fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Guru Pertama Para Ulama Adalah Orangtuanya Sendiri

Guru Pertama Para Ulama Adalah Orangtuanya SendiriFiqhislam.com - Pakar Pendidikan sekaligus peneliti INSISTS, Adnin Armas, melihat ada yang salah dengan konsep pendidikan di keluarga Indonesia saat ini. Langkah orangtua yang menyerahkan seluruh proses pendidikan di sekolah adalah sikap keliru.

“Sekolah hanya menjadi penitipan, sedangkan yang mengasuh anak di rumah adalah pembantu. Orangtuanya sibuk bekerja,” tegasnya di hadapan para orangtua murid yang mengikuti Fakhruddin Ar Razi Competition, Sabtu 8/10.

Menyadari fenomena ini, Adnin menyarankan umat Islam untuk kembali membuka lembaran sejarah terkait proses pendidikan yang melahirkan manusia sekelas ulama.

“Para ulama dahulu selalu memulai konsep pendidikannya dari rumah. Maka itu guru pertama mereka adalah orangtuanya sendiri,” imbuh alumni Ponpes Gontor ini.

Salah satu model yang dapat ditiru adalah Imam Syafi’i. Pakar ushul Fiqh ini adalah produk dari seorang ibu pecinta ilmu. Meski tergolong keluarga tidak punya, ibunda Imam Syafi'i sangat peduli akan pendidikan anaknya. “Jadi rumah itu adalah rumah ilmu,” simpul Adnin sambil mempresentasikan slidenya.

Tidak hanya Imam Syafi’i, Adnin juga menyebut Fakhruddin Ar Razi. Diya Al Din Abu Al Qasim adalah guru pertama Ar Razi yang notabene adalah ayahnya sendiri. Dari situlah Ar Razi berkembang menjadi manusia soleh dan pencita ilmu. Tercatat Ar Razi menguasai berbagai bidang ilmu seperti Ushul Fiqh, Ilmu Kalam, Matematika, Kedokteran, Fisika, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadis, dan ilmu-ilmu lainnya.

Kata Adnin paradigma seperti inilah yang tidak terjadi di Barat. Dampak dari modernisme yang tidak mengenal agama banyak menyita perhatian orangtua pada kesibukannya masing-masing. Hasil daripada itu sangat bisa ditebak. Mereka hanya maju dalam dunia teknologi, namun gagal membenahi akhlaknya. “Banyak anak di Barat menjadi rusak.” Imbuh pria yang aktif menghalau Liberalisme pemikiran Islam ini.

Adnin Armas

Kenyataan ini sebenarnya tidak ditemukan dalam proses pendidikan Islam. Islam, kata Adnin, mengatur sebuah konsep dimana benteng pertama selalu diletakkan di pundak keluarga. Keluarga adalah pilar utama dalam pembentukan akidah dan akhlak seorang anak.

Sayangnya konsep yang mulia ini tidak banyak berjalan pada keluarga muslim. Sebaliknya rumah menjadi tempat tidak nyaman dalam mentransfer pendidikan. “Sekarang orang justru rusak dari rumah.” Kecewanya

Salah satu penyebabnya menurut Adnin ialah penggunaan teknologi dalam rumah yang tidak terbendung. “Sekarang ada BB (Blackberry. Red), internet, dan facebook. Jadi kita malah rusak dari rumah.”

Padahal para ulama dulu mendapati infrasturuktur yang tidak lebih baik dari saat ini. Imam Bukhari, misalnya, ia mampu menguasai ilmu dalam kondisi terbatas dimana listrik belum ditemukan. Namun hebatnya Imam Bukhari tercatat menguasai 100.000 hadis, tidak hanya dengan mata, tapi juga sanadnya. “Itu dilakukan tanpa komputer,” tukasnya.

eramuslim.com