14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Obrolan di Emper Surau

Obrolan di Emper SurauKebanyakan orang tahunya dosa dan pahala hanya didapat pada saat seseorang melakukan keburukan atau kebaikan saja. Padahal tidak demikian. Dosa dan pahala adalah benda berantai yang sulit diputus.

Satu contoh sederhana, kalau seseorang berbohong, maka dia akan mempunyai "tanggung-jawab" untuk melindungi kebohongannya agar tidak ketahuan. Caranya: dengan berbohong lagi.

Kebohongan yang kedua itupun harus ditutupi. Tidak ada cara lain kecuali dengan melakukan kebohongan yang ketiga. Lalu dia harus melakukan kebohongan keempat untuk menyelamatkan kebohongan ketiga. Begitulah terus-menerus dia harus berbohong guna menutupi kebohongan sebelumnya.

Bahkan menurut analisa seorang filosof dari negeri Madankara (whuahahahaha...), dosa dan pahala merupakan benda organik yang bersifat abstrak. Logikanya, kalau ada "amal jariah" maka ada pula "dosa jariah". Sebagaimana benda organik lainnya, meskipun tidak kelihatan karena sifatnya yang abstrak, dosa dan pahala bisa berkembang-biak, beranak-pinak, bercucu-cicit, dengan cara masing-masing.

Seorang ulama mengilustrasikan bagaimana satu dosa kecil bisa berkembang melebar dan meluas.

Suatu hari seorang pengendara sepeda motor berhenti dan bertanya kepada seorang pemuda, di mana rumah bordil yang katanya baru dibuka di sekitar situ. Si pemuda pun menjawab dengan enteng, "Tuh", katanya sambil 'njubir' (menunjuk dengan bibir).

Maka si pengendara sepeda motor pun datang ke rumah bordil itu dan berbuat maksiat. Si pemuda jelas mendapatkan dosa juga karena telah membantu menunjukkan tempat maksiat itu.

Besoknya pengendara sepeda motor itu bercerita pada teman-temannya. Lain hari mereka datang ramai-ramai ke tempat itu dan  berbuat maksiat. Si pemuda tadi juga masih mendapat dosa atas andilnya menunjukkan tempat maksiat itu.

Tak hanya berhenti di situ. Sesudah datang ke tempat itu, mereka bercerita dan mengajak teman-teman yang lain. Teman-teman lain itu pun mengajak teman-temannya lagi. Orang-orang baru ini sudah tidak tahu lagi "jasa" si pemuda menunjukkan tempat itu. Tetapi pemuda itu tetap mendapatkan dosa atas maksiat yang dilakukan oleh orang-orang itu.

Apakah selesai sampai di situ? Belum! Rantai cerita masih panjang. Di tahun-tahun mendatang, keretakan rumahtangga para ahli maksiat itu pun mulai terasa. Sering ribut dengan istrinya, anak-anaknya jadi korban, sekolahnya terbengkalai, bahkan SPP pun tidak kebayar. Singkatnya, puluhan rumahtangga berantakan.

Sudah tidak ada yang ingat andil si pemuda menunjukkan tempat maksiat yang ternyata menjadi cikal-bakal kerusakan puluhan rumahtangga. Mereka tidak akan menyalahkan apalagi menuntut si pemuda. Bahkan hukum dunia pun tidak akan bisa menjerat si pemuda karena dosanya menjadi lantaran kehancuran banyak rumahtangga. Namun catatan di langit tidak akan bisa hilang. Si pemuda masih tetap mendapat aliran dosa yang bahkan semakin besar hanya dengan menanam saham kecil, satu kata "tuh". Entah sampai kapan aliran dosa itu terhenti. Nauzubillah.

Begitulah cara dosa berkembang biak. Sebaliknya, pahala pun berkembang biak sebagai benda organik.

Sebagai ilustrasi, di kalangan kita, DMV, ada sebuah kelompok arisan bulanan. Selain arisan induk yang jumlahnya cukup besar guna mengatur distribusi, alokasi dan sirkulasi keuangan anggotanya, selain tujuan utamanya  menyambung 'rahmi', mereka menyisipkan arisan tambahan yang mereka sebut "20 dolaran" (atau biar lebih nyaman kita namakan saja "arisan amal").

Sebagaimana arisan induknya, arisan amal pun dikocok. Bedanya, uang arisan amal tidak dipakai pribadi orang yang mendapatkan melainkan dikirim ke kampungnya guna pengadaan, perbaikan dan peningkatan sarana fisik terutama di sektor agama. Di kampung nun jauh di sana, saudara atau pengurus kampung sudah siap dan tahu apa yang harus dilakukan.

Ringkas cerita, surau yang bocor jadi rapat. Masjid yang lantainya semen meningkat jadi keramik. Lampu yang sebelumnya "nyantol" dari rumah terdekat sekarang punya listrik sendiri. Surau yang tadinya tanpa mimbar jadi punya mimbar. Jalan ke masjid yang dulu becek waktu hujan sekarang disemen. Masjid dan surau jadi punya tempat wudhu yang nyaman.

Jamaah tidak buru-buru keluar dari masjid sesudah shalat dan memperpanjang dzikirnya karena nyaman sudah ada kipas angin. Anak-anak yang tadinya belajar ngaji dengan satu "turutan" (Qur'an juz 'amma) untuk bertiga, sekarang bisa satu kitab per anak. Mereka jadi punya bangku yang nyaman dengan penerangan yang cukup untuk belajar ngaji. Gurunya pun jadi lebih bersemangat. Dan lebih banyak lagi anak belajar ngaji.

Uang hasil arisan amal yang mungkin di sini tidak besar jumlahnya itu telah memperbaiki ibadah orang sekampung. Puluhan bahkan ratusan anak jadi pandai mengaji. Setelah dewasa nanti mereka akan mengajarkan ngajinya kepada anak-anak mereka dan anak-anak yang lain, entah perpencaran kemana mereka kelak. Anak-anak mereka akan mengajarkan kepada anaknya lagi, cucunya, cicitnya entah kepada siapa lagi, entah dimana mereka berada.

Pada saat itu nanti mungkin para peserta arisan sudah tidak ingat lagi amal yang pernah mereka perbuat saat merantau di Amerika, bahkan mungkin sudah terbaring lelap di alam kubur, namun catatan di langit tidak akan pernah terhapus. Pahala akan tetap mengalir dari andilnya memberi sarana ibadah orang-orang di kampungnya. Membuat anak-anak pandai mengaji. Pahala akan tetap mengalir dari setiap huruf yang diucapkan oleh setiap anak yang pernah belajar mengaji di surau. Juga dari setiap huruf yang diucapkan oleh siapapun yang belajar dari mereka.

Begitulah cara pahala berkembang-biak, beranak-pinak. Allahu Akbar.

Peserta arisan itu tak pernah membicarakan amal. Mereka juga tak pernah diskusi tentang pahala. Mereka hanya bergerak menuruti suara hati yang diilhami oleh sukma ketakwaan. Tetapi mereka adalah para mujahidah kecil yang minimal telah menyumbangkan satu tiang untuk menegakkan agama (semoga Allah memuliakan mereka).

Itulah benda organik yang bernama "pahala" dan "dosa". Ibarat tanaman, mereka akan tumbuh dan berkembang. Bagaimana pesat perkembangannya, tergantung pada tanah dan alamnya.

Silahkan pilih, mau menanam benih yang mana, mau ditanam di mana.

Bahrudin Muhamad

alumni ESQ Washington DC

penulis165.esq-news.com