17 Rajab 1444  |  Rabu 08 Februari 2023

basmalah.png

Jarjir: Ajarkan Aku Islam, Wahai Khalid!

Jarjir: Ajarkan Aku Islam, Wahai Khalid!

Fiqhislam.com - Dalam buku yang berjudul “Ksatria Pilihan di Sekitar Rasulullah” karya Abdurrahman Umairah dikisahkan, ketika kedua pasukan bertemu dan bertempur, salah seorang komandan pasukan Romawi yang bernama Jarjir keluar dari pertempuran dan berteriak memanggil Khalid bin Walid. Maka dia segera mendatanginya.

Jarjir berkata, “Wahai Khalid bin Walid beri tahu aku. Janganlah engaku berdusta. Orang yang merdeka itu tidak pernah berdusta dan orang yang mulia itu tidak pernah menipu. Apakah Tuhan kalian menurunkan pedang dari langit kepadamu yang kemudian engkau pergunakan untuk menghadapi musuh-musuhmu?”

Khalid bin Walid menjawab, “Tidak. Tidak pernah terjadi.”

Jarjir berkata, “Lalu mengapa engkau disebut dengan pedagang Allah?”

“Allah mengutus seorang Nabi-Nya kepada kami. Nabi menyeru kepada kami agar kami memeluk Islam. Kami mengenal Islam dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi kepada kami. Sebagian dari kami mendengar kata-katanya dan menjadi pengikutnya. Dan sebagian dari kami juga mengingkarinya dan menjauh darinya,” ujar Khalid.

“Aku sebelumnya termasuk orang yang mengingkari kenabiannya. Tetapi kemudian rupanya Allah menghendaki suatu kebaikan untukku. Dia memberiku petunjuk yang benar. Hingga aku membaiat Muhammad sebagai Nabi utusan Tuhan. Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang Allah yang dihunuskan-Nya kepada orang-orang musyrik.’ Rasulullah mendoakanku dengan doa kemenangan. Setelah itu aku dijuluki dengan pedang Allah. Aku di antara orang-orang yang paling keras dan kejam terhadap orang-orang musyrik,’” lanjutnya.

Jarjir berkata, “Wahai Khalid bin Walid, kepada apa kalian menyeru?”

Khalid bin Walid berkata, “Kami menyeru manusia agar mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian mengikuti setiap apapun yang datang dari Allah berupa perintah dan larangan-Nya.”

“Jika orang-orang tidak mau?” tanya Jarjir.

“Mereka harus membayar jizyah. Jika mereka membayar jizyah maka kami akan menjaga keamanannya,” kata Khalid.

“Jika mereka tidak mau membayar jizyah?” Tanya Jarjir kembali.

“Kami memeranginya,” jawab Khalid.

Setelah itu Jarjir masih terus bertanya kepada Khalid. Khalid menjelaskan kedudukan orang-orang yang menjawab seruan kaum muslimin memiliki kedudukan yang sama. Baik kaya maupun miskin, semuanya sama di hadapan Allah Swt. Kemudian bagi seseorang yang memeluk Islam hari ini mendapatkan ganjaran yang sama dengan orang-orang yang dahulu masuk Islam, bahkan lebih mulia.

Jarjir berkata “Bagaimana bisa sama?”

Khalid bin Walid menjawab, “Kami memeluk Islam ketika Nabi Muhammad hidup. Kami melihat turunnya wahyu. Kami melihat bukti-bukti yang dibawa oleh seorang Nabi. Kami mendengar keajaiban yang disampaikan Nabi kepada kami. Pantaslah bagi kami yang melihat dan mendengar semua itu untuk memeluk Islam dan kemudian membaiatnya.”

“Tetapi kalian tidak melihat sebagaimana yang kami lihat, dan tidak mendengar sebagaimana yang kami dengar. Jika ada di antara kalian yang memeluk agama Islam, maka kalian lebih mulia dari kami,” lanjutnya.

Jarjir berkata, “Demi Allah, engkau telah berkata jujur.”

Khalid bin Walid berkata, “Demi Allah aku berkata benar kepadamu. Allah mengilhamkanmu untuk bertanya demikian.”

Lalu seketika itu Jarjir membalikkan temengnya, dan berkata, “Wahai Khalid bin Walid ajarkanlah aku tentang Islam.”

Kemudian apa yang terjadi? Mayat berguguran di antara kedua belah pihak. Namun akhirnya pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Romawi. Pasukan Romawi mundur dari medan pertempuran dan sebanyak 120 ribu tentara Romawi mati terbunuh.

 

Jarjir: Ajarkan Aku Islam, Wahai Khalid!

Fiqhislam.com - Dalam buku yang berjudul “Ksatria Pilihan di Sekitar Rasulullah” karya Abdurrahman Umairah dikisahkan, ketika kedua pasukan bertemu dan bertempur, salah seorang komandan pasukan Romawi yang bernama Jarjir keluar dari pertempuran dan berteriak memanggil Khalid bin Walid. Maka dia segera mendatanginya.

Jarjir berkata, “Wahai Khalid bin Walid beri tahu aku. Janganlah engaku berdusta. Orang yang merdeka itu tidak pernah berdusta dan orang yang mulia itu tidak pernah menipu. Apakah Tuhan kalian menurunkan pedang dari langit kepadamu yang kemudian engkau pergunakan untuk menghadapi musuh-musuhmu?”

Khalid bin Walid menjawab, “Tidak. Tidak pernah terjadi.”

Jarjir berkata, “Lalu mengapa engkau disebut dengan pedagang Allah?”

“Allah mengutus seorang Nabi-Nya kepada kami. Nabi menyeru kepada kami agar kami memeluk Islam. Kami mengenal Islam dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi kepada kami. Sebagian dari kami mendengar kata-katanya dan menjadi pengikutnya. Dan sebagian dari kami juga mengingkarinya dan menjauh darinya,” ujar Khalid.

“Aku sebelumnya termasuk orang yang mengingkari kenabiannya. Tetapi kemudian rupanya Allah menghendaki suatu kebaikan untukku. Dia memberiku petunjuk yang benar. Hingga aku membaiat Muhammad sebagai Nabi utusan Tuhan. Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang Allah yang dihunuskan-Nya kepada orang-orang musyrik.’ Rasulullah mendoakanku dengan doa kemenangan. Setelah itu aku dijuluki dengan pedang Allah. Aku di antara orang-orang yang paling keras dan kejam terhadap orang-orang musyrik,’” lanjutnya.

Jarjir berkata, “Wahai Khalid bin Walid, kepada apa kalian menyeru?”

Khalid bin Walid berkata, “Kami menyeru manusia agar mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian mengikuti setiap apapun yang datang dari Allah berupa perintah dan larangan-Nya.”

“Jika orang-orang tidak mau?” tanya Jarjir.

“Mereka harus membayar jizyah. Jika mereka membayar jizyah maka kami akan menjaga keamanannya,” kata Khalid.

“Jika mereka tidak mau membayar jizyah?” Tanya Jarjir kembali.

“Kami memeranginya,” jawab Khalid.

Setelah itu Jarjir masih terus bertanya kepada Khalid. Khalid menjelaskan kedudukan orang-orang yang menjawab seruan kaum muslimin memiliki kedudukan yang sama. Baik kaya maupun miskin, semuanya sama di hadapan Allah Swt. Kemudian bagi seseorang yang memeluk Islam hari ini mendapatkan ganjaran yang sama dengan orang-orang yang dahulu masuk Islam, bahkan lebih mulia.

Jarjir berkata “Bagaimana bisa sama?”

Khalid bin Walid menjawab, “Kami memeluk Islam ketika Nabi Muhammad hidup. Kami melihat turunnya wahyu. Kami melihat bukti-bukti yang dibawa oleh seorang Nabi. Kami mendengar keajaiban yang disampaikan Nabi kepada kami. Pantaslah bagi kami yang melihat dan mendengar semua itu untuk memeluk Islam dan kemudian membaiatnya.”

“Tetapi kalian tidak melihat sebagaimana yang kami lihat, dan tidak mendengar sebagaimana yang kami dengar. Jika ada di antara kalian yang memeluk agama Islam, maka kalian lebih mulia dari kami,” lanjutnya.

Jarjir berkata, “Demi Allah, engkau telah berkata jujur.”

Khalid bin Walid berkata, “Demi Allah aku berkata benar kepadamu. Allah mengilhamkanmu untuk bertanya demikian.”

Lalu seketika itu Jarjir membalikkan temengnya, dan berkata, “Wahai Khalid bin Walid ajarkanlah aku tentang Islam.”

Kemudian apa yang terjadi? Mayat berguguran di antara kedua belah pihak. Namun akhirnya pasukan kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Romawi. Pasukan Romawi mundur dari medan pertempuran dan sebanyak 120 ribu tentara Romawi mati terbunuh.

 

Kekuatan Khalid Bin Walid Memimpin Pasukan Muslim

Kekuatan Khalid Bin Walid Memimpin Pasukan Muslim


Kekuatan Khalid Bin Walid Memimpin Pasukan Muslim


Fiqhislam.com - Sebagai pemuka pasukan Muslimin, perang pertama yang dijalani Khalid bin Walid adalah Perang Mu'tah. Dalam kecamuk peperangan itu, pembawa panji Islam telah gugur sebagai syahid. Kemudian, Tsabit bin Aqram merebut panji Islam dan mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berseru, Wahai sekalian kaum Anshar!

Maka, pasukan Muslimin segera mendatanginya. Di hadapan mereka, Khalid menerima panji dari tangan Tsabit. Demi Allah, aku Tsabit bin Aqram tidaklah mengambil bendera ini melainkan untuk aku serahkan kepadamu (Khalid).

Dengan semangat yang menyala-nyala, Khalid memimpin serangan balasan terhadap pasukan kafir Quraisy. Sejak Perang Mu'tah ini, tidak ada peperangan berikutnya dalam sejarah jihad Islam yang tidak disertai Khalid.

Sesudah wafatnya Rasulullah SAW, sejumlah golongan mengumumkan murtad dari agama Islam. Jazirah Arab kembali bergolak. Khalid  memimpin pasukan Muslim untuk menghadapi kaum yang menolak membayar zakat serta memecah-belah persatuan umat Islam itu.

Setelah situasi Jazirah Arab cukup kondusif, kekuasaan Islam mencakup hingga Irak dan perbatasan Syam (Suriah). Di Irak, pasukan Muslim bertemu dengan bala tentara Persia di bawah komando Raja Kisra yang lalim.

Khalid  memimpin pasukan Muslim sehingga memenangi pertempuran melawan pasukan Kisra. Usai itu, Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq kemudian memerintahkan pasukan Khalid  kembali ke negeri Syam. Di sana, sudah menunggu pasukan Romawi yang angkuh.

Khalid  membawa 10 ribu personel dari Irak melintasi padang pasir ke arah Syam. Mereka menerobos gersangnya gurun dengan perbekalan seadanya. Namun, semua dilalui dengan kepatuhan, keimanan yang teguh, dan kesabaran.

Sesampainya di tujuan, Khalid  melihat pasukan Romawi yang begitu besar jumlahnya. Ia tidak gentar dan segera mempersiapkan perlengkapan perangnya. Pertempuran antara pasukan Muslim dan pasukan Romawi terjadi di Ajnadin. Kemenangan berada pada pihak Khalid .

Setelah itu, pasukan Muslim bergerak menuju medan Yarmuk, di mana pasukan Romawi lainnya sudah menunggu.

Saat itu, jumlah pasukan Muslim tak lebih dari 45 ribu personel, sedangkan pasukan Romawi terdiri atas 200 ribu prajurit dengan perlengkapan perang yang lebih unggul.

Akan tetapi, Khalid  tak gentar dan berusaha mempelajari strategi musuh untuk kemudian menemukan kelemahan-kelemahan mereka. Baik perang di Ajnadin maupun Yarmuk berakhir dengan kekalahan di pihak Romawi. Sejak saat itu, negeri Syam bersih dari kekuasaan Romawi. [yy/republika]