934, Mussolini mengumumkan bahwa negara terlepas dari agama. Agama adalah institusi yang independen. Bahkan Mussolini ingin merumuskan agama baru yang sesuai dengan fasis. Mussolini mendeklarasikan: "In the Fascist concept of the totalitarian state, religion is absolutely free and, in its own sphere, independent. The crazy idea of founding a new religion of the state or of subordinating to the state the religion professed by all Italians has never entered our minds.”

Apa yang dilakukan oleh Mussolini di Italia, ternyata tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Hitler di Jerman. Kebencian Nazi terhadap agama sudah merupakan hal yang umum di Jerman. Salah satunya adalah akibat keterpengaruhan kuat Hitler terhadap pemikiran Nietzsche yang menulis buku The Anti-Christ.

Kebencian Nietzsche terhadap agama dapat kita lihat dalam bukunya The Anti-Christ ini.  Nietzsche menulis:

Christianity has taken the part of all the weak, the low, the botched; it has made an ideal out of antagonism to all the self-preservative instincts of sound life; it has corrupted even the faculties of those natures that are intellectually most vigorous, by representing the highest intellectual values as sinful, as misleading, as full of temptation. The most lamentable example: the corruption of Pascal, who believed that his intellect had been destroyed by original sin, whereas it was actually destroyed by Christianity.

Demikian juga dengan Hitler, ia menyimpulkan pandangan-pandangannya tentang agama kepada para stafnya sebagai berikut:  “Kamu tahu, kita kurang beruntung karena memiliki agama yang keliru. Mengapa kita tidak memiliki agama seperti dipunyai bangsa Jepang, yang memandang pengorbanan bagi tanah air sebagai kebajikan tertinggi?”

Namun meski ia memiliki kebencian terhadap agama Kristen, Hitler tidak lantas memberangusnya begitu saja. Akan tetapi ia memanfaatkan institusi gereja untuk mendukung gerakan Partai Nazi miliknya. Ia berusaha mengambil hati rakyat Jerman melalui gereja. Norman H. Baynes menuliskan dalam bukunya: “The goal was a German national Chruch free from Rome. "Hitler had said that he had no desire to made the slightest attempt to touch the innermost core at the evangelical church.”

Saat ini, meski wujud nyata ideologi ini dalam bentuk sebuah sistem politik sudah tidak ada lagi, namun bayang-bayangnya akan terus menghantui kita. Ini disebabkan karena fasisme bukan hanya sebuah ideologi politik, melainkan di dalamnya juga mengandung  mentalitas. Dan mentalitas seperti ini bisa saja masih berkembang biak sesuai dengan tuntutan zaman. Wallahu’alam.

 

Oleh: Ahmad Sadzali | Hidayatullah.com

Penulis adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar

 

Artikel Terkait