17 Safar 1443  |  Sabtu 25 September 2021

basmalah.png

Piagam Madinah

http://igambar.com/p/f94jcSesungguhnya Baginda Rasulullah saw., selain sebagai rasul utusan Allah SWT yang bertugas menyampaikan risalah Islam (tablighur risalah), juga beliau sebagai seorang penguasa (hakim) eksekutif yang melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum dalam risalah Islam (tanfidzur risalah). Sebagai penguasa beliau diperintahkan oleh Allah SWT untukmemutuskan perkara-perkara persengketaan di masyarakat dengan menerapkan hukum Allah SWT. Allah SWT berfirman:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu… (QS. Al Maidah 49).


Sebagai penguasa atas kota Madinah Rasulullah saw.  mendapatkan otoritas kekuasaan dari para stakeholder kota Madinah, yakni dari 75 wakil rakyat dari kaum Anshar yang berasal dari tokoh-tokoh kaum Khazraj dan Aus yang telah membaiat beliau di Bukit Aqabah Mekkah menjelang hijrah beliau ke kota Madinah. Tokoh-tokoh Aus dan Khazraj itulah yang telah meminta Rasulullah saw. berhijrah ke kota Madinah untuk berkuasa dan memimpin secara riil dengan risalah Islam.  

Ketika Rasulullah saw. hijrah ke kota Madinah, beliau segera membangun masjid untuk menjadi pusat ibadah sekaligus pusat pemerintahan beliau saw.  Rasulullah saw. membangun persaudaraan di antara kaum Anshar dan Muhajirin dengan persaudaraan lahir batin. Kaum Anshar yang merupakan pribumi kota Madinah menawarkan harta benda mereka atau tempat-tempat kerja mereka kepada saudara-saudara baru seiman mereka, kaum Muhajirin yang berhijrah dari kota Mekkah tanpa membawa harta.  Rasulullah saw. pun membuat pasar sehingga menjadi pusat kegiatan ekonomi umat Islam. Rasulullah saw. menerapkan kebijakan penyeimbangan ekonomi dengan memberikan harta sitaan (fa’i) dari Yahudi Nadlir yang melakukan makar hendak membunuh Rasulullah saw. dan dijatuhi hukuman pengusiran dari kota Madinah oleh Rasulullah saw. dan harta mereka disita.


Untuk melakukan konsolidasi warga negara dan menjalin hubungan baik dengan komunitas non muslim di kota Madinah, Rasulullah saw. menulis sebuah piagam yang kemudian terkenal dengan Piagam Madinah.  Piagam ini dimulai dengan kalimat: “

Bismillahirrahmanirrahiim. Ini adalah  perjanjian dari Muhammad saw. antara kaum mukmin dari kalangan Quraisy dan Yatsrib serta orang-orang yang mengikuti mereka. Mereka satu sama lain telah bergabung dan berjuang bersama-sama. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu yang berbeda dari umat manusia lainnya.


Orang-orang mukmin tidak boleh membunuh orang mukmin demi (membela) orang kafir.  Juga tidak boleh menolong orang kafir untuk menghadapi orang mukmin.  Sesungguhnya jaminan Allah adalah satu.  Dia melindungi orang-orang yang lemah (atas orang-orang yang kuat).  Kaum mukmin, sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain.  Orang yang mengikuti kami dari kalangan Yahudi (ahlu dzimmah) akan mendapatkan pertolongan dan keteladanan.  Mereka tidak akan dianiaya…


Beberapa poin penting yang mengikat hubungan antara kaum muslimin di bawah kepemipinan Rasulullah saw. dengan komunitas-komunitas Yahudi seperti Yahudi Bani Auf, Bani Najjar, Bani Qainuqa, Bani Nadlir, dan Bani Quraizhah dalam perjanjian tersebut adalah:

(1) Bahwa kaum Yahudi tidak boleh keluar kota Madinah kecuali dengan izin dari Nabi Muhammad saw.

(2) Bahwa kota Madinah (Yatsrib) harus dihormati oleh semua pihak yang mengikuti perjanjian.

(3)  Bahwa kejadian dan perselisihan yang timbul di antara pihak-pihak yang mengikuti perjanjian ini yang dikhawatirkan kerusakannya, maka tempat kembalinya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya.

(4) Bahwa tidak boleh menjalin kerjasama dengan kaum kafir Quraisy dan memberikan pertolongan kepada  mereka.

Artinya, Piagam Madinah  boleh dikatakan sebagai konstitusi negara di Madinah yang dipimpin oleh baginda Rasulullah saw.  dan persoalan-persoalan di dalamnya diselesaikan menurut keputusan Rasulullah saw. yang telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk memutuskan segala perkara dengan hukum Allah SWT (QS. Al Maidah 49).


Rasulullah saw. sebagai kepala negara menjalankan pemerintahan secara penuh dengan menerapkan syariat Allah yang diturunkan kepada beliau saw.  Beliau membentuk angkatan bersenjata untuk berpatroli menjaga kota Madinah dan sekitarnya, juga untuk menghadapi serangan dari luar (jihad defensive) maupun untuk melakukan serangan-serangan terhadap musuh-musuh negara (jihad offensive) maupun dalam rangka menjaga dakwah Islam kepada negara dan umat lain.

Tercatat berbagai peperangan (jihad fi sabilillah) di masa 10 tahun pemerintahan baginda Rasulullah saw dari Perang Badar melawan Quraisy hingga Perang Tabuk melawan Rumawi.  Dalam sepuluh tahun masa peemrintahan Rasulullah saw. itu, terutama setelah penaklukan kota Mekkah pada tahun 8H, negara yang dipimpin oleh baginda Rasulullah saw. itu mengalami perluasan wilayah yang luar biasa, dari satu kota Madinah menjadi seluruh Jazirah Arab hingga ke Yaman di bagian selatan yang kini menjadi sekitar 7 negara.  Di berbagai wilayah baru itu Rasulullah saw mengangkat wali (penguasa setingkat gubernur) dan amil (penguasa setingkat walikota/bupati) sehingga pemerintahan berjalan secara riil.

Negara di masa Rasulullah saw.  itu benar-benar fakta, bukan cerita fiksi atau legenda. Bahkan negara itu mengalami perluasan yang luar biasa hingga pada masa Khalifah Umar bin Khaththab (15H) menaklukkan dua negara adidaya Rumawi dan Persia.


Oleh karena itu, sudah selayaknya, kaum muslimin hari ini, terutama para ulama dan tokoh-tokohnya, termasuk para politisi dan birokrat muslim, mengkaji secara serius detil bagaimana Rasulullah saw. sebagai kepala negara telah menjalankan tugasnya dalam membentuk, mebangun, dan mengelola negaranya untuk dijadikan model dan panutan, bukan mengacu kepada orang-orang lain seperti Plato, John Locke, Montesque, Karl Marx, atau yang lain-lain.


Bukankah Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab 21). 

Baarakallahu lii walakum

suara-islam.com

Naskah Khutbah Buletin Ad Dakwah Edisi 124 Tahun ke-III