Bagian Dari Yang Mana Kita, yang Sedikit atau yang Banyak?

Kategori: Artikel Islami

Bagian Dari Yang Mana Kita, yang Sedikit atau yang Banyak? Fiqhislam.com - Sebuah kapal tua mogok di tengah lautan, seluruh teknisi yang ada di kapal berusaha memperbaiki kerusakan berhari-hari tanpa hasil. Setelah mentog dengn crew-nya sendiri, si kapten kapal menyiarkan panggilan SOS dengan menguraikan problem yang dihadapi dan detil kapal yang di nakhkodainya.

Datang merespon panggilannya adalah  seorang teknisi tua dengan membawa tools box kecil, maka diantarlah teknisi tua ini ke ruang mesin dan diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Setelah bekerja dengan peralatan sederhananya dalam beberapa menit, mesin kapal dapat dinyalakan dan kapal kembali berlayar.

Kapten kapal yang gembira kapalnya bisa berlayar lagi, bertanya: “Apa yang kamu lakukan tadi?” si teknisi menjawab, “Saya hanya pukul sana - pukul sini!”.  Terkejutlah si kapten, dia bertanya lagi.  “Lantas untuk pekerjaan pukul sana - pukul sini tersebut, berapa saya harus membayar ?” Dijawab oleh teknisi “ 100 keping emas!”.

Tambah terkejut bukan kepalang si kapten kapal tersebut, dia berusaha menekan: “Hah…, mahal sekali, cuma pukul sana – pukul sini engkau minta 100 keping emas?, coba berikan rincian yang detil atas ongkos 100 keping emas yang engkau minta ini?”. Dengan meminta rincian yang detil ini si kapten berharap montir tua tersebut tidak bisa memberikan perinciannya sehingga ongkos akan bisa ditekan turun.

Tidak kurang akal, si montir tua membuat coretan di selembar kertas untuk perincian tagihannya ke kapten kapal. Dalam perincian tersebut tertulis; ongkos pekerjaan pukul sana- pukul sini,  1 keping emas, ongkos untuk tahu dan trampil mana yang harus dipukul, 99 Dinar. Si kapten kapal tidak bisa lagi ber-argumen tentang perincian ini karena faktanya berhari-hari seluruh teknisi kapal yang dia miliki tidak berhasil ‘ tahu dan terampil’ mengatasi problem yang ada.

Pengetahuan dan ketrampilan untuk mengaplikasikannya adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Ketika para teknisi kapal tersebut di atas hanya tahu tetapi tidak trampil, maka mereka tidak bisa mengatasi masalah yang ada. Tetapi ketika ada seorang teknisi tua yang bukan hanya tahu tetapi juga terampil, maka masalah mudah diatasi. Tahu dan terampil inilah yang langka.

Itulah sebabnya berjuta lowongan kerja yang ada tidak mudah diisi begitu saja oleh berjuta lulusan sekolah dan perguruan tinggi dari berbagai jurusan. Mereka ada bekal pengetahuan, tetapi keterampilannya yang belum ada.

Demikian pula dengan entrepreneurship, ber-rak-rak buku tentang entrepreneurship sudah ditulis orang dan mudah didapat di berbagai toko buku, tetapi mengapa jumlah para entrepreneur ini tidak mudah bertambah? Ya karena itu tadi, gampang untuk memperoleh ilmunya – tetapi tidak mudah untuk membuat terampil dalam berwirausaha.

Dalam berbangsa dan bernegara, kita juga mengalami hal yang sama. Beribu ahli di berbagai bidang kita punya, mulai dari politik, ekonomi, hukum dlsb. semua ada, tetapi mengapa kok panggung politik kita kayak dagelan, ekonomi kita terperdaya bangsa lain dan hukum yang adil menjadi barang yang langka? Ini juga karena kurangnya keterampilan yang bener dalam menggunakan pengetahuan-pengetahuan yang mereka miliki.

Keterampilan hanya bisa dibangun melalui praktek mengamalkan ilmu secara benar, itulah sebabnya mengapa do’a yang diajarkan ke kita adalah untuk meminta ilmu yang bermanfaat, bukan ilmu yang tinggi atau ilmu yang banyak.

Pada suatau kesempatan datang ke Indonesia, ulama kondang dunia Dr. Yusuf Qaradhawi memberi nasihat, “Semua kalian akan merugi, kecuali sedikit yang mau menuntut ilmu. Semua yang berilmu akan merugi, kecuali sedikit yang bisa mengamalkannya. Semua yang beramal-pun akan merugi, kecuali sedikit yang ikhlas….”.

Nampaknya Dr. Yusuf Qaradhawi memahami betul kondisi umat negeri ini. Jumlah kita sangatlah banyak, tetapi kebanyakannya tidak berilmu secara cukup. Di antara sedikit yang berilmu-pun, tidak banyak yang kemudian mengamalkannya dengan benar. Apalagi yang ikhlas dalam mengamalkannya, hanya Allah sendiri yang tau.

Sesungguhnya pilihan itu ada di kita, apakah kita ingin menjadi bagian dari yang sedikit tersebut atau bagian dari yang banyak! InsyaAllah Allah akan memudahkannya sesuai pilihan kita.

Oleh: Muhaimin Iqbal
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, dan kolumnis hidayatullah.com

hidayatullah.com

Download hanya digunakan pada browser eksternal