5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Jihad Menebus Dosa

Jihad Menebus Dosa


Fiqhislam.com - Takdir Allah ternyata telah menggariskan kepergian Ikrimah bin Abu Jahal di medan perang ini. Ketika pasukan Muslim kian terdesak, dengan gagah berani Ikrimah memimpin beberapa pasukan untuk menggempur gelombang tentara Romawi. Panglima Khalid bin Walid sudah berupaya mencegah Ikrimah agar tidak terus maju karena mempertimbangkan kekuatan pasukan saat itu.

Ikrimah, kamu jangan bodoh! Kembali ke sini! Bila engkau mati, itu adalah kerugian besar bagi kaum Muslimin, seru Khalid bin Walid. Namun, seruan itu tidak menyurutkan semangat maju Ikrimah.

Biarkan saja, wahai Khalid. Biarkan aku menebus dosa-dosaku yang telah lalu. Aku telah memerangi Rasulullah SAW di beberapa medan peperangan sebelum ini. Maka, pantaskah aku setelah masuk Islam lari dari kejaran tentara Romawi? Tidak. Sama sekali tidak! jawab Ikrimah.

Setelah itu, dia menyeru kepada sejumlah pengikutnya, Siapakah di antara kalian yang berani mati bersamaku? Segera, beberapa Muslim mengambil posisi di samping Ikrimah.

Bersama-sama, mereka menerjang ke depan untuk menghalau pasukan Romawi yang terus merangsek maju. Bagaikan singa kelaparan, Ikrimah dan pasukannya berhasil memukul mundur tentara Romawi. Namun, tubuh Ikrimah sesungguhnya sudah mengalami luka-luka yang kian parah.

Di akhir pertempuran, jasad-jasad para syuhada bergeletak. Di antara mereka, ada tiga mujahid Muslim yang dalam keadaan kritis.

Sakaratul maut membayang di mata mereka:Ikrimah bin Abu Jahal dan dua orang sahabat- nya, Al-Harits bin Hisyam serta Ayyasy bin Abi Rabi'ah.

Ternyata, mereka dalam kondisi haus yang ter amat sangat. Seorang pasukan Muslim yang tersisa mendengar rintihan al-Harits dari kejauhan. Ia segera mendekatkan bejana berisi air ke mulut syuhada tersebut. Akan tetapi, sekilas pandangan mata al-Harits tertuju pada Ikrimah yang dalam kondisi persis seperti dirinya.

Berikan terlebih dulu air ini kepada Ikrimah, pinta al-Harits kepada pasukan Muslim itu.

Segera pembawa air tersebut beranjak ke dekat Ikrimah. Ketika air didekatkan ke mulutnya, Ikrimah melihat sosok Ayyasy tidak jauh dari tempatnya terbaring lemah. Kondisinya tidak kalah memilukan. Berikan dulu air ini kepada Ayyasy, pinta Ikrimah dengan suara parau.

Sang pembawa air minum kemudian berpindah ke dekat Ayyasy. Begitu air minum hendak dituangkan ke mulut Ayyasy, maut sudah tiba. Ayyasy mengembuskan napas terakhirnya. Segera, dia beranjak ke Ikrimah dan al-Harits. Namun, kedua pahlawan Muslim itu juga sudah wafat dengan luka-luka yang parah. Demikianlah. Di tengah situasi diri yang menjelang ajal, tiap-tiap syuhada ini telah menunjukkan sikap setia kawan yang besar dalam keimanan kepada Allah. [yy/republika]

Jihad Menebus Dosa


Fiqhislam.com - Takdir Allah ternyata telah menggariskan kepergian Ikrimah bin Abu Jahal di medan perang ini. Ketika pasukan Muslim kian terdesak, dengan gagah berani Ikrimah memimpin beberapa pasukan untuk menggempur gelombang tentara Romawi. Panglima Khalid bin Walid sudah berupaya mencegah Ikrimah agar tidak terus maju karena mempertimbangkan kekuatan pasukan saat itu.

Ikrimah, kamu jangan bodoh! Kembali ke sini! Bila engkau mati, itu adalah kerugian besar bagi kaum Muslimin, seru Khalid bin Walid. Namun, seruan itu tidak menyurutkan semangat maju Ikrimah.

Biarkan saja, wahai Khalid. Biarkan aku menebus dosa-dosaku yang telah lalu. Aku telah memerangi Rasulullah SAW di beberapa medan peperangan sebelum ini. Maka, pantaskah aku setelah masuk Islam lari dari kejaran tentara Romawi? Tidak. Sama sekali tidak! jawab Ikrimah.

Setelah itu, dia menyeru kepada sejumlah pengikutnya, Siapakah di antara kalian yang berani mati bersamaku? Segera, beberapa Muslim mengambil posisi di samping Ikrimah.

Bersama-sama, mereka menerjang ke depan untuk menghalau pasukan Romawi yang terus merangsek maju. Bagaikan singa kelaparan, Ikrimah dan pasukannya berhasil memukul mundur tentara Romawi. Namun, tubuh Ikrimah sesungguhnya sudah mengalami luka-luka yang kian parah.

Di akhir pertempuran, jasad-jasad para syuhada bergeletak. Di antara mereka, ada tiga mujahid Muslim yang dalam keadaan kritis.

Sakaratul maut membayang di mata mereka:Ikrimah bin Abu Jahal dan dua orang sahabat- nya, Al-Harits bin Hisyam serta Ayyasy bin Abi Rabi'ah.

Ternyata, mereka dalam kondisi haus yang ter amat sangat. Seorang pasukan Muslim yang tersisa mendengar rintihan al-Harits dari kejauhan. Ia segera mendekatkan bejana berisi air ke mulut syuhada tersebut. Akan tetapi, sekilas pandangan mata al-Harits tertuju pada Ikrimah yang dalam kondisi persis seperti dirinya.

Berikan terlebih dulu air ini kepada Ikrimah, pinta al-Harits kepada pasukan Muslim itu.

Segera pembawa air tersebut beranjak ke dekat Ikrimah. Ketika air didekatkan ke mulutnya, Ikrimah melihat sosok Ayyasy tidak jauh dari tempatnya terbaring lemah. Kondisinya tidak kalah memilukan. Berikan dulu air ini kepada Ayyasy, pinta Ikrimah dengan suara parau.

Sang pembawa air minum kemudian berpindah ke dekat Ayyasy. Begitu air minum hendak dituangkan ke mulut Ayyasy, maut sudah tiba. Ayyasy mengembuskan napas terakhirnya. Segera, dia beranjak ke Ikrimah dan al-Harits. Namun, kedua pahlawan Muslim itu juga sudah wafat dengan luka-luka yang parah. Demikianlah. Di tengah situasi diri yang menjelang ajal, tiap-tiap syuhada ini telah menunjukkan sikap setia kawan yang besar dalam keimanan kepada Allah. [yy/republika]

Ikrimah dan Dendam

Ikrimah dan Dendam


Ikrimah dan Dendam


Fiqhislam.com - Tidak selalu buah jatuh dekat pohonnya. Maknanya, seorang anak tidak mesti mengikuti jejak orang tuanya. Inilah yang terjadi pada Ikrimah bin `Amr bin Hisyam. Dia merupakan anak kandung tokoh Quraisy yang memusuhi Rasulullah SAW hingga akhir hayatnya. Ayahnya adalah Abu Jahal.

Sesungguhnya, Ikrimah sudah berusia dewasa ketika dakwah Islam tersiar terang-terangan. Namun, pengaruh ayahnya begitu dominan sehingga membuatnya berjarak dengan Rasulullah SAW. Beberapa sejarawan menyebut, bila tidak terhalang sikap permusuhan terbuka ayahnya, agaknya Ikrimah sudah sejak awal memeluk Islam.

Sebab, Ikrimah termasuk kalangan generasi muda bangsawan Makkah yang berpandangan progresif, sebagaimana misalnya Sa'ad bin Abi Waqqash atau Mush'ab bin Umair. Dengan begitu, kebencian Ikrimah terhadap Islam lebih sebagai wujud baktinya kepada sang ayah.

Akan tetapi, sikap Ikrimah terhadap Islam kian sengit setelah kematian Abu Jahal di medan Perang Badr. Sejarah mencatat, sosok berjuluk Firaun-nya Makkah itu berhasil diringkus dua prajurit Muslim, Mu`awwizh bin `Afra' dan Mu'azh bin `Amr bin al-Jamuh.

Eksekusi mati atas Abu Jahal dilakukan Abdullah bin Mas'ud. Beberapa riwayat menyebut Abu Jahal tewas di ajang pertempuran di depan mata Ikrimah. Sejak saat itu, Ibnu Abu Jahal ini menyimpan dendam kesumat terhadap umat Islam, terutama Rasulullah SAW.

Sepulang dari Perang Badr, Ikrimah tidak henti menyemangati penduduk Makkah agar siap-siap membalaskan dendam kepada Madinah.

Kesempatan datang dengan adanya Perang Uhud. Bersama istrinya, Ummu Hakam, Ikrimah terus menguatkan mental keras orang-orang Quraisy. Ummu Hakam bergabung dengan barisan perempuan yang mengiringi dari belakang pasukan musyrikin dengan mendendangkan yel-yel Jahiliyah.

Awalnya, tanda-tanda kemenangan berpihak pada pasukan Islam. Kelompok yang dipimpin Ikrimah juga sudah terpukul mundur.

Namun, kaum musyrikin di bawah pimpinan Khalid bin Walid memanfaatkan kelengahan mereka sehingga ujung dari Perang Uhud ini menjadi kekalahan yang menyakitkan bagi kaum Muslim. Banyak pejuang Muslim yang gugur secara mengenaskan. Rasulullah SAW sendiri mengalami luka-luka yang cukup parah. Inilah momentum Ikrimah menuntaskan dendam kematian ayahnya.

Dalam beberapa perang berikutnya, sikap Ikrimah tidak berubah meskipun hanya Uhud-lah ajang di mana kaum musyrikin meraih kemenangan. Saat Perang Khandaq terjadi, orang-orang Quraisy tidak menyangka kaum Muslim Madinah menggunakan strategi Persia yang belum pernah mereka jumpai.

Tidak ada jalan lain kecuali menunggu di seberang parit (khandaq)yang telah kaum Muslim bangun untuk melindungi Madinah dari gempuran. Pasukan musyrikin tidak melihat celah. Bagi Ikrimah, hal itu sangat menjemukan. Dengan persiapan yang belum matang, pria ini kemudian berupaya menembus blokade parit untuk masuk ke Madinah. Namun, upaya ini sia-sia.

Ikrimah bahkan, terpaksa lari tunggang-langgang untuk menghindari hujan panah dari pasukan Muslim.

Tanda-tanda kemunduran kaum musyrik kian tampak setelah Perang Khandaq. Puncaknya terjadi pada peristiwa penaklukan Makkah (fath Makkah). Kaum Quraisy benar- benar tidak berdaya menghadapi gelombang kaum Muslim yang bergerak dari arah Madinah.

Bagaimanapun, tidak ada pertumpahan darah karena begitulah komitmen Rasulullah SAW dalam menguasai kota kelahirannya itu. Sasaran beliau hanya meruntuhkan berhala-berhala dan menyadarkan sekalian manusia bahwa hanya Allah yang berhak di sembah.

Para petinggi Quraisy sudah memutuskan diam di tempat, tidak menghalangi Rasulullah SAW dan kaum Muslim untuk menguasai Makkah. Mereka sadar diri kolektif sudah lemah. Dalam peristiwa ini, bagaimanapun Ikrimah masih tidak suka terhadap pengaruh Islam.

Ikrimah melawan konsensus para pemuka Quraisy itu sehingga memimpin beberapa pengikutnya untuk berupaya menyerang pasukan Muslim. Namun, upaya Ikrimah berhasil dipatahkan Khalid bin Walid, yang kini menjadi seorang panglima Muslim. Lantaran takut dihukum mati, Ikrimah melarikan diri ke arah Yaman. [yy/republika]

 

Tags: Jihad | Dosa | Syuhada