<
pustaka.png
basmalah.png

Apa yang Perlu Diperhatikan Sufi Pemula?

Apa yang Perlu Diperhatikan Sufi Pemula?Fiqhislam.com - Fenomena kelas menengah kota untuk memahami dan menjalani kehidupan sufistik semakin meningkat.

Namun, masih perlu dipertanyakan, apakah itu sebagai reaksi terhadap pola hidup yang semakin pragmatis dan materialistis? Mungkinkah itu buah dari kesadaran yang lahir dari semakin luasnya kajian agama melalui berbagai media?

Atau juga mungkin kedua-duanya, yaitu kerinduan terhadap sejuknya pemahaman esoterisme yang dipicu keringnya pemahaman eksoterisme keagamaan yang begitu dominan selama ini?

Untuk mengantisipasi hal tak sejalan dengan keluhuran ajaran Islam, mereka yang memilih menjalani kehidupan spiritual-sufistik (baca: sufi pemula) perlu mempelajari beberapa hal.

Pertama adalah pengenalan konsep tauhid, yaitu pengesaan Allah SWT. Tidak boleh menyimpang dari penjelasan yang digariskan Al Quran dan hadits. Konsep keesaan Allah SWT meliputi keesaan dalam dzat, sifat, dan perbuatan. Sejauh dan setinggi apa pun pencarian seseorang terhadap Tuhan, tak boleh dengan mudah mengklaim dirinya menyatu dengan Tuhan.

Dalam terminologi tasawuf hal itu disebut penyatuan diri manusia dengan Tuhannya (ittihad), Tuhan mengambil tempat di dalam diri manusia (hulul), dan kesatuan Tuhan sebagai Sang Khaliq dengan makhluk-Nya (wahdatul wujud).

Para sufi, terlebih sufi pemula, yang tiba-tiba mengaku sudah sampai di tingkat atau maqam paling tinggi, misalnya fana’, di mana diri sang hamba merasa hancur dan lebur dengan Tuhannya, mengakibatkan ia melewati batas-batas syariat tentang baik dan buruk. Seolah ayat hukum yang tersurat dalam Al Quran seakan terhapus dengan kedekatannya dengan Allah.

Mereka juga seolah-olah melewati dunia lahir (syariat) dan sudah masuk ke dalam dunia batin atau hakikat. Ini adalah contoh buruk bagi pengamal tasawuf karena mempertentangkan antara syariat dan hakikat. Mereka menganggap kecintaan terhadap Tuhan telah mencapai puncaknya yang kerap disebut sebagai mahabbah.

Untuk sampai ke puncak dan mempertahankan mahabbah itu, seakan dibutuhkan media seni bunyi-bunyian yang indah dan merdu (sama’). Bahkan, dengan memanfaatkan lagu dan tari. Tingkat ketergantungannya terhadap media musik itu sangat tinggi. Mahabbah boleh-boleh saja, tetapi tidak mesti lebih menonjolkan media ketimbang Tuhannya sendiri.

Dalam menjalani praktik sufi atau masuk ke dalam sebuah tarekat, peran pembimbing (syekh/mursyid) sangat penting. Tanpa pembimbing dikhawatirkan seseorang akan terjebak di dalam praktik sinkretisme atau syirik. Pemujaan berlebihan terhadap syekh atau mursyid bisa juga membawa masalah tersendiri.

Dalam doa meminta pertolongan Tuhan secara masif (istigatsah), syekh atau mursyid sering disebut dan dilibatkan. Syekh atau mursyid juga sering dijadikan objek perantara (tawasul atau wasilah) yang diperlakukan sepadan dengan Rasulullah.

Ketakjuban dan kehormatan kita kepada seorang syekh atau mursyid tidak boleh melampaui batas yang sewajarnya sebagai seorang guru.

Namun di sini, tidak berarti seorang pencari Tuhan atau murid dilarang mengagumi dan menghormati syekh atau mursyidnya sesuai dengan tradisi yang sudah lazim di dalam tarekat tertentu yang diikutinya.

Hal yang penting, niat penghormatan itu tidak terkandung keyakinan bahwa syekh atau mursyid itu suci, dianggap sama, bahkan melampaui Rasulullah.

Sebab, kedudukan nabi dan rasul dalam Islam sudah jelas. Nabi dan rasul memperoleh wahyu dan mukjizat serta keistimewaan dari Allah SWT. Sehebat apa pun seorang ulama, syekh, atau mursyid, bahkan para wali, tidak boleh disamakan apalagi diyakini melampaui kehebatan nabi dan rasul.

Tidak bisa diingkari bahwa ada manusia-manusia saleh atau salehah yang mencapai puncak kedekatan diri dengan Allah SWT. Dalam Al Quran mereka disebut sebagai wali, seperti Luqman dan Khidir. Namun, wali yang sebenarnya tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai seorang wali. Bahkan, mereka selalu berusaha menyembunyikan diri agar tak dikenal begitu luas.

Jika ada orang mengaku wali dengan mendemonstrasikan keajaiban atau kekeramatan yang dimilikinya, menurut Ibnu Taimiyah, orang itu perlu dicurigai. Kalangan syekh atau mursyid memang banyak mendambakan kekeramatan untuk legitimasi dirinya di depan jamaahnya. Ia berusaha mencari informasi dari alam gaib guna menunjukkan dirinya sebagai wali.

Namun, orang yang berkecenderungan seperti ini, menurut Ibnu Athaillah, tidak termasuk tokoh mursyid ideal. Orang yang sudah mampu merasa dekat sedekat-dekatnya dengan Tuhannya tidak lagi memerlukan kekeramatan, karena ia sudah yakin dengan dirinya sendiri bahwa apa yang dicarinya selama ini sudah ditemukan. Ambisi popularitas di mata publik sudah tidak ada lagi.

Mukjizat dan karamah
Sekiranya ada tokoh pembimbing spiritual, apakah itu syekh, mursyid, atau wali, yang mengaku berkemampuan untuk berkomunikasi dengan para penghuni alam malakut sehingga mereka memiliki kemampuan memahami sejumlah rahasia, misalnya mampu menebak kejadian yang akan datang. Informasi itu tak bisa diparalelkan dengan kemutlakan kebenaran wahyu.

Dalam literatur Sunni, mungkin itu hanya bisa disebut ilham. Keluarbiasaan yang dimiliki orang-orang tersebut bukanlah mukjizat, melainkan kekeramatan (karamah).

Dalam ontologi Islam dapat dibedakan. Ada tiga hal yang dapat dianggap luar biasa (khariq al-‘adat), yaitu mukjizat, karamah, dan sihir.

Mukjizat adalah perbuatan yang luar biasa yang muncul pada diri seorang nabi atau rasul. Seperti Nabi Ibrahim yang bisa keluar dari lautan api tanpa sedikit pun anggota badannya cedera, Nabi Musa membelah lautan, dan Nabi Isa menghidupkan orang mati. Karamah adalah perbuatan luar biasa, tetapi hanya muncul pada diri seorang wali.

Contohnya banyak, seperti kehebatan yang ditunjukkan oleh Khidir dalam Al Quran. Sedangkan sihir adalah perbuatan luar biasa juga, tetapi lebih sederhana dan muncul pada diri orang yang mempelajari ilmunya dengan tekun. Contohnya, tukang-tukang sihir pada zaman Nabi Musa yang mendemonstrasikan sihir ularnya.

Mereka akhirnya berakhir dengan tragis karena ular-ular dan tukang sihirnya ditelan oleh tongkat musa yang menjelma menjadi ular yang lebih hebat. Kepada para calon sufi atau sufi pemula, tak perlu terkecoh dengan keajaiban seseorang. Sebab, mungkin saja itu adalah tukang sihir atau seseorang yang memiliki kemampuan untuk memerintah jin.

Meski demikian, tak bisa juga kita mengingkari bahwa ada hamba-hamba Tuhan yang dikaruniai kedekatan sehingga ia diberi ilham dan kekeramatan. Inilah yang perlu dicari dan diikuti. Para sufi pemula juga tidak boleh terlalu yakin dengan bisikan-bisikan dan informasi gaib yang muncul pada dirinya sebab belum tentu itu bisikan malaikat. Boleh jadi itu bisikan setan.

Yang paling penting ialah keikhlasan sejati seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tanpa ada motivasi duniawi sekecil apa pun. Kalaupun seandainya Allah SWT memberikan kekhususan seperti apa yang pernah diberikan Tuhan kepada kekasih-Nya yang lain, biarkanlah itu disimpan di dalam memorinya sendiri.

Tak perlu hal itu digembar-gemborkan. Apalagi didasari oleh dorongan keinginan untuk menjadi populer dan demi kepentingan duniawi lainnya. Oleh karena itu, orang yang hendak menjalani kehidupan sufistik harus belajar banyak, memilih pembimbing yang benar, dan tidak boleh meninggalkan apalagi mengecilkan arti dan peran syariat. Jangan sampai kita menginginkan kedekatan, tetapi yang diperoleh adalah kesesatan.

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar  
republika.co.id

 

top