5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

I’m Still Growing…

I’m Still Growing… Fiqhislam.com - Pada tanggal 29 Mei 1953 Sir Edmund Percival Hillary berhasil mendaki ke puncak gunung tertinggi di dunia Mount Everest (29,000 ft atau sekitar 8,800m), keberhasilan ini di dahului oleh kegagalan berturut-turut dalam dua kali percobaan sebelumnya tahun 1951 dan 1952.

Ketika diminta naik ke podium dalam suatu seminar setelah kegagalan yang kedua tersebut, meskipun ditengah tepuk tangan hadirin yang membahana – Hillay ini tidak kuasa untuk menyampaikan pidatonya. Dengan menunjuk ke gambar Mount Everest yang terpampang besar di hadapan hadirin, Hillary malah menjauh dari podium.

Sambil menjauh itu dia berkata: “Mount Everest, kamu telah mengalahkan saya. Tetapi pada kesempatan berikutnya aku akan mengalahkanmu. Engkau sudah tidak tumbuh lagi, sedangkan aku masih terus tumbuh…I’m still growing!.”

Upaya membangun karir, menggapai cita-cita,  apalagi membangun usaha tidak selamanya mudah -  Bahkan lebih seringnya adalah sulit dan berat. Semakin tinggi puncak yang ingin kita daki semakin berat menggapainya. Yang perlu dipersiapkan adalah bukan hanya keberhasilan, tetapi justru lebih penting adalah bagaimana menyikapi kegagalan yang bisa jadi mendahuluinya.

Bagi orang-orang yang memiliki passion untuk menaklukkan hal-hal baru, puncak-puncak keberhasilan dalam hidupnya – lebih baik mereka mati dalam berusaha mencobanya ketimbang sampai mati tidak pernah mencobanya.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar setiap upaya pencapaian puncak tersebut kita tidak gagal lagi dan gagal lagi seperti keledai yang selalu terjerumus ke lubang yang sama? Kuncinya adalah membuat diri kita selalu bisa belajar dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya. Dengan demikian kita dapat terus ‘tumbuh’ dengan pengalaman dan ketrampilan, yang oleh Hillary tersebut di atas diungkapkan sebagai “…I’m still growing.”

Tidak ada batasan usia untuk mencoba menaklukkan apa saja, meskipun fisik tubuh kita telah berhenti tumbuh berpuluh tahun yang lewat – pengetahuan, keterampilan, wawasan dlsb. insyaallah masih dapat terus tumbuh sampai akhir hayat kita. Jadi kita masih bisa untuk terus berniat untuk mencapai ‘puncak-puncak pendakian’ berikutnya dalam hidup kita.

Hanya saja, rugi amat bila kita harus mati dalam mencoba mencapai puncak yang tidak bermakna.  Jadi kita harus memilih puncak-puncak yang penuh makna untuk kita gapai dalam sisa hidup kita – yang kita bahkan rela mati dalam mencapainya.

Ada insentif yang indah untuk ini yang saya ambilkan dari hadits: Dari ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari apa yang beliau riwayatkan dari Robbnya tabaaroka wa ta’ala, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berkeinginan untuk berbuat kebaikan kemudian dia tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berkeinginan melakukan kebaikan kemudian ia melakukannya, Allah mencatat untuknya 10-700 kali lipat kebaikan sampai tidak terhingga. Jika dia berkeinginan untuk melakukan kejelekan kemudian dia tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika dia berkeinginan melakukannya, kemudian dia melakukannya maka Allah mencatat baginya satu kejelekan?.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Bayangkan bila kita berniat sungguh-sungguh dan benar-benar bekerja untuk merealisasikan suatu niat besar misalnya menyelamatkan generasi yang akan datang, dari sisi kesejahteraannya, dari sisi ke-imanannya dan keunggulannya atas umat lain pada jamannya. Maka bila sampai mati kita belum berhasil mewujudkannya, insyaallah kita sudah mendapatkan satu pahala kebaikan seolah sudah mewujudkannya. Bila kita berhasil mewujudkannya, insyaallah mendapat 10 sampai 700 kali lipat kebaikan sampai tidak terhingga.

Bagaimana kalau kita dirundung kegagalan demi kegagalan dalam mewujudkannya? Insyaallah itu juga tidak masalah. Masalah sudah kita definisikan, target-pun sudah kita canangkan, masalah insyaallah tidak bertambah berat dan target-pun tidak bertambah sulit, sedangkan kita masih bisa terus tumbuh dengan berbagai pengetahuan, gagasan, ide dan wawasan untuk mencapainya…I’m still growing! Amin.

Oleh: Muhaimin Iqbal