fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


28 Sya'ban 1442  |  Sabtu 10 April 2021

Di Mana Posisi Kita dalam Kasus Qadhafi?

Fiqhislam.com - Kasus kematian pemimpin Libya, Kolonel Muammar Qadhafi mengingatkan saya pada ucapat mantan Presiden Amerika, dalah kasus runtuhnya menara kembar WTC tahun 2001, George W Bush. Saat itu, dia mengucapkan kata-kata yang tak akan pernah terlupakan oleh umat Islam di dunia. “Eeither you are with us or you are with the terrorists.” (Apakah mereka bersama kita atau bersama teroris).

Dalam konteks ucapan  yang dimaksudkan Bush, semua 'teroris' adalah kaum Muslim. Dan KAMI, dalam ucapan Bush itu, adalah orang-orang yang mau ikut di belakang Amerika.

Kalimat inilah yang kemudian hari menjadi “ikon” baru ‘terorisme Negara’ di berbagai belahan dunia untuk mengintimadasi, menakut-nakuti dan memberi citra buruk pada kaum Muslim.

Rupanya, di antara kita tak mampu mendapatkan pelajaran dari itu. Dalam kasus intervensi negara-negara Barat hingga serangan NATO yang berujung kematian Qadhafi, semua bermuara dari sumber sama, yakni intervensi Negara-negara Barat yang didukung NATO dengan cara memberi fasiltas pada pemberontak. Padahal, banyak pakar Barat sendiri sudah jelas-jelas mengatakan, tujuan Barat dan dukungan NATO tak lain dan tak bukan karena kekayaan dan simpanan minyak Libya yang begitu besar dan tinggi.

Seperti halnya berbagai intervensi Amerika dan Barat di dunia Islam, selalu saja ada “kerjasama” kepentingan yang tersembunyi di dalamnya. Di antaranya adalah keterlibatan media-media Barat sendiri untuk mendukung segala bentuk intervensi seperti ini. Dari Afghanistan, Iraq, hingga ke semua negeri-negeri Muslim.

Masalahnya, kenapa di antara kita –terutama para pengelola media Islam—kok ikut-ikutan terpengaruh dengan media mainstream di Indonesia (yang nota bene) beritanya copy-paste dari media asing? Sungguh tragis!

Yang lebih tragis, beberapa media Islam ikut memberi stigma, sebutan atau kata-kata buruk –sebagian bahkan melakukan pentakfiran—pada Qadhafi. Sungguh aneh.
 
Permasalahan kita umat Islam bukan pada membela Qadhafi atau membela para pemberontak yang di dukung oleh NATO, jangan sampai kita dikelabui oleh pemikiran yang tidak pada tempatnya.

Kasus Qadhafi tak jauh berbeda dengan kasus di manapun sifat penguasa. Sama dengan kasus pak Harto di mana anak-anaknya juga memperkaya diri. Tapi apakah ada tokoh MUI pernah menyebut Pak Harto kafir?

Permasalahan utama yang harus kita sadari adalah kemunafikan negara-negara Barat yang selama 42 tahun membiarkan Qadhafi berkuasa, bekerjasama untuk kepentingan keamanan Libya dan ekonomi, dan bahkan berhasabat dengannya, selama 42 tahun Qadhafi dinilai  berlaku kejam terhadap para pengemban dakwah Islam dan rakyatnya sendiri. Di sinilah kita harus mengambil pelajaran, agar tidak ber-wala’ kepada kesesatan sehingga tak berakhir dengan kesesatan yang sama.

Musuh-musuh Islam sudah mempelajari Islam berabad-abad dengan orientalisme mereka. Mereka paham apa yang akan melengahkan umat dari permasalahan sesungguhnya, dan salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan menciptakan musuh yang tidak kelihatan, seperti iluminati, permasalahan secret society (perkumpulan rahasia) seperti freemansonry dstnya.. sehingga mengakibatkan umat tidak waspada terhadap musuh yang sesungguhnya yaitu para kapitalis yang menguasai kekayaan alam mereka, dan juga mengakibatkan perasaan tidak berdaya untuk menghadapi musuh yang katanya rahasia..

Negara-negara kapitalis yang dipelopori oleh Amerika selalu menjarah kekayaan alam di negeri negeri Muslim. Merekalah yang menanam antek-antek mereka apakah melalui wakil rakyat bahkan kepala negara di negeri negeri Muslim itu sendiri. Dan merekalah yang mengatur skenario sandiwara paa pemimpin negeri-negeri Muslim tersebut. Dan hal itu terjadi tanpa disadari oleh umat.

Tapi mengapa kita tak pernah bisa membedakan mana teman dan mana lawan?

Ada sebuah artikal yang seharusnya dibaca kaum Muslim Indonesia, dari seorang mahasiswa Indonesia yang lama tinggal di Libya. Namanya, Kusworo Nursidik berjudul “Libya: Antara Motif Minyak, Nilai Islam dan Tirani Baru” yang pernah dimuat www. hidayatullah.com, Rabu, 30 Maret 2011.

Di antaranya dia menulis, selama ini Libya lantang  menentang Barat dan tidak tergantung kepada bantuan asing seperti negara Arab. Libya bahkan sebagai negara yang tidak punya hutang malahan aktif memberikan sumbangan ke negara-negara lain terutama Afrika.

Pembelaan dan bantuan kemanusiaan dan dakwah dari Libya kepada dunia Islam selama ini sangatlah signifikan, termasuk dakwah di  Indoensia. Di Indonesia sudah ratusan da`i alumni dari Kuliyah Da`wah Islamiyah Tripoli dengan fasilitas beasiswa, juga pembangunan masjid dan Islamic Center  dan bantuan pendidikan di beberapa ormas Islam di Indonesia.

Yang menarik, menurut Kusworo, di jaman Qadhafi,  menanggalkan jilbab bagi wanita Libya adalah hal tabu dimata masyarakat Libya. Prostitusi dan minuman keras secara resmi dilarang oleh pemerintah. Siaran TV dan radio didominasi oleh acara-acara dakwah dan bacaan al-Qur`an.

Masjid dipenuhi jamaah sholat lima waktu. Masjid-masjid tersebar sangat banyak di Libya, bahkan saking banyaknya Libya disebut pula negara sejuta masjid.

Bahkan menurut si penulis,  seperlima penduduk Libya (lebih satu juta orang)adalah penghafal al-Qur`an. Pergaulan bebas, kehidupan  hedonis-sekuler saat ini tidak tampak sebagaimana di Tunisia dan Mesir. Bahkan kalau kita naik taksi kita akan mendapatkan sopir  taksi asyik mendengarkan lantunan al-Qur`an lewat radio.

Rakyat Libya sangat menjaga kultur Arab dan Islam, bangga dengan bahasa Arab dan akan menghormati orang asing yang berbicara dengan bahasa Arab. Inilah yang jarang diketahui banyak orang --bahkan sebagian rakyat Indonesia-- yang ikut-ikutan mendukung menurunkan Qadhafi.

Akhirul kalam, jatuhnya Qadhafi, bukan berarti akan menyelesaikan permasalahan di Libya, karena permasalahan di Libya bukan selesai dengan jatuhnya Qadhafi. Yang bisa diprediksi, pemberontak Libya dukungan Barat ini pastia akan menjadikan orang di luar orang beriman sebagai kawan, sebagai konpensasi bantuan selama ini.

Kepada kita semua –khususnya media Islam—mengapa kita tidak mau mengambil pelajaran dari itu semua? Bukankah sudah jelas;

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." (QS: Ali Imran: 118)

Meminjam ucapan Bush, “Eeither you are with us or you are with the terrorists”?

Wallahua'lam bishshowab ..

M Thamrin, Pasuruan, Jawa Timur


Cholis Akbar
hidayatullah.com
 

 

{mooblock=Mengungkap Rahasia Kelam Sosok Qaddafi : Fir'aun, Toghut, dan Musailamah al-Kadzab dari Libya}

Mengungkap Rahasia Kelam Sosok Qaddafi : Fir'aun, Toghut, dan Musailamah al-Kadzab dari LibyaKetika kita mengatakan Moammar Qaddafi adalah taghut, diktator, gembong kekafiran, murtad, sekuleris, sosialis, pelanjut Musthafa Kemal Ataturk, Fir’aun, dan Musailamah al-Kadzab dari Libya, banyak kalangan terhenyak, kaget, dan kebingungan. Tidak sedikit pihak yang marah, benci, mengumpat, dan balas melemparkan tuduhan miring. Misalnya tuduhan antek NATO, antek AS, pro-Barat, teroris, fundamentalis, radikalis, Wahhabi, antek Saudi, dan seterusnya. Namun, tahukah Anda siapa sebenarnya Moammar Qaddafi itu? Berikut Serial Mungungkap Rahasia Kelam Sosok Qaddafi, bagian pertama.

Mereka hanya mengenal Qaddafi dari kegarangannya mengkritik rezim-rezim negara Arab yang memang boneka AS dan Barat. Mereka mengerti jati diri Qaddafi dari sesumbarnya untuk membebaskan Palestina, melawan AS dan Barat, atau menjatuhkan rezim-rezim diktator di  negara-negara Arab. Mereka memahami sosok Qaddafi dari permusuhannya kepada AS, Barat, dan zionis Israel. Mereka mengenalinya dari julukan Barat kepadanya sebagai teroris, poros setan, pelopor revolusi di dunia ketiga, musuh Barat, anti Barat, dan julukan keren lainnya yang kerap menghiasi media massa. Sosok Qaddafi yang meledak-ledak lewat pidato berapi-api di pertemuan Negara Liga Arab, atau Majelis Umum PBB, itulah standar mereka memberikan pandangan SANGAT POSITIP kepada Qaddafi. Bagi mereka, Qaddafi adalah pahlawan dunia Islam.

Mereka tentu saja tidak banyak mengetahui kejahatan dan kekafiran Qaddafi yang dilakukannya secara terang-terangan, dan berulang kali, dengan penuh kebanggaan diri, tanpa rasa malu dan canggung sedikit pun. Mereka tentu saja tidak meneliti kejahatan dan pelecehan Qaddafi terhadap Allah SWT, Rasulullah SAW, Al-Qur’an, as-Sunnah, syariat Islam, dan ibadah-ibadah mahdhah dalam Islam. Mereka tentu tidak mengerti betapa lembaga-lembaga dakwah dan keilmuan Islam berskala internasional telah mengeluarkan fatwa dan himbauan serta dakwah kepada Qaddafi untuk bertaubat dari seluruh kekafiran yang ia telah lakukan. Mereka tidak mengerti, puluhan ulama dari berbagai negara telah memfatwakan kekafirannya.

Mungkin mereka juga tidak mengetahui, selama puluhan tahun masa kekuasaannya, ribuan muslim dan muslimah Libya telah mengalami penindasan luar biasa kejam dari Qaddafi. Mulai dari penangkapan, penyiksaan, pembunuhan, pemenjaraan, pemerkosaan, dan seterusnya. Aktivis dakwah dan jihad yang memperjuangkan syariat Islam dikejar-kejar dan ditindas. Banyak tokoh dan aktivis harus melarikan diri ke luar negeri untuk menghindari kekejamannya. Selama 42 tahun masa kekuasannya, dakwah Islam mengalami masa-masa kelam.

Bagi penduduk dunia di luar Libya, boleh jadi mereka akan tertipu oleh penampakan lahiriah Qaddafi sebagai ‘pahlawan’ dunia Islam dan ‘musuh’ Barat. Namun jutaan bangsa muslim Libya menjadi saksi atas kekafiran, kezaliman, dan kebiadaban rezim taghut Qaddafi. Insya Allah, Arrahmah.com akan menurunkan Serial Mengungkap Rahasia Kelam Sosok Qaddafi, di antaranya mengulas sepak terjang kekafiran, kemurtadan, kezaliman, dan kebiadaban rezim taghut Qaddafi. Semoga dengan hadirnya serial tulisan tersebut kebenaran akan nampak jelas dan bisa dibedakan dari kebatilan. Wallahul musta’an.

Kita akan mengambil referensi penulisan dari buku karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan Al-Libi, seorang ulama dan mujahid Libya yang berjihad fi sabilillah bersama mujahidin Libya (Jama’ah Islamiyah Muqatilah, Libya) melawan rezim taghut Qaddafi. Buku yang diterbitkan pada bulan Dzulhijah 1418 H (1997 M) tersebut diberi judul Qaddafi Musailamatul ‘Ashr (Qaddafi, Musailamah Kontemporer ) dan diberi kata pengantar oleh seorang ulama besar dan mujahid Libya, Syaikh Abu Mundzir As-Sa’idi Al-Libi. Sungguh sebaik-baik dan setepat-tepat sumber adalah para ulama Libya sendiri yang bertauhid, berdakwah, dan berjihad fi sabilillah, karena mereka puluhan tahun menjadi saksi langsung atas seluruh kekafiran dan kekejaman Qaddafi.

Qaddafi : Anak zina, ibunya wanita Yahudi

Moammar Qaddafi dilahirkan pada tanggal 7 Juni 1942 M di pedusunan padang pasir dalam wilayah  Sirte. Ia berasal dari suku Qadadafah, sebuah suku nomaden yang hidup berpindah-pindah di gurun pasir kering dan hanya tinggal di tenda. Karakter Badui yang keras, dan temperamental inilah yang kemudian mewarnai corak kekuasaan Qaddafi.

Qaddafi sewaktu muda

Nasabnya dari jalur ayah dan ibunya diperselisihkan oleh berbagai sumber di kota kelahirannya, Sirte. Namun semua sumber tersebut sepakat menyatakan Qaddafi adalah anak hasil perzinaan. Ibunya adalah seorang wanita Yahudi. Adapun ayahnya diperselisihkan oleh berbagai sumber tersebut. Sebagian sumber menyatakan ayahnya adalah seorang pedagang eceran berkewarga negaraan Italia. Sumber lainnya menyebutkan ayahnya adalah pembantu dari pedagang Italia tersebut, yang mengaku bernama Muhammad Abu Niyar Qaddafi. Semua penduduk kota Sirte mengerti asal usul keyahudian ibunya, sehingga sejak kecil Moammar Qaddafi terkenal dengan julukan ‘anak Yahudi’.

Moammar Qaddafi menjalani kehidupan penduduk badui yang keras. Meski demikian, ia mampu mengenyam bangku sekolah dan masuk Akademi Militer Benghazi pada tahun 1963 M. Sebelum lulus dari akademi militer, pada tahun 1965 M ia juga menambah pendidikannya dengan masuk Universitas Libya, Fakultas Adab jurusan sejarah. Di fakultas inilah, dosennya seorang warga negara Italia mengenali nasab ke-Yahudi-an Qaddafi dari jalur ibunya. Maka ia menggembleng Qaddafi untuk merealisasikan tujuan-tujuan zionis Yahudi di kemudian hari.

Qaddafi lulus dari akademi militer pada tahun 1965 M, dan bertugas di korp sinyal. Pada tahun 1966 M ia dikirim ke Inggris untuk mengikuti pendidikan (kursus) intelijen dan militer tingkat tinggi. Dari Inggris, Qaddafi mulai menjalankan rencana-rencana yang telah digariskan oleh tuan zionis Yahudinya dengan membentuk  Tanzhim adh-Dhubbat al-Wahdawiyyun al-Ahrar (organisasi rahasia para perwira indipenden dan kebebasan). Organisasi perwira militer inilah yang melakukan ‘sandiwara’ kudeta militer pada tahun 1969 M.

Sandiwara kudeta militer Qaddafi dan pengusiran militer Barat

Ketika berusia remaja, Qaddafi sangat mengagumi Presiden Mesir, Jamal Abdun Nashir dan menganut ideologi sosialis nasionalis, yang membuatnya benci dengan bentuk pemerintahan kerajaan seperti yang berlaku di Libya saat itu. Jamal Abdun Nashir adalah taghut represif yang sangat sekuleris, sosialis, anti syariat Islam, dan menindas gerakan dakwah Islam. Pada masa kekuasaannya, ribuan aktivis Islam dan ulama yang tergabung dalam Ikhwanul Muslimin ditangkap, dipenjara, disiksa secara keji, dan beberapa di antaranya dihukum mati. Padahal mereka tidak melakukan tindakan kriminal. Mereka hanya menuntut penegakkan syariat Islam di Mesir dan membantu jihad rakyat muslim Palestina melawan penjajah zionis Israel.

Sejak mengenyam pendidikan di akademi militer Bengazhi, rupanya pandangan sosialis-nasionalis Khadafi yang anti kerajaan, mulai disalurkan dalam wujud nyata. Ia mulai mengumpulkan rekan-rekan calon perwira yang sejalan dengan ide-idenya. Hal itu berlanjut dengan pembentukan organisasi rahasia para perwira indipenden dan kebebasan saat kuliah militer lanjutan di Inggris. Sudah tentu, sejak saat itu Inggris mulai berperan besar mengarahkan pemikiran dan langkah-langkah Qaddafi pada masa yang akan datang.

Tiga tahun setelah pulang dari pendidikan militer lanjutan di Inggris, tepatnya, 1 September 1969, saat usianya menginjak 27 tahun, Qaddafi melancarkan kudeta ‘damai’, menggulingkan Raja Idris yang saat itu tengah berada di Turki untuk melakukan pengobatan. Dipimpin Qaddafi, para pengkudeta ini menahan Putra Mahkota Sayyid Hasan ar-Rida al-Mahdi as-Sanusi yang masih keponakan Raja Idris, sebagai tahanan rumah. Para pengkudeta lantas memproklamasikan Libya sebagai negara republik, menggantikan kerajaan.

Selama ini, kekuatan zionis-salibis internasional mengembangkan dua tipe pemerintahan di dunia ketiga, utamanya di negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim. Pertama, rezim diktator yang pro Barat dan anti rakyat. Mereka mengendalikan seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dengan tangan besi, menindas rakyat, dan menjalankan arahan tuan besar AS dan Barat. Terkadang pemerintahan dijalankan dalam bentuk monarchi, tapi lebih sering dalam bentuk negara republik-demokrasi. Tipe inilah yang paling sering dipakai oleh AS dan Barat. Mayoritas negara Arab, Afrika, dan Asia Tenggara termasuk dalam tipe ini.

Kedua, rezim diktator yang secara lahiriah memamerkan sikap anti-Barat, anti-zionisme dan imperialism, pro rakyat, bahkan pro-Islam dan pro-Palestina. Namun di balik sikap tersebut, mereka memerankan dirinya sebagai agen pelaksana segala titah AS dan Barat. Mereka memerangi syariat Islam, memberangus dakwah dan jihad, dan menjalin konspirasi tersembunyi dengan tuan besar AS dan Barat. Secara ‘kulit’, mereka pahlawan Islam dan musuh Barat, namun secara ‘isi’ musuh Islam dan boneka Barat. Tipe ini muncul, misalnya, pada rezim Shadam Husain dan Moammar Qaddafi.

Kudeta ‘tanpa kekerasan’ yang dilancarkan oleh Qaddafi dan para perwira tersebut berlangsung sangat mulus. Pemerintahan monarchi Libya pro-Barat digantikan oleh pemerintahan baru Qaddafi yang ‘anti-Barat’. Tujuh bulan setelah kudeta tersebut, hanya dengan mengerahkan 150 tentara bersenjatan pistol, pemerintahan Qaddafi berhasil ‘menutup’ dan ‘mengusir’ dua kekuatan militer Barat.

Pertama, pangkalan militer Adam milik Inggris di kota Tobruk. Pangkalan militer ini mengangkut personal, persenjataan, amunisi, dan perbekalan militer Inggris dari kota Tobruk ke Libya Timur, Libya Barat, negara-negara Afrika lainnya dan Teluk Arab. Beberapa markas militer Inggris yang tersebar di beberapa wilayah Libya juga ikut ‘ditutup’. Kedua, pangkalan militer AS di kota Huwailis. Pangkalan ini merupakan salah satu pusat komando AS yang vital untuk menguatkan cengkeraman dominasi AS di benua Afrika.

Keberhasilan Qaddafi mengusir ‘musuh’ yaitu militer Inggris dan AS dari Libya dengan modal 150 pucuk pistol, tanpa seorang pun jatuh sebagai korban boleh dikata merupakan peristiwa paling menggemparkan dunia. Sangat ganjil dan mencurigakan. Pangkalan militer AS dan Inggris memiliki kekuatan militer yang sangat besar dan tangguh. Fungsinya sangat jelas, mengamankan kepentingan AS-Inggris di kawasan Timur Tengah dan Afrika,  dan menegaskan hegemoninya atas kedua kawasan tersebut. Mungkinkah kedua pangkalan militer tersebut beserta markas-markas militer lainnya di seantero negeri Libya rela diusir? Mungkinkah pangkalan-pangkalan militer tersebut sudah bosan menjalankan misinya? Ataukah ada sandiwara dan konspirasi tersembunyi yang membawa misi zionis dan salibis internasional di balik kudeta tak berdarah dan pengusiran militer asing dari Libya ini?

Seorang yang berakal sehat tentu telah mengetahui jawabannya. Qaddafi hendak dimunculkan oleh kekuatan zionis dan salibis internasional sebagai PAHLAWAN REVOLUSI yang akan membawa dunia Islam kepada kejayaan, kemerdekaan, kebebasan, kemakmuran, dan perlawanan terhadap Barat. Itulah langkah awal pembangunan citra Qaddafi. Selanjutnya ia akan memainkan peran yang pernah dimainkan oleh diktator Yahudi Turki si Musthafa Kamal Pasya Ataturk atas skenario dan arahan sutradara kekuatan zionis dan salibis internasional. Dahulu Musthafa Kamal dimunculkan sebagai perwira brilian yang berhasil mengusir militer Barat dari Turki, tanpa pengorbanan sebutir peluru pun. Ia adalah pahlawan revolusi, pengusir penjajah Barat, dan pembangun Turki modern. Lalu perjalanan waktu membuktikan perannya sebagai boneka zionis-salibis untuk memerangi syariat Islam dan menanamkan sekulerisme di dunia Islam. Sungguh sebuah konspirasi yang sangat lihai dan keji untuk memerangi Islam dan kaum muslimin.

Kenapa para ulama memvonis Qaddafi sebagai kafir murtad?

Sejak 1969, Qaddafi adalah penguasa Libya. Semua ucapan, tindakan, dan kebijakannya selama memerintah diliput oleh TV, radio, dan surat kabar secara luas, baik dalam skala lokal, regional, maupun internasional. Ia dengan bangga, berani, tanpa canggung, dan tanpa malu memamerkan ucapan, tindakan, dan kebijakannya selaku pemimpin revolusi dan ‘musuh’ Barat.

Qaddafi dan Buku Hijaunya

Alhamdulillah, dengan semua dokumentasi tersebut, para ulama Islam dan lembaga-lembaga Islam internasional memiliki data yang sangat komplit tentang kekafiran dan kemurtadan Qaddafi. Berkali-kali para ulama Islam dan lembaga Islam internasional menempuh cara dialog, nasehat, teguran, dan ajakan kepada Qaddafi untuk bertaubat dan menarik kembali semua kekufurannya tersebut. Namun Qaddafi tetap angkuh mempertahankannya, tanpa sekalipun mau bertaubat dan memperbaiki dirinya. Walhasil, vonis kafir-murtad untuk Qaddafi tetap disandangnya sampai detik nyawanya berpisah dengan jasadnya.

Seperti halnya para taghut diktator lainnya di negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim, pada awal revolusinya Qaddafi memamerkan dirinya sebagai pahlawan revolusi, pejuang Islam, pembela kaum muslimin, pengusir penjajah salibis Barat, dan pendukung berat perjuangan untuk membebaskan Palestina dari kangkangan zionis Yahudi. Setelah ia berhasil menarik simpati kaum muslimin dan kekuasaannya telah kokoh, maka ia mulai menunjukkan jati dirinya sebagai agen zionis-salibis dan gembong kekafiran yang sangat keras memusuhi Islam.

Berikut ini beberapa ucapan, tindakan, dan kebijakan Qaddafi yang merupakan kekafiran yang nyata, sehingga para ulama dan lembaga Islam internasional memvonisnya sebagai seorang kafir murtad.

  1. Syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya) dan melecehkan Allah SWT

    • Bagi Qaddafi, Allah Sang Pencipta tidak jauh berbeda dengan partai politik oposisi. Qaddafi menuduh Allah berbuat zalim. Dalam pertemuan dengan para pemimpin politik membahas pengguliran ‘Teori Internasional Ketiga’ di ibukota Tripoli pada tanggal 9 Agustus 1975, Qaddafi mengatakan: “Revolusi tidak secara otomatis mesti selalu berwarna ‘putih’. Ia juga bisa berwarna ‘merah’ terhadap lawan-lawannya. Oposisi haruslah dibinasakan. Saya katakan kepada kalian, agama-agama juga membinasakan para oposisinya. Allah juga membinasakan para oposisinya, padahal Allah juga yang telah menciptakan mereka. Jadi setiap orang membinasakan para oposisinya.”

    • Qaddafi melecehkan Allah dan menyamakan dirinya dengan Allah. Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Haj (22): 73), Allah menantang tuhan sesembahan kaum musyrik untuk bersatu demi menciptakan seekor nyamuk. Dalam pidato kenegaraan tanggal 1 Oktober 1989 untuk memperingati terusirnya penjajah Italia dari bumi Libya, Qaddafi mengatakan: “Aku menantang kalian sebagaimana Dia berfirman kepada mereka; ‘Buatlah untukku seekor nyamuk saja!’ Dia menantang mereka yang mengatakan ‘Allah bukanlah apa-apa.’ Dia menantang mereka ‘Buatlah untuk Kami seekor lalat!’ Maka aku tantang kalian: ‘Buatlah untuk kami Pepsi saja!’

    • Qaddafi membandingkan Allah dengan manusia. Jika Allah menjadi tuhan di langit, maka rakyat juga menjadi tuhan di bumi. Dalam pidato kenegaraan tanggal 1 Oktober 1989 tersebut, Qaddafi juga menyatakan: “Rakyat itu seperti Allah…Allah di langit, dan rakyat di bumi. Dia tidak memiliki sekutu. Jika Allah memiliki sekutu, Dia akan berfirman ‘Mereka akan mencari jalan untuk naik kepada Pemilik ‘Arsy’. Jika ada tuhan-tuhan selain Dia, niscaya setiap tuhan akan mengatakan ‘Aku ingin menjadi Tuhan.’ Jika Dia berada di Arsy, niscaya tuhan-tuhan lain akan melakukan kudeta untuk menjatuhkan-Nya…Rakyat di atas bumi juga harus seperti ini, menjadi tuhan di atas buminya.”

    • Dalam pidato kenegaraan tanggal 27 Desember 1990, Qaddafi mengatakan, “Rakyat adalah penguasa di atas muka bumi. Rakyat menentukan apapun di bumi yang ia kehendaki. Adapun Allah berada di langit. Maka tiada penengah antara kita dengan Allah.” Inilah prinsip sekulersime yang dipraktikkan Qaddafi di Libya. Seluruh ajaran Al-Qur’an dan as-sunnah dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, dan lainnya dicampakkan. Ajaran Islam hanya diakui dalam urusan ibadah ritual belaka. Sebagai gantinya, di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, dan lainnya Qaddafi menerapkan undang-undang positif yang ia karang sendiri. Ia menamakannya al-kitab al-akhdar, Kitab Hijau (Green Book). Terbit dalam bahasa Arab, Kitab Hijau menjabarkan tiga paham dasar, yaitu “Demokrasi berdasarkan Kekuasaan Rakyat,” “Ekonomi Sosialisme” dan “Teori Internasional Ketiga.” Paham itu lalu menjadi panduan bagi sistem demokrasi ala Khadafi, sekaligus panduan politik luar negeri Libya.

    •  Tidak aneh jika Qaddafi sangat ketat menerapkan sekulerisme dan menolak penerapan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia sangat mengagumi bapak sekulerisme Turki, Musthafa Kamal Ataturk. Ia bekerja sangat keras demi menerapkan sekulerisme ala Turki di Libya. Dalam dialog dengan para ulama dan santri penghafal Al-Qur’an pada tanggal 3 Juli 1978, Qaddafi menyatakan para ulama Turki yang fanatik, bodoh, dan lugu menolak memberi fatwa kebolehan sekulerisme. Qaddafi mengatakan : “Ataturk adalah orang yang dizalimi…saya katakan hal ini kepada sejarah. Hal itu karena orang-orang yang bodoh, lugu, dan fanatik (maksudnya para ulama Islam di Turki, edt) memaksanya (maksudnya Musthafa Kamal Ataturk, edt) untuk kafir (maksudnya memvonis Ataturk Kafir karena menerapkan sekulerisme di Turki, edt). Mestinya mereka menyatakan kepadanya ‘ya, boleh’ sehingga mereka tetap sebagai muslimin. Namun mereka menjawab ‘tidak, tidak boleh, haram’. Siapa yang berkata kepada kalian? Mereka memakai surban di kepala, lalu mengatakan ‘tidak boleh, haram’. Ataturk bertanya kepada mereka, “Apakah sama sekali tidak ada fatwa ulama yang menyatakan kita tetap sebagai kaum muslimin, dan pada saat yang sama kita memisahkan agama dari negara?’ Mereka menjawab, “Tidak, sama sekali tidak ada fatwa.

    • Sebagai seorang penguasa sekuler, Qaddafi menegaskan fungsi masjid sebatas membahas urusan pribadi; surga, neraka, pahala, siksa, dan ibadah ritual. Adapun urusan politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, dan aspek kehidupan masyarakat yang lainnya tidak boleh dibahas di masjid. Ia menekankan urusan publik adalah hak penguasa semata, sedangkan urusan privat adalah urusan setiap hamba dengan Tuhannya. Dalam khutbah Jum’at di masjid Jado, 11 Juli 1980, Qaddafi mengatakan: “Pokok dari khutbah Jum’at adalah masyarakat meninggalkan kesibukan-kesibukan dunia dan problematika mereka di luar masjid, lalu mempergunakan waktu yang singkat untuk shalat (Jum’at), mereka mendengarkan firman Allah tentang kematian, kehidupan, surga, neraka, kebangkitan, perhitungan amal, dan balasan. Adapun problematika kehidupan harus dibahas di luar masjid.”

  2. Melecehkan Nabi SAW

    • Kebencian Qaddafi terhadap Nabi SAW dan sunnahnya tidak bisa ditutup-tutupi, bahkan ia mengumumkannya di depan publik dengan berbangga diri dan penuh kecongkakan. Tidak heran apabila ia memerintahkan membakar kitab-kitab hadits dengan dalih kitab kuning yang telah usang dan ketinggalan zaman. Lebih dari itu, Qaddafi mengingkari As-sunnah sebagai sumber kedua ajaran Islam. Qaddafi mencampakkan kalender hijriyah. Sebagai gantinya, ia menetapkan sistem kalender baru yang dimulai dengan wafatnya Nabi SAW.

    • Berdalih atas tindakannya itu, Qaddafi mengatakan, “Ada banyak peristiwa sejarah yang saya yakini lebih penting dari hijrah Nabi… di antaranya adalah kewafatan Nabi SAW. Wafatnya Rasul SAW setara dengan kelahiran Isa AS… Jika kita harus membuat kalender dengan berpatokan kepada peristiwa-peristiwa sejarah, maka yang lebih utama adalah dengan berpatokan kepada kewafatan Nabi SAW. Di antara peristiwa penting adalah kewafatan Nabi, sehingga kita bisa menetapkan kalender atau menuliskan untuk umat manusia suatu sejarah sampai setelah berlalu jutaan tahun, bahwasanya ada seorang rasul penutup para nabi yang wafat pada tahun sekian, atau telah berlalu kewafatannya sejak sekian tahun atau sekian abad.” (Khuthab wa Ahadits al-Qaid ad-Diniyah, hal. 290)

    • Qaddafi juga menyatakan alasan kebijakannya tersebut dengan mengatakan, “Jadi Umar bin Khatab adalah orang yang menyatakan ’Tahun ini tahun hijriyah’. Itu adalah pendapatnya pribadi. Namun kita juga punya pendapat sendiri. Kita berpendapat…kita bisa menyatakan bahwa peristiwa hijrah tidaklah memiliki arti sepenting itu. Hal yang lebih penting darinya adalah penaklukan Makkah. Dan yang lebih penting lagi adalah wafatnya Nabi SAW.”  (Khuthab wa Ahadits al-Qaid ad-Diniyah, hal. 300-301)

    • Sungguh ganjil. Wafatnya Rasulullah SAW dianggap sebagai mukjizat yang setara dengan keajaiban kelahiran nabi Isa AS. Siapakah yang merasa gembira dengan wafatnya Rasulullah SAW, sehingga merayakannya dan menjadikannya sebagai patokan kalender? Tiada orang yang bergembira dan merayakan wafatnya Rasulullah SAW dengan cara seperti itu selain orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan musyrikin yang memendam kebencian terdalam terhadap diri Rasulullah SAW!

      Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia! Siapapun seorang mukmin yang ditimpa oleh sebuah musibah, maka hendaklah ia berbela sungkawa dengan musibah (kehilangan)ku sebagai ganti dari belasungkawanya karena kehilangan orang lain. Sesungguhnya tiada seorang pun dari umatku yang tertimpa musibah yang lebih berat dari musibah kehilanganku.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 7879)

      Mantan ibu asuh Nabi SAW, Ummu Aiman menangis di hadapan Abu Bakar dan Umar. Keduanya bertanya kepada Ummu Aiman tentang sebab ia menangis, maka ia menjawab, “Aku tidak menangisi pribadi beliau SAW, karena aku mengetahui balasan di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah SAW. Namun aku menangis karena wahyu Allah telah terputus (dengan meninggalnya Rasulullah SAW).” Maka Abu Bakar dan Umar ikut menangis. (HR. Muslim)

      Mantan pembantu Nabi SAW, Anas bin Malik berkata, “Pada hari Rasulullah SAW tiba di Madinah, segala sesuatu bersinar terang. Namun pada hari beliau SAW wafat, segala sesuatu di Madinah menjadi gelap.” Anas berkata lagi, “Tangan-tangan kami telah selesai menimbun jenazah Nabi SAW, namun hati kami seakan mengingkari (kwafatan)nya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad. Dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Katsir dan syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1631)

    • Pelecehan dan kebencian Qaddafi kepada Rasulullah SAW tidak berhenti sampai urusan sistem penanggalan kontroversial ini. Dalam khutbahnya pada acara perayaan maulid Nabi SAW di masjid Maulaya Muhammad, ibukota Tripoli pada tanggal 19 Februari 1978, Qaddafi mengatakan: ”Jika aku mengatakan kepada kalian Rasulullah, maka kalian semua menjawab Shallallahu ‘alaihi wa salam. Namun jika aku mengatakan kepada kalian Allah, ternyata kalian tidak mengatakan apa-apa. Ini merupakan sebuah bentuk penghambaan (penuhanan Nabi SAW, edt) dan paganism yang kita jalani…Jika sekarang saya mengatakan Allah sebanyak seribu kali, ternyata keadaannya biasa saja. Namun ketika saya mengatakan Rasulullah, setiap orang di antara kita mengatakan Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan hal itu berarti kita lebih takut kepada Rasulullah melebihi takut kita kepada Allah. Atau seakan-akan kita merasakan Rasulullah lebih dekat kepada kita melebihi kedekatan Allah kepada kita. Ini sepenuhnya sama dengan orang-orang Masehi (Nasrani, edt) yang mengatakan: ‘Isa lebih dekat kepada kita daripada Allah’.

      Di dalam Al-Qur’an tidak ada ayat yang menegaskan: ‘Sesungguhnya Nabi bersabda: Kalian wajib mengikuti semua ucapan yang aku katakan!’ Jika ada ayat seperti itu, maka dimana gerangan perkataan yang ia ucapkan selama 40 tahun sebelum diangkat menjadi nabi? Terlebih bisa dipastikan bahwa ia juga berbicara sebelum diangkat menjadi nabi. Jika Nabi mengatakan ‘Ikutilah hadits (sabda)ku!’, maka itu artinya haditsnya akan diberlakukan sebagai pengganti dari Al-Qur’an. Namun secara terus-menerus ia menegaskan kewajiban berpegang teguh dengan Al-Qur’an semata. Seandainya ia menganggap suci haditsnya dan menempatkannya dalam kedudukan yang sangat urgen seperti Al-Qur’an, tentulah ia sudah membuat kitab lain yang akan menggantikan posisi Al-Qur’an.”

    • Qaddafi jelas-jelas mengingkari perintah Al-Qur’an dan hadits shahih kepada umat Islam untuk banyak membaca shalawat atas Nabi SAW. Qaddafi juga secara terang-terangan menolak hadits Nabi SAW, dan mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi SAW, dan ijma’ ulama yang memerintahkan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menempatkan As-sunnah sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah Al-Qur’an.

    • Qaddafi juga mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, dan ijma’ ulama yang menyatakan Nabi SAW diutus kepada seluruh umat manusia dan jin. Dalam pertemuan dengan para dosen universitas pada tanggal 9 Februari 1982, Qaddafi mengatakan, “Jasad bangsa Arab adalah nasionalisme Arab dan ruh mereka adalah Islam, karena Muhammad diutus kepada bangsa Arab semata! Al-Qur’an datang untuk bangsa Arab dan dengan bahasa Arab, ditujukan kepada bangsa Arab saja.Siapa pun orang selain bangsa Arab yang memeluk agama Islam, pada hakekatnya adalah sukarela saja (bukan wajib, edt). Urusannya terserah Allah, namun sebenarnya ia tidak dimaksudnya (sebagai obyek dakwah Al-Qur’an dan Islam, edt).”

    • Dalam pertemuan Sekretariat Jendral Sementara Konferensi Internasional Bangsa-bangsa Islam pada tanggal 19 Desember 1989, Qaddafi mengatakan kebencian dan pelecehannya kepada Nabi SAW dan para sahabat. Qaddafi menyatakan, “Ketika para sahabat Rasul SAW menjadi para penguasa, maka mereka diinjak-injak dengan kaki dalam kapasitas mereka sebagai para penguasa sipil. Utsman dibunuh dalam kedudukannya sebagai kepala negara republik atau raja. Umar dengan keadilannya menjadi seorang penguasa, dan menaklukkan Persia dan Romawi. Ali diperangi oleh kaum muslimin. Orang-orang terdekat, pengikut-pengikut, dan kawan-kawannya justru memisahkan diri darinya. Kenapa? Karena ia berambisi kekuasaan dan ingin menjadi kepala negara republik. Seandainya Muhammad SAW menjadi kepala negara republik, niscaya orang-orang akan meninggalkannya.”

  3. Melakukan tahrif (pengubahan dan penyelewengan) terhadap Al-Qur’an

    Qaddafi adalah taghut pertama di muka bumi yang secara lancang berani ‘mengubah’ Al-Qur’an dengan membuang lafal {قُلْ} (artinya: katakanlah) dari dalam Al-Qur’an, dengan dalih ayat Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi SAW. Perintah ‘katakanlah’ dalam ayat-ayat Al-Qur’an ditujukan kepada Nabi SAW, karenanya Qaddafi menyatakan tidak ada gunanya lagi membaca lafal tersebut setelah Rasulullah SAW meninggal. Jika seseorang membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, atau An-Nas misalnya, maka menurut Qaddafi seharusnya ia membaca sebagai berikut:

    {هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} , {أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ}، {أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ}

    Para ulama Islam telah sepakat (ijma’) bahwa siapa pun yang mengubah-ubah sebuah ayat Al-Qur’an, atau mendustakan sesuatu ayat dari Al-Qur’an, atau mengingkari suatu ayat dari Al-Qur’an, niscaya ia telah kafir murtad dan keluar dari agama Islam.

    Sahabat Abdullah bin Mas’ud RA berkata, “Barangsiapa mengkufuri (mengingkari) satu huruf dalam Al-Qur’an maka berarti ia telah mengkufuri keseluruhan isi Al-Qur’an.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, 2/232 karya imam Al-Lalikai)

    Imam Abdullah bin Mubarak berkata, “Barangsiapa mengkufuri (mengingkari) satu huruf dalam Al-Qur’an maka ia telah kafir. Dan barangsiapa mengatakan ‘aku tidak mau beriman kepada huruf lam (dalam sebuah ayat misalnya, edt) maka ia telah kafir.” (Majmu Fatawa, 4/182)

    Qadhi Iyadh bin Musa Al-Yahsubi berkata, “Ketahuilah! Barangsiapa menganggap remeh Al-Qur’an atau mushaf, atau sesuatu (ayat, edt) darinya, atau mencaci makinya, atau mengingkarinya, atau mengingkari sebuah huruf atau sebuah ayat, atau mendustakannya atau mendustakan sebagian darinya…atau meragukan sebagian darinya, maka ia telah kafir menurut kesepakatan (ijma’) ulama.” (Asy-Syifa bi-ta’rif Huquqil Musthafa, 2/1101)

    Berkaitan dengan kelancangan Qaddafi melakukan tahrif terhadap ayat-ayat Al-Qur’an ini, beberapa lembaga Islam internasional telah mengadakan pertemuan khusus untuk membahasnya di kantor pusat Rabithah Alam Islami di Jedah, pada hari Selasa-Kamis tanggal 11-14 Dzulhijah 1400 H (20-23 Oktober 1980 M). Rabithah Alam Islami, Dewan Masjid Interasional, dan 39 ulama Islam dari berbagai negara yang  ikut serta dalam pertemuan tersebut mengeluarkan pernyataan sikap bersama.

    Buku sesat rujukan Qaddafi yang ia agungkan

    Di antara isinya adalah vonis kafir-murtad untuk Qaddafi, dan ajakan kepadanya untuk bertaubat, mencabut seluruh kekafirannya, dan kembali masuk Islam. Rabithah Alam Islami mendokumentasikan hasil pertemuan berbagai lembaga Islam Internasional dan para ulama Islam dari berbagai negara tersebut dalam sebuah buku yang diterbitkan tahun 1406 H, berjudul Ar-Raddu asy-Syaafi ‘ala Muftarayat Qaddafi (Bantahan tuntas atas kebohongan-kebohongan Qaddafi).

    Sebagai seorang sekuler, Qaddafi meyakini Al-Qur’an hanya mengatur urusan ibadah ritual (shalat, shaum, zakat, haji, dzikir, doa) dan akhirat (surga, neraka) belaka. Menurutnya, Al-Qur’an sama sekali tidak mengatur aspek kehidupan lainnya seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan militer. Dalam dialog dengan para ulama dan santri penghafal Al-Qur’an pada tanggal 3 Juli 1978 di Tripoli, Qaddafi mengatakan:

    Sebagian kecil Al-Qur’an bisa kita terapkan dalam masyarakat kita sekarang. Adapun sisanya adalah perkara-perkara yang mayoritasnya berkaitan dengan hari kiamat. Seperti iman kepada Allah, iman kepada perhitungan dan siksaan, iman kepada malaikat, iman kepada rasul, dan seterusnya.”

    Qaddafi melanjutkan, “Aku tidak mengetahui sebuah kitab selain Al-Qur’an. Kita tengah berbicara tentang Al-Qur’an, perundang-undangan masyarakat. Jika kita mengkaji Al-Qur’an, kita tidak menemukan Al-Qur’an membicarakan problematika-problematika yang dengannya kita mengatur masyarakat…Sebagai manusia, kitalah yang mengatur diri kita sendiri. Al-Qur’an tidak membicarakan problematika-problematika ini. Kejahatan yang dihukum potong tangan..kejahatan yang dihukum cambuk..Hanya sedikit bagian dari Al-Qur’an yang berbicara tentang perkara-perkara dunia yang berkaitan dengan kehidupan dunia belaka, yang tidak ada pengaruhnya sama sekali di akhirat.” 

    4. Mengingkari as-sunnah (hadits Nabi SAW)

    Qaddafi terkenal dengan sikapnya yang mengingkari as-sunnah (hadits-hadits Nabi SAW), menuduh semua hadits adalah palsu, dan melecehkan para sahabat yang meriwayatkan hadits terutama Abu Hurairah RA.

    Dalam pidato pada perayaan maulid Nabi di masjid Maulaya Muhammad, ibukota Tripoli tanggal 19 Februari 1978, Qaddafi mengatakan, “Muhammad adalah seorang nabi. Dia tidak memiliki hadits, syair, maupun filsafat.Ia hanya memiliki risalah yang ia datang untuk menyampaikannya, yaitu Al-Qur’an. Pulanglah kalian ke rumah kalian, pelajarilah Al-Qur’an bersama anak-anak kalian, batasilah diri kalian dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah kumpulan dari berbagai perintah dan larangan.”

    Pengingkaran Qaddafi terhadap sunnah Nabi SAW secara totalitas merupakan sebuah kekafiran berdasar Al-Qur’an, As-sunnah, dan ijma’ ulama. Allah SWT mewajibkan kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan Al-Qur’an belaka. Menaati Rasulullah SAW dan Sunnahnya berarti menaati Allah dan kitab-Nya. Mengingkari sunnah Rasulullah SAW berarti mengingkari Allah, Rasul SAW, dan kitab-Nya. Allah SWT berfirman,

    {مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ}

    “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS. An-Nisa’ (4): 80)

    {إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا * أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا}

    “Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: Kami beriman kepada yang sebagian dan kafir terhadap sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’ (4): 150-151)

    {وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا}

    “Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mumin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mumin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab (33): 36)

    {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فإنتَهُوا}

    “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr (59): 7)

    Nabi SAW bersabda tentang orang yang mengingkari As-Sunnah,

    يُوشِكُ أَنْ يَقْعُدَ الرَّجُلُ مِنْكُمْ عَلَى  أَرِيكَتِهِ يُحَدَّثُ بِحَدِيثِي فَيَقُولُ : بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ ، فَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَلَالًا اسْتَحْلَلْنَاهُ ، وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ حَرَامًا حَرَمْنَاهُ ، وَإِنَّمَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا حَرَّمَ اللَّهُ

    Hampir tiba masanya seseorang di antara kalian duduk di atas kursi empuk, kepadanya disampaikan sebuah hadits dariku, maka ia mengatakan: ‘Antara aku dan kalian hanya ada kitab Allah. Apa yang kami dapatkan halal dalam kitab Allah akan kami halalkan, dan apa yang kami dapati haram dalam kitab Allah akan kami haramkan’. Padahal apa yang diharamkan oleh Rasulullah SAW sama halnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. Ahmad, Abu Daud, al-Hakim, dan al-Baihaqi. Hadits shahih, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 8186)

    Para ulama telah memvonis kafir seseorang yang menolak satu hadits Nabi SAW. Terlebih orang yang menolak seluruh hadits Nabi SAW, kekafirannya lebih berat lagi.

    Imam Ishaq bin Rahawaih menyatakan bahwa barangsiapa menolak sebuah hadits shahih dari Rasulullah SAW yang ia ketahui, maka ia telah kafir. (Al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, 3/230, karya imam Ibnu Hazm Al-Andalusi)

    Imam Ibnu Wazir al-Yamani berkata, “Sesungguhnya mendustakan sebuah hadits Rasulullah SAW setelah ia mengetahui bahwa hal tersebut adalah hadits, merupakan sebuah kekafiran secara terang-terangan.” (Nawaqidhul Iman al-Qauliyah wal ‘Amaliyyah, hlm. 190-191)

    Qaddafi mengingkari dan mendustakan seluruh hadits Nabi SAW. Qaddafi menyatakan berpegang teguh dengan hadits Nabi SAW sama halnya dengan kesyirikan dan penyembahan berhala. Dalam pidato pada perayaan maulid Nabi di masjid Maulaya Muhammad, ibukota Tripoli tanggal 19 Februari 1978 tersebut, Qaddafi juga mengatakan, “Jika seseorang datang dan berkata kepada kita: ‘Hadits Nabi SAW harus kalian anggap suci dan kalian amalkan seperti Al-Qur’an’, maka ini adalah kesyirikan. Perkataan ini mungkin asing. Hal ini disebabkan karena kita pada fase sekarang ini telah banyak menjauh dari Al-Qur’an. Kita berada dalam jalan menuju penyembahan berhala, dan menjauh dari Al-Qur’an dan Allah. Tidak ada jalan yang menjauhkan kita dari penyembahan berhala dan penyimpangan yang berbahaya ini kecuali berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan beribadah kepada Allah semata.”

    Qaddafi menuduh para sahabat memalsukan hadits Nabi SAW. Qaddafi juga menyejajarkan para sahabat yang meriwayatkan hadits dengan sejumlah tokoh musyrik dan nabi palsu. Dalam pidato pembukaan Konferensi Islam di kota Benghazi, tanggal 25 September 1989, Qaddafi mengatakan, “Setiap kali engkau datang kepada kami dan mengatakan ‘Hadits ini diriwayatkan oleh Nabi’, kita tidak bisa mengetahui apakah hadits ini dibuat-buat oleh Mu’awiyah ataukah benar-benar disabdakan oleh Nabi? Apakah hadits ini dibuat-buat oleh Sajah (seorang wanita nabi palsu, edt) ataukah Abu Sufyan ataukah Abu Lahab? Kita tidak tahu, karena ada ribuan hadits yang menyimpan tanda tanya. Jadi, mana hadits yang benar-benar disabdakan oleh Nabi?”

    Qaddafi hanya mengulang-ulang para guru orientalis Yahudi yang ingin menghancurkan wahyu kedua dan sumber kedua ajaran Islam, dengan membuat keragu-raguan terhadap hadits Nabi SAW, melempar tuduhan dusta kepada para sahabat perawi hadits, dan mengingkari seluruh hadits Nabi SAW. Sebagai contoh, tentang hadits: “Tidak boleh mengadakan perjalanan jauh (dengan niat tabarruk) kecuali kepada salah satu dari tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (masjid nabawi), dan masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Qaddafi mengomentarinya saat berpidato dalam Konferensi Liga Arab di kota Benghazi tanggal 17 Februari 1990 dengan mengatakan, “Ini adalah kedustaan…ini adalah hadits yang tidak pernah disabdakan oleh Nabi. Hadits ini dikatakan oleh Yazid (bin Mu’awiyah bin Abi Sufyan, edt) karena ia ingin masyarakat tidak berhaji ke Mekah, namun pergi ke Al-Quds. Karena Al-Quds berada dalam kekuasaannya.”  

    5.Qaddafi melecehkan dan menolak syariat Islam

    Qaddafi menganggap syariat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT dari al-Lauh al-Mahfuzh sama halnya dengan perundang-undangan positif jahiliyah lainnya yang berasal dari hasil oleh pikir manusia. Qaddafi membandingkan syariat Islam dengan sampah-sampah pemikiran orang kafir yang membuat hukum, perundang-undangan, dan pedoman hidup tanpa landasan wahyu Allah SWT.

    Dalam dialog dengan para ulama dan santri penghafal Al-Qur’an di ibukota Tripoli pada tanggal 3 Juli 1978, Qaddafi mengatakan: “Oleh karena itu, syariat Islam diperhitungkan sebagai sebuah madzhab fiqih positif (karya manusia, edt). Kedudukannya seperti kedudukan undang-undang Romawi, undang-undang Napoleon, dan seluruh undang-undang lainnya yang dibuat oleh para pakar hukum Perancis, atau Italia, atau kaum muslimin…Orang yang mempelajari undang-undang Romawi menganggap para ulama Islam membuat sebuah undang-undang yang menyerupai undang-undang Romawi. Jangan mengatakan (syariat Islam, edt) ini agama.”

    Qaddafi tidak mengakui syariat Islam adalah wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Ia menganggap syariat Islam hanyalah sebuah madzhab fiqih belaka, hasil karya ulama fiqih, seperti halnya undang-undang positif yang dibuat dan diterapkan oleh bangsa-bangsa kafir seperti Romawi kuno, Yunani kuno, Perancis, dan lain-lain.

    Sang Diktator yang gila kuasa, kejam, gila popularitas dan pujian

    Qaddafi bahkan menuduh syariat Islam adalah perpaduan dari karya beberapa kaum filosof zindiq seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi, kaum Syi’ah ekstrim bathiniah seperti Ikhawanu Shafa, dan kaum filosof sufi seperti Al-Ghazali. Qaddafi menuduh syariat Islam adalah kompilasi dari hasil ijtihad para tokoh dan kelompok menyimpang yang saling kontradiktif tersebut. Menurut Qaddafi, sumber dari syariat Islam adalah literatur Yunani kuno, karena semua penulis syariat Islam tersebut mengambil bahan dari literatur Yunani kuno.

    Dalam rapat kedua Dewan Revolusi Libia dengan wakil-wakil universitas di aula pendidikan ideologis,ibukota Tripoli pada tanggal 30 Maret 1991, Qaddafi mengatakan: “Sesungguhnya apa yang dinamakan syariat Islam adalah buku-buku, ijtihad-ijtihad, dan karya-karya yang dikarang oleh sebagian orang, seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, al-Farabi, Ahlu (Ikhwan, edt) Shafa, dan Mu’tazilah. Masing-masing dari mereka menulis karya, dan mereka semua mengambil dari Yunani.”

    Di hadapan wakil-wakil mahasiswa dalam pertemuan dengan Dewan Revolusi Mahasiswa di ibukota Tripoli pada tanggal 18 Maret 1982, Qaddafi mengatakan, “Kotoran-kotoran dan paganisme politik inilah yang telah memecah belah agama. Agama sepenuhnya harus kembali seperti keadaannya saat diturunkan. Agama yang tanpa madzhab-madzhab. Kita tidak mengenal Sunnah maupun Syi’ah, tidak mengenal (madzhab, edt) Maliki maupun Ibadhi (sekte pecahan Khawarij, edt). Ini semua hanyalah kebohongan-kebohongan yang muncul sepeninggal Nabi. Sedikit pun Nabi tidak memiliki kaitan dengannya…Allah menurunkan Al-Qur’an kepadamu melalui Muhammad. Engkau mengimani bahwa Muhammad adalah seorang nabi dan bahwa Al-Qur’an ini berasal dari Allah. Engkau mengamalkan firman yang ada di dalam Al-Qur’an saja, maka engkau akan bersih di hadapan Allah. Semua madzhab ini adaah kekafiran. Ada ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang mengkafirkan sikap bergolong-golongan, berkelompok-kelompok, dan berpecah belah dalam Islam…Jangan sampai seseorang datang kepada kalian dan mempedaya kalian; Kamu pengikut madzhab Maliki, kamu pengikut madzhab Syafi’i. Katakan kepadanya: “Apakah hal ini ada dalam Al-Qur’an? Selama tidak ada dalam Al-Qur’an, kita tidak akan mengikutinya dan tidak akan masuk dalam otak kita.”

    Qaddafi tidak mengerti perbedaan antara syariat Islam dan madzhab aqidah maupun madzhab fiqih. Syariat Islam adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada umat manusia untuk menjadi pedoman hidup yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Syariat Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    Adapun madzhab aqidah, pada dasarnya semua umat Islam pada generasi sahabat adalah pengikut Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman yang diajarkan Rasulullah SAW kepada mereka. Mereka disebut juga ahlus  sunnah wal jama’ah. Kemudian karena faktor penyimpangan dalam memahami kedua sumber ajaran Islam tersebut, juga karena faktor politik dan infiltrasi musuh-musuh Islam lahirlah kelompok ‘sempalan’, dimulai dari Khawarij dan Syi’ah, disusul Murji’ah dan Mu’tazilah. Meski mereka menyimpang dari Ahlus Sunnah dalam beberapa permasalahan akidah, namun secara umum mereka masih menjadi bagian dari umat Islam, bukan orang kafir seperti klaim ‘ngawur’ Qaddafi.

    Sedangkan madzhab-madzhab fiqih, bukanlah perpecahan dalam agama yang diharamkan dan dikafirkan oleh Al-Qur’an seperti klaim Qaddafi. Madzhab fiqih lahir karena perbedaan pendapat para ulama mujtahidin dalam memahami maksud nash-nash syar’i, dalam hal-hal yang syariat memberi peluang untuk munculnya perbedaan, yaitu dalil-dalil Al-Qur’an yang zhanniyatu dilalah, dalil-dalil hadits yang zhanniyatuts tsubut dan zhaniyatud dilalah. Adapun perpecahan dan berkelompok-kelompok yang diharamkan dan dikafirkan oleh Al-Qur’an adalah perpecahan dan perkelompokan orang-orang yang menolak kebenaran dakwah para nabi dan rasul. Itulah kelompok orang-orang musyrik, kafir, munafik, dan murtad.

    Pelecehan Qaddafi terhadap Syariat Islam dengan klaim-klaim palsu di atas hanyalah sebuah kedok, manipulasi, dan syubhat untuk menjustifikasi penolakannya terhadap syariat Islam dan pengingikarannya terhadap sunnah Nabi SAW. Bagaimanapun, banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan pedoman hidup secara global. Penjelasan rinci beserta praktik penerapannya terdapat dalam sunnah Nabi. Jika sunnah Nabi diingkari dan dicampakkan, maka otomatis Al-Qur’an tidak akan bisa dipahami dan diamalkan secara benar. Akhirnya, pemahaman dan pengamalan Qaddafi-lah yang dijadikan acuan dalam mengimani Al-Qur’an. Al-Qur’an, masih menurut klaim Qaddafi,  tidak memberikan panduan hidup di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, militer, dan seterusnya.

    Jika Al-Qur’an, menurut klaim Qaddafi, tidak komplit mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika As-Sunnah diingkari dan ditolak. Jika syariat Islam dianggap tak berbeda halnya dengan undang-undang Yunani kuno, undang-undang Hamurabi, undang-undang Romawi kuno, undang-undang Napoleon Bonaparte, dan seterusnya…maka Qaddafi bebas membuat undang-undang serupa, toh ia adalah ‘mujtahid mutlak’. Qaddafi membuat sendiri undang-undang dan pedoman hidup yang mengatur sistem ekonomi, politik, sosial, budaya, dan militer negara Libia. Seluruh kaum muslimin di dunia akhirnya menjadi saksi, bukan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diterapkan Qaddafi di Libia. Namun sekulerisme dengan panduan sistem yang disusun ‘sendiri’ oleh Qaddafi, yakni al-kitab al-akhdar (buku hijau, edt) ; sistem politik demokrasi tanpa oposisi, sistem ekonomi sosialisme, dan teori internasional ketiga. Mungkinkah sistem tersebut sudah ‘didiktekan’ oleh tuan besar zionis, salibis, komunis, dan paganis internasional?

muhib al-majdi
arrahmah.com


{/mooblock}