17 Rajab 1444  |  Rabu 08 Februari 2023

basmalah.png

Enam Bekal Menuntut Ilmu

Enam Bekal Menuntut Ilmu

Fiqhislam.com - Menuntut ilmu bukan jalan yang penuh keriuhan. Suatu ketika, Imam Syafi'i menyampaikan nasihat kepada para muridnya. "Saudaraku, kalian tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara. Akan aku kabarkan keenam perkara itu kepadamu secara terperinci, yaitu kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal harta, duduk di majelis bersama guru, dan waktu yang lama."

Kecerdasan. Para ulama membagi kecerdasan menjadi dua. Pertama, bekal kecerdasan yang diberikan oleh Allah. Kedua, kecerdasan yang didapat dengan usaha. Misalnya, lewat mencatat, berdiskusi, atau mengulang-ulang materi. Semangat. Ilmu akan lebih mudah meresap apabila kita menyambutnya dengan antusias dan penuh semangat. Kesungguhan. Jalan menuntut ilmu bukan jalan mudah. Tanpa kesungguhan, niscaya seorang penuntut ilmu akan patah di tengah jalan.

Harta. Sebuah pepatah Jawa mengatakan, jer basuki mawa bea. Menuntut ilmu juga membutuhkan bekal harta. Para ulama terdahulu mengorbankan harta benda, bahkan nyawa, demi perjalanan mencari ilmu.  

Guru. Perkara ini sering kali dilupakan umat Islam hari ini. Generasi muda lebih akrab dengan sumber-sumber anonim, seperti jejaring sosial, mesin pencari, atau broadcasting yang beredar viral. Padahal, guru adalah otoritas yang akan membimbing kita mendapatkan pemahaman yang benar.

Waktu yang lama. Menuntut ilmu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Al-Qadhi Iyadh, seorang ulama hadis, pernah ditanya, "Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu? Beliau menjawab, "Sampai dia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur."

Muadz bin Jabal mengatakan, "Pelajarilah ilmu. Mempelajarinya karena Allah adalah khasyah, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah, menyerahkan kepada ahlinya adalah taqarrub. Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian."

 

Enam Bekal Menuntut Ilmu

Fiqhislam.com - Menuntut ilmu bukan jalan yang penuh keriuhan. Suatu ketika, Imam Syafi'i menyampaikan nasihat kepada para muridnya. "Saudaraku, kalian tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara. Akan aku kabarkan keenam perkara itu kepadamu secara terperinci, yaitu kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal harta, duduk di majelis bersama guru, dan waktu yang lama."

Kecerdasan. Para ulama membagi kecerdasan menjadi dua. Pertama, bekal kecerdasan yang diberikan oleh Allah. Kedua, kecerdasan yang didapat dengan usaha. Misalnya, lewat mencatat, berdiskusi, atau mengulang-ulang materi. Semangat. Ilmu akan lebih mudah meresap apabila kita menyambutnya dengan antusias dan penuh semangat. Kesungguhan. Jalan menuntut ilmu bukan jalan mudah. Tanpa kesungguhan, niscaya seorang penuntut ilmu akan patah di tengah jalan.

Harta. Sebuah pepatah Jawa mengatakan, jer basuki mawa bea. Menuntut ilmu juga membutuhkan bekal harta. Para ulama terdahulu mengorbankan harta benda, bahkan nyawa, demi perjalanan mencari ilmu.  

Guru. Perkara ini sering kali dilupakan umat Islam hari ini. Generasi muda lebih akrab dengan sumber-sumber anonim, seperti jejaring sosial, mesin pencari, atau broadcasting yang beredar viral. Padahal, guru adalah otoritas yang akan membimbing kita mendapatkan pemahaman yang benar.

Waktu yang lama. Menuntut ilmu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Al-Qadhi Iyadh, seorang ulama hadis, pernah ditanya, "Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu? Beliau menjawab, "Sampai dia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur."

Muadz bin Jabal mengatakan, "Pelajarilah ilmu. Mempelajarinya karena Allah adalah khasyah, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah, menyerahkan kepada ahlinya adalah taqarrub. Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian."

 

Tak Ada Kata Terlambat Mengejar Ilmu

Tak Ada Kata Terlambat Mengejar Ilmu


Tak Ada Kata Terlambat Mengejar Ilmu


Fiqhislam.com - Pentingnya meneguhkan ilmu dalam kehidupan seorang Muslim. Ulama, bukan umara, yang menjadi pewaris para Nabi. Allah SWT akan mengangkat kedudukan orang yang berilmu beberapa derajat di atas manusia lain. Walau, tak berarti Islam merendahkan kedudukan perniagaan atau harta dunia. Semua tetap mempunyai porsi masing-masing. 

Sekarang, marilah kita menyimak kisah Abu Hurairah. Dia tumbuh sebagai seorang yatim, kemudian hijrah sebagai seorang yang miskin. Dia menjadi seorang buruh dalam keluarga Busrah binti Ghazwan dengan imbalan makanan sekadar mengisi perut. Pada tahun ke-7 H, Abu Hurairah mendatangi Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Ilmu yang mengangkat derajat sahabat Nabi ini.

Abu Hurairah menemani Rasulullah hanya sekitar empat tahun. Akan tetapi, Abu Hurairah adalah periwayat hadis Nabi yang paling banyak dibanding sahabat-sahabat Rasulullah yang lain. Bagi Abu Hurairah, empat tahun bisa menjadi waktu yang panjang, penuh dengan ucapan, amal, dan pendengaran yang bermanfaat.

Abu Hurairah sadar ia baru masuk Islam belakangan. Karena itu, dia bertekad mencari kompensasi atas segala sesuatu yang telah terlewatkan. Tak ada kata terlambat untuk mengejar ilmu.

Dia rajin mengikuti Rasulullah dan hadir dalam setiap majelis Beliau SAW. Tekad dan kesungguhan itu didukung oleh kecerdasan yang Allah karuniakan. Abu Hurairah bukan seorang penulis, melainkan penghafal. Ia mampu menghafalkan setiap ucapan Rasulullah dengan tepat. [yy/republika]