21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Menghujat Allah untuk Mengutuk Yesus

http://igambar.com/p/d49ooJawaban untuk Pendeta Antonius Richmon Bawengan

Ayat Al-Qur'an yang paling dibenci oleh Pendeta Antonius Richmon Bawengan adalah surat An-Nisa 157 yang secara tegas membongkar kegagalan konspirasi penyaliban Nabi Isa AS ini.

Ayat ini dianggap sebagai batu sandungan doktrin sentral kristiani yang yang meyakini Nabi Isa (Yesus) disalib untuk menebus dosa. Doktrin penyaliban Yesus adalah salah inti iman Kristiani yang dimasukkan dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli (Credo Nicaeano-Constantinopolitanum). Tanpa adanya penyaliban Yesus, maka rontoklah keyakinan Kristen tentang dosa waris, penebusan dosa, Trinitas, dan ketuhanan Yesus.

Secara khusus, dalam buku "Ya Tuhanku Tertipu Aku" yang disebarkan di Temanggung ini, Richmon menulis sub judul "Al-Qur’an tentang Allah" untuk menggugat surat An-Nisa 157: “Dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka...”

Menurut ayat tersebut, orang-orang kafir tidak berhasil menangkap Nabi Isa, apalagi menyalib dan membunuhnya. Karena yang mereka tangkap lalu mereka salibkan ialah orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa. (Bukti-bukti kegagalan ini telah dikupas dalam Kristologi edisi 86 berjudul "Menyoal Hari Ulang Tahun Kematian Tuhan"). Ringkasnya, proses eksekusi penyaliban yang salah alamat tersebut sangat memungkinkan, karena menurut Bibel sendiri, Yesus bisa bermukjizat merubah wajah (Matius 17:2), dan para serdadu yang melakukan penangkapan tidak ada yang mengenal wajah Yesus, sehingga mereka harus menyewa Yudas untuk menunjukkan siapa Yesus, dengan suap 30 keping uang perak (Matius 26:15).

Dendam kesumat Richmon terhadap ayat ini sudah sampai ke ubun-ubun, sehingga ayat yang menelanjangi kebobrokan doktrin Penyaliban Yesus dan Penebusan Dosa itu, dicacimaki sedemikian rupa. Richmon menuding Allah telah berbuat licik karena menyelamatkan Nabi Isa dari penyaliban. Berikut kutipan tudingannya:

"Allah mau meluputkan ‘Isa dari penyaliban oleh orang Yahudi. Anehnya, Allah yang (katanya) Yang Mahakuasa, harus menggunakan tipuan untuk menolong ‘Isa, dari penyaliban orang Yahudi. Lagi-lagi ayat ini menunjukkan bahwa Allah tak pernah mengharamkan penipuan, teknik dari neraka! Patutlah disangsikan kemahakuasaan Allah, sehingga harus menggunakan teknik tipuan. Jelas pula bahwa Allah bukanlah Yang Mahabenar.

Budaya neraka (penipuan) itu melebar terus kepada budaya neraka lainnya: peperangan, pembunuhan, dan penjarahan. Bayang-bayang kejahatan itu terrekam di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang menghalalkan kaum muslim memerangi, menjarah, memperbudak, membunuh orang kafir!" (hlm. 10-11).

Itulah sepak terjang membabi buta Pendeta Richmon dalam berteologi. Demi membela doktrin penyaliban Yesus apapun dilakukan, termasuk merusak logika dan akhlak. Pendeta berdarah Manado ini benar-benar frustasi karena tidak bisa membantah keabsahan surat An-Nisa 157 yang sangat lugas, tegas dan mudah dipahami. Dalam kefrustasiannya, ia menuduh cara Allah menyelamatkan Nabi Isa dari penyaliban sebagai tipuan yang keji. Ini adalah logika yang benar-benar rusak.

Mengapa Richmon sangat simpati kepada orang-orang kafir yang ingin menzalimi Nabi Isa (Yesus), lalu serta-merta menuduh Allah yang menyelamatkan Nabi Isa sebagai penipu? Padahal sebagai pendeta yang mengaku sebagai pengikut Yesus, seharusnya Richmon mendukung upaya Allah untuk menyelamatkan Nabi Isa dari konspirasi penyaliban, apapun cara-Nya. Bukankah kitab suci menyebutkan bahwa orang yang mati di tiang salib adalah manusia terkutuk?

Ahmad Hizbullah MAG | ahmad-hizbullah.co.cc | suara-islam.com