27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Benarkah Imam Ghazali Jadi Penyebab Kemunduran Sains Islam?

Benarkah Imam Ghazali Jadi Penyebab Kemunduran Sains Islam?

Fiqhislam.com - “Tentang kemunduran sains dunia Muslim, jangan salahkan Al-Ghazali,” begitu kata Hassan Hassan, seorang kolumnis di The National Abu Dhabi Uni Emirat Arab, dalam tulisannya yang dipublikasikan laman Qantara.

Banyak yang telah dikatakan tentang zaman keemasan sains Arab (antara 800-1100 Masehi), ketika dunia Muslim menjadi mercusuar inovasi dan memicu periode renaisans dan pencerahan Eropa. Namun saat ini kontribusi dunia Muslim kontemporer untuk sains berada dalam kondisi yang suram.

India dan Spanyol masing-masing menghasilkan lebih banyak literatur ilmiah daripada gabungan semua negara Muslim. Kontribusi 57 negara terhadap sains secara global tidak lebih dari 1 persen dan umumnya berkualitas lebih rendah. Pertanyaannya, apa yang salah saat ini?.

Sebagian akademisi telah lama menyatakan bahwa teolog Islam besar, Abu Hamid al-Ghazali yang hidup dari 1055 hingga 1111 Masehi, sendirian menjauhkan budaya Islam dari penyelidikan ilmiah independen menuju fundamentalisme agama.

Dalam pergeseran intelektual yang luar biasa, dia menyimpulkan bahwa falsafa (yang secara harfiah berarti filsafat tetapi termasuk logika, matematika, dan fisika) tidak sesuai dengan Islam.

Setelah menulis bukunya The Incoherence of Philosophers (Tahafut al-Falasifah), Algazel begitu dia dikenal di Abad Pertengahan Eropa, dikatakan telah menusuk falsafa sedemikian rupa sehingga tidak dapat bangkit kembali di dunia Muslim. Berkat penguasaan falsafah dan teologi Islam yang tidak tertandingi, dia dituding menyuntikkan kebencian di antara umat Islam untuk sains yang pada akhirnya menyebabkan kemunduran dan dalam prosesnya, kemunduran peradaban Islam.

Inilah yang diperdebatkan para akademisi dan orientalis selama lebih dari satu abad. Tapi saya yakin penilaian ini salah informasi.

Cherchez Nizam Al-Mulk

Para akademisi benar dalam menunjukkan periode yang tepat di mana Muslim mulai berpaling dari inovasi ilmiah, yakni abad ke-11. Tetapi mereka telah mengidentifikasi orang yang salah.

Abu Ali al-Hassan al-Tusi (1018-1092), lebih dikenal sebagai Nizam al-Mulk, wazir agung Dinasti Seljuk, sebenarnya adalah kekuatan pendorong.

Nizam al-Mulk telah menciptakan sistem pendidikan yang dikenal sebagai 'Nizamiyah' yang berfokus pada studi agama dengan mengorbankan penelitian independen. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, studi agama dilembagakan dan studi agama dipandang sebagai jalur karier yang lebih menguntungkan. Sebelumnya, ilmu pengetahuan dan hukum Islam saling terkait.

Perguruan tinggi Nizamiyah tidak hanya fokus pada agama tetapi mereka juga mengadopsi interpretasi Sunni yang sempit terhadap yurisprudensi Islam sebagai sumber kurikulum Mazhab Syafi'i.

Pilihannya pun tidak sembarangan. Mazhab Syafi'i berfokus pada prinsip-prinsip fundamentalis syariah dan menomerduakan pendekatan rasionalis yang memperoleh momentum selama pemerintahan Dinasti Umayyah yang berbasis di Damaskus dan Dinasti Abbasiyah yang berbasis di Baghdad.

Lawan arus non-Sunni

Islam Syiah menjadi terkenal dan Batiniyya (kelompok yang menganut interpretasi esoterik syariah) mulai mengakar di Irak, Suriah, dan Mesir. Tujuan perguruan tinggi Nizamiyah, tempat Al-Ghazali mengajar tetapi kemudian pergi adalah untuk melawan arus non-Sunni yang berkembang.

Perguruan tinggi Nizamiyah didirikan di kota-kota besar di bawah kendali Abbasiyah atau Seljuk (penguasa yang secara nominal setia kepada Abbasiyah), termasuk Baghdad, Isfahan, dan daerah-daerah tempat Syiah menjadi mayoritas pada saat itu seperti di Basra dan Suriah wilayah Al-Jazira.

Para sarjana pada saat itu mencatat kecenderungan siswa meninggalkan sekolah tradisional mereka untuk belajar agama di perguruan tinggi. Beberapa ulama Sunni juga mengeluh bahwa banyak yang mengadopsi Mazhab Syafi'i sebagai afiliasi keagamaan mereka.

Lulusan diberi prioritas dalam pekerjaan utama pemerintah, yaitu di bidang peradilan, hisbah (penegakan syariah atau polisi) dan fikih (yurisprudensi). Perguruan tinggi Nizamiyah adalah perguruan tinggi Ivy League abad ke-12.

Para sarjana yang lulus dari perguruan tinggi dipersenjatai dengan keterampilan argumentatif untuk melawan Batiniyya setiap kali mereka menemukannya.

Penjaga ilmu Abbasiyah

Itu adalah perguruan tinggi Nizamiyah yang beroperasi selama lebih dari empat abad, bersama dengan dukungan finansial dan politik dari Dinasti Saljuk yang kuat, yang mengalihkan umat Islam ke agama. Dinasti yang muncul setelah Saljuk mengikuti, dalam mendukung untaian Islam tertentu.

Faktor lain berperan. Dinasti Abbasiyah yang merupakan penjaga sains, mengalami kemunduran dan dunia Islam terpecah menjadi beberapa kerajaan. Intoleransi agama mulai tumbuh subur dan penyelidikan ilmiah menurun.

Kritik Al-Ghazali terhadap filsafat sebenarnya dimaksudkan untuk mendorong pemikiran kritis. Dia bisa dibilang sarjana paling awal yang menganjurkan pemisahan ilmu sosial dari ilmu alam.

Dia berpendapat bahwa beberapa fundamentalis, yang menganggap filsafat tidak sesuai dengan agama, cenderung tegas menolak semua pandangan yang diadopsi filsuf, termasuk fakta ilmiah seperti gerhana bulan dan matahari.

Dan ketika orang itu kemudian diyakinkan suatu pandangan tertentu, dia cenderung menerima secara membuta semua pandangan lain yang dianut para filsuf.

Al-Ghazali, dalam pendahuluan bukunya, menggambarkan tipe orang ini sebagai "orang beriman dengan meniru, yang terburu-buru menerima kebohongan tanpa verifikasi dan penyelidikan."

Dia menambahkan bahwa tujuan buku ini adalah untuk menunjukkan dengan tepat ketidaksesuaian antara keyakinan (para filsuf) dan kontradiksi kata-kata mereka, sehubungan dengan teologi, dan untuk menunjukkan perubahan dan kekurangan cara berpikir mereka.

Dia membedakan antara filsafat dan logika di satu sisi dan fisika dan matematika di sisi lain. Itulah ketidaksesuaian dalam filsafat yang akan dibedah Al-Ghazali dalam bukunya. Gagasan bahwa Al-Ghazali menciptakan kebencian di kalangan Muslim terhadap sains telah dikemukakan akademisi modern.

Tidak ada sarjana Muslim pada saat itu yang menganjurkan pandangan menentang sains karena tesis Al-Ghazali. Sebaliknya, bahkan orang-orang sezamannya mencatat bahwa al-Ghazali tetap setia pada filsafat sampai hari kematiannya. Mereka mencatat setelah kematiannya bahwa 'tuan kami menelan filosofi dan tidak dapat membuangnya'.

Perguruan tinggi di sisi lain, menahan inovasi ilmiah dengan berfokus pada studi agama untuk mencapai tujuan politik. Warisan mereka berlanjut hingga hari ini. Mereka secara luas dipuji ulama Sunni atas peran mereka dalam menahan pengaruh Batiniyya dan dominasi Islam Sunni.

Mereka yang berada di dunia Muslim kontemporer yang meremehkan inovasi memiliki kualitas yang berbeda dengan perguruan tinggi Nizamiyya: menjadi sektarian yang terobsesi untuk membersihkan Islam dari praktik bermodel baru.

Tidak ada satu alasan pun untuk merosotnya penelitian ilmiah Islam. Tetapi penting untuk menyoroti peran kolosal yang dimainkan perguruan tinggi Nizamiyya dalam menghambat kemajuan, karena peran Islam lagi-lagi di bawah pengawasan dan intoleransi agama muncul ke permukaan. [yy/republika]