18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

The Art of Listening

Fiqhislam.com - Kita selalu beranggapan bahwa berbicara di depan umum itu sungguh sulit dan menakutkan, sehingga perlu banyak latihan dan membuat persiapan. Namun, sesungguhnya untuk menjadi pendengar yang baik pun sungguh tidak mudah.

Dalam bahasa Inggris dibedakan antara listening dan hearing.  Mendengar (hearing) itu berkaitan dengan getaran suara yang bersifat fisik. Suara apapun yang terjadi di sekitar kita maka akan terdengar, kecuali bagi mereka yang gendang telinganya ada kelainan (tuli).

Mendengar (to hear) mirip dengan melihat (to see). Apapun obyek yang tertangkap mata akan terlihat, namun jika tidak disertai perhatian khusus benda-benda sekitar yang terlihat akan terus berlalu tanpa makna. Ini mirip kerja telinga, suara apapun yang terdengar tidak meninggalkan pesan dan makna jika tidak disertai kesiapan hati dan pikiran untuk menerima dan menghargainya secara aktif.

Adapun mendengarkan (to listen) berkaitan dengan makna dan pesan yang tersimpan di balik suara atau di antara kata-kata. Ini diperlukan latihan dan kesiapan mental serta ketulusan untuk menerima dan menghargai orang lain. Krishnamurti lebih jauh mengingatkan, apakah kita sudah menjadi a good listener ataukah belum. Dia bertanya, apakah Anda terbiasa mendengarkan gemericik air, hembusan angin, suara dedaunan, dan apakah Anda suka mengadakan dialog dengan semua itu?

Mereka yang tidak biasa melakukan meditasi akan sulit mendengarkan yang tak terkatakan. "Mengingat to listen is to develop an inner silence," katanya. Hanya dalam keheningan hati maka seseorang bisa mendengarkan dengan baik. Oleh karena itu sangat mungkin sekelompok orang yang kelihatannya asyik saling berbicara, namun sesungguhnya masing-masing tidak mendengarkan dengan baik, karena yang lebih menonjol adalah ego masing-masing untuk berbicara dan ingin didengarkan.

Untuk menjadi pendengar yang baik kita tidak mesti latihan bermeditasi ke tempat yang sunyi, namun yang penting membiasakan membuka ruang hati untuk menerima dan menghargai pembicaraan orang lain, apapun isinya. Rasanya jarang sekali anak-anak kita selama sekolah memeroleh latihan khusus bagaimana mendengarkan. Padahal ini sangat penting, baik dalam pergaulan maupun proses pembelajaran. Karena tidak terbiasa sejak kecil, akan terbawa setelah seseorang menjadi dewasa. Coba saja perhatikan dalam satu majelis atau forum pertemuan, akan terlihat siapa-siapa saja yang tidak bisa jadi pendengar yang baik. Bahkan ada yang ngobrol sendiri di saat orang lain berbicara di podium. Sungguh ini tindakan yang tidak etis.

Saya pernah menemukan sebuah sekolah yang memiliki program khsus mendidik para siswanya untuk latihan mendengarkan. Gurunya berbicara pelan tanpa pengeras suara, murid-murid diam mendengarkan tanpa pegang catatan. Perhatiannya tertuju pada mulut guru. Ibu gurunya berbicara pelan, dengan gramatika yang benar dan aksentuasi yang indah. Setelah berbicara sekitar dua puluh menit, para murid diminta menulis apa yang didengarkan. Dan hasilnya semakin meningkat dari latihan ke latihan. Kebiasaan menjadi pendengar yang baik ini sangat membantu para siswa untuk menangkap pelajaran lebih efektif ketika mendengarkan penjelasan dari guru.

Dalam Islam sesungguhnya salat merupakan latihan menjadi pendengar yang baik. Salat merupakan aktivitas meditatif. Ketika salat, seseorang mendengarkan suara dirinya sendiri, terutama ketika bacaannya pelan. Bahkan dalam salat atau berdoa seseorang diajak menghayati dan meyakini bahwa dia tengah berdialog dengan Tuhan yang Maha Mendengar dan Maha Berbicara. Dengan demikian, mereka yang setiap harinya melakukan salat atau doa, mestinya terlatih menjadi pendengar yang baik. Tetapi ternyata tidak selalu demikian.

Saya sendiri lebih senang mendengarkan ceramah atau doa dengan bahasa yang pelan, lembut, singkat, sehingga hati yang lebih aktif mendengarkan (to listen), bukan sekadar telinga (to hear). Tentu saja ceramah yang lantang sekali-sekali diperlukan, dan memang ada orang yang lebih senang berpidato yang penuh semangat, berapi-api. Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi mendengarkan itu paling lama empat puluh lima menit, itupun kalau menarik dan suasananya nyaman. Kalau tidak, mungkin lima belas menit orang bertahan mendengarkan, siasanya hanya mendengar.

Untuk menjadi pendengar terhadap orang lain, kita belajar dengan mendengarkan terhadap diri sendiri. Ada kalimat sindiran: You know, I have always prepared myself to speak, but I have never prepared myself to listen. Saya sendiri kurang tahu asal-usulnya, di DPR itu ada tradisi hearing, tapi bukan listening.


 
Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.