fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Sya'ban 1442  |  Minggu 11 April 2021

Banyaklah Mendengar daripada Bicara

Banyaklah Mendengar daripada Bicara


Fiqhislam.com - Manusia diberi dua telinga, sementara mulut hanya satu, maknanya supaya manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dengan mendengar maka lebih banyak mengambil pengetahuan, sementara orang yang banyak bicara terkadang bukan bertujuan untuk menyampaikan kebenaran, namun lebih banyak mengundang dosa.

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-busti dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala menyampaikan, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinga daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Dalam kitab tersebut Imam Abu Hatim menjelaskan bahwa sering kali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah daripada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan.

Hal itu dikarenakan apabila seseorang tengah berbicara, maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, apabila tidak sedang berbicara, maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.

Diam untuk mendengar adakalanya lebih baik daripada berbicara jika apa yang dibicarakan lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Seperti menggibah, menuduh, sampai mefitnah, hingga menimbulkan pertikaian dan permusuhan.

Sebagaimana yang dikatakan Ali ibn Abi Thalib ra, “Seseorang mati karena tersandung lidahnya dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya. Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya sedang tersandung kakinya akan sembuh perlahan.”

Banyak mendengar bukan berarti tidak boleh berbicara, namun perlu memilah-milah, mana waktu yang tepat utnuk berbicara dan mana waktu yang tepat untuk mendengarkan. [yy/republika]

 

Tags: Mendengar | Bicara | Lisan