14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

‘Memaklumi’ Hawking

‘Memaklumi’ HawkingFiqhislam.com - Apa yang bisa dikatakan dari sebuah atom? Ketidakpastian. Kemungkinan tak hingga. Peluang tanpa batas. Mungkin memang runyam, tapi itulah atom. Itulah diri kita, anda, saya, juga tulisan ini, dalam bentuknya yang paling kecil.

Dalam eksistensinya yang paling wujud -kalau memang dikatakan itu wujud. Nyatanya, kita tak pernah tahu, dimana letak elektron, saat ini, nanti atau kemarin. Padahal elektron mengisi sebagian besar volume atom, padahal ia adalah diri kita, anda, saya, juga tulisan ini.

Apakah elektron ilusi? Apakah kita juga ilusi? Pertanyaan itu juga membayang di kepala insinyur dan fisikawan modern. Setidaknya setelah mereka benar-benar mengkaji mekanika kuantum.

Tidak perlu lebih jauh tenggelam dalam runyam-nya mekanika kuntum, cukup satu kesimpulan yang bisa diambil. Bahwa sejauh apapun manusia memahami alam semesta dan turunannya, pertanyaan selalu kembali pada hal mendasar. Siapa kita? Mengapa kita ada? Siapa yang membuat kita ada?

Jika ilmuwan tak mampu lagi melihat apa yang terjadi pada atom, pada ciptaan paling dasar dari segala ciptaan, maka sebenarnya manusia juga tak menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

Ilmuwan dan sains modern hanya mengelaborasi satu bentuk ciptaan, lalu mengelaborasi ciptaan yang lain. Hanya bermain-main dalam labirin. Satu pintu terbuka, ada pintu lain yang menunggu untuk dibuka. Tak pernah menemui jalan keluar.

Itulah yang terjadi pada fisika modern hari ini. Atau setidaknya itulah capaian yang belum terpecahkan sejak hampir seratus tahun terakhir. Fisika modern menemui jalan buntu selama berbenturan dengan kuantum dan fenomena aneh benda-benda kecil. Ini mencengangkan.

Bahkan bagi sebagian ilmuwan sendiri, ini tidak dapat dipercaya. Keberadaan elektron yang tak terprediksi, juga sifat gelombang yang dimilikinya, hanya mampu diraba dampak dan akibatnya, dengan kesimpulan prinsip ketidakpastian. Tentu ini menggiring pada banyak pertanyaan.

Seperti dalam berbagai diskusi yang muncul di media dan majalah sains barat. Apakah ini yang dinamakan dengan bukti penciptaan? Pertanyaan bodoh. Karena seperti yang kita ketahui dalam diskusi ilmiah ala barat, tidak ada yang dinamakan dengan Tuhan.

Salah jika menganggap mekanika kuantum adalah bukti penciptaan. Di barat, semua usaha ilmiah adalah cara untuk memahami kehidupan dengan kebebasan dan kemerdekaan manusia.

Adalah tabu mencampurinya dengan urusan tuhan dan ketuhanan.Seperti apa yang disampaikan Stephen Hawking belakangan. "Tidak ada tempat untuk Tuhan dalam teori penicptaan alam semesta." Fisikawan jenius itu menambahkan "Penciptaan spontan adalah alasan kenapa sesuatu itu ada dari tidak ada."

Bahkan ia menolak keberadaan surga dan kehidupan sesudah mati. Ia menganggap otak sebagai komputer, dan tidak ada surga apalagi kehidupan sesudah mati untuk komputer yang rusak.

I regard the brain as a computer which will stop working when its components fail. There is no heaven or afterlife for broken down computers; that is a fairy story for people afraid of the dark” (Guardian)

Maka sebenarnya barat dalam topik ini bersembunyi dari kenyataan itu. Menghindar dari kemungkinan bahwa tuhan ada di balik semua ciptaan-Nya yang nyata.

Kita bisa bilang demikian karena memang apa yang kita sebut sebagai 'barat' itu menunjukkan penolakannya pada sesuatu yang benar-benar tak mampu dibantah. Apakah alam semesta dengan segala keteraturannya ini adalah spontan? Apakah tanpa maksud tertentu?

Mungkin bagi orang yang mengalami trauma agama saja yang mampu benar-benar menolaknya. Dan memang itulah yang terjadi pada apa yang kita sebut sebagai 'barat'.

Menelusuri akar filsafatnya, maka kita menemukan bahwa ada lubang besar pada sejarah peradaban barat, dimana ilmu dan ilmuwan ditindas tanpa ampun, diburu dan disiksa atas nama agama. Itulah dark age yang membentang di Eropa sejak abad ke-6 sampai 13 masehi.

Memang, tidak lain dark age adalah cerita tentang kegagalan agama, yang saat berkelahi dengan sains, kalah tanpa ampun. Namun apakah agama selalu berbenturan dengan sains? Ternyata tidak.

Pada saat yang sama, di Eropa juga, kita bisa menemukan adanya peradaban ilmu yang subur, membentang dari daratan China hingga ke Spanyol, yang kita kenal kemudian dengan peradaban Islam. Dalam peradaban itu, ilmu pengetahuan dimaknai sebagai cara mendekatkan diri pada Pencipta, belajar adalah ibadah, dan menggali suatu bidang ilmu adalah keutamaan.

Maka, dalam diskusi di komunitas ilmuwan saat itu, tidak ada lagi pertanyaan tentang ketuhanan, karena jawabannya sudah mutlak dalam kitabullah: Allah Maha Pencipta dan Memelihara, dan para ilmuwan, fisikawan, ahli biologi, seniman, semua mengkaji ilmu seraya berdoa : “Rabbana maa khalaqta hadza bathila...”

Namun sekali lagi itu adalah sejarah. Bagaimana dengan hari ini? Kita tak perlu membahasnya karena sudah pasti yang tergambar adalah buruk. Sangat buruk bahkan. Kita melihat sains bertekuk pada orang-orang seperti Bapak Hawking, juga serentetan ilmuwan lain di segala bidang yang turut pula mendorong ide yang sama.

Belum lagi media massa ilmiah serta event dan konferensi yang mendukung dengan dana tanpa batas. Ide ketuhanan dalam sains adalah kering, hampa, dan tersudut bahkan dicibir. Jangan lagi bertanya tentang keilmuwan Islam, bahkan mengatakan Islam sebagai peradaban pun hari ini adalah mimpi di siang bolong.

Mungkin ini adalah keluhan, dan karena memang demikian adanya, maka kita tak bisa banyak menuntut. Kenyataannya, Islam belum lagi mampu membebaskan manusianya dari keterbelitan ekonomi, penjajahan politis, ketergantungan budaya.

Sementara barat meskipun menemui kebuntuan dalam konsekuensi filosofis dan fundamental tentang bukti penciptaan, ia selalu bebas merdeka dengan ilmu di tangannya.

Yang kita tahu, dengan pemahaman tentang fisika kuantum, barat menemukan transistor, Bell Laboratory milik AT&T jadi pemutar sejarah dunia, bahkan hingga zaman komputer saat ini barat tetap superior dengan industri teknologi.

Apple computer merajai bisnis tablet PC dan mendiang Steve Jobs dielu-elukan di timur dan barat saat kanker menjemput ajalnya.

Jika dipikir-pikir lagi, mungkin kita bisa 'memaklumi' apa yang dikatakan Hawking tentang penolakannya pada tuhan, karena budaya, lingkungan, sejarah hidupnya memang berkutat pada narasi itu.

Tapi apakah kita bisa memaklumi mahasiswa, dosen, ilmuwan, wartawan, penulis, yang memahami nash ilahi, namun berleha-leha dan acuh pada kondisi hari ini? Sepertinya tidak!

Oleh Ashif A. Fathnan, Mahasiswa University Taiwan
eramuslim.com