27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Nasihat Tulus Ulama untuk Sang Khalifah

Nasihat Tulus Ulama untuk Sang Khalifah

Fiqhislam.com - Hubugan ulama dan umara pada masa kejayaan Islam sangatlah erat. Ulama kerap memberikan nasihat kepada para penguasa. Nasihat tersebut disampaikan dengan penuh ketulusan dan transparansi, tanpa ada basa-basi dan mengagungkan yang berlebihan. Keterbukaan itu terkadang membuat para khalifah menitikkan air mata.

Seperti yang terjadi antara Sulaiman bin Abd al-Malik, khalifah Dinasti Umayyah dan seorang tokoh ulama dari Madinah, Salamah bin Dinar atau yang sering pula dipanggil Abu Hazim al-A'raj. Peristiwa yang dinukilkan dari Mereka Adalah Para Tabiin karya Abdurrahman Ra'fat Basya ini berlangsung pada 97 H.

Ketika itu, Sulaiman dan rombongan melakukan ziarah ke Madinah. Semua pejabat dan para tokoh hadir menyambut kedatangan penguasa yang dielu-elukan itu kecuali sejumlah tokoh teladan dan tepercaya, termasuk Salamah.  

Di sela-sela sambutan meriah itu, sang khalifah berkata, “Sesungguhnya, hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang mengingatkan dan membersihkan karatnya.” Mereka berkata, “Benar wahai Amirul Mukminin.”

Lalu, beliau berkata, “Tidak adakah di Madinah ini seseorang yang bisa menasihati kita, seseorang yang pernah berjumpa dengan para sahabat Rasulullah?” Mereka menjawab, “Ada wahai Amirul Mukminin, di sini ada Abu Hazim al-A'raj.”

Beliau bertanya, “Siapakah itu Abu Hazim?” mereka menjawab, “Dialah Salamah bin Dinar, seorang alim, cendekia, dan imam di Kota Madinah. Beliau termasuk salah satu tabi'in yang pernah bersahabat baik dengan beberapa sahabat utama.” Khalifah berkata, “Kalau begitu, panggillah beliau kemari, namun berlakulah sopan kepada beliau!”

Para pembantu dekat khalifah pun pergi memanggil Salamah bin Dinar.

Setelah Abu Hazim datang, khalifah menyambut dan membawanya ke tempat pertemuannya.

“Mengapa Anda demikian angkuhnya terhadapku wahai Abu Hazim?” ujar sang khalifah.

“Angkuh yang bagaimana yang Anda maksud dan Anda lihat dari saya wahai Amirul Mukminin,” tutur Salamah.

“Semua tokoh Madinah datang menyambutku, sedang Anda tak menampakkan diri sama sekali.”

Abu Hazim menjawab, “Dikatakan angkuh itu adalah setelah perkenalan, sedangkan Anda belum mengenal saya dan saya pun belum pernah melihat Anda. Maka keangkuhan mana yang telah saya lakukan?”

“Benar alasan syekh dan khalifah telah salah berprasangka. Dalam benakku banyak masalah penting yang ingin aku utarakan kepada Anda wahai Abu Hazim,” kelit sang khalifah.

“Katakanlah wahai Amirul Mukminin, Allah tempat memohon pertolongan.”

“Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?” tanya sang khalifah.

“Karena kita memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita. Akhirnya, kita benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran,” jawab Abu Hazim.

“Anda benar. Wahai Abu Hazim, apa bagian kita di sisi Allah kelak?”

“Bandingkan amalan Anda dengan Alquran, niscaya Anda bisa mengetahuinya,” kata Salamah.

“Dalam ayat yang mana saya dapat menemukannya?” kata sang khalifah kembali bertanya.

“Anda bisa temukan dalam firman-Nya yang suci: Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS al-Infithar: 13-14).

“Jika demikian, di manakah letak rahmat Allah SWT?” sang khalifah bertanya kembali.

“Sesungguhnya, rahmat Allah itu dekat sekali dengan mereka yang berbuat kebajikan,” jawab Salamah sembari membacakan ayat Alquran.

Khalifah bertanya lagi, “Lalu, bagaimana kita menghadap kepada Allah kelak, wahai Abu Hazim?”

“Orang-orang yang baik akan kembali kepada Allah seperti perantau yang kembali kepada keluarganya, sedangkan yang jahat akan datang seperti budak yang curang atau lari, lalu diseret kepada majikannya dengan keras,” jawab Salamah.

Khalifah menangis mendengarnya sampai keluar isaknya, kemudian berkata, “Wahai Abu Hazim, bagaimana cara memperbaiki diri?”

“Dengan meninggalkan kesombongan dan berhias dengan muru'ah (menjaga kehormatan),” tutur Salamah.

“Bagaimana cara memanfaatkan harta benda agar ada nilai takwa kepada Allah SWT?” Sulaiman kembali bertanya.

“Bila Anda mengambilnya dengan cara yang benar dan meletakkan di tempat yang benar pula, lalu Anda membaginya dengan merata dan berlaku adil terhadap rakyat,” tutur Salamah.

“Wahai Abu Hazim, jelaskan kepadaku, siapakah manusia yang paling mulia itu?”

“Yaitu, orang-orang yang menjaga muru'ah dan bertakwa,” ungkap Salamah.

“Lalu, perkataan apa yang paling besar manfaatnya?”

“Perkataan yang benar, yang diucapkan di hadapan orang yang ditakuti dan diharap bantuannya,” kata Salamah.

Khalifah bertanya, “Wahai Abu Hazim, doa manakah yang paling mustajab?”

“Doanya orang-orang baik untuk orang-orang baik,” jawab Salamah.

“Sedekah manakah yang paling utama?”

Salamah menjawab, “Sedekah dari orang yang kekurangan kepada orang yang memerlukan tanpa menggerutu dan kata-kata yang menyakitkan.”

“Wahai Abu Hazim, siapakah orang yang paling dermawan dan terhormat?”

“Orang yang menemukan ketaatan kepada Allah SWT lalu diamalkan dan diajarkan kepada orang lain,” tutur Salamah.

“Siapakah orang yang paling dungu?”

Salamah berkata, “Orang yang terpengaruh oleh hawa nafsu kawannya, padahal kawannya tersebut orang yang zalim. Maka, pada hakikatnya dia menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia orang lain.”

Merasa mendapatkan jawaban yang memuaskan dan menemukan sosok penasihat yang mumpuni, sang khalifah menawarkan tawaran kepada Salamah. “Wahai Abu Hazim, maukah engkau mendampingi kami agar kami bisa mendapatkan sesuatu darimu dan Anda mendapatkan sesuatu dari kami?”

Namun, Salamah menolaknya.

“Mengapa?” tanya sang khalifah.

“Saya khawatir kelak akan condong kepada Anda sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala menghukum saya dengan kesulitan di dunia dan siksa di akhirat,” jawab Salamah.

“Utarakanlah kebutuhan Anda kepada kami wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim tidak menjawab sehingga khalifah mengulangi pertanyaannya, “Wahai Abu Hazim, utarakan hajat-hajatmu, kami akan memenuhi sepenuhnya.”

“Hajat saya ialah selamat dari api neraka dan masuk surga,” ujar Salamah.

“Itu bukan wewenang kami, wahai Abu Hazim.”

“Saya tidak memiliki keperluan selain itu wahai Amirul Mukminin,” kata Salamah menimpali perkataan sang khalifah. [yy/republika]