fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

Antara Korban Atau Pemenang…

Antara Korban Atau Pemenang…Fiqhislam.com - Tidak peduli siapa diri kita, apa yang kita miliki, dalam strata sosial yang mana kita berada – semua memiliki hal yang sama, yaitu untuk memilih apakah kita mau menjadi korban atau menjadi pemenang.

Karena semua memiliki haknya untuk memilih ini, maka tidak jarang kita mendengar cerita heroik perjuangan hidup rakyat jelata – seperti tukang sampah Jakarta yang menghebohkan karena diberitakan di televisi asing misalnya.

Pada saat yang bersamaan kita juga sering mendengar keluh kesah pejabat dan wakil rakyat kita, tentang gajinya, tentang makanan kecil yang mereka makan sewaktu rapat, tentang fitnah yang dideritanya – pendek kata tentang apa saja mereka bisa mengeluh.

Dua ekstrim ini sengaja saya gunakan untuk sekedar memberikan gambaran bahwa siapapun kita, kita bisa menempatkan diri kita sebagai pemenang atau sebaliknya sebagai korban.

Bila Anda memilih untuk menempatkan diri menjadi korban, maka akan Anda dapati dunia yang kejam terhadap diri Anda. Atasan yang menekan, anak istri yang possessive dan demanding, mitra kerja yang curang, bawahan yang kerja seenaknya, harga-harga yang terus melambung, majikan yang tidak mau tahu dlsb. Pendek kata ada seribu satu alasan yang bisa Anda pilih untuk menjadikan Anda sebagai korban. Salahkanlah orang lain untuk setiap problem Anda, maka itu cukup untuk menjadikan Anda sebagai korban.

Sebaliknya Anda juga bisa memilih untuk menjadi pemenang dalam setiap situasi. Bila Anda tidak berhenti mencari inspirasi dan solusi atas berbagai problem yang Anda hadapi, bila Anda terus berusaha memberdayakan apa saja resources yang dalam jangkauan Anda. Sama dengan jalan untuk menjadi korban, juga ada seribu satu jalan untuk menjadi pemenang.

Anda menjadi pemenang bila Anda berhenti menyalahkan orang lain, mengakui bahwa semua masalah bersumber pada diri Anda dan oleh karenanya Anda pula yang harus mengatasinya. Ayat berikut adalah dasar dari statement ini:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ﴿٣٠

“Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS 42 : 30)

Mari sekarang kita ambil case study dalam menyikapi harga minyak yang untuk sementra tidak jadi dinaikkan kemarin. Semua bisa menemukan alasannya sendiri untuk merasa menjadi korban.

Pemerintah merasa menjadi korban karena ‘terpaksa’ melakukan tindakan yang tidak popular, karena harga minyak dunia yang terus melambung, karena subsidi yang harus terus ditingkatkan, karena partai-partai pada menggoreng isu dan mengambil kesempatan dalam kesempitan dan beribu alasan lainnya.

Kita warga masyarakat-pun tidak kurang alasan valid untuk menyatakan diri kita adalah korbannya. Kita merasa menjadi korban dari ketidak becusan pemerintah mengelola anggaran, ketidak efisienan departemen-departemen terkait dalam mengelola sumber daya energy yang kita miliki. Kita menjadi korban partai-partai yang memainkan perasaan rakyat, dan masih beribu alasan lainnya untuk men-justifikasi bahwa kitalah korbannya.

Lantas kalau semua menjadi korban, apakah ayat tersebut diatas menjadi ayat yang tidak valid untuk jaman sekarang ini ?. untuk jaman krisis bahan bakar di era modern ini?

Justru sebaliknya, ayat tersebut sangat valid dan bisa menjadi titik awal solusi itu. Bila kita menyadari bahwa semua musibah berawal dari kesalahan diri kita sendiri – tidak terkecuali dengan musibah kenaikan bahan bakar, maka kita akan mencari solusi itu mulai dari dalam diri kita sendiri. Salah satunya yang pernah saya muat dalam tulisan “Survival Strategy…”.

Bagi pemerintah dan pihak-pihak yang berwenang-pun demikian, dengan menyadari bahwa sumber masalah ini adalah diri mereka, maka mereka harus membuat program kerja untuk mengatasi masalah tersebut dari waktu ke waktu. Tidak usah menunggu di demo berjuta rakyat. Bila setiap pemerintah yang berkuasa menyadari bahwa merekalah yang patut di blame bila sampai isu seperti bahan bakar ini menyengsarakan masyarakat, maka dia akan berusaha untuk tidak meninggalkan bom waktu bagi pemerintah dan generasi penerusnya.

Bom waktu kenaikan harga bahan bakar ini sekarang sudah mulai berdetak…tik – tak- tik – tak – tik-tak…, tetapi kita semua bisa menghentikannya. Bila kita berhenti untuk bersikap sebagai korban, waktunya untuk bersikap sebagai pemenang yang terus menggali inspirasi dan memberi solusi. Kita menjadi pemenang manakala diri kita adalah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah …!. InsyaAllah.

Oleh: Muhaimin Iqbal
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

hidayatullah.com