22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Kitab Al-Fath Ar-Rabbani, Petuah Tasawuf Berbasis Tauhid

Kitab Al-Fath Ar-Rabbani, Petuah Tasawuf Berbasis TauhidFiqhislam.com - Dalam dunia tasawuf, olah spiritual riyadhah memiliki dimensi yang sangat luas. Apalagi olah spiritual itu menyangkut dimensi yang tak tersentuh oleh indera. Jiwa, hati, dan nafsu adalah merupakan satu dari rahasia Allah yang terus coba digali oleh para pencari kebenaran.

Banyak bentuk diungkapkan guna memperjelas jalan dan mempertegas alur menuju kemurnian tauhid dan ketulusan ubudiyah. Termasuk ikhtiar yang dilakukan melalui berbagai bentuk untuk mendapatkan hakikat makna kehidupan dan arti hubungan antara seorang hamba dan Sang Khalik.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang dijuluki pemimpin para wali Allah (quthb al-auliya), menuangkan gagasan dan hasil kontemplasi dalam salah satu kitabnya yang bertajuk Al-Fath Ar-Rabbani Wa Al-Faidl Ar-Rahmani.

Kitab ini memuat tentang olah spiritual dalam rangka mencari keridhaan Allah SWT. Nasehat-nasehat yang tertuang dalam 62 dua majelis. Tema-tema yang diangkat berputar pada cara mengelola dan mendidik jiwa, hawa nafsu, dan membersihkan hati.

Perkara yang perlu ditekankan pertama kali adalah memahami arti tauhid yang merupakan inti dari ajaran agama. Al-Jailani menegaskan, berpaling kepada Allah SWT ketika takdir turun berarti ketiadaan agama, tauhid nihil, dan sirnalah arti tawakal dan keikhlasan. Akal manusia tidak mampu mencerna bagaimana dan kenapa Allah menakdirkan sesuatu kepada hamba-Nya. Bahkan, seringkali akal sehat dan hati kecil manusia menentang dan tidak rela dengan ketentuan yang telah diberikan kepadanya.

Oleh karena itu, Al-Jailani memberikan nasehat agar terhindar dari keburukan nafsu dengan cara terus melatih dan menempanya. Tatkala nafsu berhasil ditaklukkan maka segalanya akan menjadi baik dan berada dalam koridor kebaikan selalu. Nafsu pun akan selaras dengan segala bentuk ketaatan dengan meninggalkan maksiat. Sebagaiman firman Allah, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya." (QS. Al-Fajr: 27- 28).

Al-jailani meminta agar tetap menjaga kemurnian hati, jika hati baik maka seluruh tindakan akan baik pula seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadis berikut: "Ada segumpal darah di tubuh anak Adam yang apabila dia baik, maka seluruh jasadnya akan baik pula. Dan jika hatinya rusak, maka rusaklah semua jasadnya, yaitu hati.”

Agar hati selalu terjaga maka ketakwaan, tawakal, tauhid dan ikhlas beramal untuk Allah semata penting ditekankan. Selama perkara tersebut ditanamkan maka niscaya hati akan terhindar dari kerusakan.

Selanjutnya, Al-Jailani mewanti-wanti agar lebih menyibukkan diri sendiri ketimbang mengurusi kejelekan dan memperbaiki orang lain. Yang paling penting ialah membimbing dan mengarahkan diri dulu.

Tuluskan niat dan bersihkan amal hanya untuk Allah semata. Sebab, akan sangat sulit menyadarkan pihak lain tanpa berbenah terlebih dahulu. Kuncinya ada di hati bukan hanya terungkap di lisan dan tidak perlu diumbar ke khalayak.

Apabila tauhid ada bersamaan dengan syirik kecil, maka itu kemunafikan namanya. Percuma, lisan bilang bertakwa tapi hatinya durhaka ataupun lidah tak henti-hentinya bersyukur tetapi hati tetap berpaling. Sebagaimana firman Allah dalam Hadits Qudsi, “Wahai anak Adam bagaimana mungkin Aku turunkan kebaikan-Ku tetapi kejelekanmu justru mendekati-Ku.”

Ketaatan tak selalu berbuah manis di dunia. Cobaan demi cobaan akan diberikan Allah bagi hamba yang bersungguh-sungguh melakukan olah spiritual dan memurnikan tauhid. Salah satunya adalah ujian kemiskinan. Mengutip sebuah hadits, Al-jailani menyebutkan seorang sahabat datang kepada Rasulullah dan menyatakan bahwasannya dia mencintai Allah. Rasulullah bersabda, “Bersiaplah menjadikan kefakiran sebagi bajumu.” Dalam riwayat lain, “Bersiaplah dengan cobaan-cobaan.”

Bagaimanapun ujian dan cobaan perlu, tujuannya agar tak seorang pun berani mengklaim dan mengaku bahwa dirinya dekat dengan Allah ataupun mendaulat derajatnya telah mencapai tingkat kewalian.

Pentingnya tauhid ditegaskan beberapa kali dalam majelis pencerahan yang dia adakan. Diantaranya pada majelis ke-24, sang penulis menyerukan agar tidak menyekutukan Allah dalam urusan pengaturan alam semesta. Hanya Allah-lah yang mempunyai kekuasaan dan kehendak mengatur alam dan segala isinya. Atau pada majelis ke-26 sebagai contoh, Al-Jailani memberikan nasihat agar tidak mengeluh kepada makhluk sebab tempat mengadu satu-satunya yang paling tepat adalah Allah.

Demikian juga seruan yang termaktub dalam majelis ke-36, kembali ditekankan agar tak henti-hentinya mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya bagi Allah. Bahkan, tauhid kembali ditekankan pada majelis terakhir tepatnya pada hari Jumat bulan Rajab 546 H di Al-Madrasah dengan redaksi yang sangat tegas dan gambalang, yaitu bab tauhid. Al-Jailani mengatakan untuk menauhidkan Allah sampai tidak terdapat sedikit pun unsur syirik di hati.

republika.co.id