27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Umat dan Indeks Keislaman

Umat dan Indeks Keislaman

Fiqhislam.com - Bagi Muslim yang akrab berinteraksi dengan Alquran, membaca dan menghayatinya, acap muncul pertanyaan, mengapa deklarasi Allah dalam surah Ali-Imran ayat 110, "Umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia..." itu berbeda dengan realitas umat kini?

Dalam perspektif Islam, yang dimaksud umat terbaik adalah kehidupan duniawinya penuh keberhasilan dan di akhirat menjadi penghuni surga-Nya (QS 2: 201). Namun faktanya, sejak akhir era keemasannya pada akhir abad-18, kehidupan umat serbatertinggal.

Pada 2019, dari 230 negara di dunia, sebagian besar negara makmur (52 negara) adalah non-Muslim. Hanya tujuh negara Muslim masuk kelompok negara kaya (makmur), yakni Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Brunei, Arab Saudi, Bahrain, dan Oman.

Negara makmur adalah negara yang pendapatan nasional kotor per kapitanya di atas 12.535 dolar AS (Bank Dunia, 2020). Di bidang sains dan teknologi, tidak ada satu pun negara Muslim yang kapasitas ipteknya kelas satu (technology-innovator country).

Dari ratusan pemenang Nobel, hanya lima orang beragama Islam. Teknologi, sumber, dan jaringan informasi praktis dikuasai negara non-Muslim. Demikian juga keuangan dan perbankan. Kekuatan militer dan hankam negara Muslim pun umumnya lemah.

Kalau dewasa ini kehidupan umat Islam pada umumnya jauh dari ideal, sebagaimana digambarkan dua ayat Alquran di atas, pasti itu disebabkan umat Islam sendiri. Bukan karena Islamnya yang salah atau janji Allah tidak benar.

Sesungguhnya, lanjutan dari ayat-110 Surah Ali-Imran menjawab kondisi kehidupan umat yang paradoksial saat ini. Pasalnya, dalam ayat itu sangat jelas, untuk menjadi umat terbaik, ada tiga syarat yang harus diimani dan dilaksanakan.

Pertama, umat Islam harus mengerjakan kebajikan dan mengajak sesama insan berbuat kebajikan. Kedua, umat Islam mesti mencegah kemungkaran. Ketiga, beriman dan bertakwa kepada Allah.

Secara empiris, umat Islam belum memenuhi tiga syarat tersebut untuk menjadi umat terbaik. Indikator utama keimanan dan ketakwaan seorang Muslim adalah menegakkan shalat fardhu lima waktu dalam sehari.

Faktanya, di Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, umat Islam yang melaksanakan shalat fardhu hanya sekitar 25 persen (Monash University, 2014). Sebagian besar mengerjakan amal saleh hanya untuk diri sendiri atau keluarganya.

Jarang mengajak orang lain mengerjakan amal saleh, apalagi bersama mencegah kemungkaran. Faktor lain yang menyebabkan kehidupan duniawi umat Islam umumnya belum maju dan makmur karena kebanyakan umat Islam tidak mengikuti sunatullah atau aturan Allah.

Sunatullah terkait keberhasilan hidup duniawi (kemajuan dan kemakuran) adalah rajin membaca, mencintai iptek, kerja keras, gemar menabung, disiplin, menolong orang lain, dan taat pada hukum

Siapa saja, yang menjalankan ketujuh sunatullah tersebut, niscaya sukses, maju, dan makmur. Tidak peduli, apakah dia Muslim atau non-Muslim, apakah taat beribadah atau rajanya kemaksiatan karena memang sunatullah itu objektif, tak pandang bulu.

Saat ini, indeks literasi, kapasitas iptek, daya inovasi, dan produktivitas tenaga kerja negara-negara Muslim jauh lebih rendah ketimbang negara-negara industri maju (34 negara OECD) yang semuanya negara non-Muslim.

Contohnya, kemampuan literasi bangsa Indonesia masih sangat rendah, ini tecermin pada indeks minat baca yang hanya 0,001. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca (UNESCO, 2012).

Hasil survei Program International for Student Assessment (PISA), yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar kelas 3 SLTP seluruh dunia, mengungkapkan, pada 2018 dari 78 negara yang disurvei, peringkat 1-10 ditempati negara non-Muslim.

Indonesia, hanya peringkat 72.

Sebagian besar umat Islam maupun negara Muslim belum menjalankan ketujuh sunatullah yang menentukan keberhasilan duniawi, itu terkonfirmasi penelitian tentang Islamicity Index (Indeks Keislaman) yang dilakukan sejak 2009 dan 2016 (Rehman and Askari, 2010; Askari and Mohammadkhan, 2020).

Islamicity Index mengukur tingkat pelaksanaan hukum Islam di suatu negara terkait muamalah (hubungan antarmanusia dan lingkungan hidup) menurut agama Islam, tidak termasuk ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Variabel muamalah yang dinilai mencakup ekonomi, hukum tata kelola pemerintahan, hak asasi manusia dan politik, hubungan internasional, dan kombinasi keempat indeks tersebut.

Indeks Keislaman Ekonomi (Economic Islamicity Index) terdiri atas 28 indikator, Indeks Keislaman Hukum dan Tata Kelola Pemerintahan 17 indikator, Indeks Keislaman Hak Asasi Manusia dan Politik 10 indikator, dan Indeks Keislaman Hubungan Internasional 4 indikator.

Hasil penelitian 2009 dan 2016 menunjukkan pola mirip dan konsisten, Indeks Keislaman tertinggi (terbaik) justru diraih negara-negara non-Muslim.

Pada 2016, dari 153 negara yang diteliti, 10 negara dengan Indeks Keislaman tertinggi adalah Belanda, Swedia, Swiss, Selandia Baru, Denmark, Finlandia, Norwegia, Luxemburg, Australia, dan Kanada.

Singapura peringkat 17, AS ke-19, Jepang ke-22, dan Thailand ke-54.

Sedangkan, negara Muslim dengan Indeks Keislaman tertinggi adalah Qatar menduduki peringkat 39, Uni Emirat Arab ke-40, Malaysia ke-43, dan Kuwait ke-46. Indonesia hanya bertengger di peringkat ke-88.

Hasil penelitian ini juga mengungkapkan, negara-negara dengan Indeks Keislaman tinggi, juga tinggi tingkat kemajuan (kapasitas iptek) dan kemakuran (GNI per kapita) nya. Dengan kata lain, penelitian ini secara ilmiah membuktikan, sunatullah itu objektif dan adil.

Siapa saja yang melaksanakannya, niscaya dia hidup di dunianya akan sukses. Ketika umat Islam hidup berpedoman Islam secara kaffah dan itibba, mereka menggapai masa kejayaannya selama kurang lebih sebelas abad, dari Fathu Makkah (670-an) sampai abad ke-18.

Pada masa itu, umat Islam menguasai 2/3 wilayah dunia. Sains dan teknologi berkembang pesat dengan lahirnya begitu banyak ilmuwan Muslim berkaliber dunia yang namanya harum sampai sekarang. Kala itu, umat Islam menjadi pusat keunggulan iptek dunia.

Pencari ilmu dari seluruh dunia, belajar kepada ilmuwan dan teknolog Muslim. Perguruan Tinggi pertama dan terbaik di dunia adalah Bayt Al-Hikmah di Baghdad pada 832 M di masa Khalifah Al-Mansur (754-775 M) dan Al-Ma’mun (813-833 M), Kekhilafahan Abasyiah.

Menurut Prof Wallace -Murphy dalam bukunya “What di Islam did for Us”, hampir seluruh iptek modern dari zaman revolusi industri sampai sekarang berasal dari karya-karya monumental ilmuwan Muslim di era kejayaan umat Islam.

Kehidupan sosial-ekonomi masyarakat negara-negara Islam saat itu maju, adil, dan sejahtera. Penduduk non-Muslim dilindungi dan diperlakukan adil oleh pemerintahan Muslim.

Semoga, hasil ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh yang baru saja kita lewati, berupa iman dan takwa, mampu meningkatkan kualitas kesalehan individual dan kesalehan sosial (Islamicity Index) Umat Islam.

Sehingga, kita dapat berkontrbusi signifikan bagi terwujudnya Indonesia maju, adil-makmur, dan berdaulat dalam waktu dekat. [yy/republika]

Rokhmin Dahuri, Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Pusat