13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Maqam Ahadiyyah dan Wahidiyyah

Dari alam mineral aku mati lalu menjadi tumbuh-tumbuhan;
Dari alam tumbuh-tumbuhan aku mati lalu mencapai alam hewan;
Dari alam hewan aku mati lalu menjadi manusia.
Lalu mengapa aku harus takut?
Kapan aku berkurang karena kematian?
Nanti aku mati sebagai manusia, lalu aku membentangkan sayapku dan mengangkat kepalaku di antara para malaikat...
Sekali lagi, aku akan berkorban dari alam malakuti dan menjadi apa yang tak sanggup dibayangkan imajinasi.
(Jalaluddin Rumi, Matsnawi, III, 3901-3903)


- ** -

Maqam Ahadiyyah dan WahidiyyahFiqhislam.com - Ibarat selembar kertas yang memiliki dua sisi. Salah satu sisinya kosong dan sisi lainnya berisi tulisan. Sisi yang kosong tidak bisa dijelaskan sedangkan sisi sebelahnya dapat dijelaskan karena ada kalimat-kalimat penjelasnya.

Jika ini dianalogikan dengan wacana Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah, halaman yang kosong ibarat Maqam Ahadiyyah (the Divine Nothingness).

Dalam kitab-kitab tasawuf, maqam ini sering disebut sebagai Sir al-Asrar/Sacred of the Sacred. Maqam Ahadiyyah juga sering disebut ”Gudang yang Tersembunyi” atau Gayb al-Guyub, Haqiqat al-haqaiq. Sedangkan Maqam Wahidiyyah dapat dikatakan sebagai manifestasi sempurna (kamal al-istijla’) dari Maqam Ahadiyyah.

Maqam Wahidiyyah ini banyak dibicarakan ketika kita membahas konsep al-A’yan al-Tsabitah pada artikel minggu lalu. Al-A’yan al-Tsabitah, suatu maqam yang di atas alam Jabarut, tetapi masih berada di wilayah Maqam Wahidiyyah. Itu sebabnya, Maqam Wahidiyyah disebut Ta’ayyun Kedua dan Ta’ayyun Pertama ialah Maqam Ahadiyyah.

Dalam Ta’ayyun Pertama (Ahadiyyah) nama-nama dan sifat (al-asma’ wa al-aushaf) masih belum teridentifikasi dengan jelas dan semuanya masih tenggelam dalam keesaan diri-Nya. Oleh karena itu, Maqam Ahadiyyah disebut juga dengan Jam’ al-Jam’ atau Ahadiyyah al-Ahad menurut istilah Ibnu Arabi.

Sedangkan Maqam Wahidiyyah sudah ada unsur distingsi dan identifikasi nama-nama dan sifat-sifat. Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan berada di dalam Maqam Wahidiyyah karena merupakan hakikat yang menyingkapkan diri-Nya. Dalam ilmu tasawuf disebut madzahir al-asma’ atau al-a’yan.

Kita tidak mungkin bisa mengenal diri-Nya melalui martabat Ahadiyyah maka Ia memperkenalkan diri-Nya sendiri, yang tentu saja sejauh Tuhan mengungkapkan diri-Nya. Dari sini dipahami bahwa 99 nama indah Tuhan yang dikenal dengan al-Asma’ al-Husna, bisa merupakan jendela untuk mengintip, mengenal, dan  mendekati Tuhan.

Seperti disebutkan dalam Alquran, "Dan Allah memiliki Asma’ul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu." (QS Al-A’raf: 180).

Nama-nama inilah yang pertama kali diajarkan oleh Allah SWT kepada Adam, yang membuat malaikat takjub kepadanya.

Dalam Alquran disebutkan, "Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (QS Al-Baqarah: 31-32).

Tentang rahasia nama-nama indah Allah akan dibahas dalam suatu artikel tersendiri yang akan datang. Manifestasi Maqam Ahadiyah ke Maqam Wahidiyyah diterangkan dalam hadis Qudsi bahwa: "Aku pada mulanya harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal maka kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku mereka pun kenal pada-Ku.”

Dalam beberapa kitab tasawuf dijelaskan ketika Allah sedang menyadari diri-Nya (subject conciusness) maka saat itu muncul subjek dan objek dan muncul determinasi (mu’ayyan), manifestasi, spesifikasi. Ketika itu Al-Haq tanazul (descended) dari kemutlakan-Nya menjadi partikularisasi.

Ada yang sadar, ada yang disadari meskipun subjek dan objek itu masih tetap satu atau tunggal. Namun, ketunggalan di sini oleh Ibnu Arabi disebut Ahadiyyah al-Wahid, yaitu  ketunggalan relatif atau ketunggalan dari yang banyak. Berbeda di level Ahadiyyah, Allah betul-betul berada dalam ketunggalan atau keesaan mutlak sehingga disebut Ahadiyyah al-Ahad.

Meskipun dibedakan antara Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah, keduanya tidak bisa dipisahkan. Satu wujud eksistensi dan yang lainnya haqiqah (reality), ‘ain (entity), sya’i (thing), dan ma’lum (pengetahuan Ilahi). Wujud dalam diri-Nya sendiri dalam level Ahadiyyah tidak dapat didefinisikan dan diketahui (unknowable).

Sedangkan di level Wahidiyyah ialah wujud yang dapat diketahui melalui realitas yang termanifestasikan oleh atau sejauh yang ditentukan dan didefinisikan oleh diri-Nya sendiri. Wujud Yang Mahatinggi memang tidak tampak pada diri-Nya sendiri, tetapi menyebabkan segala sesuatu selain diri-Nya menjadi tampak.

Ilustrasi sederhananya, seperti ombak dengan laut, matahari dengan cahayanya, api dan panasnya.

Tidak mungkin ada ombak tanpa laut, tidak mungkin ada cahaya tanpa sumber cahaya, dan tidak mungkin ada panas tanpa sumber panasnya. Ombak adalah akibat atau reaksi dari adanya laut yang menjadi sebab.

Para teolog dan kalangan arifin beranggapan bahwa manifestasi dan tajalli dari Ahadiyyah ke Wahidiyyah dan seterusnya ke wujud aktual menjadi pangkal permulaan makhluk.

Berawal dari potensi wujud (wujud al-’ilmiy) atau yang biasa disebut dengan al-A’yan al-Tsabitah, kemudian menjelma menjadi wujud aktual (wujud al-khariji).

Lalu, dari al-khariji dan seterusnya sampai kepada alam syahadah mutlak disebut makhluq atau maj’ul. Di dalam bahasa Alquran sesuatu yag bersifat ciptaan awal (the first creation) biasanya diungkapkan menggunakan kata khalaqa, sedangkan untuk ciptaan kedua (the second creations) atau kejadian yang berkelanjutan (cintinum creations) diungkapkan dalam kata ja’ala. Jadi, ada makhluq dan ada maj’ul.

Sang Khaliq atau Ja’il sering disebut dengan al-Haq, sementara makhluk dan maj’ul, yaitu alam semesta termasuk manusia disebut al-khalq. Antara al-Haq dan al-Khalq sesuatu yang berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Inilah yang diungkapkan dalam syair Jalaluddin Rumi, "Jika engkau bicara soal ketakterbandingan, engkau telah membatasi. Jika engkau berbicara soal keserupaan engkau juga membatasi. Jika engkau membicarakan keduanya itu yang tepat dan engkau bakal mencapai makrifat.”

Maqam Wahidiyyah sering disebut maqam antara (barzakh) karena posisinya berada di antara al-Haq dan al-khalq. Akan tetapi, barzakh di sini tidak sama dengan Alam Barzakh atau Alam Mitsal sebagaimana disebutkan dalam artikel terdahulu, karena Alam Barzakh masih makhluk sedangkan Maqam Barzakh Wahidiyyah belum termasuk makhluk.

Penjelasan lebih lengkap tentang Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah akan lebih lengkap setelah nanti kita membahas nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Mungkin kita bisa terbantu untuk memahami dua maqam ini melalui pembahasan spiritual puncak beberapa agama lain. Wallahua’lam.

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar