12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Integrasi Ilmu dalam Pendidikan

Integrasi Ilmu dalam PendidikanIde pengintegrasian ilmu dikembangkan pertama kali oleh Bapak Muhammad Natsir. Beliau melihat bahwa mereka yang hanya mempelajari ilmu agama dan yang hanya mempelajari ilmu dunia, sama-sama jauh dari agamanya. Sebab, di dalam Al Quran surat al-Qashash ayat 77 Allah memerintahkan kita agar hidup ”seimbang”, mengejar akhirat tapi dunia tidak boleh lupa.

Kedua jenis pendidikan ini tidak boleh dipisahkan (dikotomi), dalam arti saling meniadakan. Tapi keduanya saling mengisi agar umat dalam memperoleh kejayaan dunia akhirat, sebagaimana pernah dicapai oleh kaum muslimin terdahulu. Pemikiran tentang pendidikan harus integral, tidak boleh memisahkan ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama dan ilmu umum. Keduanya satu kesatuan. Memisahkan dan mempertentangkan salah satunya akan membuat umat tidak bisa berjaya, terutama di kancah pergulatan kehidupan dunia ini.

Untuk mewujudkan visi misi pendidikannya, Natsir mendirikan lembaga pendidikan di lingkungan pergerakan Persatuan Islam di Bandung yang diberi nama “Pendidikan Islam” (Pendis) pada tahun 1927. Ini merupakan Pendidikan dasar formal pertama yang ada di lingkungan keluarga besar Persatuan Islam. Pendidikan Islam (Pendis) bermula dari cita-cita dan idealisme Natsir mengenai pendidikan Islam dan umat Islam setelah melihat kenyataan yang terjadi di lapangan saat itu.

Tahun 1981, setelah konferensi Pendidikan sedunia di Mekkah pada tahun 1977, Ismail Raji Al-Faruqi mencetuskan ide Islamisasi Ilmu pengetahuan dengan cara integrasi ilmu. Ide integrasi ilmu Al-Faruqi didefinisikan sebagai usaha yaitu memberikan definisi baru, mengatur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan –dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin itu memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita Islam.

Dalam menjalankan proses Islamisasi pengetahuan ini Al-Faruqi merumuskan  rencana kerja dengan lima tujuan yaitu :

1.      Penguasaan disiplin ilmu modern.

2.      Penguasaan khazanah warisan Islam.

3.      Membangun relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ilmu modern.

4.      Memadukan nilai-nilai dan khazanah warisan Islam secara kreatif dengan ilmu-ilmu modern.

5.      Pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah.

Sementara itu, untuk merealisasikan  tujuan-tujuan tersebut, al-Faruqi menyusun 12 langkah yang harus ditempuh terlebih dahulu. Langkah-langkah tersebut secara rinci dapat dibaca di bukunya yang berjudul Islamization of Knowledge. Bersama rekan-rekannya, Al-Faruqi mendirikan Institut Internasional Pemikiran Islam (International Institute of Islamic Thought, IIIT) di Virgina, pada tahun 1981. Selanjutnya dengan berbagai konferensi, seminar, diskusi, workshop, jurnal, buku, artikel, penelitian, dan usaha-usaha lainnya, ide Islamisasi ilmu pengetahuan dikumandangkan.

Sekitar tahun 2000-an, di Indonesia beberapa institut agama Islam (IAIN) berubah menjadi universitas Islam. Ide utamanya adalah integrasi ilmu agama dan ilmu umum menjadi satu kesatuan yang komprehensif. Beberapa alasan perubahan tersebut disebutkan di antaranya :

1.      Kita memerlukan pemikir yang mampu berpikir komprehensif.

2.      Ilmu agama memerlukan ilmu umum.

3.      Meningkatkan harga diri sarjana dan mahasiswa muslim.

4.      Menghilangkan paham dikotomi ilmu agama-umum.

5.      Memenuhi harapan masyarakat muslim.

6.      Memenuhi kebutuhan lapangan pekerjaan.


Untuk publikasi dilakukan secara langsung dengan mendeklarasikan perubahan tersebut. Sementara perubahan di dalamnya dilakukan secara bertahap. Tahap pertama dengan memberlakukan konsep wider mandate yaitu IAIN diberi kewenangan yang luas untuk membuka fakultas/jurusan/program studi/konsentrasi ilmu-ilmu umum. Tahap kedua dengan mendeklarasikan IAIN menjadi universitas.

Ide integrasi Al Faruqi ini banyak mendapat kritikan, terutama dari Syed M. Naquib Al-Attas, orang yang pertama menggaungkan ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Salah satu kritiknya, banyak ilmu-ilmu Barat yang bermasalah dan bertentangan dengan cara pandang (ideologi) Islam sehingga tidak bisa diintegrasikan. Ilmu-ilmu Barat harus diislamisasi baru diintegrasikan. Wallahu a’lam.

Erma Pawitasari, M.Ed
Kandidat Doktor Universitas Ibnu Khaldun Bogor
Direktur Eksekutif Andalusia Education Center & Management Services (AIEMS)

suara-islam.com