23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Yatim Pengubah Dunia: Dari Muhammad Saw Hingga Imam Syafi'i

Yatim Pengubah Dunia: Dari Muhammad Saw Hingga Imam Syafi'i

Fiqhislam.com - Masyarakat Indonesia bertradisi menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Sebelum pandemi, di beberapa daerah perayaan dilakukan dengan meriah.

Dalam ilmu psikologi modern, peran ayah sangat vital. Di antaranya, membentuk kompetensi sosial, inisiatif terhadap lingkungan, kemandirian, percaya diri, dan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ayah juga juga sumber inspirasi untuk menanamkan visi besar pada anaknya.

Disebutkan bahwa anak-anak yang tidak merasakan kehadiran dan peran ayah sejak dini, cenderung memiliki emosi yang tidak stabil dan bermasalah dalam pergaulan saat remaja. Di sekolah, anak memiliki kesulitan untuk fokus, merasa terkucilkan, dan berbeda dengan anak yang lain.

Ada sejumlah teori yang menyebutkan bahwa anak laki-laki yang tidak mendapatkan perhatian dan kehadiran ayahnya, seringkali mengalami kesedihan, depresi, hiperaktif, dan murung. Sementara anak perempuan yang tidak mendapat asuhan ayah akan cenderung individualis.

Benarkah anak-anak yatim yang tidak merasakan hangatnya kasih sayang ayah akan bermasalah perkembangannya?

Sejarah mencatat banyak orang besar yang justru menjadi yatim sejak kecil atau tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah.

Nama yang tersebut pertama pastilah Rasulullah SAW. Ayahnya meninggal saat ia masih dalam kandungan. Peran ayah kemudian digantikan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan pamannya Abu Thalib. Kedua figur pengganti sosok ayah lah yang menempa pribadinya menjadi luar biasa.

Lalu ada Nabi Ismail yang sekalipun memiliki ayah namun takdir memisahkan keduanya dalam jarak ribuan kilometer. Nabi Ibrahim di Palestine, sedang Nabi Ismail di Makkah. Tercatat sepanjang usianya, Nabi Ibrahim mengunjunginya beberapa kali.

Yang juga istimewa adalah Nabi Isa. Ditakdirkan terlahir tanpa sosok ayah untuk menunjukkan kebesaran Allah.

Tak hanya para Nabi, banyak ulama yang juga ditakdirkan menjadi yatim sejak kecil. Yang paling masyhur adalah kisah Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muththalibi al-Qurasyi atau yang dikenal sebagai Imam Syafi’i.

Ayahnya meninggal saat ia baru berusia 2 tahun. Ibunya adalah sosok yang luar biasa. Merasa tak “sanggup” memberikan pendidikan yang layak, ia bawa Syafi’I kecil ke kampung halaman ayahnya di Makkah.

Di sana ia serahkan pendidikan putranya pada sosok-sosok luar biasa seperti Imam Muslim bin Khalid Az-Zanji, Imam Malik bin Anas, Imam Sufyan bin Uyainah. Dari guru-guru luar biasa ini, ia mendapat pengganti figur ayahnya.

Hasilnya, di usia 9 tahun telah hafidz Alqur’an. Di usia 10 tahun hafal kitab Al-Muwaththa karya Imam Malik yang berisi 1.720 hadis. Disebutkan kalau kitab itu dipelajarinya hanya dalam waktu 9 hari!

Di usia 15 tahun telah menjadi mufti kota Makkah, yang memungkinkannya memberikan fatwa dan mengajar di Masjidil Haram.

Kisah dramatis juga dialami Abu Abdullah Muhammad ibnu Ismail ibn Ibrahim ibn Al-Mughirah ibnu Bardizbah yang kelak dikenal sebagai Imam Bukhari.

Tak hanya yatim, namun ia juga buta sejak kecil. Ibunya berazam, kalau putranya bisa melihat, ia akan menyerahkannya pada seorang alim untuk dididik ilmu agama.

Allah kabulkan doa itu. Ibunya lalu menyerahkan pendidikan Imam Bukhari pada Syekh Ad-Dakhili. Selanjutnya Imam Bukhari melakukan pengembaraan ilmiah ke Makkah, Madinah, Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat.

Hasilnya, di usia 18 tahun, ia telah menyelesaikan kitab pertamanya “Khazaya Shahabah wa Tabi'in” dan hafal kitab-kitab hadits karya Mubarak dan Waki’ bin Jarrah bin Malik.

Ia menghapal satu juta hadis yang diriwayatkan 80 ribu perawi, lalu menshahihkan 7.275 di antaranya dan menuliskannya dalam kitab masyhurnya “Shahih Bukhari”.

Masih ada lagi kisah Imam Hanbali, Imam Ibn Katsir, dan banyak lagi ulama yang ditakdirkan menjadi yatim sejak kecil. Namun mereka istimewa. Yatim bukan berarti kehilangan segalanya, karena Allah takdirkan mereka mengubah dunia.

Rasulullah SAW, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini. (sambil memberikan isyarat acungan jari telunjuk dan jari tengah yang berhimpitan).” [HR. Bukhari]. [yy/republika]

Oleh Uttiek M Panji Astuti, Penulis Buku dan Traveller