30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Roda Kereta Firaun Ditemukan di Laut Merah

Roda Kereta Firaun Ditemukan di Laut Merah

Fiqhislam.com - Dugaan dan penafsiran yang makin menguatkan penemuan jasad Firaun dan peristiwa yang menimpanya di Laut Merah itu adalah ditemukannya roda kereta di laut ini.

Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt, melalui situsnya www.wyattmuseum.com, pada akhir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar Laut Merah.

Menurut Wyatt, benda-benda tersebut kemungkinan merupakan bangkai kereta tempur Firaun yang tenggelam di lautan ketika ia dan pasukannya mengejar Musa bersama para pengikutnya.

Wyatt menyatakan, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, bersama timnya ia juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda di tempat yang sama. Temuan ini makin memperkuat dugaan kebenaran tenggelamnya Firaun bersama balatentaranya di Laut Merah.

Hasil pengujian, yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan, menunjukkan bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam.

Selain itu, Wyatt juga menemukan sejumlah poros roda dari salah satu kereta kuda tersebut dan sebuah roda dengan empat buah jeruji yang terbuat dari emas. Namun, poros roda itu tertutup oleh batu karang sehingga sangat sulit untuk mengenali bentuk aslinya secara jelas.

Penemuan benda-benda tersebut serta jasad Firaun hendaknya menjadi pelajaran bagi manusia untuk mengambil hikmah. ''Maka, pada hari ini, Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.'' (QS Yunus [10]: 92).

 

Roda Kereta Firaun Ditemukan di Laut Merah

Fiqhislam.com - Dugaan dan penafsiran yang makin menguatkan penemuan jasad Firaun dan peristiwa yang menimpanya di Laut Merah itu adalah ditemukannya roda kereta di laut ini.

Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt, melalui situsnya www.wyattmuseum.com, pada akhir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar Laut Merah.

Menurut Wyatt, benda-benda tersebut kemungkinan merupakan bangkai kereta tempur Firaun yang tenggelam di lautan ketika ia dan pasukannya mengejar Musa bersama para pengikutnya.

Wyatt menyatakan, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, bersama timnya ia juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda di tempat yang sama. Temuan ini makin memperkuat dugaan kebenaran tenggelamnya Firaun bersama balatentaranya di Laut Merah.

Hasil pengujian, yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan, menunjukkan bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam.

Selain itu, Wyatt juga menemukan sejumlah poros roda dari salah satu kereta kuda tersebut dan sebuah roda dengan empat buah jeruji yang terbuat dari emas. Namun, poros roda itu tertutup oleh batu karang sehingga sangat sulit untuk mengenali bentuk aslinya secara jelas.

Penemuan benda-benda tersebut serta jasad Firaun hendaknya menjadi pelajaran bagi manusia untuk mengambil hikmah. ''Maka, pada hari ini, Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.'' (QS Yunus [10]: 92).

 

Dimanakah Firaun Ditenggelamkan?

Dimanakah Firaun Ditenggelamkan?


Dimanakah Firaun Ditenggelamkan?


Fiqhislam.com - Apakah di Laut Tengah atau di Laut Merah? Para sejarawan berselisih pendapat mengenai lokasi ditenggelamkannya Firaun.

Ada yang menyatakan di Laut Tengah dan ada pula yang menyatakan peristiwa itu terjadi di Laut Merah. Alquran pun tidak menjelaskan secara perinci, kecuali menyebutkan di sebuah lautan. Peristiwa itu terjadi sekitar 3.500 tahun yang lalu atau sekitar 1.500 Sebelum Masehi (SM).

Beberapa sumber menunjukkan, pantai Laut Tengah di Mesir sebagai tempat lautan terbelah. Dalam Ensiklopedia Judaica, dikatakan, ''Pendapat mayoritas dewasa ini mengidentifikasi Laut Merah dalam eksodus sebagai sebuah laguna di pantai Laut Tengah.''

Dalam Kitab Keluaran pada Perjanjian Lama, dikatakan bahwa kejadiannya adalah di Migdol dan Baal-Zephon yang terletak di sebelah utara delta. Pandangan ini berdasarkan Perjanjian Lama.

Disebutkan pula bahwa Firaun dan orang-orangnya ditenggelamkan di Laut Merah. Namun, menurut mereka yang berpegang pada pandangan ini, kata yang diterjemahkan sebagai "Laut Merah (Red Sea)" sebenarnya adalah "Lautan Alang-Alang (Sea of Reeds)".

Kata ini dikenal sebagai "Laut Merah" dalam berbagai sumber dan digunakan untuk lokasi tersebut. Namun, "Lautan Alang-Alang" sebenarnya digunakan untuk merujuk kepada pantai Laut Tengah di Mesir. Dalam Perjanjian Lama, ketika menyebutkan jalur yang diambil oleh Musa dan para pengikutnya, kata Migdol dan Baal-Zephon disebutkan dan tempat-tempat ini terletak di utara Delta Nil di pantai Mesir.

Sebagai implikasinya, Lautan Alang-Alang mendukung kemungkinan bahwa kejadian tersebut terjadi di pantai Mesir. Karena, di daerah ini, sesuai dengan namanya, banyak tumbuh alang-alang berkat tanah lumpur delta.

Pendapat yang paling masyhur mengenai peristiwa itu adalah terjadi di Laut Merah. Dalam Alquran terjemahan Departemen Agama tentang ayat 138 surah Al-A'raf [7]) ataupun Albaqarah [2] ayat 50, lokasi tempat Musa menyeberangi lautan itu adalah di sebelah utara Laut Merah.

Laut Merah (Arab: Bahr al-Ahmar) adalah sebuah teluk di sebelah barat Jazirah Arab yang memisahkan benua Asia dengan Afrika. Jalur ke laut di selatan melewati Bab al-Mandib dan Teluk Aden. Sedangkan, di utara terdapat Semenanjung Sinai dan Terusan Suez. Menurut situs wikipedia, laut ini pada tempat yang terlebar berjarak 300 km dan panjangnya 1.900 km dengan titik terdalam 2.500 m. Laut Merah juga menjadi habitat bagi berbagai makhluk air dan koral.

Pendapat yang menyebutkan peristiwa itu terjadi di Laut Merah makin diperkuat dengan ditemukannya roda kereta di dalamnya. Diduga, roda kereta itu dipergunakan Firaun dan pasukannya saat mengejar Nabi Musa AS. Wallahualam.

 

Ketika Firaun Ditenggelamkan

Ketika Firaun Ditenggelamkan


Ketika Firaun Ditenggelamkan


Fiqhislam.com - ''Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.'' (QS Albaqarah [2]: 50).

''Dan, Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu. Maka, setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, Bani Israil berkata, 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab, 'Sesungguhnya, kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)'.'' (QS Al-A'raf [7]: 138).

''Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.' Maka, terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.'' (QS Asysyuara [26]: 63).

Ayat-ayat di atas adalah sebagian dari kisah yang diterangkan dalam Alquran tentang pengejaran Firaun terhadap Nabi Musa AS, Nabi Harun, dan kaum Bani Israil, pengikut Musa.

Ketika mereka (Musa dan kaumnya) meninggalkan Mesir, Firaun tampak sangat marah. Ia merasa Bani Israil sudah tidak mempercayainya lagi. Karena itu, ketika Musa dan kaumnya pergi meninggalkan Mesir, Firaun memerintahkan pasukannya untuk mengejar dan menangkap Musa dan kaumnya.

Dalam perjalanan pengejaran tersebut, saat Musa dan kaumnya berada di pinggir pantai, Bani Israil merasa khawatir kalau mereka akan terkejar oleh Firaun dan pasukannya. Nabi Musa AS mengingatkan kaumnya bahwa mereka tidak akan terkejar karena Allah pasti akan menolongnya.

Hingga akhirnya, Allah memerintahkan Nabi Musa AS untuk memukulkan tongkatnya ke lautan dan atas izin Allah. Maka, terbelahlah lautan tersebut, yang tiap-tiap sisi belahan laut itu setinggi gunung (QS 26: 63).

Maka, Musa dan kaumnya menyeberangi lautan tersebut hingga tiba di seberangnya. Sementara itu, Firaun dan pasukannya sedang berada di tengah-tengah lautan. Ketika itu pula, Allah memerintahkan Musa supaya memukulkan kembali tongkatnya hingga akhirnya tertutuplah lautan tersebut dan menenggelamkan Firaun beserta pasukannya. Sampai kemudian, jasadnya berhasil ditemukan oleh orang-orang Mesir dan kemudian tubuhnya diawetkan (QS Yunus [10]:92). Jasadnya hingga kini masih dapat disaksikan di Museum Tahrir, Mesir. [yy/republika]