fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Egoisme dalam Kebenaran

http://3.bp.blogspot.com/_sjnWT7tQYj8/SrNkraywuII/AAAAAAAAAAM/z4uMpoePdW4/s320/ukhuwah.jpgEgoisme merupakan salah satu penyakit hati yang sulit untuk dirasakan pelakunya. Secara sederhana, ana definisikan egois itu merupakan sebuah perasaan yang cenderung selalu membenarkan kebenaran dari sudut pandangnya sendiri.

Orang yang mempertahankan kebenaran kok dianggap egois?

Kenapa banyak sekali jemaah jemaah bermunculan di Indonesia ini dan kemudian mereka berdebat saling menyalahkan saudaranya sendiri? tidak jarang dari mereka yang kemudian saling mencaci, bahkan kemudian menyalahkan imam lawan mereka dan menggali penafsiran masing masing.

Hingga mereka mengajukan Al Hadith untuk memenangkan pendapat mereka..

Padahal sudah diterangkan sejelas jelasnya dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Aisyah Ra bahwa orang yang berusaha mencari cari alasan untuk membenarkan pendapat atau sebuah kebenaran yang dia pahami sangat DIBENCI ALLAH.

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang paling dibenci Allah ialah pembantah yang mencari-cari alasan untuk memenangkan pendapatnya.” (HR Muslim, diambil dari terjemah bulughul maram bab adab dan kesopanan)

Dari sini bisa dipahami, bahwa segala bentuk egoisme itu tidak bermanfaat bahkan ketika kita egois dalam sebuah kebenaran yang kita yakini. Ini karena kebenaran yang kita pahami itu adalah apa yang kita dengar, atau baca dari sebuah sumber yang ditulis seorang penulis yang juga dipengaruhi sama pengalaman pengalaman hidup dari berbagai guru atau syaikh – syaikh mereka dijamannya.

Tidak ahsan, ketika seorang alim egois..

Orang bodoh yang egois sebenarnya tidak terlalu berbahaya, karena ke-egoisannya hanya akan merugikan dirinya sendiri dan tidak membahayakan atau mencelakakan orang banyak.

Tapi ketika orang besar egois, dalam artian merasa benar sendiri, dan mencela pendapat saudaranya yang seiman apalagi hingga tahap mengkafirkan adalah sangat berbahaya.

Jika orang bodoh berteriak mengkafirkan temannya, mungkin yang terjadi hanya dua orang yg akan berdebat saling mengkafirkan.

Sedangkan jika seorang Alim atau peminpin sebuah jamaah, misalnya, berdiri di hadapan seribu jemaah… kemudian mengkafirkan sebuah golongan yang didalamnya terdapat orang orang beriman, dapat antm bayangkan disana akan terjadi sebuah mimpi buruk!

Seribu jemaah tadi akan berdiri dan mulai mengkafirkan yang lainnya, mengkafirkan golongan yang tidak sepaham.

DISANALAH TERJADI PENGKAFIRAN MASSAL

Sudah dibahas dalam berbagai wacana, bahwasannya kita harus teramat hati hati dalam mengkafirkan manusia beriman yang didadanya bergetar tauhid laa..ilaaha illallah…

Berhati hatilah, karena ketika kita megkafirkan seseorang, kemudian ternyata dihadapan penilaian Allah yang tidak kita ketahui, bahwasannya orang tersebut tidak kafir, status kafir itu kembali kepada orang yang mengkafirkan.

Dari Ibnu ‘Umar r. a., katanya Rasulullah s. a. w. bersabda: “Siapa yang berkata kepada saudaranya (sesama muslim), “Hai Kafir!”, maka ucapa itu kembali kepada salah satu di di antara keduanya. Jika apa yang diucapkannya itu benar, maka ucapan itu tertuju kepada orang yang dipanggil. Jika tidak, maka ucapan itu tertuju kepada yang mengucapkan”. (Terjemahan Hadist Shahih Muslim; Jilid I; Halaman 33; Hadist Nomor 49)

Dari Abu Zar r. a., ia mendengar Nabi S.A.W. bersabda: “Seorang laki-laki yang menuduh laki-laki lain itu jahat atau menuduhnya kafir, maka tuduhannya itu berbalik kepada dirinya, seandainya orang yang dituduhnya itu tidak seperti itu.” (Terjemahan Hadist Shahih Bukhory; Jilid IV; Halaman 53; Hadist Nomor 1709)

Jika orang berpengaruh mengangkat tangannya dan menyerukan ke-egoisan tentang kebenaran yang dia pahami, yang timbul adalah kesesatan besar! dimana mana jemaah riuh menyuarakan kebenaran “versi” orang besar tersebut.

Bisa dibayangkan jika kata kata kata yang diserukan si orang berpengaruh dengan ke-egoisannya itu adalah seruan ‘kebenaran’ yang mengkafirkan saudaranya. . tidak akan terelakan lagi, kata kata kekafiran akan riuh terdengar di seluruh wacana mewarnai perdebatan perdebatan.

Lembutkan Hati! Lembutkan Hati..

Jangan merasa benar sendiri. Jangan tebarkan kebencian karena kebenaran yang Haq itu hanya milik sang Pencipta, Allah azza wajala yang telah menciptakan relung relung otak berfikir yang kita gunakan untuk berfikir tentang kebenaran itu.

Kebenaran yang manusia pahami adalah relatif dan bersifat dugaan.

Mari kita saling menghargai, kebenaran versi lain yang dipahami saudara mukmin yang seiman.
Agar kita selalu didalam Ridha’ Allah Ta’ala.
Untuk bersama sama MAJU membantai kekafiran yang sesungguhnya!
Bukan sibuk saling mengkafirkan.

Wallahu’alam.

Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri”. (Shahih Muslim No.64, dari riwayat Anas bin Malik ra)

cahyaiman.wordpress.com

 

Artikel Terkait