1 Dzulhijjah 1443  |  Jumat 01 Juli 2022

basmalah.png

Polarisasi dan Algoritma

Polarisasi dan Algoritma

Fiqhislam.com - Polarisasi yang terbentuk di masyarakat kita saat ini telah membuat kita bodoh. Daya kritis menjadi tumpul dan kita akhirnya terbiasa berpikir hitam-putih. Ini kemunduran luar biasa dalam sejarah peradaban. Dan semoga Allah tidak marah karena begitu banyak bagian dari sel otak --bagian tubuh paling 'ajaib' yang dihadiahkan Allah untuk manusia, kita biarkan menganggur.

Polarisasi awalnya terbentuk dari pandangan dan sikap politik yang berbeda (yang celakanya hanya terbagi dalam dua kubu), sebagai residu pilpres dan pilgub. Kubu ini meruncing di dunia daring, bukan di dunia nyata. Sejatinya, perdebatan sengit akibat perbedaan pandangan dan pemahaman (termasuk prasangka dan fitnah) terjadi di media sosial, bukan di warung kopi.

Peran algoritma

Polarisasi di media daring tidak bisa dilepaskan dari peran algoritma. Mengapa algoritma? Algoritma pada mulanya dimaksudkan sebagai langkah penyelesaian masalah. Algoritma terbentuk umumnya karena pemrograman akan tiga hal: penyusunan urutan/sekuensial aksi, penyeleksian aksi, dan pengulangan aksi.

Algoritma pada akhirnya akan menggambarkan kecenderungan seseorang dengan melihat susunan, seleksi, dan pengulangan informasi yang dikonsumsinya di media digital.

Jadi, jika kita menyukai informasi tertentu, dan selalu meng-klik informasi yang relevan dengan itu, maka algoritma akan selalu menyodorkan informasi di depan mata kita terkait dengan apa yang kita sukai itu. Kalau kita sering mencari informasi tentang penjualan rumah, maka algoritma akan menyodorkan informasi tentang properti. Iklan-iklan properti hadir di media sosial kita sebagai output dari proses algoritma.

Ketika masa kampanye pilpres dan pilgub berlangsung, maka algoritma 'membelah' kita menjadi kubu sesuai calon yang kita dukung dan preferensi politik kita. Kalau kita menjadi oposisi pemerintah sekarang, misalnya, maka algoritma cenderung akan menyajikan informasi yang tidak mendukung pemerintah. Begitu juga sebaliknya.

Galibnya, kita harus hati-hati mengonsumsi informasi di dunia digital. Karena sesungguhnya algoritma bukan menyajikan apa yang kita butuhkan, tapi apa yang kita inginkan, yang memuaskan rasa ingin tahu dan penasaran kita. Bukan juga menyajikan apa yang benar dan salah, tapi apa yang kita anggap benar dan anggap salah. Bahkan menyajikan apa yang memuaskan rasa suka atau rasa benci kita.

Polarisasi agama

Rasa suka dan rasa benci adalah turunan dari informasi yang disajikan algoritma dan lahirnya polarisasi. Jika kubu sebelah yang melontarkan gagasan atau pandangan, maka di kepala kita muncul rasa tidak suka atau benci. Begitu pula sebaliknya.

Celakanya, polarisasi juga merangsek ke praktik penganutan agama. Muncullah stigma salah satu pihak yang merasa pihak seterunya memusuhi agama, mengkriminalisasi pemuka agama. Di pihak lain, ada yang merasa, merekalah pemilik kebenaran absolut dalam menafsir agama. Sementara di kutub sebelah, tafsirnya hanyalah kebenaran realtif atau bahkan salah atau ngawur. Pemuka agama kaliber dunia pun mungkin bisa di-bully, jika dianggap bukan bagian dari "kami", tapi "mereka".

Kalau fenomena ini berlangsung terus, lama-lama umat diajak menjadi bodoh. Tidak boleh kritis. Apa yang disampaikan pemuka agama "kami" tidak boleh dikritik apalagi dianggap salah. Jika Anda berani melakukan itu, maka Anda akan dicap bagian dari kubu "mereka", dan dianggap memusuhi pemuka agama.

Saya agak-agak mulai khawatir masyarakat kita 'sakit'. Kita mulai menyusun stigma, generalisasi, dan 'melembagakan aturan'; bahwa (misalnya) pemuka agama "kami" benar dan pemuka agama "mereka" salah. Pemuka agama pasti lebih paham agama ketimbang jamaahnya, bahwa pemuka agama itu tidak pernah salah.

Bahwa kalau kita mengkritisi pemuka agama, maka periksalah otak dan pemahaman kita sendiri, jangan-jangan ada sel otak kita yang bermasalah. Padahal, bukankah kita tahu bahwa pemuka agama itu lahir karena 'dibentuk' oleh kita? Kita mengakui (baik melalui pendidikan formal atau tidak), dan yang bersangkutan mau diakui. Atau sebaliknya, dia mengaku dan kita mengamini. Itu pun pengakuannya bertahap kan? Untuk seorang tokoh agama, keilmuannya belum tentu diakui semua orang.

Polarisasi pada akhirnya menjebak kita, membiasakan berpikir hitam-putih. Padahal, manusia ya manusia, tempat salah dan khilaf. Tidak ada manusia yang memegang kebenaran absolut.

Seorang ustazah bisa salah, dan kita tidak usah ngotot menyatakan itu benar kalau memang salah. Sebaliknya, seorang penjahat pun, kalau dia berkata benar, ya harus kita akui kebenaran itu. Jangan pula dipaksa menjadi salah. Kalau kubu di sini lagi benar, katakan benar.

Demikian juga kalau kebenaran ada di kubu sana, ya akuilah. Beragama yang paling benar itu ya, ketika kita benar-benar sudah bisa membebaskan hati dari rasa benci dan tidak suka. Beragama itu juga membutuhkan logika. Karena untuk itu Allah memberi kita otak.

Buat saya, satu-satunya manusia yang tidak pernah salah dalam menyampaikan ajaran agama, ya junjungan kita Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Bagi penganut agama lain, tentu beda.

Selainnya itu, terserah tafsir kita masing-masing. Gus Dur bilang, gitu aja kok repot.... [yy/republika]

Oleh Ana Mustamin
Anggota Dewan Pakar Brain Society Center