19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Kehidupan, Eksperimen Tuhan atau Bukan?

Kehidupan, Eksperimen Tuhan atau Bukan?

Fiqhislam.com - Jatuh dan gagal dalam kehidupan bukan lagi suatu hal yang langka. Fenomena tersebut sudah sangat familiar dalam kehidupan. Adakalanya manusia hanya dapat merancang namun tak jarang pula rancang-bangun kehidupan manusia harus porak poranda dengan faktor-faktor yang tak diperkirakan, meminjam istilah motivasi Peter F. Drucker, bahwa cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.

Sekilas kalimat tersebut terdengar sangat memotivasi dan memacu semangat futuristik seseorang, namun siapa yang dapat memperkirakan faktor yang tak terprediksi dalam jangkau khayal futuristik manusia?  Tidak bisa diprediksi. Hanya saja kita bisa mengubahnya menjadi rancang kedua apabila rancang pertama gagal. Itulah cara manusia pada umumnya dalam hal prediksi menciptakan masa depan.

Memprediksi, mengkontrol, memanipulasi sebuah atau dua buah faktor mengingatkan saya pada studi psikologi eksperimen. Disitu dijelaskan bahwa ada variabel dependen/terikat/yang dipengaruhi, lalu ada variabel independen/bebas/yang mempengaruhi, kemudian ada variabel sekunder. Variabel inilah yang merupakan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi variabel terikat apabila tidak dikontrol. Contoh konkretnya adalah ketika kita menhgarapkan pemikiran yang jernih, hal tersebut menjadi variabel dependen atau variabel terikat. Sebut saja DV yang nantinya variabel tersebut akan dipengaruhi oleh variabel lainnya. Kemudian emosi bisa kita masukkan sebagai variabel independen atau variabel bebas yang nantinya akan mempengaruhi DV, variabel independen seringkali disebut sebagai IV. Kemudian variabel ketiga adalah variabel sekunder atau seringkali disebut SV. Inilah variabel yang seringkali tak dapat diprediksikan kemunculannya. Kita dapat ambil contoh dalam kasus ini adalah situasi. Jadi, dalam perihal ini pemikiran jernih (DV) dapat dipengaruhi oleh emosi (IV) namun ada hal lain yang tak terperkirakan juga dapat mempengaruhi pemikiran jernih yaitu situasi (SV) situasi juga dapat mempengaruhi seseorang dalam berpikiran jernih.

Eksperimen kehidupan

Dalam studi psikologi eksperimen tersebut SV dapat dikontrol melalui beberapa teknik kontrol guna membuat tujuan eksperimen kita sesuai dengan hasilnya, kalau pun tidak sesuai secara mutlak minimal dapat dimanipulasi agar tidak terjadi bias, agar mendekati dengan hasil yang kita harapkan. Mengambil dinamika studi dalam penelitian psikologi eksperimen tersebut, saya mencoba untuk berpikir dengan keras mengenai replika kehidupan beserta dinamikanya. Harapan, cita-cita, keinginan masa depan. Hal-hal tersebut merupakan sudut khayal yang indah jika nantinya tercapai. Namun dalam perjalanannya selalu ada proses yang memainkan peran penting. “memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya” kata-kata tersebut merupakan spirit bagi diri saya. Namun juga merupakan tantangan untuk dipertaruhkan relevansinya dalam kehidupan nyata.

Siapa yang dapat menebak semua rahasia di dunia ini? Memprediksi bukan berarti mutlak meramalkan hal yang pasti. Kepastian adalah semu dan tiada. Jika studi eksperimen tersebut kita integrasikan ke dalam kehidupan, tentu kita tak akan pernah bisa menjangkau secondary variabel (SV) kehidupan. Ketika kita merencanakan sesuatu, tentu sudah terdapat rancang apa-apa saja yang harus menjadi DV dan apa yang menjadi IV namun bagaimana dengan SV kehidupan. Kita sebut saja kuasa Tuhan sebagai SV sangat sulit sekali dijangkau rasio manusia.

sungguh Allah mengetahui segala yang gaib di langit dan di bumi. Sungguh, ia mengetahui segala yang ada di hati manusia” (QS Al-Fatir/35:38) berangkat dari ayat Alqur’an tersebut, menunjukkan betapa SV kehidupan sangat sulit terkontrol oleh jangkau dan usaha manusia. Ketika ikhtiar menjadi salah satu sarana mennggapai tujuan, akan selalu ada kuasa Tuhan di tengah proses. Dia-lah yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi manusia, mengetahui hal-hal yang tak terjangkau oleh mata manusia.

Pernah saya menuangkan pikiran yang menurut saya agak radikal. “Manusia beserta kehidupannya adalah eksperimen Tuhan guna mengisi kehidupan yang telah diciptakan-Nya” saya pernah merasakan menjadi pemberontak bagi Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya. Mengapa manusia di bumi boleh bahagia atas ijin dan kuasa-Nya? Tidakkah manusia berusaha bahagia karena keinginannya mencapai bahagia? Lalu bagaimana ketika semua usaha kita pupus hanya karena faktor yang tak terperkirakan? Ketika kegagalan di depan mata yang menyapa? Ketika kegagalan yang menyambut semua jerih payah kita?

Kehidupan seperti judi. Abrsurd. Tidak ada yang bisa menebak dengan pasti kehidupan ini. Teringat istilahnya David Hume perihal Problem of induction bahwa tak ada sesuatu representasi logis dalam sebuah kesimpulan (Adip, 2010). Menerjemahkan tafsiran David Hume ini bicara kemungkinan yang tak pasti. Analogi sepuluh buah apel jika diketahui dari apel satu sampai kesembilan rasanya manis pada apel kesepuluh belum tentu rasanya manis juga. Tak ada yang tahu dan bisa menebak suatu yang pasti. Inilah salah satu letak sisi keterbatasan manusia.

Manusia hakikatnya dengan usaha dan kerja keras. Berangkat dari keterbatasan manusia menebak kehidupan ini dengan pasti, menandakan bahwa manusia tak akan pernah tahu realitas masa depan sesungguhnya. Manusia hanya mampu memprediksi dan melihat sedikit bayangan masa depan melalui prediksinya tanpa tahu pasti wujud nyatanya.

konklusi

di belakangku ada kekuatan tak terbatas, di depanku ada kemungkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung” (Maxwell,2008) sebuah kata motivasi dari Stella Stuart membuka paradigma inspirasi. Anggapan bahwa manusia hanyalah hasil eksperimen Tuhan, sepertinya dapat dipatahkan. Tidak sepenuhnya Tuhan memaksakan apa pun keinginannya dengan mutlak. Hakikat manusia yang liberal. Bebas memilih, bebas merencanakan. Ketika kita memprediksi masa depan dengan cara menciptakannya, maka ciptakanlah. Rancang bangun mana yang menjadi tujuan, merencanakan DV dan IV, lalu ketika SV berupa kemungkinan-kemungkinan yang berasal dari kuasa Tuhan muncul, setidaknya kita dapat mengkontrol dengan kelapangan hati. Tak ada masa depan jika tak ada masa lalu. Dan masa kini adalah jenjang guna menciptakan masa depan yang kita inginkan. Masa depan kita ciptakan, dengan pilihan kita. Jika rancangan pertama gagal, maka akan ada rancangan kedua, ketiga dan selanjutnya.

Jatuh dan gagal dalam kehidupan bukan lagi suatu hal yang langka. Fenomena tersebut sudah sangat familiar dalam kehidupan. Adakalanya manusia hanya dapat merancang namun tak jarang pula rancang-bangun kehidupan manusia harus porak poranda dengan faktor-faktor yang tak diperkirakan, meminjam istilah motivasi Peter F. Drucker, bahwa cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.

Sekilas kalimat tersebut terdengar sangat memotivasi dan memacu semangat futuristik seseorang, namun siapa yang dapat memperkirakan faktor yang tak terprediksi dalam jangkau khayal futuristik manusia?  Tidak bisa diprediksi. Hanya saja kita bisa mengubahnya menjadi rancang kedua apabila rancang pertama gagal. Itulah cara manusia pada umumnya dalam hal prediksi menciptakan masa depan.

Memprediksi, mengkontrol, memanipulasi sebuah atau dua buah faktor mengingatkan saya pada studi psikologi eksperimen. Disitu dijelaskan bahwa ada variabel dependen/terikat/yang dipengaruhi, lalu ada variabel independen/bebas/yang mempengaruhi, kemudian ada variabel sekunder. Variabel inilah yang merupakan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi variabel terikat apabila tidak dikontrol. Contoh konkretnya adalah ketika kita menhgarapkan pemikiran yang jernih, hal tersebut menjadi variabel dependen atau variabel terikat. Sebut saja DV yang nantinya variabel tersebut akan dipengaruhi oleh variabel lainnya. Kemudian emosi bisa kita masukkan sebagai variabel independen atau variabel bebas yang nantinya akan mempengaruhi DV, variabel independen seringkali disebut sebagai IV. Kemudian variabel ketiga adalah variabel sekunder atau seringkali disebut SV. Inilah variabel yang seringkali tak dapat diprediksikan kemunculannya. Kita dapat ambil contoh dalam kasus ini adalah situasi. Jadi, dalam perihal ini pemikiran jernih (DV) dapat dipengaruhi oleh emosi (IV) namun ada hal lain yang tak terperkirakan juga dapat mempengaruhi pemikiran jernih yaitu situasi (SV) situasi juga dapat mempengaruhi seseorang dalam berpikiran jernih.

Eksperimen kehidupan

Dalam studi psikologi eksperimen tersebut SV dapat dikontrol melalui beberapa teknik kontrol guna membuat tujuan eksperimen kita sesuai dengan hasilnya, kalau pun tidak sesuai secara mutlak minimal dapat dimanipulasi agar tidak terjadi bias, agar mendekati dengan hasil yang kita harapkan. Mengambil dinamika studi dalam penelitian psikologi eksperimen tersebut, saya mencoba untuk berpikir dengan keras mengenai replika kehidupan beserta dinamikanya. Harapan, cita-cita, keinginan masa depan. Hal-hal tersebut merupakan sudut khayal yang indah jika nantinya tercapai. Namun dalam perjalanannya selalu ada proses yang memainkan peran penting. “memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya” kata-kata tersebut merupakan spirit bagi diri saya. Namun juga merupakan tantangan untuk dipertaruhkan relevansinya dalam kehidupan nyata.

Siapa yang dapat menebak semua rahasia di dunia ini? Memprediksi bukan berarti mutlak meramalkan hal yang pasti. Kepastian adalah semu dan tiada. Jika studi eksperimen tersebut kita integrasikan ke dalam kehidupan, tentu kita tak akan pernah bisa menjangkau secondary variabel (SV) kehidupan. Ketika kita merencanakan sesuatu, tentu sudah terdapat rancang apa-apa saja yang harus menjadi DV dan apa yang menjadi IV namun bagaimana dengan SV kehidupan. Kita sebut saja kuasa Tuhan sebagai SV sangat sulit sekali dijangkau rasio manusia.

“sungguh Allah mengetahui segala yang gaib di langit dan di bumi. Sungguh, ia mengetahui segala yang ada di hati manusia” (QS Al-Fatir/35:38) berangkat dari ayat Alqur’an tersebut, menunjukkan betapa SV kehidupan sangat sulit terkontrol oleh jangkau dan usaha manusia. Ketika ikhtiar menjadi salah satu sarana mennggapai tujuan, akan selalu ada kuasa Tuhan di tengah proses. Dia-lah yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi manusia, mengetahui hal-hal yang tak terjangkau oleh mata manusia.

Pernah saya menuangkan pikiran yang menurut saya agak radikal. “Manusia beserta kehidupannya adalah eksperimen Tuhan guna mengisi kehidupan yang telah diciptakan-Nya” saya pernah merasakan menjadi pemberontak bagi Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya. Mengapa manusia di bumi boleh bahagia atas ijin dan kuasa-Nya? Tidakkah manusia berusaha bahagia karena keinginannya mencapai bahagia? Lalu bagaimana ketika semua usaha kita pupus hanya karena faktor yang tak terperkirakan? Ketika kegagalan di depan mata yang menyapa? Ketika kegagalan yang menyambut semua jerih payah kita?

Kehidupan seperti judi. Abrsurd. Tidak ada yang bisa menebak dengan pasti kehidupan ini. Teringat istilahnya David Hume perihal Problem of induction bahwa tak ada sesuatu representasi logis dalam sebuah kesimpulan (Adip, 2010). Menerjemahkan tafsiran David Hume ini bicara kemungkinan yang tak pasti. Analogi sepuluh buah apel jika diketahui dari apel satu sampai kesembilan rasanya manis pada apel kesepuluh belum tentu rasanya manis juga. Tak ada yang tahu dan bisa menebak suatu yang pasti. Inilah salah satu letak sisi keterbatasan manusia.

Manusia hakikatnya dengan usaha dan kerja keras. Berangkat dari keterbatasan manusia menebak kehidupan ini dengan pasti, menandakan bahwa manusia tak akan pernah tahu realitas masa depan sesungguhnya. Manusia hanya mampu memprediksi dan melihat sedikit bayangan masa depan melalui prediksinya tanpa tahu pasti wujud nyatanya.

konklusi

“di belakangku ada kekuatan tak terbatas, di depanku ada kemungkinan tak berakhir, di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung” (Maxwell,2008) sebuah kata motivasi dari Stella Stuart membuka paradigma inspirasi. Anggapan bahwa manusia hanyalah hasil eksperimen Tuhan, sepertinya dapat dipatahkan. Tidak sepenuhnya Tuhan memaksakan apa pun keinginannya dengan mutlak. Hakikat manusia yang liberal. Bebas memilih, bebas merencanakan. Ketika kita memprediksi masa depan dengan cara menciptakannya, maka ciptakanlah. Rancang bangun mana yang menjadi tujuan, merencanakan DV dan IV, lalu ketika SV berupa kemungkinan-kemungkinan yang berasal dari kuasa Tuhan muncul, setidaknya kita dapat mengkontrol dengan kelapangan hati. Tak ada masa depan jika tak ada masa lalu. Dan masa kini adalah jenjang guna menciptakan masa depan yang kita inginkan. Masa depan kita ciptakan, dengan pilihan kita. Jika rancangan pertama gagal, maka akan ada rancangan kedua, ketiga dan selanjutnya.

Oleh: Megawati, Mahasiswi Psikologi UIN Syarifhidayatullah Jakarta
rimanews.com