fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Antara Perang Fisik, Perang Pemikiran dan Jihad

Antara Perang Fisik, Perang Pemikiran dan Jihad

Fiqhislam.com - "Perang fisik dan perang pemikiran menyatu dalam menghadapi persekongkolan kaum kafir"

Begitulah yang dilakukan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Mulai dari Mekkah sampai di madinah, Rasulullah saw senantiasa menghadapi perlawanan kaum musyrikin --Yahudi dan Musyrik Arab-- dalam menyebarkan dakwahnya. Bila mereka melancarkan perang fisik, Rasul saw dan para sahabatnya pun melancarkan perang fisik. Bila mereka melakukan perang pemikiran kaum Muslimin pun menghadapi serangan yang sama. begitu pula perang ekonomi yang dilakukan mereka, dihadapi Rasulullah saw dengan cara yang sama.

Peperangan antara hak dan batil itu akan senantiasa terus berlangsung hingga hari kiamat. Selama ada Iblis dan Syetan maka manusia harus hati-hati, karena pemimpin jahat makhluk gaib --sering bersekutu dengan manusia-- sering melancarkan jurus-jurus mautnya ke manusia. Dan kita yang tidak melihat mereka, bila tidak punya iman yang kuat, bisa ikut jalan mereka. Setapak demi setapak, dan akhirnya bisa terperosok dalam permainan dan jebakan Iblis yang telah berpengalaman memerosokkan manusia ribuan atau jutaan tahun yang lalu sejak masa Nabi Adam as.

Kini di masa modern, setelah Barat melakukan serangan membabi buta kepada Irak, Afghanistan, Palestina, Bosnia, Chechnya dan lain-lain, mereka dalam waktu yang sama juga melancarkan serangan pemikiran ke kaum Muslimin lewat media-media yang dimilikinya. CNN, Newsweek, Time, AFP dan lain-lain, telah lama menjadi 'antek'antek' Barat untuk menyingkirkan tokoh-tokoh Islam dalam panggung politik dunia. Media-media Barat itu kritis kepada tokoh-tokoh Islam, tapi tumpul bila berhadapan dengan negaranya atau tokoh-tokohnya sendiri.

Hingga kita lihat ketika peristiwa 11 September 2001 berlangsung CNN, diikuti juga media-media sekuler di Indonesia, ramai-ramai menayangkan dan mengulang-ulang tayangan itu. Tapi peristiwa-persitiwa pemboikotan Irak yang berlangsung bertahun-tahun sebelumnya dan juga pembunuhan massal di Afghanistan, Bosnia, Palestina, Chechnya dan lain-lain hanya diberitakan sepintas lalu.

Tragedi 11 September yang sebenarnya telah diketahui dengan pasti oleh intelijen AS, sengaja dibiarkan untuk alat pemukul bagi gerakan-gerakan Islam di seluruh dunia. Maka tidak heran setelah itu Bush dan tokoh-tokoh di sekitarnya --tokoh-tokoh Yahudi fundamentalis dan tokoh-tokoh Kristen fundamentalis bersatu-- melemparkan murkanya ke seluruh dunia Islam.

Dengan dalih terorisme maka diluncurkanlah serangan ke Irak, Afghanistan, Moro, Pattani --bekerjasama dengan intelijen setempat-- dan kelompok Bush cs bagai 'monster Iblis' membunuh ratusan irbu orang dengan tersenyum di gedung nyaman ber ac di Washington. Kelompok Bush cs pun licik mengatur siasat di seluruh dunia dengan selalu menampilkan adegan-adegan yang berulang tragedi 11 September itu. Dan publik AS yang kebanyakan pemikirannya dipengaruhi media setempat --alias kurang gaul-- mengamini Bush dan mendukung presiden mereka sepenuhnya.

Di Indonesia, Presiden Megawati pun tersenyum manis mendapat undangan Bush untuk berkunjung ke Indonesia. Dengan sambutan yang meriah dan uluran tangan terbuka Bush disampbut dengan suka cita di Bali dan diterima seluruh pemikiran dan bantuan dananya untuk memerangi terorisme.

Indonesia yang dianggap Wolvowitz sebagai pusat-pusat perkembangbiakan teroris menjadi incaran intelijen AS. karena itu dengan cepat dibentuk organisasi paling membahayakan dalam sejarah militer di Indonesia, yaitu Densus 88. Organisasi ini laksana perkumpulan orang-orang bayaran untuk menginteli dan kadang-kadang membunuh pejuang-pejuang Indonesia yang melawan Belanda. Organisasi ini sepenuhnya dibawah kendali militer AS atau Australia. Kepala Densus atau militer-militer Indonesia hanya sebagai operator belaka. Dana dikucurkan tidak terhitung dari Washington.

Dalam tradisi intelijen untuk membasmi musuh mesti diciptakan titik picu. Maka jangan heran meledaklah bom Bali I dan II. Atau pengeboman kedutaan Australia, pengeboman Bom Mariot dan seterusnya. Apakah CIA atau intelijen-intelijen asing tidak tahu itu akan terjadi? Mereka tahu, sebagaimana 11 September, mereka membiarkannya. Atau bisa jadi ada intelijen mereka juga yang menyusup membantu dana, pemikiran (memanas0manasi) dan seterusnya.

Maka jangan heran tidak lama setelah bom-bom di Indonesia itu semua, pelaku-pelaku peledakan itu dengan mudah ditangkap. Dan tentu untuk sandiwara pers, intelijen CIA bekerjasama dengan intelijen di Indonesia --yang pro CIA-- pura-pura kesulitan mengungkap aktor-aktor di balik peledakan itu, Dengan teknologi satelit, jaringan komunikasi internet, penyusupan, mustahil jaringan intelijen yang disponsori AS ini tidak tahu kejadian itu.

Dan ibarat 'balas dendam' kekalahan kaum Kristen di Maluku, maka digulunglah para mantan mujahidin-mujahidin Afghanistan itu dengan cepat, Tragedi Bom Bali, mariot dan lain-lain yang dilakukan kelompok Islam, terus dipublikasikan, dianalisa, dibahas di televisi, koran, radio dan lain-lain. Sedangkan tragedi Dili, Kupang dan Maluku yang dahsyat mengusir dan membunuh orang-orang Islam dibiarkan berlalu begitu saja. Sampai sekarang tidak didetilkan --seharusnya pers mendetilkan kejadian ini-- siapa sebenarnya dalang dan aktor-aktor penting pengusiran dan pembunuhan kaum Muslimin di Maluku Januari 1999 itu.

Serangan kaum Nashrani --tentu bekerjasama dengan intelijen dan militer-militer Kristen di negeri ini-- itu datang dengan perencanaan yang matang. Orang-orang islam yang saat itu sibuk dengan shalat Idul Ftri tiba-tiba diserang mereka dengan senjata-tajam, peluru dan rumah-rumah orang-orang Islam dibakar. Hingga ribuan orang Islam kocar kacir lari naik kapal, naik pesawat dan lain-lain.

Orang-orang Islam yang tidak siap itu alhamdulillah akhiornya bisa mengorganisir diri dan melakukan perlawanan hebat terhadap para penjahat itu. Di peperangan fisik mereka bermain, di peperangan pers pun mereka bermain. Mereka menyerukan kepada aktor-aktor pendeta, politikus dan media massa di Jakarta agar menyatakan bahwa kesalahan bukan dilakukan oleh kaum nashrani tapi oleh orang Islam. Dimana orang-orang Islam Maluku dianggap menyisihkan orang-orang Kristen di sektor ekonomi. Api Iblis permusuhan dihembuskan oleh tokoh-tokoh Kristen agar kekalahan ekonomi dan sektor politik di Maluku, itu dibalas dengan darah. Dan terjadilah peristiwa pembantaian orang-orang Islam saat itu.

Alhamdulillah akhirnya dengan seruan Allahu Akbar dan ukhuwah Islamiyah dari seluruh pelosok tanah air akhirnya Maluku dapat dipertahankan. Begitu juga Poso. Kalangan militer pun terpecah saat itu. Tokoh-tokoh militer Kristen membela kristen disana, dan tokoh-tokoh militer Islam yang punya aqidah kuat, membela dengan pengiriman senjata dan dana untuk membela kaum Muslimin di sana.

Penulis tidak pernah lupa bagaimana saat itu sebagai wartawan penulis mengikuti konferensi pers yang diadakan oleh PGI yang menganulir pihak Kristen sebagai pihak bersalah dalam perang itu. Mereka tanpa malu-malu menutupi kebohongan bahwa mereka lah yang menyerang duluan. Mereka lah yang menyebarkan api permusuhan terlebih dahulu dengan pistol, pedang dan lain-lain. Hingga di sebuah pesantren, ada santri yang puluhan tewas diserang oleh kelompok kristen yang bengis ini.

Kompas sebagai jaringan mereka, memberitakan perang di Ambon ini dengan datar pula. Karena banyak redaksinya yang kristen, mereka tidak mau menyalahkan kristen sebagai pihak yang bersalah. Meskipun jelas-jelas mereka yang menyerang duluan. Di Ambon lah banyak para mujahidin --veteran Moro, Afghanistan dan lain-lain-- berjuang bersama-sama kaum Muslimin membebaskan Muslim Ambon dari cengkeraman Kristen. Dan Alhamdulilah akhirnya umat islam tidak terusir dari Ambon.

Fathurrahman Al Ghazi dkk melihat aktor-aktor gereja di Jakarta ikut bermain di Ambon itu, meka mereka merancang pengeboman ke gereja. Tapi apa pendapat pers sekuler atau yang berafiliasi kristen kemudian? Dianggap Ghozi dkk radikal, tidak berperikemanusiaan dan patut untuk dihukum atau dibunuh. Tidak pernah diruntut penyebab pengeboman ke gereja-gereja itu.

Maka ketika Densus 88 dibentuk dan aktor-aktor di dalam banyak yang Kristen, maka kesempatanlah bagi militer Kristen itu untuk membalas dendam orang-orang Muslim itu. Maka tidak heran --tentu dengan provokasi dan bantuan intelijen AS yang canggih. Dalam hal ini Sidney Jones memainkan peranan penting-- para mantan mujahidin itupun diburu dan dibunuh dengan cepat. Baik yang di Indonesia, Moro dan lain-lain. Sebagaimana perintah dari Washington bahwa jaringan mujahidin Afghanistan --AS dkk menyebutnya jaringan Al Qaida, Jamaah Islamiyah, Taliban dll-- harus diburu dan dibunuh dimanapun juga. Kelompok Kristen dan Yahudi fundamentalis di Washington menyatakan 'buru mereka sampai ke lubang-lubang tempat persembunyian mereka'.

Dan sayangnya sebagian militer kita --karena banyak dididik di AS-- mengamini perintah dari Washington --kelompok Skull and Bones-- itu. UU anti teroris pun dibuat untuk memburu kaum Muslimin mujahid dan membatasi para mujahidin untuk membala umat Islam di wilayah negaranya. UU Anti terorisme di seluruh dunia diperlakukan bahwa dimanapun "teroris" (kaum Muslim menyebutnya mujahidin) yang diburu, maka negara setempat harus menyerahkannya.

Negeri-negeri Islam dan hampir negara di seluruh dunia membebek pada ucapan yang keluar dari mulut Bush cs itu. Karena sejak tragedi WTC itu Bush telah sesumbar bahwa negara-negara di seluruh dunia ini "ikut kelompok kita (Bush) Bush atau kelompok mereka". Pilihannya hanya dua itu, nggak boleh netral.

Begitulah karena Bush cs ini memegang satelit, militer, keuangan di seluruh dunia --termasuk PBB-- maka kepala negara di seluruh dunia 'rukuk sujud' ke Bush. Tidak ada yang berani menegakkan kepala melawan Bush, kecuali sebagian kecil negara. Seperti Iran dan Kuba.

Kepala-kepala negara Asean yang memang kebanyakan berlatar pendidikan Barat, pun cepat-cepat mengamini Bush dan mengorganisir diri untuk bersama-sama melawan terorisme di seluruh dunia (baca gerakan Islam di seluruh dunia). Berbagai pertemuan tingkat tinggi, mulai dari presiden, menteri pun dibuat untuk membuat UU anti terorisme. Bahkan Tony Blair perdana menteri cerdas dari negara besar Inggris pun bertekuk lutut di bawah ketiak Bush. Dahsyat memang 'sihir Iblis Bush' ini. Sihirnya bukan dengan kata-kata saja, tapi dengan pesawat tempur bom, uang untuk membunuh kaum Muslimin yang terlibat dalam jihad Afghanistan.

Sebuah rekayasa besar tokoh-tokoh Yahudi dan Kristen fundamentalis menempatkan Islam sebagai musuh bersama setelah komunis. Dan itulah kerjaan pemerintah AS sejak mula berdirinya. Selalu mengorbankan perang dimana-mana. ke Jepang dalam PD ke II mereka membunuh ratusan ribu orang di Nagasaki dan Hiroshima, Ke Vietnam membunuh puluhan ribu orang di sana,ke Irak membantai ratusan ribu kaum Muslim, ke Afghan tidak terhitung lagi jumlah kaum Muslimin yang meninggal syahid di sana.

Bush dan kelompok penyembah Iblis di Washington memang bersuka cita bila kaum Muslim terbunuh dan negaranya menang perang di mana-mana. Mereka mengikuti 'sesaji Iblis' bahwa negara adalah segalanya. Boleh membunuh meskipun sejuta orang yang membahayakan negara. Dan begitulah ritual syetan dan Iblis bersama pengikutnya selalu senang bersuka cita dengan darah-darah manusia. Karena sudah menjadi ideologi Iblis dan syetan adalah mengajak sebanyak-banyaknya manusia ke neraka dengan salah satunya dengan pertumpahan darah atau menzalimi orang dengan semena-mena ini.

Perburuan kepada mujahidin ini luar biasa. Di tanah air kita lihat bagaimana Abu Bakar Ba'asyir, Habib Riziq dan Jafar Umar Thalib dijadikan sasaran untuk dijadikan narapidana. Dan untuk memacah belah tokoh Islam, maka Ja'far Umar diadu dengan Abu Bakar Baasyir dalam tragedi WTC. Jafar Umar karena pengetahuannya politiknya yang lemah, tidak malu-malu mengecam Usamah bin Laden dengan keras. Seolah-olah Usamah --mujahid besar di Afghan ini-- bukan mujahid. Dan dengan rekayasa intelijen internasonal pula Laskar Jihad yang dipimpin jafar Umar dibubarkan. jaringan Kristen internasional ini faham bila Laskar Jihad terus ada, maka akan membahayakan posisi poitik mereka.
Begitulah Barat dengan intelijennya mengadu domba tokoh-tokoh Islam di lapangan maupun di media massa. Barat pun mengopinikan di tanah air dengan melobi tokoh-tokoh Islam bahwa sumber utama radikalisme di Indonesia adalah tokoh-tokoh Islam dari Arab, Mereka ingin memisahkan tokoh Islam dari Arab dan dari Indonesia. Mereka terus menerus memuji Islam Indonesia --terutama sering dingkap Syafii Maarif dan Azyumardi Azra-- itu toleran dan tidak radikal. Alias melempem dan tunduk kepada Amerika dalam bahasa lainnya.

Tapi begitulah cara kerja intelijen Barat kerjasama dengan intelijen Indonesia. Tentu Hendropriyono dan Sidney Jones tahu betul hal ini. Dan dua orang ini meski di depan layar pernah 'berantem' yakni Hendro mengusir (kemungkinan besar pura-pura) Jones dari Indonesia, dibelakang layar mereka akrab. Karena jaringan intelijen Indonesia saat itu akrab dengan jaringan CIA untuk memburu para mujahidin ini.

Mereka juga selalu melobi tokoh-tokoh islam dan tokoh-tokoh media massa untuk meliput perburuan 'teroris' ini. Media TVOne dengan bangganya setiap kali meliput langsung perburuan ini. Dan peristiwa terakhir yang mengherankan kita adalah'rekayasa pelatihan anak-anak muda' di Aceh. Kenapa mereka meski ditembak, diburu dan dibunuh? Tentu ada pihak-pihak anti Islam yang memprovokasi hal ini. Bila militer itu Islam, tentu akan berfikir ini anak maih bau kencur dan jumlahnya puluhan bagaimana mau menghancurkan negara Indonesia? Apakah tidak bisa dikirim para ulama untuk menyadarkan mereka bahwa garis perjuangan mereka tidak benar? Bukan dengan main buru dan tembak-tembakan?

Tapi para ulama --apalagi yang sholeh dan mengerti politik-- tidak dilibatkan dalam perburuan mujahidin ini. Larena jaringan Bush dan antek-anteknya di Indonesia ini faham kalau melibatkan ulama, maka proyek-proyek Densus 88 ini bisa gagal. (yang aneh nama 88 ini, mustahil dibentuk hanya karena jumlah personilnya 88. Nama ini kemungkinan besar diambil dari tokoh Yahudi yang menganggap bahwa angka 8 adalah great (besar). Wallaahu a'lam. Apapun alasannya yang jelas ini punya maksud tertentu).

Maka dalam melawan Barat tidak cukup dengan melancarkan peperangan pemikiran belaka. Karena mereka mengadakan perang fisik harus dilawan dengan fisik. Apakah ada gunanya seminar tentang Israel di Gaza? Di Palestina kebiadaban Israel tidak perlu diseminarkan atau dibuat buku atau tulisan, tapi disana harus dikumpulkan senjata sebanyak mungkin untuk melawan negara zionis bentukan 'jaringan iblis dan antek-anteknya itu'.

Bila Barat mengajak damai, kita berdamai. Bila mereka mengajak perangkita pun harus siap perang. Karena kewajiban jihad adalah bagi seluruh kaum Muslimin. bahkan Rasulullah saw menyatakan bahwa 'surga itu terletak dibawah bayang-bayang (lintasan) pedang'. Dan sepanjang sejarah Islam, bahkan para Nabi meski melakukan peperangan terhadap para pengikut syetan/Iblis itu. Baik dengan perang pemikiran maupun perang fisik.

Dimanapun kaum Muslimin dizalimi wajib bagi kita untuk membelanya sekuat tenaga kita. Kita di negeri Indonesia yang dizalimi Barat dalam pemikiran, ekonomi dan politik, maka wajib ain kita bersama-sama melawannya. Tidak terkecuali bagi Muslim yang baligh. Apalagi bagi Muslim yang punya ilmu dan tahu masalah kezaliman di tanah air ini. Bila jihad tidak dilakukan maka para pengikut syetan lah yang akan memenangkan pertarungan di dunia ini.

Al Qur;an menyatakan : "Dan janganlah kamu ikuti orang-orang kafir itu (dalam segala urusan) dan berjihad terhadap mereka dengan jihad yang besar." Dan memang untuk melawan orang-orang kafir pemuja Iblis/Syetan itu harus dengan jihad yang besar. Dengan sekuat tenaga kita. Baik pemikiran, fisik maupun dana kita. Dan begitulah yang dicontohkan Rasulullah saw, para sahabat yang mulia, para ulama yang shalih dan para mujahidin yang ikhlash di seluruh dunia.

Di zaman modern kini kita menghadapi perang yang tidak kalah dahsyatnya baik lewat internet, satelit atau media massa yang kebanyakan dikuasai oleh Yahudi attau kaum anti Islam. Tentu jihad di bidang ini, harus faham benar-benar apa yang dilakukan mereka. Disinformasi, teror mental dan pornografi senantiasa mengincar kita bila kita tidak hati-hati. Tapi dengan aqidah yang kita miliki dan ilmu yang senantiasa kita tambah tiap hari, insya Allah kita akan memenangkan peperangan di abad mutakhir ini. Kita mungkin pernah kalah dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi --sebagaimana juga Rasulullah saw dan para sahabat mengalaminya--, tapi insya Allah kita akan memenangkan peperangan yang besar ini.

Hanya kepada Allah SWT kita mohon pertolongan dan bertawakal. Dan Allah lah sebaik-baik pelindung dan penolong kita. "Ya Allah tolonglah kami menghadapi rekayasa dan tipu daya orang-orang yang bersekutu dengan Syetan dan Iblis."

Oleh Nuim Hidayat
Dosen STID Mohammad Natsir

eramuslim.com