<
pustaka.png
basmalah.png

Tiga Pertanyaan Bagi Para Islamis

Tiga Pertanyaan Bagi Para IslamisSelaku imam sebuah masjid di Amman, ibukota Yordania, saya mengikuti perkembangan dramatis yang terjadi di Afrika Utara dan Timur Tengah dengan penuh harap tetapi sekaligus keprihatinan yang sangat. Fenomena anak muda yang mengorganisir diri secara damai untuk menuntut reformasi politik, kesempatan ekonomi, dan hak asasi membuat saya bangga; sejumlah warga jamaah masjid saya termasuk di antara mereka. Pada sisi lain, dampak maut dari konflik antara negara dan masyarakat di banyak negara Arab sangatlah mengerikan. Demikian juga tragedi meningkatnya kejahatan, kesulitan ekonomi dan ketidakamanan di negara-negara seperti Mesir yang tengah mengalami perubahan drastis.

Pada masa-masa yang menantang ini, peran Islam sangatlah penting, dan masyarakat Arab tampaknya tahu itu. Saya hanya bisa membacanya dari meningkatnya jumlah jamaah di masjid saya, yang kian membludak setiap Jumatan. Anak-anak muda mencari ketenangan dan inspirasi dari Islam saat mereka menghadapi masa depan yang tidak menentu.

Pada saat yang sama, para pengamat politik – di Arab maupun dunia pada umumnya – tengah memunculkan keprihatinan pada peran kelompok-kelompok yang disebut “Islamis” dalam transisi politik yang tengah berlangsung. Para anggota jamaah saya sering bertanya pada saya mengenai masalah ini. Menanggapi ini, melalui khutbah Jumat serta berbagai percakapan, saya mencoba mengungkapkan berbagai perbedaan yang diperlukan untuk memastikan bahwa ajaran-ajaran Islam diterapkan secara benar – dan bahwa bahasa Islam tidak dikooptasi oleh gerakan-gerakan politik oportunistik.

Dalam ketidakstabilan di Afrika Utara dan Timur Tengah seperti sekarang, ada persaingan kuat demi popularitas politik dalam kancah bursa ide yang baru. Ketika menilai tokoh atau gerakan politik yang mengaku mengemban legitimasi dari Islam, kita seharusnya mengajukan beberapa pertanyaan dan menuntut jawaban tegas.

Pertanyaan pertama adalah: apakah Anda mendukung kesetaraan hak politik, sosial dan ekonomi bagi semua warga negara, apa pun etnis, jender atau aliran mereka?

Jawabannya harusnya ya. Al-Qur’an dan hadits menghadirkan visi keadilan sosial dalam segala bentuknya – tidak saja bagi laki-laki tetapi juga bagi perempuan; tidak saja bagi orang Arab tetapi juga bagi etnis-etnis lain; dan tidak saja bagi Muslim tetapi juga seluruh umat manusia. Ini adalah keyakinan saya selaku orang yang belajar Islam sepanjang hayat. Dalil-dalil yang membuktikan hal ini cukup banyak, tetapi cukuplah untuk menyebut bahwa visi kesetaraan dan keadilan dalam al-Qur’an tidak ditujukan kepada sekelompok manusia saja tetapi kepada semua “anak cucu Adam” (7:26).

Selama berabad-abad, penafsiran al-Qur’an dan hadits cukup beragam, dan sebagian penafsiran ini tidak selaras dengan nilai-nilai al-Qur’an yang sejati. Penafsiran paling akurat tidak akan berbenturan dengan prinsip kesetaraan dan keadilan universal – ataupun menutup peluang politik atau ekonomi bagi siapa pun. Penafsiran semacam itu bisa dan seharusnya dicapai dengan prinsip ijtihad, penerapan nalar manusia pada situasi dunia yang terus berubah.

Pertanyaan kedua adalah: apakah Anda yakin bahwa Islam selaras dengan prinsip kedaulatan hukum yang melampaui ajaran-ajaran hukum suatu agama?

Jawabannya mestinya ya. Dari perspektif Islam kontemporer, syariat bukanlah sebuah dokumen yang menggantikan sistem hukum suatu negara. Sebaliknya, syariat Islam adalah serangkaian ajaran yang menuntut Muslim yang beriman menghormati hukum negara di mana mereka hidup, bila hukum di sana selaras dengan nilai-nilai universal kesetaraan sosial dan hak asasi manusia. Selain itu, kalaulah suatu hukum diskriminatif dan tidak adil, syariat menuntut agar Muslim yang beriman bekerja dalam bingkai hukum dan demokrasi untuk mengamandemen hukum itu. Islam menekankan prinsip musyawarah, sebagai sebuah sarana untuk mencapai keputusan yang mempengaruhi lembaga politik. Orang-orang “yang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka” (42:38) dianggap patut mendapatkan pahala dari Tuhan.

Pertanyaan ketiga adalah: apakah Anda berpandangan bahwa platform politik Anda secara sempurna menerjemahkan ajaran-ajaran Islam?

Jawabannya harusnya tidak. Al-Qur’an menunjukkan fakta bahwa manusia, yang dibekali kekuatan duniawi, bisa salah dan tidak jujur: “[Manusia berkecenderungan] melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi” (2:27). Islam sendiri tidaklah berdosa lantaran kesalahan orang-orang yang menafsirkan atau mengamalkannya. Karena menyatakan bahwa seseorang itu tanpa kesalahan adalah terlalu sombong dan meragukan, mengklaim bicara atas nama Islam jugalah terlalu sombong dan meragukan.

Selain itu, mengklaim berbicara atas nama Islam berarti menegaskan superioritas di atas platform politik lainnya – sebuah sikap yang mengarah ke totalitarianisme.

Islam, yang saya pahami, menuntut manusia menegosiasikan perbedaan dan memerintah berdasarkan konsensus. Tidak ada nabi ataupun khalifah terbimbing di zaman modern. Kita harus berjuang bekerjasama untuk memulihkan kawasan dan dunia kita sebaik yang kita bisa.

Oleh: Mustafa Husayn Abu Rumman
* Mustafa Husayn Abu Rumman ialah imam Masjid Ibn Sinan di Amman, Yordania.
 
CGNews
rimanews.com
top