30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Kitab Asbab Al-Bid’ah Wa Madharruha: Bid'ah dan Mudharatnya

Kitab Asbab Al-Bid’ah Wa Madharruha: Bid'ah dan MudharatnyaFiqhislam.com - Perbincangan soal bid’ah seakan tak berujung. Bid’ah dibaca dari berbagai perspekstif dan dan tinjauan hukum. Beberapa diantaranya mencoba menginterpretasikan bid’ah dengan membaca konteks kondisi dan situasi yang terjadi di tiap zamannya.

Tak ketinggalan pula, para cendekiawan Muslim berusaha memberikan definisi yang komprehensif, dan merepresentasikan antara fakta yang terjadi di tengah-tengah umat dengan deretan teks literal.

Asy-Syathibi misalnya, memaknai bid’ah dalam kitab monumentalnya, Al I’tisham, sebagai aktivitas baru yang sengaja disematkan dalam agama. Hampir saja kegiatan itu menyerupai pola yang masyhur dalam agama. Pasalnya, perkara itu dikemas dan dibingkai laiknya pernah dinashkan dalam syariat.

Bid’ah sebagai sebuah fenomena, tidak muncul dengan sendirinya. Bid'ah tak terlepas dari hubungan kausalitas, antara "sabab" dan "musabab-nya". Kesimpulan ini terlihat jelas dalam kitab Asbab Al-Bid’ah Wa Madharruha yang ditulis oleh mantan Syekh Al-Azhar, Mahmud Syaltut. Tetapi, dalam bukunya itu, ia membatasi penggunaan istilah bid’ah hanya berlaku pada tuntunan agama. Di luar konteks keagamaan, terma bid’ah tidak bisa digunakan.

Misalnya, mengidentikkan bid'ah dengan tradisi di sebuah komunitas atau inovasi-inovasi yang berhubungan langsung dengan hajat hidup manusia. Hal ini karena pengertian bid'ah jika merujuk ke sejumlah teks, antara lain hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA—bahwa semua perkara yang muncul dan belum pernah dicontohkan Rasulullah akan tertolak—maka bid’ah merujuk pada realita yang terjadi di masyarakat ialah segala bentuk ibadah yang belum pernah dilakukan di masa Rasulullah. Ibadah-ibadah itu tidak termaktub dalam nash yang valid ataupun tersirat dalam berbagai teks keagamaan.

Dalam kitabnya tersebut, tokoh kelahiran Desa Munyah, Bani Manshur, Provinsi Buhairah, Mesir itu menguraikan tentang sebab-sebab munculnya fenomena bid’ah dan dampak negatif yang diakibatkan oleh bid’ah.

Dibandingkan dereten karya yang pernah ia tulis, Kitab Asbab Al-Bid’ah bisa dibilang minimalis, ringkas dan sederhana. Hanya mencakup dua bab utama, yaitu pertama bab tentang faktor pemicu kemunculan bid'ah sekaligus penyebab penyebaran fenomena tersebut. Dan di bab yang kedua, ulasan singkat tentang efek negatif dan bahaya bid’ah.

Menyadari tentang bahaya bid’ah, Syaltut yang pernah ditunjuk sebagai pangawas umum Lembaga Penelitian dan Kebudayaan Islam Azhar itu menyertakan bahasan tentang dampak bid'ah bagi masyarakat.

Penyertaan bahasan mengenai efek dari bid'ah tersebut bertujuan memberi peringatan dan rambu kepada masyarakat agar terhindar dari bid'ah. “Seorang yang cerdas, bila mengetahui bahaya menghadang, maka secara sigap niscaya berupaya sekuat tenaga untuk menjauhinya,” demikian tulis tokoh yang lahir pada 1893 itu.

Minimnya Ilmu Picu Bid'ah
Menurut sosok yang memperoleh gelar S1 dari Ma’had Alexandria ini, syariat sebagai sebuah tatanan yang mapan harus tetap terjaga dari titik kelemahan dan segala bentuk penyimpangan.

Terlebih bagi agama Islam sebagai risalah yang universal mencakup suku bangsa dengan ragam tradisi dan kepercayaan yang telah berkembang dan mendarah daging. Sebagai penyampai risalah agung itu, Rasulullah membaca kondisi itu secara baik dan tepat.

Rasulullah memperingatkan umatnya agar tak terjerumus melakukan bid'ah. Dan bila dicermati lebih jauh, terdapat tiga penyebab yang memicu tindakan bid'ah, yaitu kebodohan dalam penguasaan sumber dan metode pengambilan hukum, mengikuti hawa nafsu, dan mempertuhan akal menyikapi prinsip-prinsip syariat.

Sebab yang pertama ialah minimnya ilmu tentang referensi hukum dan metode penggunaannya. Sumber hukum yang dimaksud ialah Alquran dan Sunah. Dan, referensi turunannya yang berupa qiyas dan ijma’. Ia menggarisbawahi qiyas tidak berlaku untuk menganologikan ibadah. Hal ini karena qiyas efektif jika ada kesamaan illat atau indikator.

Sementara soal ibadah, kaidah yang berlaku ialah menukil dan mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah, ta’abbudi. Karenanya, penggunaan qiyas dalam aspek tersebut tidak sah. Bila diperinci lebih jauh, maka munculnya bid’ah ditengarai oleh ketidaktahuan pada sunah, komparasi qiyas, ataupun kurangnya pengatahuan atas gaya bahasa uslub yang dimiliki bahasa Arab.

Rasulullah pernah memperingatkan bahaya kebodohan itu di berbagai haditsnya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya, Allah akan mencabut ilmu di muka bumi dengan dipanggilnya para ulama kembali ke pangkuan Nya.

Selama kekosongan para pakar ilmu itu, umat yang ditinggalkan akan merujuk pada sosok-sosok yang minim ilmu. Mereka akhirnya hanya akan sesat dan menyesatkan yang lain. Sedangkan contoh dari penyimpangan qiyah ialah asumsi boleh meninggalkan shalat dengan mengqiyaskan kepada hukum diperbolehkannya tidak berpuasa jika membayar fidyah atau tebusan.

Begitu halnya bid'ah yang muncul akibat salah memahami bahasa Arab. Misalnya, pemahaman tentang bolehnya mengkonsumsi lemak babi.

Dasar yang digunakan ialah bahwa yang diharamkan teks hanya daging (lahm), bukan mencakup lemaknya. Padahal, anggapan tersebut salah kaprah. Kata "lahm" dalam tradisi Arab memiliki cakupan makna tidak sebatas pada daging, tetapi juga meliputi lemak dan kaldu yang disarikan. 

Sebab yang kedua ialah dominasi hawa nafsu dalam pengambilan hukum. Adakalanya mereka yang telah diliputi nafsu akan membuat pembenaran atas argumentasinya. Teks-teks agama ditakwilkan sedemikian rupa agar sesuai dengan apa yang mereka yakini.

Tindakan seperti ini sangat berbahaya, karena telah mengalihfungsikan teks suci untuk keyakinan pribadi. “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (QS. Al-Qashash: 50).

Kategori penyimpangan ini banyak terjadi dan menimpa mereka yang dekat dan silau dengan lingkaran kekuasaan. Syekh Saltut bahkan menduga mayoritas ritual keagamaan yang dikategorikan bid’ah timbul akibat syahwat keduniawian untuk memenuhi hasrat penguasa. Ritual adzan kesultanan, cukup menjadi salah satu bukti atas itu.  Adzan dikumandangkan dan dibumbui dengan nyayian-nyanyian di hadapan elit pemerintahan. Ritual ini sendiri disebut-sebut ada pertama kali saat pemerintahan khalifah ke-10 Dinasti Bani Umayyah, Hisyam bin Abdul Malik (743 H).

Faktor pemicu bid’ah yang terakhir adalah justifikasi akal atas sebuah ritual dan ibadah. Baik dengan konteks menafikan sebuah ritual yang telah mapan menurut syariat, ataupun mengukuhkan amalan yang sama sekali tidak pernah dinukil dari Rasulullah. Padahal, dalam konteks yang pertama, bisa jadi terdapat nash-nash yang kuat dan valid—sekalipun luput dari pengetahuannya—tetapi tetap saja ia mengacuhkan ibadah yang jelas telah termaktub.

Beda halnya bila berbicara soal konteks kedua. Dalam konteks ini, ritual tersebut jelas-jelas dipaksakan keberadaannya. Dengan kata lain, pelakunya membuat hal baru yang belum berlaku dan ditetapkan Rasulullah. Mereka salah memahami filosofi legalisasi syariat dan hukum-hukum yang diberlakukan. Filsafat tasyri’ mereka pergunakan sebagai epistemologi menciptakan perkara baru.   

Menurut Syekh, mempersepsikan semua perkara selalu positif dan laik dengan ukuran rasio atau sering disebut istihsan–sebagaimana pandangan imam Syafi’i—tak lebih dari bentuk bermain-main (taladzudz).

Dan seandainya hukumnya diperbolehkan dalam agama, maka bisa dibayangkan, siapa pun yang berakal akan berbicara, meskipun bukan pakar. Kemudian ia pun akan leluasa membikin bab baru di ranah syariat.

Contoh bid’ah yang dikategorikun muncul karena sebab ini seperti membaca doa di hadapan jenazah. Alasannya, melantuntkan doa lebih baik ketimbang membiarkan orang-orang yang berada di sekitar jenazah saling berbicara tanpa makna.

Misal lainnya yaitu melarang penggunaan perhiasan yang tidak diharamkan Allah. Argumentasinya kembali ke inti yang sama saat Allah melarang mengenakan emas dan kain sutra.

Syekh Syaltut menambahkan, keseluruhan faktor penyebab bid’ah itu terangkum dalam sebuah hadits—walaupun derajatnya lemah—riwayat Abdullah bin Amar dan Abu Hurairah. Hadits yang dinukil dari kitab Ad-Dhu’afa Al-Kabir oleh Al-Aqili itu menyebutkan bahwa di setiap masa ulama dengan integritas diri dan keilmuanlah yang akan memelihara ilmu. Mereka akan mengikis penyimpangan kalangan ekstrim dan liberalis serta pentakwilan orang-orang yang bodoh.

Jalur Penyebaran Bid’ah
Menurut tokoh penggagas rekonsiliasi Sunni-Syiah itu, meluasnya bid’ah disinyalir akibat dua faktor yang cukup berbahaya dan memberikan ancaman bagi orisinalitas ajaran Islam.

Pertama, keyakinan terjaga dari kesalahan (ushmah) yang diidentikkan dengan figur tertentu. Biasanya, fenomena tersebut kerap tampak di kalangan pegiat-pegiat tarekat. Kala para murid melihat aktivitas yang tak lazim dari sang guru, hal itu pun lantas disimpulkan sebagai sebuah tuntunan yang baru dan patut diikuti.

Menurut mereka, selama apa yang mereka lakukan itu mengacu pada tokoh alim, maka tidak jadi masalah. Pasalnya, sebuah ungkapan pernah menyebutkan, “Barangsiapa yang bertaklid pada alim, ia akan selamat.”

Jelas pernyataan itu dibantah oleh Syekh Syaltut. Bagaimanapun, taklid yang diperbolehkan ialah arahan menuju kebenaran dan kembali ke dalil yang kuat, bukan sekadar mengikuti tanpa alasan yang jelas. Sebatas ikut tanpa disertai informasi dan pengetahuan mendasar, maka tentu yang demikian tak diperkenanakan.

Allah memberikan peringatan tentang bahaya bertaklid buta. Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka." (QS. Az Zukhruf: 23).

Dan faktor penyebaran bid’ah yang kedua ialah ketidakprofesionalan ulama menjelaskan prinsip-prinsip syariah. Mereka teledor untuk membeberkan apa saja yang menjadi koridor dalam agama. Syekh bahkan membaca fenomena ini telah berlangsung sejak lama. Para ulama itu tidak mengutarakannya kemungkinan karena memang ketidakmampuan mereka, atau didorong rasa takut masyarakat akan lari sekaligus mendapat kecaman dari elit penguasa. “Selama ulama membisu, mereka menyimpulkan perilaku dan aktivitas tertentu sebagai bagian agama,” tulis tokoh yang tutup usia pada 1963 itu.

republika.co.id