pustaka.png.orig
basmalah.png


13 Dzulqa'dah 1442  |  Rabu 23 Juni 2021

Ketika Cahaya Islam Mulai Bersinar

Ketika Cahaya Islam Mulai Bersinar


Fiqhislam.com - Tatkala cahaya Islam mulai bersinar dari kalbu Rasulullah SAW, dari ucapan-ucapan yang disampaikannya, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, salah seorang penduduk Makkah, Utsman bin Mazh’un tersentuh. Ia salah seorang dari beberapa gelintir manusia yang segera menerima panggilan Ilahi dan menggabungkan diri ke dalam kelompok pengikut Rasulullah.

Tercatat, ia adalah orang ke-14 yang masuk Islam. Tak mudah memang berjuang di agama Allah pada zaman itu. Berbagai ancaman, siksa, dan penderitaan harus dihadapinya. Namun, ia tergolong orang yang berhati tabah dan sabar nan teguh keyakinannya pada Islam.

Suatu hari, ia bertemu dengan orang-orang Quraisy, salah satunya adalah Labid bin Rabiah. Labid berkata kepadanya, “Setiap kenikmatan pasti akan sirna keberadaannya.”

Utsman pun menjawab. “Kau salah Labib, kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir,” ujarnya.

Mendengar hal ini, Labib pun naik pitam. Ia kemudian mengatakan, hanya orang bodoh yang mau mendengarkan kata-kata Muhammad dan mau mengikutinya. Utsman pun membantahnya. Saat itu, muncullah Al Walid Ibnul Mughirah di tempat tersebut. Melihat apa yang menimpa Utsman, ia pun kemudian sok berbaik hati membantunya. “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya matamu amat berharga untuk dianiaya seperti itu. Engkau tadinya berada dalam perlindungan yang aman,” ujarnya.

AI Walid adalah seorang dermawan namun menyimpan sifat sombong. Ia mencegah seseorang menyalakan api di Mina untuk masak melainkan dengan apinya. Ia banyak membantu orang-orang miskin, namun selalu ingin namanya disebut-disebut.

Dengan kekayaan dan kebaikan hatinya yang penuh riya tersebut, ia bercita-cita ingin menjadi pemimpin seluruh Arab, setelah kaum Quraisy memahkotainya. Ia selalu tampil manis di depan publik agar dipuji-puji, namun ia menyimpan segala kelicikan di baliknya.

Al Walid selalu mencari jalan untuk menganggu Rasulullah SAW, berikut sahabat-sahabatnya. Ia membantah wahyu yang dibawa Rasulullah, mendustakan, serta selalu menganggu dakwahnya.

Saat bertemu Utsman bin Mazh’un tersebut, ia berusaha agar pengikut Muhammad ini kembali ke pangkuannya. “Kemarilah wahai putra saudaraku, kembalilah ke jaminanmu jika engkau mau,” ujarnya. Ia pun memberikan berbagai janji manis kepadanya, yang katanya Utsman akan diberikan harta dan kedudukan jika ia mau kembali ke pangkuan kaum Quraisy.

Utsman pun tersenyum melihat apa yang dikatakan oleh Al Walid. Melihat senyumannya yang mengembang tersebut, Al Walid sangat yakin bahwa ia telah berhasil dalam upayanya mengembalikan Utsman kepada kaumnya, yang berarti ia telah mengalahkan Muhammad SAW.

Namun ternyata, apa yang ia perkirakan meleset. Utsman tetap teguh pendiriannya pada Islam. “Demi Allah, sesungguhnya mataku yang sehat (sebelah mata yang satunya) membutuhkan apa yang menimpa saudaranya yang seagama (mata yang terkena hantaman pukulan). Aku kini berada di sisi Dzat yang lebih berwibawa darimu dan lebih kuasa darimu,” ujar Utsman. Jawaban ini pun mengagetkan Al Walid.

Sekian lama ia menentang datangnya Islam, membuatnya tak pernah berhenti untuk menggugurkan lahirnya agama mulia ini. Segala hal yang berhubungan dengan Islam dan Muhammad selalu diganggunya, baik menggunakan cara halus maupun kasar. Kisah di atas hanyalah segelintir cara yang ia lakukan untuk menentang Muhammad. Masih banyak lagi cara licik yang ditempuhnya agar tak ada orang yang percaya pada Islam dan Muhammad, atas nama rasa iri karena Muhammad bisa menjadi sosok pemimpin yang lebih besar darinya.

Allah pun memberikan balasan kepada orang-orang seperti ini. Saat berada di sekitar Ka’bah, malaikat Jibril menunjuk ke telapak kaki Al Walid yang telah menderita penyakit menahun. Karena ia tak mau wibawanya runtuh disebabkan kaki yang sakit tersebut, Al Walid selalu menutupinya dengan cara menjulurkan kain hingga menyapu tanah.

Suatu ketika ia sedang lewat di rumah seseorang yang sedang mengasah anak panah. Tanpa sengaja, ada bagian tajam dari sayatan anak panah tersebut yang tersapu oleh kain Al Walid. Ia tak sadar akan hal ini hingga akhirnya ia menginjak anak panah tersebut dan masuk menancap tepat di bawah mata kakinya. Beberapa waktu kemudian kakinya membengkak dan ia mati karenanya.

Allah SWT telah menjelaskan dalam Alquran mengenai balasan bagi orang-orang seperti Al Walid ini. Dalam surat al-Hijr ayat 95, Allah berfirman, “Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” [yy/republika]

 

Tags: Cahaya Islam