fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Ramadhan 1442  |  Rabu 14 April 2021

Islam dan Rasisme: Dari Bilal Hingga Christopher Columbus

Islam dan Rasisme: Dari Bilal Hingga Christopher Columbus

Fiqhislam.com - Dari awal sejarah Islam, Islam memandang penuh bahwa perbedaan warna kulit, suku bangsa, jenis kelamin manusia itu hal biasa. Bahkan ada ayat Alquran yang sangat terkenal mengenai persamaan manusia yang kurang lebih berbunyi bahwa manusia itu terdiri dari suku-suku, bahasa, warna kulit, perempuan-lelaki, atau semua hal yang lain yang berbeda. Islam di sini mengajarkan semua perbedaan itu tak menjadi soal karena yang dipandang dihadapan Allah hanya sisi ketakwaan belaka.

Kisah yang paling legendaris soal rasisme di Islam adalah soal adanya seorang lelaki bernama Bilal al-Habsyi atau Bilal bin Riyah atau juga Ibnu Rabah, yang hidup sekitar sekitar tahun 580–640 Masehi. Dia adalah adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah (sekarang Ethopia) yang masuk Islam ketika masih diperbudak. Maka dari nama ini dia dikenal sebutan Bilal al-Habsyi itu.

Bagi Bilal yang seorang kulit hitam dan berstatus seorang budak tentu menjadi Islam kala itu merupakan beban yang berlipat-lipat. Saat itu ajaran Islam dimusuhi orang elite di Makkah. Bahkan nabi Muhammad seakan menjadi musuh bersama mereka karena dianggap mengganggu eksistensi mereka di kawasan itu. Seperti Abu Jahal yang masih kerabat nabi sendiri misalnya terang-terangan mengaku tak mau memeluk Islam bukannya karena ajaran tak benar, tapi lebih karena menganggap ajaran ini menjadi ancaman bagi posisinya sebagai elite Quraisy. Juga paman nabi sendiri, ABu Thalib, yang meski tidak memeluk Islam dan tak menghalangi penyebaran Islam, tampak enggan masuk Islam salah satunya karena dirinya juga termasuk elite Makkah.

Maka praktis, ajaran Islam pada awal sebgaian besar diikuti kalangan biasa atau hanya dipeluk sangat kecil dari kalangan elite. Nabi Muhammad sempat mengistilahkan pada awal Islam Islam datang layaknya sesuatu yang asing dan nanti diakhir zaman Islam sebelum kiamat Islam akan menjadi ajaran yang dianggap asing pula.

Maka bisa dibayangkan beban lelaki berkulit hitam sekaligus budak yang bernama Bilal ini. Pilihannya memeluk Islam membuat majikannya mengamuk. Dia disiksa, dipukuli pakai cambuk, dan dijemur di tengah padang pasir yang panas. Dan ini dilakukan berulang-ulang karena Bilal tetap teguh kepada kepercayaan barunya. Ketika disiksa Bilal tak mengeluh.Mulutnya terus menyebut kalimat 'Ahad, Ahad, Ahad'. Dan tetap berkata dia percaya nabi Muhammad sebagai Rasulullah.

Penyiksaan Bilal sempat terdengar oleh seorang sahabat nabi, Abu Bakar. Dia meminta agar sang majikan menghentikan penyiksaan. Sang majikan setuju asalkan status budak Bilal ditebus dengan sejumlah uang sebagai pertanda Bilal menjadi orang merdeka. Abu Bakar pun sepakat dan ia kemudian membayar uang tebusan itu. Bilal kini menjadi orang bebas.

Setelah bebas, Bilal makin dekat kepada ajaran Islam. Bahkan dia bergaul begitu akrab dengan keluarganya. Anak-anak Rasullah sangat dekat kepadanya apalagi Bilal punya kemampuan dan tugas khusus dari Nabi Muhammad sebagai pelantun suara adzan (muadzin). Hubungan Bilal dan Nabi Muhammad Saw sangat akrab.

Akrabnya hubungan Bilal yang berkulit hitam ini dalam sebuah riwayat sampai masa setelah Rasullah wafat. Keluarga nabi sempat kebingungan karena begitu Rasulullah wafat Bilal seakan menghilang, bahkan tak ada di Madinah. Mereka merasa kehilangan Bilal karena pada saat terakhir shalat berjamaah bersama Rasullah, Bilal-ah yang diminta langsung untuk mengumandangkan adzan.

Dan setelah dicari-cari oleh ternyata Bilal menyendiri di luar kota Madinah. Ketika ditanya mengapa bersikap seperti itu, Bilal mengatakan hatinya hampa karena sudah tidak ada lagi Rasullah.''Saya sedih menyendiri karena Rasullah wafat. Rasanya sepi sekali,'' katanya.

Mendengat pernyataan ini, kedua anak Rasullah menangis terharu. Bilal kemudian dibujuknya pulang. Dan sesampai di rumah Rasullah yang sekarang berada di kawasan Masjid Nabawi, Bilal kemudian diminta mengalunkan adzan ketika waktu shalat tiba.

Nah, ketika terdengar suara mengumandangkan adzab, warga madinah terkejut. Mereka yang tengah asyik berdagang dan menjalankan aktivitas keseharian lainnya segera ke Masjid Nabawi untuk shalat sekaligus melihat Bilal yang sudah pulang. Mereka semua terharu mendengar alunan suara adzan yang merdu dan khas. Bilal yang berkulit hitam dan pernah menjadi budak ternyata dikemudian hari menjadi manusia layaknya bermata karena iman, sikap, dan suaranya.

Robohnya patung simbol kolonial rasis dan perbudakan

Perlawanan terhadap diskriminasi ras dan perbudakan itulah sebagai peninggalan abadi ajaran Islam. Bahkan ayat Alquran yang terkait anti rasisme kini ditempel di salah satu ruangan perputakaan Universitas Havard di Amerika. Universitas ini terkesan dengan ayat Alquran yang mengajarkan persamaan manusia.

Adanya ayat ini, di Amerika memang menjadi sebuah keharusan. Di zaman lalu ada kasus perbudakaan dan rasialisme kepada kaum kulit hitam di Amerika. Mereka dipanggil dengan sebutan pejoratif dengan sebutan 'negro'. Kata negro yang sebenarnya kata biasa karena artinya hitam, telah menjadi simbol penghinaan kaum kulit putih untuk menyebut orang hitam sebagai budak yang miskin, bodoh, terbelakang, serta pantas dijajah.

Maka bila pada tahun 1960-an muncul gerakan anti rasialisme kaum hitam dengan salah satu tokohnya semacam Luis Farakhan hingga Muhammad Ali menjadi sangat masuk akal. Apalagi semua tahu bila kaum wanita di Amerika Serikat sebenarnya belum terlalu lama mempunyai kemerdekaan penuh atau setara dengan kaum lelaki, yakni baru pada beberapa dekade di awal abad 20 M mereka bisa ikut memberikan suara di ajang Pemilu.

Alhasil, menjadi masuk akal bila kini terjadi kerusuhan masif di Amerika atas kasus kematian seorang warganya yang berkulit hitam, George Floyd. Bahkan rakyat di sana telah berhasil merontokkan simbol rasis warisan gelap perbudakan Amerika. Salah satunya adalah menurukan patung pengelana Portugis yang kadung dianggap sebagai penemu benua Amerika. Mereka menyakan justru patung ini menjadi simbol era kolonialisme, rasisme, dan perbudakan.

Bahkan, media terkemuka AS, CNN, melaporkan telah ada tiga laporan tentang patung-patung Christopher Columbus dirusak - satu dilemparkan ke danau, satu dipenggal, dan satu lagi robohkan serta digeret-geret di tanah.

"Kita berkumpul di Byrd Park untuk memprotes monumen rasis. Christopher Columbus adalah seorang pembunuh orang Pribumi, mengarusutamakan budaya genosida terhadap orang Pribumi yang masih kita lihat sampai sekarang. Buka seluruh kata bijak, drum, gaun jingle. Buka topengmu!,'' teriak seorang demontran. Aksi ini dimulai dengan damai, tetapi kemudian pengunjuk rasa merusak patung Columbus, merobohkannya, dan melemparkannya ke sebuah danau di taman.

Sementara itu, di Boston, para pejabat memindahkan patung Columbus yang terletak di kawasan North End. Patung ini dipindakah setelah bagian kepalanya dipenggal pada Selasa malam lalu. Dan usaha penghancuran ini bukan untuk kali pertama karena patung yang didirikan pada 1979, sebelumnya telah dirusak pada 2015. Kala itu ketika disiram dengan cat merah dan tulisan "Black Lives Matter" dilukis dengan semprotan di bagian belakang. Setelah dipindahkan hingga kini tidak jelas apakan patung ini akan dikembalikan kembali.

Tak hanya itu di kawasan Eropa kini terdapat aksi yang sama. Di Belgia patung Raja Leopold II yang dianggap menjadi biang kematian penduduk Kongo hingga setengahnya juga telah dihancurkan. Para pengunjuk rasa mengakan raja itu harus bertanggungjawab atas kasus pembunuhan massal kala Kongo menjadi menjadi jajahan Belgia.

Di London pun sama. Patung yang beberapa tokoh seperti George Colston Robert Milligan, yang berdiri di pusat kota juga dirobukan para demonstran anti rasisme. Tak hanya merobohlan mereka bahkan memasukkan patung itu ke dalam sungai karena dianggap sebagai pedagang budak. Wali Kota Lodon yang Muslim, Sadiq Khan, menyatakan akan meninjau kembali soal patung-patung yang telah dirobohan itu.

Akhirnya, semenjak zaman awal ajaran Islam dalam kasus Bilal al-Habsyi hingga  kini soal-soal diskriminasi warna kulit, perbudakaan, penjajahan ternayata tetap berlangsung. Kata persamaan dan keadilan masih tetap menjadi barang yang harus diperjuangkan secara keras. [yy/republika]

Oleh Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

 

 

Tags: Rasis | Rasisme