22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

3 Pendekatan Ulama Islam dalam Memahami Jiwa Manusia

3 Pendekatan Ulama Islam dalam Memahami Jiwa Manusia

Fiqhislam.com - Terdapat corak-corak pendekatan yang muncul di sejarah Islam dalam memahami jiwa manusia.

Dr Syamsuddin Arif dalam artikelnya, Psikologi Dalam Islam (2009), menjelaskan sebagai berikut:

Pertama, pendekatan Alquran Sunnah.

Menurut cara ini, keterangan tentang jiwa manusia merujuk pada dalil-dalil dari sumber ajaran Islam. Salah seorang sarjana yang menggunakan metode ini ialah Ibnu Qayyim Al Jauziyyah (wafat 1350 M).

Dalam kitabnya, Ar-Ruh, murid Ibnu Taimiyyah itu menerangkan tentang nasib jiwa ketika seseorang telah meninggal. Berdasarkan pembacaannya atas ayat-ayat kitab suci dan hadits Nabi SAW, jiwa atau ruh seorang yang wafat dapat merasakan siksa atau nikmat kubur sekalipun jasadnya sudah hancur.

Kedua, pendekatan filsafat. Arif mengatakan, ancangan tersebut muncul seiring dengan maraknya penerjemahan naskah-naskah Yunani Kuno ke bahasa Arab

Peradaban Islam sejak abad ke-10 sangat gencar mengumpulkan dan menelaah pelbagai teks ilmu pengetahuan dari luar Arab. Tidak hanya Yunani, tetapi juga India, China, dan lain-lain.

Mulai masa itu, para sarjana Muslim yang menaruh perhatian pada masalah jiwa turut mengomentari pandangan filsafat Yunani Kuno. Mereka bahkan banyak dipengaruhi teori-teori jiwa, semisal dari Plato dan Aristoteles.

Menurut Arif, hal itu tidak mengherankan. Sebab, Aristoteles memang seorang filsuf yang kerap mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan teperinci.

Teori-teorinya tertuang dalam karyanya, De Animadan Parva Naturalia. Adapun gurunya, Plato, menjadi pemikir pertama yang tercatat dalam sejarah mengajukan teori tentang tiga aspek mental manusia: rasional, hewani (persepsi), dan vegetatif (nutrisi).

Hingga usainya era keemasan Islam, banyak filsuf Muslim yang terinspirasi dari Aristoteles dalam menelaah persoalan jiwa. Sebut saja, Ibnu Miskawaih, Abu Bakar ar-Razi, Ibnu Rusyd (Averroes), dan Abu Barakat Al Baghdadi.

Mereka semua memiliki kesamaan pandangan tentang jiwa, yakni sebagai entitas yang paling signifikan dalam diri manusia.Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa.

Ketiga, pendekatan sufistik. Arif memaparkan, kaum sufi menjelaskan tentang jiwa manusia berdasarkan pada pengalaman spiritual.

Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, lanjut akademisi Universitas Darussalam Gontor itu, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperi mental.

Beberapa nama salik yang dapat digolongkan sebagai tokoh ancangan ini ialah Al Hakim At Tirmidzi (wafat 898 M), Abu Thalib Al Makki (wafat 996 M), dan Imam Al Ghazali (wafat 1111 M). [yy/republika]