21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Yahudi Aspal, Klaim Yerusalem, dan Kepalsuan Akhir Zaman

taurat tembok ratapan yahudi

Fiqhislam.com - Salah satu ciri penting akhir zaman adalah merebaknya fitnah dan kepalsuan, dengan puncaknya adalah munculnya Al Masih Dajjal yang secara harfiah berarti Al Masih Palsu atau Anti-Kristus. Dan, kepalsuan tersebut, kini teramat jelas terlihat pada orang-orang Yahudi, negara Israel, dan klaim-klaimnya tentang tanah yang dijanjikan: Yerusalem dan Baitul Maqdis.

Betapa tidak, sebagian besar Yahudi zaman now yang kini menduduki Israel, dan mengklaim Yerusalem sebagai miliknya, ternyata bukanlah Yahudi yang sering kita baca dalam kitab suci.

Betapa pun mereka menganut agama Yahudi dan menggunakan nama Israel (yang merupakan nama dari Nabi Ya’kub) sebagai nama negara jajahannya, namun sebagian besar mereka sesungguhnya bukanlah keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub.  Bahkan mereka bukan keturunan Shem. Sehingga, apa yang mereka lakukan di Palestina, berupa perampasan wilayah, pembantaian para penghuninya yang merupakan anak cucu Shem, sesungguhnya adalah antisemitisme itu sendiri, betapapun mereka sering melakukan kampanye antisemitisme di Barat.

Seperti diketahui, dalam genealogi bangsa-bangsa disebutkan, ada tiga anak Nabi Nuh, yaitu Shem, Yafits (Japeth), dan Ham, yang merepopulasi dunia setelah kaum Nuh ditenggelamkan.  Shem merupakan nenek moyang bangsa-bangsa di Timur Tengah, Yafith nenek moyang orang Turki dan Eropa, sedangkan Ham adalah nenek moyang orang Afrika. Sebagian besar Yahudi saat ini, yang memobilisasi pendirian negara Israel di Palestina, ternyata juga bukan orang-orang dari bekas kerajaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman di Yudea dan Samaria.

Sebagian besar mereka ternyata adalah orang lain, dari ras lain. Pendeknya, mereka bukan Yahudi yang sering kita baca dalam kitab suci.  Semua itu, dikonfirmasi oleh fakta sejarah dan penelusuran yang dilakukan peneliti sejarah termasuk oleh Ernest Renan, bahkan dibuktikan pula melalui hasil penelitian ilmiah.

Lalu, siapakah mereka? Mari kita periksa.

Yahudi Ashkenazi

Pertama-tama, mari kita lihat dunia Yahudi saat ini. Total populasi orang Yahudi di dunia pada tahun 2010 lalu adalah 13,4 juta jumlah orang. Sebagian besar orang Yahudi di dunia saat ini, adalah Yahudi Ashkenazi. Komposisinya di kisaran 60-80 persen.

Israel sendiri, berdasarkan data sensus tahun 2016, mempunyai penduduk sekitar 8,58 juta orang. Sebanyak 6,45 juta orang di antaranya atau 74,8 persen adalah Yahudi. Dari jumlah orang Yahudi tersebut, sekitar separuhnya adalah Yahudi Ashkenazi. Selebihnya adalah Yahudi Sephardi, Yahudi Mizrahi, dan lain-lain.

Sedangkan, penduduk lainnya adalah orang-orang Arab (Muslim, Kristen, Druze) dan lain-lain. Hampir semua pendiri negara Israel saat ini, adalah orang-orang Yahudi yang bermigrasi dari Eropa, khususnya Rusia, Eropa Timur, Eropa Tengah, dan sebagian Eropa Barat seperti Jerman.  Dan, hampir semuanya adalah Yahudi Ashkenazi. Mulai dari Chaim Weizmann (presiden pertama Israel), David ben Gurion (perdana menteri pertama Israel), hingga Benjamin Netanyahu (perdana menteri Israel saat ini). GalGadot, be kas tentara perempuan Israel, yang kini populer karena memerankan Wonder Wom an dalam film Hollywood, juga termasuk Yahudi Ashekenazi.

Yahudi Ashkenazi yang jumlahnya paling besar di Israel, adalah Yahudi first class. Penduduk Yahudi lainnya, diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, sedangkan orang-orang Arab, baik Muslim, Kristen, Druze, dan lain-lain, yang enggan pergi dari rumahnya sejak kawasan itu di-aneksasi Israel, juga mendapat diskriminasi, bahkan lebih buruk.

Aljazirah, dalam artikel bertajuk Israel's Great Divide, pada 13 Juli 2016, misalnya, mengungkapkan perlakuan diskriminatif terhadap Yahudi Mizrahi dan Yahudi Sephardi itu.  Diskriminasi itu juga ditulis oleh Times of Israel dengan judul Study Finds Huge Wage Gap Betwween Ashkenazim, Mizrahim.

Yahudi Mizrahi adalah Yahudi dari kawasan Timur Tengah, sedangkan Yahudi Sephardi adalah Yahudi Spanyol yang dulu merupakan bekas penduduk Andalusia, yang sebagiannya kemudian pindah ke Afrika, terutama Maroko, atau Anatolia yang saat wilayah itu dikuasai Khilafah Usmani, agar tidak dipersekusi dan diinquisisi saat wilayah itu direbut dari tangan Muslim.

Gugatan Ernest Renan
Salah satu gugatan telak tentang identitas orang-orang Yahudi Ashkenazi, datang dari salah seorang pencetus konsep negara bangsa (nation state), yaitu Ernest Renan (1823-1892). Filsuf dan sejarawan Prancis, yang juga pakar peradaban dan bahasa Semitic ini, adalah orang yang pertama mengemukakan Teori Khazaria, antara lain dalam tulisannya bertajuk Judaism as a Race and as Religionpada 1883.

Teori Khazaria yang dikemukakan Mahaguru Universitas Sorbonne, Prancis, tersebut, pada intinya, menyatakan, orang-orang Yahudi Ashkenazi adalah keturunan bangsa Khazar yang pernah eksis di Eurasia. “Mereka sesungguhnya adalah orang-orang Turki (bukan Kanaan), yang memeluk agama Yahudi. Dan, menyusul kehancuran Imperium Khazaria akibat serbuan Mongol, mereka bermigrasi ke Eropa.”

Tak seperti orang Yahudi Kanaan yang berbahasa Ibrani, orang Yahudi Khazaria berbahasa Yiddish. Dan, bahasa Yiddish itu pun tetap digunakan oleh orang Yahudi di Israel saat ini.

Terminologi Turki yang digunakan Renan, bukanlah dalam pengertian sempit bangsa Turki saat ini. Turki dalam pengertian ini longgar, meliputi suku-suku nomaden yang hidup di kawasan yang luas, mulai dari Asia Tengah hingga Eurasia.

Imperium Khazaria sendiri mulai berdiri pada abad ke7. Suku semi-nomaden Turki ini mengambil alih kawasan tersebut menyusul runtuhnya Kekaisaran Hun pasca-kematian Attila The Hun.  Selama lebih dari dua abad, Teori Khazaria yang disampaikan Ernest Renan --yang juga penulis buku Life of Jesus-- ini menjadi kontroversi. Namun, seperti halnya gagasan nasionalisme yang dikemukakannya lewat esai terkenal berjudul What is a Nation? (Qu'est-ce qu'une nation?) yang kemudian banyak dipraktikkan, Teori Khazaria ini pun kemudian menemukan pembuktian kuat.

Sekadar informasi, selain Teori Khazaria, teori lain yang berkembang soal asal muasal Yahudi Ashkenazi atau Yahudi Eropa adalah Teori Rhineland (Rhineland Hypothesis).  Teori ini beranggapan Yahudi Ashkenazi merupakan keturunan Yahudi dari Kanaan, Timur Tengah. Mereka bermigrasi ke Eropa menyusul keberhasilan Umar Bin Khattab membebaskan Palestina dari Romawi Byzantium pada tahun 637.

Konon, migrasi berdurasi panjang, hingga 200 tahun. Kemudian, pada abad ke-15, sekitar 50 ribu Yahudi yang mengisolasi diri, meninggalkan Rhineland atau Jerman di Eropa Barat, menuju Eropa Tengah dan Eropa Timur.

Konon, di sana, Yahudi berkembang pesat melebihi komunitas lain berkat hyperbaby boom. Alhasil, meskipun terjadi perang, persekusi terhadap orang Yahudi, wabah, dan kesulitan ekonomi, populasi Yahudi Ashkenazi tetap melonjak signifikan.  Dan, pada abad ke-20, telah moroket mencapai delapan juta orang. Tapi, karena cerita ledakan populasi itu terbilang ganjil dan kurang masuk akal,

Science Daily menyatakan bahwa sejumlah pakar seperti Prof Harry Ostrer dan Dr Gil Atzmon akhirnya hanya menyebutnya dengan istilah “keajaiban”.

Suku Yahudi ke-13
Salah seorang pendukung Teori Khazaria, adalah seorang jurnalis dan novelis Inggris berdarah Yahudi, yaitu Arthur Koestler.  Dalam bukunya yang berjudul The Thirteenth Tribe: The Khazar Empire and Its Heritage, dia menegaskan bahwa Yahudi Ashkenazi bukanlah keturunan Ibrahim, Ya’kub (Israel), dan Ishak.

Dia menegaskan Yah udi Ashkenazi bukan merupakan keturunan 12 suku Israel. Itulah mengapa dia menulis bukunya dengan judul “Suku ke-13”. Sebab, Ashkenazi adalah ‘Yahudi yang lain’.

“Kisah Kekaisaran Khazar, secara perlahan muncul dari masa lalu, dan mulai terlihat seperti tipuan paling kejam yang pernah dilakukan sejarah,” tulis Arthur Koestler dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1976 itu.

Arthur Koestler menegaskan bahwa Yahudi Ashkenazi tidak memiliki keterkaitan biologis dengan Yahudi Biblikal. Dalam bukunya, Arthur Koestler banyak mengutip catatan-catatan sejarawan dan ahli geografi Muslim terkenal, seperti Al Mu- qaddasi, Al Mas’udi, Ibnu Fadlan, Istakhri, dan lain-lain, yang mencatat dengan baik kondisi Khazaria saat itu.

Arthur Koestler mencatat, imperium Khazar ini memainkan peranan penting pada abad ke-7 hingga ke-10. Khazar menjadi penyangga Byzantium dari serangan suku-suku barbar stepa utara, seperti bangsa Bulgars, Magyars, Pechenegs, dan lain-lain bahkan dari Viking dan Rusia.

Tapi, tulis Koestler, peran terpenting Khazar bagi sejarah Eropa adalah membendung Islam yang sedang bangkit, sehingga mencegah Muslim menaklukkan Eropa. Profesor Dunlop dari Universitas Columbia yang meneliti sejarah Khazar menyatakan: “Beberapa tahun setelah wafatnya Mu-hammad (632 M), pasukan Khilafah Islam menyapu ke utara dan menaklukkan dua imperium besar (Romawi Timur dan Persia) dan menuju great mountain barrier Kaukasus. Sekali barrier ini terlewati, maka jalan terbuka untuk menaklukkan Eropa timur. Namun, mereka terhalang oleh Khazar.”

Koestler mengungkapkan, pada abad ke10, Khazaria mulai melemah karena invasi Viking dan Kiev-Rus. Dan, Kerajaan ini benar-benar runtuh saat datangnya gelombang invasi Mongol pada abad ke-13. Dan selanjutnya, sejarah Khazar diselimuti ketidakjelasan. Bekas-bekasnya tak banyak, dan orang Khazaria pun tiba-tiba bak hilang ditelan bumi.

Ke mana mereka? Rupanya, seperti halnya Yahudi Semit yang berdiaspora setelah runtuhnya Kerajaan Yudea di tangan Raja Babilonia Nebukadnezar dan pengusiran yang dilakukan Kekaisaran Romawi, Yahudi Khazar pun berdiaspora.

Setelah Kerajaan Khazaria ditaklukkan Jenghiz Khan, mereka bermigrasi ke sejumlah tempat, kebanyakan menuju Eropa. Arthur Koestler menulis, pemukiman orang-orang Khazar pada akhir abad pertengahan ditemukan di Crime, Polandia, Ukraina, Hungaria, dan Lithuania. Belakangan, menjelang terbitnya fajar kebangkitan Eropa, mereka banyak terkonsentrasi di Polandia dan Rusia.

Fakta inilah yang menuntun para sejarawan pada kesimpulan bahwa mayoritas orang Yahudi di Eropa timur adalah Khazar, dan bukan Yahudi semit. Tak lama setelah menulis buku tersebut, pada 1983, Arthur Koestler dan istrinya didapati terbunuh di rumahnya di London.

Ada yang menyatakan Arthur Koestler bunuh diri karena overdosis dan meninggal- kan surat pernyataan bunuh diri. Namun, tewasnya Arthur Koestler, masih menyisakan banyak misteri. Ada yang menduga dia dibunuh Mossad karena karya-karyanya, terutama The Thirteenth Tribe, sebagai upaya menghabisi sang pembawa pesan (kill the messenger).

Makna Ashkenazi dalam Bible
Sekarang, mari kita lihat fakta lainnya: istilah Ashkenazi yang dipakai di belakang nama Yahudi Eropa/Khazaria. Ternyata, istilah ini pun bermasalah. Merujuk Kitab Kejadian (Genesis) di Perjanjian Lama, Ar- thur  Koestler menyatakan istilah itu sebenarn ya merefer pada kaum yang tinggal di kawasan Gunung Ararat di perbatasan Turki, Suriah, dan Armenia.

Soal Ashkenazi, diceritakan dalam Kitab Kejadian (Genesis) 10:3: “Keturunan Gomer ialah Askenas, Rifat dan Togarma.” Rumusan senada tercatat dalam Tawarikh (Chro- nicles) 1:6. “Keturunan Gomer ialah orang Askenas, Rifat dan Togarma.”

Ashkenazi ini, dalam bahasa Ibrani disebut dengan spelling “Ashkanaz”. Sedang kan, dalam  terjemahan Bible bahasa Indonesia disebut dengan Askenas.

Lalu, siapa Gomer? Menurut Bible, Gomer adalah anak tertua Yafits/Japhet bin Nuh. Dengan demikian, Ashkenaz merupakan keponakan Magog (Ma’juj). Para sejawaran mengidentifikasi Ashkenaz sebagai nenek moyang orang-orang Scythians, suku nomaden di Eurasia, di utara pegunungan Kaukasus.

Scythians sendiri merupakan salah satu suku nomaden Turki. Para sejarawan melihat penyebutan Turki ini lebih ditekankan pada penggunaan bahasa, meliputi banyak suku di Asia Tengah dan Eurasia.

Nah, pegunungan Kaukasus inilah yang diduga sebagai tempat dulu Dzulqarnain membangun tembok besi berlapis tembaga untuk membendung Ya’juj dan Ma’juj, sebagaimana diceritakan dalam Surah Al Kahfi.

Pertanyaan tentang Dzulqarnain, Ya’juj dan Ma’juj --juga Ashabul Kahfi dan ruh—sebagaimana diceritakan pakar akhir zaman, Imran Hosein, merupakan pertanyaan titipan seorang rabi Yahudi di Madinah kepada orang-orang kafir Makkah untuk ditanyakan kepada Nabi, dengan menga- takan bahwa “hanya seorang Rasul yang sanggup menjawabnya”.

Walhasil, Arthur Koestler menyebut fenomena Yahudi Ashkenazi tersebut dengan istilah kehadiran orang-orang Kaukasian keturunan Japeth ke tenda Shem. “Orang-orang yang nenek moyangnya bukan dari Yordania, tapi dari Volga. Bukan dari Kanaan, tapi dari Kaukasus. Orang-orang yang secara genetik lebih dekat kepada bangsa Hun, Uighur, dan Magyar, ketimbang benih dari Ibrahim, Ishak, dan Ya’qub. Karena itulah, istilah antisemitisme kemudian menjadi hampa makna,” tulis Arthur Koestler.  Dengan mengungkap fakta itu, Koestler berharap masalah anti semitisme bisa hilang, sebab telah disanggah secara rasial.

Pengakuan Raja Khazar
Selain Khazaria, surga Yahudi di abad pertengahan adalah Spanyol. Khilafah Umayyah di Spanyol sedang dalam masa kejayaannya ketika Yahudi bermigrasi besarbesaran ke sana, menghindari pembatisan paksa dan penyiksaan dari para kaisar Romawi Byzantium.

Migrasi orang-orang Yahudi ke Spanyol tersebut difasilitasi khalifah atas permintaan menteri utamanya yang seorang Yahudi, Hasdai Ibn Shaprut. Di sana, di bawah naungan Islam, orang-orang Yahudi menjalani masa keemasan (golden age) kedua setelah masa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.

Tapi, berbeda dengan Yahudi Ashkenazi, orang-orang Yahudi di Spanyol ini lebih dikenal dengan istilah Yahudi Sephardi. Adanya orang-orang Yahudi yang membangun sebuah kerajaan di Khazaria, turut menarik perhatian Hasdai. Dia pertama kali mendengar adanya Kerajaan Yahudi Khazaria dari para pedagang asal Khurasan, Persia.

Semula dia tidak memercayainya. Karena, menurut ‘rukun iman’ orang Yahudi, hanya seorang messiah yang bisa merestorasi Kerajaan Daud dan Sulaiman. Tapi, setelah mengonfirmasi misi diplomat Byzantium yang berkunjung ke sana, Hasdai pun akhir-nya percaya. Tapi, kenyataan itu membuatnya penasaran.

Dia pun kemudian menyurati Raja Khazar saat itu, yang bernama Joseph. Dia menanyakan berbagai hal, antara lain dari suku manadari 12 suku Israel—dia berasal.

Sebab, dia menduga, raja Khazar tersebut berasal dari Palestina. Menjawab pertanyaan sulit itu, dalam surat balasannya Joseph menulis bahwa nenek moyangnya, Raja Bulan, adalah seorang penakluk bijaksana yang mengusir penyihir dan penyembah berhala dari negerinya.

Suatu ketika, malaikat muncul dalam mimpinya, mendesak dia untuk menyembah Tuhan yang satu, dan Tuhan menjanjikan akan memberkati dan memperbanyak keturunan Bulan, membuat musuh takluk di tangannya, dan membuat kerajaannya abadi hingga akhir dunia.

Arthur Koestler menilai jawaban Raja Joseph tersebut terinspirasi dari Kitab Kejadian Perjanjian Lama yang bercerita tentang janji Tuhan kepada Ibrahim. Dan, lewat cerita ini, Koestler menilai Khazar mencoba mengklaim dirinya sebagai ras terpilih yang membuat perjanjian dengan Tuhan, kendati mereka bukan keturunan Ibrahim dan Ya’kub.

Mendapat jawaban itu, Hasdai pun tertarik untuk berinteraksi lebih lanjut. Dia lalu mengirim lagi utusan ke Khazaria. Utusan itu bernama Isaac bar Nathan. Namun, utusannya hanya sampai Konstant inopel, yang karena keamanannya terancam, akhirnya pulang kembali ke Andalusia.

Tapi, kesempatan itu akhirnya datang juga, ketika duta dari Eropa timur tiba di Kordoba, yang dua di antaranya penganut Yahudi, yaitu MarSaul dan Mar Joseph, yang kemudian menawarkan diri mengantarkan surat Hasdai kepada Raja Khazar.

Dan, surat kali ini pun masih berisi pertanyaan menyelidik dari Hasdai. Hasdai menulis: “Saya masih sangat ingin tahu, apakah benar ada tempat di bumi ini, di mana orang-orang Israel dilecehkan, telah benar-benar memerintah dirinya sendiri dan tidak tunduk pada siapa pun. Jika itu memang telah terjadi, saya tidak ragu untuk meninggalkan semua kemuliaan saya, mengundurkan diri dari jabatan tinggi yang saya sandang, meninggalkan keluarga saya, dan melakukan perjalanan melintasi pegu nungan dan lembah, tanah dan air, untuk tiba di tempat tuanku Raja berkuasa… dan saya masih memiliki satu pertanyaan lagi yang berkaitan dengan itu, apakah Anda tahu mukjizat akhir zaman tentang kedatangan Messiah yang kita tunggu, yang akan mengembara dari satu negara ke negara lain....”

Joseph menjawab, telah berbohonglah orang yang menyatakan bahwa ‘tongkat’ Judah telah jatuh selamanya dari tangan kaum Yahudi dan tidak ada lagi selamanya tempat di bumi bagi mereka untuk mendirikan kerajaan. Sekadar informasi, Kerajaan Judah atau Yehuda atau Yudea yang beribukota Yerusalem, adalah kerajaan terakhir yang didirikan bani Israel, sebelum diruntuhkan oleh Nebukadnezar dari Babylonia.

Selanjutnya, Joseph menyampaikan genealogi kaumnya. Dia terus terang mengakui bukan keturunan Shem, tapi keturunan anak ketiga Nuh, yaitu Japhet/Yafits. Atau, lebih tepatnya, mereka adalah keturunan cucu Japhet yang bernama Togarma. Togarma, tulis dia, memiliki sepuluh anak, yang merupakan nenek moyang dari semua suku Turk.

Joseph menulis, “Kami telah mencatat silsilah keluarga kami, bahwa Togarma memiliki sepuluh anak, yang masing-masing bernama: Uighur, Dursu, Avars, Huns, Basilii,Tarniakh, Khazars, Zagora, Bul gars, Sabir. Kami adalah anak cucu Khazar, dari anak ketujuh (Togarma)…”

Surat menyurat Hasdai dengan Raja Khazar ini masih terdokumentasi dengan baik, yang bisa dilacak dengan mengetikkan kata kunci “Khazar Correspondence” di mesin pencari Google. Identitas sejumlah suku yang disebutkan oleh Joseph tersebut, agak meragukan bila disandingkan dengan teks Ibrani. Karakteristik yang ditampilkan dalam genealogi ini adalah menggabungkan Kitab Kejadian dengan tradisi suku-suku Turki.

Hal ini, menurut pendapat Arthur Koestler, sekaligus memperlihatkan bahwa Khazar adalah orang-orang Magog. Sebuah clue yang sebaiknya tak dikesampingkan, bahwa dalam salah satu hadis dari Zainab Binti Jahsh isteri Nabi SAW: “Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) telah dibukanya penutup Ya’juj dan Ma’juj seperti ini” beliau melingkarkan jari tangannya (dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90),

Aku bertanya; “Ya Rasulullah SAW, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orangorang shalih ?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim).

Kemunculan Khazaria ini di abad ke-7, tak berselang lama dengan masa hidup Nabi akhir zaman. Wallahu a’lam bishawab.

Gene Cannot Lie
Tapi, yang paling telak mengungkap penyamaran Yahudi Ashkenazi tersebut adalah pembuktian genetika. Tes DNA itu dilakukan oleh Eran Elhaik, seorang ahli genetika dari Universitas Johns Hopkins School of Public Health, Amerika Serikat.

Kesimpulan Elhaik, genom orang Yahudi Ashkenazi didominasi oleh komponen Khazaria, dengan angka fantastis, yaitu 3038 persen. Sementara, komponen Timur Tengah-nya —menurut wawancara khusus Haaretz dengan Elhaik— ternyata sangat kecil, sehingga sulit untuk mengatakan mereka berasal dari Kanaan atau Palestina.  “Temuan kami mendukung Khazarian Hypothesis,” katanya.

Hasil penelitiannya itu dipublikasikan di Jurnal Genome Biology and Evolution edisi 17 Januari 2013. Di jurnal terbitan Oxford University Press, itu, hasil penelitian itu ditulis dengan judul The Missing Link of Jewish European Ancestry: Contrasting the Rhineland and the Khazarian Hypothese.

Ilmuwan kelahiran Israel itu mengungkapkan, “Pertanyaan tentang siapa nenek moyang Yahudi (Ashkenazi) menjadi kontroversi selama lebih dari dua abad, dan belum terselesaikan… ini mendorong kami untuk meninjau kembali Khazarian Hypothesis dan membandingkannya dengan Rhineland Hypothesis. Kami melakukan perbandingan dan analisis genetika menggunak an populasi yang lebih luas,” tulis Elhaik.

Meski demikian, Elhaik menyatakan orang Khazar bukanlah satu-satunya nenek moyang Yahudi Eropa. Genom Yahudi Eropa, menurut dia, merupakan mosaik dari berbagai leluhur: dari kawasan Timur DekatKaukasus, Eropa, dan Semit.

“Intinya, genom Yahudi Eropa adalah sebuah mosaik dari berbagai masyarakat kuno, dan asalusulnya sebagian besar dari Khazar.” Mengutip Polak, Elhaik memaparkan bahwa Khazaria merupakan konfederasi dari berbagai suku —Slav, Scythian, Hun- Bulgar, Iran, Alans, dan Turki— yang membentuk sebuah imperium yang sangat kuat dan berkuasa di kawasan Kaukasus Utara-Tengah pada akhir Zaman Besi (Iron Age), dan kemudian memeluk Yahudi pada abad ke-8 Masehi.

Dalam penelitian Elhaik, tidak ada sampel DNA orang Khazar. Karena, bangsa ini bak hilang ditelan bumi setelah dihancurkan Mongol pada abad ke-13. Lalu, bagaimana membuktikan Yahudi Ashkenazi secara genetik keturunan Khazar, kalau sampelnya tak ada? Ternyata, untuk DNA Khazar, Elhaik mengambil sampelnya pada kaum yang diduga kuat berkaitan dengan orang Khazar, seperti Georgia, Armenia, dan orang Kaukasian lainnya. “Sumber genetika mereka sama,” katanya.

Dan, setelah melakukan analisis dengan berbagai teknik, yang menurutnya, sebagian di antaranya belum pernah digunakan peneliti sebelumnya, dia pun menemukan apa yang disebutnya sebagai ‘komponen Khazar’ pada Yahudi Eropa. Bahkan, dia menemukan unsur Khazarlah yang paling dominan dalam genom Yahudi Eropa, dibandingkan unsur lain.  “Komposisinya sekitar 30-38 persen,” katanya.

Elhaik mendapati adanya kesamaan antara Yahudi Ashkenazi dengan populasi Kauk asus jika ditinjau dari garis ayah (paternal line) ketika meneliti Y-Chromosom DNA, maupun garis ibu (maternal line) ketika meneliti Mitochondrial DNA. Dan, yang paling menarik, berdasarkan pemetaan Elhaik, kesamaan genom orang Yahudi Eropa itu tak tersebar di seluruh kawasan Khazaria, tapi terkonsentrasi di satu titik di kawasan Pegunungan Kaukasus.

Kawasan antara Laut Hitam dan Laut Kaspia, yang diduga banyak kalangan merupakan tempat Dzulqarnain membangun tembok besi untuk mengunci Ya’juj dan Ma’juj (Gog dan Ma- gog). Lalu, berapa persen genom orang Yahudi Eropa yang berasal dari Kanaan- Israel Palestina? Ternyata sangat kecil. Sehingga tidak cukup signifikan menjelaskan bahwa mereka adalah orang Yahudi dari Kerajaan Yudea atau Yehuda, yang kemudian bermigrasi ke Eropa.

 “Mayoritas tidak memiliki komponen gen Timur Tengah dalam kuantitas yang bisa kita harapkan untuk menyatakan mereka adalah keturunan Yahudi di masa lalu,” kata Elhaik seperti dikutip Haaretz. Ada sebuah pepatah menarik dalam pe- lacakan asal-usul nenek moyang seseorang secara genetis, yaitu gene cannot lie (gen tak mungkin berbohong). Ketika genom sese- orang dibawa ke laboratorium, maka riwayatnya akan terbongkar.  Implikasi dari hasil riset ini adalah sebuah pertanyaan besar dan mendasar: Apakah Yahudi Ashkenazi pantas mengklaim Tanah Suci Yerusalem, padahal nenek moyangnya dari Kaukasus? [yy/republika]

Oleh Harun Husein, Wartawan Republika