fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Antara Ibu, Isteri, dan Wanita

Antara Ibu, Isteri, dan WanitaFiqhislam.com - Dunia telah mencatat sejarah fenomenal yang ditorehkan oleh para tokoh. Baik itu pemimpin, ilmuwan, dan beberapa sosok sukses lainnya yang memberikan warna perubahan dalam kehidupan masyarakat. Lihat saja sosok Nabi Muhammad SAW. Bahkan Michael H Hart penulis buku 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah, menempatkannya di urutan pertama dalam daftar manusia paling berpengaruh dalam sejarah. Di balik catatan yang mengagumkan ini, tentunya para tokoh ini tak berjuang sendiri. Pasti ada sosok penting yang menyokong dalam setiap langkah mereka. Siapa mereka?

Bagi saya, anda, atau kita semua pastilah ada sosok yang menyokong dalam setiap langkah. Mendoakan dalam setiap upaya yang kita lakukan, tersenyum bangga kendatipun lingkungan menghinakan kita. Peluhnya, ia dedikasikan untuk keberhasilan kita. Jerih payahnya, kekhawatirannya, kegundahannya, air matanya, hanyalah untuk kita, anaknya yang ia banggakan. Sosok itu adalah, ibu.

Dikisahkan suatu ketika di pedalaman Kelantan. Seorang anak kecil yang menderita polio, memiliki hidung yang sangat mancung, dan memiliki rambut ikal. Namun, keunikannya itu menyebabkan ia menjadi bahan hinaan teman-temannya. Rambutnya yang ikal di kata sarang tawon, hidungnya yang mancung pun tak luput dari hinaan. Bahkan, penyakit polionya membuat teman-teman masa kecilnya meledek dengan gerakan dan sebutan 'Omar Pincang'.

Tatkala Omar menyambangi kawan-kawannya hendak bermain. Seperti hari-hari yang telah dilalui, semua menertawakan dan mencemoohnya sambil menirukan cara berjalannya yang pincang. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bermain dan kembali ke rumahnya dengan perasaan pedih menggores hati. Hingga tak terasa bulir airmata mengalir deras membasahi wajahnya yang berhidung mancung.

Setibanya dirumah, ia disambut oleh senyum ibunda. Ibunda dengan sabar menanyakan mengapa ia menangis, kemudian diceritakanlah semua kejadian yang telah dialaminya tadi. Setelah menarik nafas ibunda pun berkata:

“Omar… sakitnya dimana? Di kaki atau disini?" kata Ibunda sambil menunjuk ke kepala.

“Di kaki Ibu,” jawab Omar.

“Kawan-kawan Omar kakinya sakit tidak? Dan jika kaki mereka tidak sakit tapi berjalan dengan pincang, maka apanya yang sakit?" lanjut Ibundanya. Dan Omar terdiam mendengarkan perkataan Ibunda.

“Kaki Omar sakit, tapi kepala tidak... Omar bisa pergi jauh nanti. Tapi kalau kaki baik dan isi kepala tak baik maka Omar tidak bisa pergi kemanapun Omar mau,” kata Ibunda Omar disertai senyumnya yang meneduhkan hati sang anak yang sedang pilu.

Itulah sepenggal kisah masa kecil Professor Dato' Dr. Sheikh Omar Abdul Rahman, seorang ilmuwan dan ahli penyakit hewan di Universiti Putra Malaysia yang mendapatkan gelar Sarjana dari University of Queensland Australia (1974), Gelar Master dari University of Saskatchewan Canada (1977), Member (MRCVS)di Royal College of Veterinary Surgeons London (1977), dan memperoleh gelar Profesor tahun 1993.

Motivasi dan dorongan dari Ibunda melalui perkataan dan kasih sayangnya kepada Omar melekat dalam kehidupannya sehingga Omar mampu mengalahkan keterbatasannya.

Peran seorang Ibu juga dirasakan oleh banyak tokoh dunia lainnya, salah satunya adalah John Francis Welch Jr. (Jack Welch) mantan Chief Executive Officer dari General Electric (GE) yang pada tahun 1999 dinobatkan sebagai “Manajer Abad ini” oleh majalah Fortune dan saat pensiun mendapatkan gaji 4 juta dollar per tahun, yang diikuti dengan nilai pensiun sebesar 8 juta dollar setiap tahun.

Jack Welch lahir di Peabody, daerah Massachusetts, Amerika Serikat pada 19 November 1935. Ia dibesarkan oleh keluarga sederhana, ayahnya John Welch Sr. bekerja sebagai seorang kondektur Boston-Maine Railroad dan ibunya Grace Welch hanyalah seorang ibu rumah tangga.

Jack Welch berkisah pada saat pidato perpisahannya dengan seluruh jajaran GE bahwa diwaktu kecil ia adalah seorang anak gagap yang sama sekali tidak menonjol dalam berbagai mata pelajaran. Namun Ibunya setiap hari selalu membuka tas sekolahnya dan mencari nilai ujian sekolahnya yang dapat membanggakannya dan jika menemukannya selalu dipajang di dinding rumah walaupun nilainya biasa-biasa saja.

Seraya meneteskan air mata ia berkata, “Jika Ibuku saat ini masih ada, maka aku akan berkata, lihatlah Ibu ada banyak kebanggaan yang dapat kau pajang di dinding rumah.”

Bukan saja peran ibu, namun peran Istri sangat penting dalam kehidupan seorang pemimpin. Sosok mulia seperti Nabi Muhammad SAW digambarkan dalam sejarah mendapatkan dukungan yang sangat besar dari istri beliau yakni Siti Khodijah di masa awal kenabiannya.

Siti Khodijah senantiasa memberikan dukungan secara moril maupun materiil sampai akhir hayatnya. Sungguh pengorbanan yang luar biasa, ditengah beratnya perjuangan beliau dalam mengemban amanah besar dari Allah Penguasa langit dan bumi.

Pada tahun 527 ada seorang tokoh bernama Flavius Petrus Sabbatius Justinianus atau Justinianus I. Ia merupakan salah satu tokoh terpenting pada abad kuno. Masa kekuasaannya ditandai dengan renovatio imperii (restorasi kekaisaran) yang ambisius. Ambisi ini ditunjukkan melalui perebutan kembali wilayah Kekaisaran Romawi Barat, termasuk kota Roma sendiri.

Pada masa kekuasaannya, ditulis hukum Romawi Corpus Juris Civilis yang masih menjadi dasar bagi hukum masyarakat di negara-negara modern. Pada masanya pula budaya Bizantium berkembang dan program pembangunannya melahirkan karya-karya besar. Justinian mendapatkan bantuan moril yang besar dari istrinya, Theodora.

Terlepas dari masa lalu Theodora yang seorang  aktris dan menjadi semacam pelacur tingkat tinggi yang hanya melayani kalangan terbatas, Theodora telah menjadi penasihat  yang mampu melakukan pelbagai tugas diplomatik. Theodora pun mempunyai pengaruh terhadap peraturan-peraturan yang dikeluarkan Justinian, termasuk beberapa pengesahan hukum yang memperbaiki hak-hak dan status wanita.

Harold Macmillan pernah berkata, “No man succeeds without a good woman behind him. Wife or mother, if it is both, he is twice blessed indeed.”

Bahkan teramat istimewa peran sang ibu, hingga Nabi Muhammad SAW mengatur bagaimana perlakuan seorang anak pada orang yang melahirkannya itu.

"Daripada Muawiyah bin Haidatal Qusyairi, katanya: aku bertanya, Rasulullah SAW, siapakah orang yang paling patut aku berbuat baik?
Rasulullah SAW menjawab, ibumu. Kemudian aku bertanya lagi, siapa?
Rasulullah menjawab, ibumu. Kemudian aku bertanya lagi, siapa?
Rasulullah menjawab, ibumu, kemudian aku bertanya lagi, siapa?
Rasulullah menjawab, bapamu, kemudian orang yang paling hampir denganmu dan seterusnya." (Hadis Riwayat at-Tirmizi)

Allah memuliakan sosok Ibu! Namun hati ini menangis tatkala melihat hasil survey kekerasan pada anak 80 persen terjadi dari Ibu.

Namun itu bukan ibuku!

Ibuku, ia lembut.

Marahnya cinta, pujiannya doa, kasih sayangnya sepanjang usia. Air matanya tetesan surga.

Kini ia tak lagi muda, binar matanya tak lagi bercahaya, mungkin ajal akan menjemputnya.

Tapi, kurasa engkau telah berhasil ibu. Berhasil mengenalkanku pada penciptaku.

Itulah kebahagiaanku memilikimu. Ibu.

penulis165.esq-news.com