4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Memilih Mendidik Umat Atau Merebut Kekuasaan

Memilih Mendidik Umat Atau Merebut KekuasaanFiqhislam.com - Betapa kekuasaan selalu membuat silau. Membuat lupa. Membuat obsesi-obsesi yang penuh dengan ilusi, yang tak pernah memberikan kepuasan kepada siapapun.

Kekuasaan selalu menawarkan kemegahan, kemewahan, dan kenikmatan. Tetapi, tidak jarang pula kekuasaan berujung dengan kesengsaraan, dan kehidupan yang sangat tragis.

Memang. Begitu banyak orang-orang yang terobsesi dengan kekuasaan. Kekuasaan menjadi tujuan hidup. Kekuasaan menjadi tujuan akhir perjuangan mereka. Seluruh potensi dan energi yang dimilikinya diarahkan mendapatkan kekuasaan. Begitu menjanjikan kekuasaan bagi mereka. Mereka bisa berbuat apa saja demi kekuasaan.

Maka ada tokoh yang sangat terkenal dalam teori politik yaitu Machiavelli, yang sangat ironis, dan dikenal teorinya : "Tujuan Menghalalkan Segala Cara".

Banyak tokoh yang mengikuti jejak Machiavelli. Begitu banyak politisi yang tidak lagi dengan moralitas, dan membiarkan dirinya terlibat dengan bentuk-bentuk kegiatan amoral, ketika mereka berpolitik. Membiarkan dirinya tenggelam dalam praktek-praktek politik Machiavellis, yang sangat menakutkan siapapun.

Mereka bermimpi dengan kekuasaan segalanya bisa selesai. Segalanya bisa diubah dengan kekuasaan. Segalanya bisa dibalik dengan kekuasaan.

Mereka berpikir kalau memiliki kekuasaan keburukan bisa diubah menjadi kebaikan. Mereka berpikir kalau memiliki kekuasaan kejahatan bisa diubah menjadi kearifan. Mereka berpikir kalau memiliki kekuasaan kebathilan bisa menjadi kebenaran. Ini pikiran para pemburu kekuasaan yang fasih dengan idiom-idiom yang selalu menjanjikan. Sebenarnya itu hanyalah ilusi.

Ilusi tak pernah menjadi kenyataan. Hanya sedikit yang berhasil. Mereka yang memiliki keyakinan dan kejujuran serta tidak pernah berubah dalam hidupnya. Tidak pernah tergiur dan tergores oleh bujukan kekuasaan.

Umumnya mereka yang sudah masuk dalam sirkulasi kekuasaan menjadi berubah. Tak ada yang tahan. Keyakinan yang diyakini lumer oleh godaan kekuasaan. Meleleh seperti besi yang terkena panas.

Mereka yang jujur menjadi tamak dan rakus. Mereka yang istiqomah menjadi bengkok. Mereka yang menjunjung sifat amanah menjadi tokoh pengkhianat. Berkhianat terhadap keyakinannya sendiri. Tidak malu meninggalkan keyakinannya. Dengan berbagai dalih.

Mereka yang hidupnya zuhud dan alim menjadi kolaborator kezaliman. Mereka yang menjadi pejuang penegak keadilan, berubah menjadi kumpulan dan himpunan orang yang mengabdi kepada kerusakan dan kekufuran.

Seperti semua tak ada yang berbekas nilai-nilai agama yang pernah dinikmati. Nilai-nilai yang pernah tertanam dalam diri mereka punah. Bersamaan dengan perjalanan  waktu.

Jiwa-jiwa kompromi dan konformis yang sangat hina, sepertinya sudah menjadi pilihan. Tak ada lagi yang kuat bertahan dengan keyakinan yang mereka miliki.

Tak ada lagi bersemayam dalam diri mereka ajaran yang pernah mereka miliki dari Sayyid Qutb, yang sangat penting. "Yakhtalithun wa lakin yatamayyazun". (Bercampur, tetapi tidak larut). Seperti ikan hidup di laut, tidak pernah menjadi asin.

Sekarang orang-orang yang berlaku sebagai Gerakan Islam, tak ubahnya seperti ikan mati. Ikan mati menjadi asin. Sangat mudah terkontaminasi asinnya air laut.

Lautan kehidupan sekarang ini seperti air laut, yang membuat para aktivis menjadi asin. Tak lagi dapat bertahan dengan lingkungan yang berubah. Mereka ramai-ramai menyesuaikan dengan lingkungannya.

Mereka bukan lagi pelopor. Mereka bukan lagi  orang-orang yang siap dicap dan dituduh sebagai kumpulan "ghuraba" (asing).

Mereka tak tahan menghadapi tuduhan-tuduhan dari kalangan munafikun dan kafirun yang akan selalu memberikan lebel mereka dengan negatif. Kemudian mereka menyesuaikan diri.

Diantara mereka tak sedikit, yang menepis nilai-nilai yang asas, dan kemudian mengakaui nilai kekufuran yang merupakan produk manusia.

Semua itu karena mereka menuhankan kekuasaan. Mereka menyangka kekuasaan adalah segalanya. Kekuasaan menjadi sesembahan mereka yang baru. Kekuasaan menjadi segalanya.

Betapa sekarang ini sangat menyedihkan. Wajah-wajah yang dulunya bersih, sekarang menjadi kotor dan lusuh. Tak lagi memiliki izzah. Tak berani tengadah dengan tegak. Ketika menghadapi musuh-musuh Allah Rabbul Alamin.

Mereka menjadi abdi dan sekutu para musuh Allah Azza Wa Jalla. Semuanya itu akibat salah mempersepsi kehidupan ini. Kekuasaan menjadi kiblat dan segalanya.

Hari ini penjara-penjara banyak berubah. Penghuninya bukan lagi para maling dan perampok. Penghuni penjara hanya dua. Para koruptor yang terdiri dari para pejabat dan politisi, dan para pengguna dan bandar narkoba.

Reformasi menjadi berkah, sekaligus menjadi laknat. Menjadi berkah manakala kebebasan (al huriyyah)  yang merupakan berkah dari Allah Rabbul Alamin, kalau digunakan dengan maksimal dalam rangka menyembah dan berbakti kepada Allah Rabbul Alamin, yang membuahkan amal kebajikan, serta syukur akan membuahkan kehidupan yang damai, bahagia, dan penuh dengan keberkahan.

Sebaliknya, kebebasan yang ada sekarang ini,hanya menjadi  tempat memuaskan hawa nafsu, keserakahan, dan ketakmaan, dan  perebutan kekuasaan. Kemudian mengakibatkan turunnya laknat dari Allah Rabbul Alamin.

Tugas kita sesungguhnya mendidik umat, mengenalkan Islam. Umat terlebih dahulu harus mengenal, memahami, meyakini, dan kemudian mengamalkan Islam.

Tidak mungkin akan lahir kehidupan yang sangat ideal dalam kehidupan ini, manakala umat ini masih diliputi kejahiliyahan dan kekufuran.

Tidak mungkin akan dapat menegakkan nilai-nilai ideal yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah, bila umat ini masih bodoh terhadap Islam.

Di Mesir Ikhwan memerlukan waktu lebih dari 80 tahun, bekerja, berjuang, dan mendidik umat, sembari terus menerus melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Dengan segala pengorbanan.

Mereka berdakwah di tengah-tengah umat yang tak pernah mengenal lelah. Sekarang  pun Ikhwan masih berjuang dengan segala resiko yang dihadapi.

Mendidik umat lebih penting, dibandingkan sekadar bermimpi merebut kekuasan. Merebut kekuasaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu orang-orang yang tulus, sungguh-sungguh, dan penuh dengan pengorbanan. Bukan dengan mengedepankan pragmatisme dan oportunisme, dan pasti akan menjadi sia-sia.

Sekarang mereka yang berjuang di ranah kekuasaan, dan  sedang mempertaruhkan, bukan hanya partainya, jamaahnya, dan dirinya, tetapi yang lebih esensi mempertaruhkan Islam itu sendiri.

Bila mereka tidak dapat mengimplementasikan nilai-nilai Islam yang ideal dalam kehidupan, dan tidak dapat menjadi tauladan dalam melakukan aktivitas politik, maka ini hanya akan melahirkan malapetaka bagi masa depan Islam. Wallahu'alam.

eramuslim.com