25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Cerita tentang Sukses

Cerita tentang Sukses

Fiqhislam.com - Sukses itu pilihan. Namun bukan pilihan yang tanpa pengorbanan. Jadi jangan pernah berharap sukses, sambil selonjoran kaki atau sambil rebahan di atas kasur. Kalau ada yang begitu, lebih baik cepat-cepat cuci muka di kamar mandi.

Sukses itu juga bukan melulu soal-soal duniawi. Tapi lebih pada menjelmanya rencana dan keinginan menjadi kenyataan. Kalau tidak punya niat, keinginan dan rencana, bagaimana mungkin bisa berkisah tentang tujuan. Walau demikian, ketika rencana tidak terwujud dalam nyata, bukan berarti gagal dan tercela. Kadang pula itu yang terbaik buat kita, selama kita sudah berusaha dan telah mencurah segenap daya dan upaya. Kadang Allah menyimpan yang terbaik buat kita.

Namun betapa naif jika sukses itu cuma cerita tentang di dunia. Kalau sudah tercapai, jika sudah tiba, what next? Apa yang membuat semua situasinya berbeda.

Apa yang berbeda ketika kita menyeruput kopi di bawah rindang pohon di pinggir jalan Pedurenan, ditemani semilir angin dan kue kamir, dibandingkan dengan minum kopi di Starbucks, di kawasan Manhattan, New York di bawah hembusan AC?

Apa yang berubah ketika kita masih karyawan magang, atau cari kerjaan sana-sini, atau baru merintis usaha jualan buku keliling, dibandingkan ketika kita sudah menjadi seorang CEO di perusahaan ternama dan bertaraf internasional.

Paling-paling bedanya: dulu naik angkot atau sepeda motor ringkih nan tua kini naik mobil mewah bersupir pula. So what?

Mungkin juga yang berbeda adalah kita lebih enlightened dan berpengalaman. Tapi bukankah memang demikian seiring berlalunya waktu. But, so what?

Pada akhirnya, ada kesuksesan hakiki. Sebut saja itu sukses di akhirat. Mengejar sukses di akhirat, tidak perlu menunggu sukses di dunia. Karena itu sesuatu yang berbeda. Sukses di dunia tidak ada korelasi paralel bagi sukses di akhirat. Bisa jadi pendorong dan nilai plus, bisa pula sebaliknya.

Namun, mumpung di dunia, sayang juga kalau tidak sukses kan? Gagal di dunia juga tidak enak rasanya. Yang celaka, kalau tidak sukses di dunia, gagal pula di akhirat. Itu namanya celaka dua belas pangkat tujuh. Naudzubillah mindzalik.

Oleh Nurkholis Ridwan
yy/islampos