1 Dzulhijjah 1443  |  Jumat 01 Juli 2022

basmalah.png

Abessinia, Negeri Terpilih

Abessinia, Negeri Terpilih

Fiqhislam.com - Makkah, bulan Rajab tahun ketujuh sebelum Hijriah (615 M). Kala itu, di tengah pekatnya malam, sejumlah sahabat Rasulullah SAW diam-diam meninggalkan Makkah bersama harta benda yang mereka miliki. Para sahabat itu terdiri atas 11 pria dan lima wanita, di antaranya Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayah, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Utsman bin Maz'un selaku ketua rombongan.

Dari Makkah, mereka menuju tepian Laut Merah, tepatnya Pelabuhan Shuaibah. Di sana, dua perahu telah siap membawa mereka ke sebuah negeri untuk menghindari kebiadaban kaum kafir Quraisy. Adalah Abessinia, sebuah kerajaan di benua Afrika, yang menjadi tujuan mereka. Mengapa mereka pergi ke sana? Para sahabat itu hijrah ke Abessinia atas saran Rasulullah SAW.  Inilah hijrah pertama yang dilakukan kaum Muslimin sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Saat itu, tekanan dan permusuhan dari kaum kafir Quraisy semakin keras. Sebagian pengikut Rasulullah disiksa, bahkan dibunuh. Maka itu, untuk melindungi mereka, Rasulullah menyarankan agar mereka hijrah ke Abessinia. Negeri ini dipilih karena penguasa Abessinia saat itu, Raja Najasyi, sangat bijaksana meski beragama Nasrani. Orang Arab menyebut Raja Najasyi sebagai Ashama Ibnu Abjar. "Sesungguhnya di Negeri Habasyah (Abessinia) terdapat seorang raja yang tak seorang pun dizalimi di sisinya, pergilah ke negerinya, hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian," ujar Nabi SAW.

Kisah hijrah para sahabat Nabi SAW ke Abessinia diungkapkan dalam Shahih Al-Bukhari, mengutip penjelasan dari Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW yang juga ikut dalam peristiwa hijrah ke Abessinia.

Lantas, di manakah tepatnya negeri Abessinia itu? Abessinia adalah nama kuno dari Ethiopia, sebuah negara di Afrika Timur. Nama itu (Abessinia) merupakan perubahan dari nama Arab, Habasyah, yang menunjuk pada campuran berbagai ras yang berasal dari Arab Selatan. Bangsa Abessinia merupakan keturunan bangsa Semit, sementara bahasa mereka, Amhariyah, serumpun dengan bahasa Arab. Seperti rajanya, saat itu pun sebagian besar rakyat Abessinia memeluk agama Kristen (Nasrani).

Dr Sayuqi Abu Khalil dalam Atlas Hadits al-Nabawi mengatakan, wilayah al-Habasyah, saat ini dikenal dengan nama Ethiopia atau Eritrea. "Masyarakatnya dikenal sebagai al-Habasy, yakni bangsa Sudan atau bangsa berkulit hitam," ujar Dr Syauqi.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyebut Abessinia sebagai negeri kerukunan umat beragama. Betapa tidak, warga Abbessinia dengan penuh keramahan menerima dan memberikan perlindungan kepada kaum yang berbeda agama dengan mereka. Inilah yang menjadi alasan sehingga bangsa Arab pada masa perluasan tidak melancarkan ekspansi ke wilayah itu.
 
Pada hijrah pertama ke Abessinia ini, para sahabat Rasulullah disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Raja Najasyi lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara Provinsi Tigray. Setelah tiga bulan di sana, mereka kembali ke Makkah, dengan harapan kaum kafir Quraisy telah melunak. Namun nyatanya, perlakuan kaum Quraisy tetap keras.  Maka itu, Rasulullah kembali memerintahkan umat Muslim untuk hijrah ke Abessinia. Jumlah sahabat yang hijrah pada gelombang kedua itu terdiri atas 80 orang. Rasulullah pun berpesan kepada mereka untuk menghormati dan menjaga Abessinia atau Ethiopia.

Namun, kafir Quraisy tak tinggal diam. Mereka mengutus Amr bin As serta Imarah bin Walid menghadap Raja Najasy. Keduanya meminta sang raja untuk mengusir para pengikut Rasulullah SAW dari tanah Abessinia. Raja Najasyi menolak permintaan itu dan mengizinkan para sahabat tinggal di negeri itu hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

 

Abessinia, Negeri Terpilih

Fiqhislam.com - Makkah, bulan Rajab tahun ketujuh sebelum Hijriah (615 M). Kala itu, di tengah pekatnya malam, sejumlah sahabat Rasulullah SAW diam-diam meninggalkan Makkah bersama harta benda yang mereka miliki. Para sahabat itu terdiri atas 11 pria dan lima wanita, di antaranya Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayah, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Utsman bin Maz'un selaku ketua rombongan.

Dari Makkah, mereka menuju tepian Laut Merah, tepatnya Pelabuhan Shuaibah. Di sana, dua perahu telah siap membawa mereka ke sebuah negeri untuk menghindari kebiadaban kaum kafir Quraisy. Adalah Abessinia, sebuah kerajaan di benua Afrika, yang menjadi tujuan mereka. Mengapa mereka pergi ke sana? Para sahabat itu hijrah ke Abessinia atas saran Rasulullah SAW.  Inilah hijrah pertama yang dilakukan kaum Muslimin sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Saat itu, tekanan dan permusuhan dari kaum kafir Quraisy semakin keras. Sebagian pengikut Rasulullah disiksa, bahkan dibunuh. Maka itu, untuk melindungi mereka, Rasulullah menyarankan agar mereka hijrah ke Abessinia. Negeri ini dipilih karena penguasa Abessinia saat itu, Raja Najasyi, sangat bijaksana meski beragama Nasrani. Orang Arab menyebut Raja Najasyi sebagai Ashama Ibnu Abjar. "Sesungguhnya di Negeri Habasyah (Abessinia) terdapat seorang raja yang tak seorang pun dizalimi di sisinya, pergilah ke negerinya, hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian," ujar Nabi SAW.

Kisah hijrah para sahabat Nabi SAW ke Abessinia diungkapkan dalam Shahih Al-Bukhari, mengutip penjelasan dari Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW yang juga ikut dalam peristiwa hijrah ke Abessinia.

Lantas, di manakah tepatnya negeri Abessinia itu? Abessinia adalah nama kuno dari Ethiopia, sebuah negara di Afrika Timur. Nama itu (Abessinia) merupakan perubahan dari nama Arab, Habasyah, yang menunjuk pada campuran berbagai ras yang berasal dari Arab Selatan. Bangsa Abessinia merupakan keturunan bangsa Semit, sementara bahasa mereka, Amhariyah, serumpun dengan bahasa Arab. Seperti rajanya, saat itu pun sebagian besar rakyat Abessinia memeluk agama Kristen (Nasrani).

Dr Sayuqi Abu Khalil dalam Atlas Hadits al-Nabawi mengatakan, wilayah al-Habasyah, saat ini dikenal dengan nama Ethiopia atau Eritrea. "Masyarakatnya dikenal sebagai al-Habasy, yakni bangsa Sudan atau bangsa berkulit hitam," ujar Dr Syauqi.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyebut Abessinia sebagai negeri kerukunan umat beragama. Betapa tidak, warga Abbessinia dengan penuh keramahan menerima dan memberikan perlindungan kepada kaum yang berbeda agama dengan mereka. Inilah yang menjadi alasan sehingga bangsa Arab pada masa perluasan tidak melancarkan ekspansi ke wilayah itu.
 
Pada hijrah pertama ke Abessinia ini, para sahabat Rasulullah disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Raja Najasyi lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara Provinsi Tigray. Setelah tiga bulan di sana, mereka kembali ke Makkah, dengan harapan kaum kafir Quraisy telah melunak. Namun nyatanya, perlakuan kaum Quraisy tetap keras.  Maka itu, Rasulullah kembali memerintahkan umat Muslim untuk hijrah ke Abessinia. Jumlah sahabat yang hijrah pada gelombang kedua itu terdiri atas 80 orang. Rasulullah pun berpesan kepada mereka untuk menghormati dan menjaga Abessinia atau Ethiopia.

Namun, kafir Quraisy tak tinggal diam. Mereka mengutus Amr bin As serta Imarah bin Walid menghadap Raja Najasy. Keduanya meminta sang raja untuk mengusir para pengikut Rasulullah SAW dari tanah Abessinia. Raja Najasyi menolak permintaan itu dan mengizinkan para sahabat tinggal di negeri itu hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

 

Alasan Rasulullah Perintahkan Sahabat Hijrah ke Abessinia

Alasan Rasulullah Perintahkan Sahabat Hijrah ke Abessinia


Alasan Rasulullah Perintahkan Sahabat Hijrah ke Abessinia


Fiqhislam.com - Bukan tanpa alasan jika Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Abessinia yang raja dan mayoritas rakyatnya memeluk Nasrani.   "Rasulullah memilih Etiopia (Abessinia atau al-Habasyah) karena pada zaman itu, negeri tersebut masih menjalankan injil secara murni," kata pakar hadis dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Ahmad Luthfi Fathullah.

Ia mengatakan, kelompok yang menjalankan injil secara murni akan terbuka dan mudah menerima Islam. Mereka juga dapat memahami sikap Rasulullah SAW dan kenabiannya. "Al-Habasyah adalah satu-satunya negeri pada zaman Rasulullah yang menjalankan injil secara murni. Berbeda dengan wilayah Nasrani yang sudah melenceng dari Injil seperti Romawi."Dijelaskan Luthfi, pada masa hijrah pertama ini jumlah umat yang sudah memeluk Islam belum sampai 100 orang sehingga masih banyak wilayah menjadi kantong Nasrani.

Menurutnya, ada hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrah yang pertama ini. Yakni, jika di suatu tempat kita berada dalam kondisi terdesak maka bisa pindah ke tempat lain. Jika suatu saat kondisi di tempat asal membaik, sebaiknya kita pulang.

Lutfi menganalogikan hal tersebut dengan orang menimba ilmu. Jika daerah asal tidak mendukung, dia bisa hijrah ke daerah lain yang lebih mendukung. "Jika sudah mendapatkan ilmu maka ia bisa kembali ke kampung halaman untuk membangun kampung halaman."

Pada hijrah gelombang kedua ke Abessinia, jumlahnya sahabat yang ikut bertambah menjadi sekitar 80 orang. Nah, pada hijrah kedua ini, menurut Lutfi, sang raja yang beragama Nasrani akhirnya memeluk Islam. Karena itu, saat sang raja wafat, Rasulullah SAW yang berada di Madinah menyempatkan untuk melakukan shalat ghaib bagi jenazah Raja Najasyi.

Hijrah ke Etiopia ini, lanjut Luthfi, memberi pelajaran kepada para sahabat Nabi kala itu. Yakni, hijrah harus dilakukan dengan persiapan. Di antaranya harus memilih tempat yang bisa menerima kita. Sekadar contoh, para sahabat Rasulullah SAW pernah berupaya hijrah ke Thaif. Namun, upaya yang dilakukan setelah hijrah ke Etiopia ini menumbuk kegagalan dan penolakan.

Lain halnya dengan hijrah ke Madinah yang menuai sukses. "Hal itu lantaran melalui proses panjang. Rasulullah terlebih dahulu mengumpulkan pengikut di Madinah. Setelah ada sahabat yang bisa menerima Islam di Madinah, barulah Rasulullah dan sahabat hijrah ke sana." [yy/republika]