pustaka.png
basmalah.png


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Bangun Karakter dan Jiwa Bangsa dengan Adab

Bangun Karakter dan Jiwa Bangsa dengan AdabFiqhislam.com - Iman yang benar melahirkan akhlakul karimah. Keimanan yang tidak berefek pada perbaikan budi pekerti sama jeleknya dengan akhlak yang tidak bersumber dari nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Boleh jadi dibalik penampakan akhlaknya tersembunyi agenda tertentu yang tersembunyi. Misalnya, tiba-tiba ia menjadi dermawan, bagi-bagi rizki menjelang pemilu. Tidak sebagaimana kebiasaan kehidupan sehari-hari. Itulah yang disebut riya.

Rasulullah SAW bersabda: "Bertakwalah kepada Allah SWT dimanapun kamu berada dan susullah kejahatan dengan kebaikan supaya bisa menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (al Hadits).

Kata Ibnu Mas’ud, taqwa adalah engkau selalu mentauhidkan Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya. Selalu mensyukuri karunia-Nya dan tidak mengingkari-Nya. Selalu mendekati-Nya dan tidak menjauhi-Nya. Selalu mengabd, taat kepada-Nya dan tidak mendurhakai-Nya. Selalu memuliakan-Nya dan tidak merendahkan-Nya.

Rasulullah SAW pernah berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-MU dari kehusyu’ nya orang munafik." Penampilan lahiriah bukan cerminan dari isi hati. Lain di mulut, lain pula di hati.

Jadi, iman sama pentingnya dengan akhlak. Ibarat sebuah pohon, iman adalah bagaikan akarnya yang mengunjam dan buahnya adalah akhlak. Yang bisa dipanen setiap saat (tukti ukulaha kulla hin). Kematangan akhlak berbanding lurus dengan kematangan iman. Iman yang matang karena karbitan akan melahirkan akhlak karbitan pula. Akhlak yang diproses secara instan, sudah barang tentu kecut rasanya.

ماَ مِنْ شَئ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِياَمَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

"Tiada sesuatu yang lebih berat pada timbangan seorang hamba di hari kiamat selain daripada akhlak yang baik." (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

ماَ الدينُ ؟ قاَلَ : حُسْنُ الْخُلُقِ وَ سُئِلَ ماَ الشؤْمُ ؟ قاَلَ : سُوْءُ الْخُلُقِ

"Rasulullah SAW pernah ditanya, Apakah dinul Islam itu? Beliau menjawab: akhlak." اAhmad).

Asesoris lahiriyah itu penting. Hiasan batiniyah jauh lebih penting. Aset bendawi itu penting tapi aset bernama adab jauh lebih penting. Pembangunan fisik itu penting tetapi membangun jiwa/ruhani jauh lebih penting. Menjaga kesehatan badan itu penting namun, memelihara kesehatan spiritual jauh lebih penting.

مَتَى يَبْلُغُ الْبُنْياَنُ كَماَلَهُ اِذَا كُنْتَ تَبْنِيْهِ وَالأَخَرُ يَهْدِمُ

Kapan proyek bangunan itu akan mencapai kesempurnaannya, apabila kalian rajin membangunnya (pisik) , tetapi pihak lain merusaknya (nilai).

Demikian pula sebuah kota, negara. Sebagus apapun jalan dilebarkan, trotoar diperluas, ia hanya akan menambah deretan persoalan, tatkala penghuninya adalah komunitas insan yang merupakan bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Seluruh warganya tidak merasa at home (murtah) di dalamnya. Ia tidak bangga menjadi bagian darinya. Justru ia merasa malu dan mengeluh.

Syeikh Hasyim Asy’ari mengutip pendapat sebagian ulama: ”at-Tawhidu yujibul imana, faman la imana lahu la tawhida lahu, wal-imanu yujibu al-syari’ata, faman la syari’ata lahu, la imana lahu wa la tawhida lahu, wa al-syari’atu yujibu al-adaba, faman la adaba lahu, la syari’ata lahu wa la imana lahu wa la tawhida lahu.” (Hasyim Asy’ari, adabul ‘Alim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H). hal. 11).

Jadi, menurut pendiri NU tersebut, tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid, dan iman mewajibkan keterikatan yang kuat untuk menegakkan syariat (al Iltizam bi asy Syari’at), maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid, dan syariat mewajibkan adanya adab, maka barangsiapa yang tidak beradab maka (pada hakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.

Kita memandang akan banyak sekali terjadi ancaman kesia-siaan aneka pembangunan tata ruang itu jika tata lakunya tidak mendukung asesoris lahiriyahnya.

Hampir tidak ada gunanya proyek pembangunan fisik digencarkan, jika hanya merusak jiwa penghuninya. Jalan makin dilebarkan, tetap semakin bertambah sulit menampung jumlah kendaraan. Jalan dihaluskan, justru sebagai wahana untuk kebut-kebutan, konvoi dan ugal-ugalan. Untuk menjaga kestabilan bangsa, bukan dengan cara memberi ruang sebebas-bebasnya (tanpa batas) kepada warganya. Tetapi masing-masing individu dituntut pandai mengendalikan dan mengelola gejolak dirinya sendiri.

Taman-taman kota dibangun, tetapi hanya sebagai sarana mabuk-mabukan dan pacaran hingga larut malam, utamanya malam Minggu. Tanpa tata nilai-nilai akhlakul karimah, seluruh hiasan sebuah kota bukan berakhir pada keindahan melainkan hanya menjadi penyambung deretan persoalan.
 

Ahli sastra Arab terkenal, Ahmad Syauqi mengatakan :

وَاِنما الأمَمُ الأَخْلاَقُ ماَ بَقِيَتْ # وَاِنْ هُمُ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُم ذَهَبُو ا


Suatu bangsa hanya berdiri tegak selama akhlaknya berkualitas tinggi. Ia akan runtuh, apabila akhlaknya menghilang .

Tempat-tempat hebat (baca: bersejarah) di dunia ini tak pernah lekang dikunjungi orang itu, hampir semuanya tidak cuma karena keindahan alamnya, tetapi juga karena keberhasilan adabnya. Bahkan, jika begitu kuat daya tarik (magnit power) suatu adab, ia dengan mudah mengalahkan dan mengungguli daya tarik alam, yang kasat mata. Jadi, kesussesan membangun adab adalah modal yang sesungguhnya

Gua-guabersejarah di dunia ini pada dasarnya hanya sebuah lubang sempit berbatu. Gua Hira – tempat Rasulullah SAW menerima wahyu pertama -  misalnya, malah begitu tandus, gersang, terik panas menyengat dan sama sekali tidak indah secara pisik. Tetapi itulah bukit, yang di dalam panas yang membakar kulit sekalipun selalu dibanjiri lautan manusia dari segenap penjuru. Tiap musim haji dikunjungi para jamaah haji dan umrah hampir tiga juta. Belum lagi yang melakukan ibadah umrah pada akhir Ramadhan.

Orang-orang itu pasti tidak mendaki dengan susah payah, membanting tulang, memeras keringat, cuma untuk melihat batu. Mereka mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, melawan lelah, kepenatan pisik, panas, dan rela antri, serta berdesak-desakan pasti karena rindu melihat nilai di balik batu. Nilai itu sekalipun berasal dari sumber yang sangat jauh, ia adalah sesuatu yang sangat dekat. Jauh dimata, tetapi dekat di dalam hati. Nilai itu mendekati kita bagaikan laju kecepatan cahaya.

Maka, siapapun yang menjadi sumber nilai, tak peduli dimana pun ia berada, di dasar laut, di kolong langit, akan selalu dekat, akrab, erat, di relung hati kita.

Sebaliknya, tak peduli seberapa mewah pembangunan dijalankan, jika ia tidak mendedikasikan diri untuk nilai immaterial dan sekedar untuk proyek, demi memperoleh bocoran anggaran, distribusi wewenang dan kue pembangunan, ia akan menjauh dari kita. Tidak ada rasa kita di dalamnya. Semakin dekat dengan kita, ia semakin jauh rasanya. Jelas, daya tarik itu tidak terletak semata-mata pada benda-benda, meski memang benda adalah bagian dari daya tarik. Tetapi, benda hanya sebatas besi. Untuk bermagnit (memiliki daya tarik) ia harus diisi.

Kini, kultur pengisian benda-benda itulah yang butuh menjadi gerakan besar-besaran. Sebab, pengosongan benda-benda dari nilai juga sedang terjadi secara masif. Ada banyak mandat diselewengkan. Ada banyak wewenang yang disalah gunakan. Ada banyak jabatan yang dikejar dan diperebutkan hanya untuk mempertahankan status quo. Ada banyak caleg yang identik dengan kependekan dengan cari-cari legitimasi dan menjual muka. Bukan caleg kependekan dari ical egoismenya, kata orang tua kita dahulu.

Kerapuhan nilai bisa menjalar menjadi bah tsunami. Karena, begitulah sejarah mengajarkan, setiap kehancuran, musibah, bencana,  dimulai dari kerapuhan dan kemerosotan/degradasi nilai-nilai moralitas yang menggurita menjadi gelombang  pasang.

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu – penguasa dan pemodal - (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al Isra (17) : 16)

Bangsa Saba yang dikenal memiliki negeri yang makmur, penuh dengan ampunan Tuhan Yang Maha Pengampun (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur), menjadi porak poranda karena warganya bermental tidak tahu terima kasih.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَى أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ

Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar[meruntuhkan bendungan Ma’rib, pusaka nenek moyang] dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr [Atsl sejenis pohon cemara, Sidr sejenis pohon bidara].” (QS. Saba (34) : 15-16)

Kini, sudah mendesak kita susun daftarnya, siapakah pembangun nilai dan siapakah penghancur nilai. Kita ukur, kita standarisasi, kita bandingkan, kita timbang, dan kita lihat efek yang dihasilkannya dalam realitas kehidupan individu, keluarga, bangsa dan negara. Apakah nilai- nilai yang dibangun hari ini lebih banyak dari nilai yang dihancurkan !. Sudahkah perbaikan akhlak kepada Allah SWT, kepada sesama manusia, dan kepada alam semesta, serta kepada lingkungan sosial kita, kita jadikan program prioritas di negeri ini? 

 

Oleh: Sholih Hasyim
hidayatullah.com

Penulis kolumnis www.hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah