14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Ketika Malaikat Jibril Memanggil Zakaria

Fiqhislam.com - Selama lebih dari 12,000 tahun manusia di bumi bercocok tanam, secara turun menurun mereka mewarisi tradisi untuk mengambil benih terbaik dari tanaman sebelumnya untuk menghasilkan tanaman-tanaman berikutnya yang lebih baik, lebih produktif, lebih tahan hama dlsb.

Tradisi ribuan tahun itu kini nyaris mati, karena benih-benih tidak lagi bisa dihasilkan oleh para petani. Benih-benih diproduksi oleh korporasi raksasa dunia dalam kondisi infertile, petani bisa menanam tetapi setiap benih harus dibeli dari korporasi-korporasi tersebut. Ulah para korporasi yang menghasilkan infertile seeds inilah yang mengakhiri siklus pertanian dan mengancam kekersediaan pangan dunia secara berkelanjutan.

Pada tahun 1998 ada sebuah perusahaan di Amerika yang konsentrasinya pada produksi benih kapas. United States Department of Agriculture (USDA) kemudian tahun itu mengumumkan bahwa perusahaan tersebut telah mengantongi patent tentang teknik genetika yang memungkinkan mereka men-disable kemampuan biji kapas untuk menghasilkan benih – alias membuatnya mandul. Bila ditanam hasilnya adalah kapas-kapas yang baik tetapi tidak lagi menghasilkan biji yang bisa ditanam untuk periode berikutnya.

Bukan hanya untuk kapas seperti pada awal pengurusannya, tetapi patent tersebut kemudian juga meluas ke hampir keseluruhan jenis tanaman. Hanya selang beberapa bulan saja dari pengumuman patent ini, perusahaan pemilik patent tersebut diakuisisi oleh perusahaan produsen benih terbesar di dunia – yang jangkauannya sampai ke Indonesia. Pernah ada kasus hukum tentang perusahaan ini, namun kita tidak pernah mendengar lagi kelanjutannya. Jadi benih-benih mandul tersebut kini juga tersebar luas di Indonesia untuk berbagai jenis tanaman.

Dengan jaringan global yang amat perkasa tersebut, maka tidak heran apabila kita melihat seolah negeri kita – negeri dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia – menjadi tidak berdaya memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Sepertinya ada kesengajaan agar sekitar 240 juta penduduk negeri ini tetap menjadi pasar bagi produk-produk pertanian negara maju.

Lantas apa yang akan kita buat ? akankah kita membiarkan anak cucu kita terjebak dalam ketergantungan pangannya pada korporasi-korporasi raksasa global yang menguasai perbenihan dan sejenisnya ini ?

Ada dua langkah yang menurut saya bisa dilakukan untuk membalik arah ini agar korporasi-korporasi raksasa tersebut tidak terus menerus berbuat kerusakan di muka bumi seperti yang kita sudah diberitahu kabarnya oleh Allah “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2] : 205)

Langkah pertama adalah langkah-langkah ikhtiari yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang kompeten dibidangnya seperti para peneliti, para pengambil keputusan, para pemilik lahan pertanian dlsb. Semenjak para peserta Itikaf Wirausaha menggagas tanaman alfalfa untuk mengatasi ketidak mampuan bangsa ini untuk mengkonsumsi daging secara cukup misalnya, Alhamdulillah sudah ada dua professor yang masing-masing ahli dibidangnya – yang bersedia membantu dalam upaya ini. Ada pula lahan pertanian yang cukup untuk memulai, ada instansi yang sudah siap akan mendukungnya dslb.

Langkah kedua adalah yang bisa dilakukan oleh semua dari kita, yaitu langkah untuk menghadirkan pertolongan Allah melalui do’a-do’a kita. Bila sekian banyak dari kita berdo’a untuk anak cucu kita semua, insyaAllah akan ada jalan untuk melawan kejahatan kemanusiaan terbesar abad ini – yaitu kejahatan penguasaan bibit-bibit pertanian dan membuatnya mandul.

Langkah menghadirkan pertolongan Allah ini akan membuat yang tadinya nampak tidak mungkin menjadi mungkin, mereka berbuat makar dengan memandulkan tanaman yang mestinya fitrah untuk umat manusia di seluruh dunia sepanjang jaman. Tetapi Allah-lah sebaik-baik pembuat makar itu, maka kita harus berdo’a untuk memohon pertolongannya – agar kita dijadikan tentara-tentaraNya yang dapat mengembalikan bibit-bibit yang mandul menjadi bibit-bibit yang subur dan mampu menumbuhkan bibit-bibit berikutnya secara berkelanjutan.

Kabar gembira mengenai kesuburan ini dapat kita ambil pelajarannya dari dialog Malaikat Jibril dengan Nabi Zakaria berikut :

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh."
Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?" Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (QS. Ali-Imron [3] : 39-40)

Jadi hanya Allah-lah yang bisa membuat yang mandul menjadi subur, maka selain berupaya sekuat tenaga dengan yang kita bisa, do’a-do’a kita semua yang insyaAllah akan menjadi jalan untuk hadirnya pertolongan Allah pada setiap persoalan yang kita hadapi – termasuk dalam hal kecukupan pangan yang bergizi bagi umat ini. InsyaAllah.

Oleh Muhaimin Iqbal
eramuslim.com