30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Jejak Sejarah Nabi Zulkifli

Jejak Sejarah Nabi Zulkifli

Fiqhislam.com - Kifl hanyalah sebuah kota kecil, jumlah penduduknya sekitar 15 ribu jiwa. Terletak di selatan Baghdad di tepi Sungai Eufrat. Tetapi, Kifl menjadi sangat istimewa bagi umat Islam dan Yahudi, karena adanya sebuah makam yang bernilai sejarah tinggi di sana.

Itulah makam Nabi Zulkifli AS, setidaknya demikian kepercayaan masyarakat di sana. Setiap tahun, ratusan hingga ribuan orang, baik dari umat Islam maupun Yahudi, datang untuk berziarah.

Makam ini berlokasi di antara Kota Hillah dan Najaf. Di dalam kompleks terdapat masjid dan menara. Dari keyakinan yang berkembang, kaum Yahudi-lah yang pertama kali membangun makam itu untuk menghormati nabi mereka, Ezekiel.

Tahun 1316, mengutip situs archnet.org, Sultan Uljaitu dari Irak, mengambil alih pengawasan dan pengelolaan makam dari orang-orang Yahudi. Setelah itu, makam tersebut diganti namanya sesuai dengan nama Islam, yakni makam Nabi Zulkifli.

Sultan Uljaitu pula yang kemudian membangun masjid dan menara di lokasi yang sama. Makam ini tetap menjadi tempat berziarah umat Islam hingga awal abad ke-19, ketika seorang kaya Yahudi, Menahim Ibn Danyal, mengambil alih kembali, merestorasi, dan membangun kubah besar. Tak heran jika pemakaman itu dihiasi oleh perpaduan ornamen Islam dan Yahudi.

Kompleks di Kifl bukanlah satu-satunya tempat yang diyakini sebagai makam Nabi Zulkifli. Pada situs pencari informasi wikipedia, disebutkan pula sebuah lokasi di Jabal Qasioun, dekat ibu kota Damaskus, Syria.

Menurut kepercayaan para penganut Sunni, Jabal Qasioun adalah juga mihrab dari 40 nabi, yang senantiasa melaksanakan shalat menjelang fajar. Umat Islam di sana juga percaya situs bersejarah ini merupakan tempat terjadinya peristiwa pembunuhan Habil oleh Qabil.

Lokasi lain adalah di Al Damun. Nama Al Damun bahkan sudah muncul pada sumber-sumber literatur Arab dan Persia kuno. Makam ini ditemukan oleh Nasir Khusraw pada tahun 1047. Dia menulis, ''Saya mencapai sebuah gua kecil, berada di Damun, dan diyakini sebagai makam Nabi Zulkifli.''

Al Damun sendiri adalah sebuah desa kecil berjarak 11,5 kilometer dari Kota Acre. Desa ini dikosongkan saat berkecamuk perang Arab-Israel tahun 1948. Sebelumnya, desa itu dihuni oleh sekitar 1.310 penduduk, sebagian besar umat Islam dan sisanya adalah penganut Nasrani.

 

Jejak Sejarah Nabi Zulkifli

Fiqhislam.com - Kifl hanyalah sebuah kota kecil, jumlah penduduknya sekitar 15 ribu jiwa. Terletak di selatan Baghdad di tepi Sungai Eufrat. Tetapi, Kifl menjadi sangat istimewa bagi umat Islam dan Yahudi, karena adanya sebuah makam yang bernilai sejarah tinggi di sana.

Itulah makam Nabi Zulkifli AS, setidaknya demikian kepercayaan masyarakat di sana. Setiap tahun, ratusan hingga ribuan orang, baik dari umat Islam maupun Yahudi, datang untuk berziarah.

Makam ini berlokasi di antara Kota Hillah dan Najaf. Di dalam kompleks terdapat masjid dan menara. Dari keyakinan yang berkembang, kaum Yahudi-lah yang pertama kali membangun makam itu untuk menghormati nabi mereka, Ezekiel.

Tahun 1316, mengutip situs archnet.org, Sultan Uljaitu dari Irak, mengambil alih pengawasan dan pengelolaan makam dari orang-orang Yahudi. Setelah itu, makam tersebut diganti namanya sesuai dengan nama Islam, yakni makam Nabi Zulkifli.

Sultan Uljaitu pula yang kemudian membangun masjid dan menara di lokasi yang sama. Makam ini tetap menjadi tempat berziarah umat Islam hingga awal abad ke-19, ketika seorang kaya Yahudi, Menahim Ibn Danyal, mengambil alih kembali, merestorasi, dan membangun kubah besar. Tak heran jika pemakaman itu dihiasi oleh perpaduan ornamen Islam dan Yahudi.

Kompleks di Kifl bukanlah satu-satunya tempat yang diyakini sebagai makam Nabi Zulkifli. Pada situs pencari informasi wikipedia, disebutkan pula sebuah lokasi di Jabal Qasioun, dekat ibu kota Damaskus, Syria.

Menurut kepercayaan para penganut Sunni, Jabal Qasioun adalah juga mihrab dari 40 nabi, yang senantiasa melaksanakan shalat menjelang fajar. Umat Islam di sana juga percaya situs bersejarah ini merupakan tempat terjadinya peristiwa pembunuhan Habil oleh Qabil.

Lokasi lain adalah di Al Damun. Nama Al Damun bahkan sudah muncul pada sumber-sumber literatur Arab dan Persia kuno. Makam ini ditemukan oleh Nasir Khusraw pada tahun 1047. Dia menulis, ''Saya mencapai sebuah gua kecil, berada di Damun, dan diyakini sebagai makam Nabi Zulkifli.''

Al Damun sendiri adalah sebuah desa kecil berjarak 11,5 kilometer dari Kota Acre. Desa ini dikosongkan saat berkecamuk perang Arab-Israel tahun 1948. Sebelumnya, desa itu dihuni oleh sekitar 1.310 penduduk, sebagian besar umat Islam dan sisanya adalah penganut Nasrani.

 

Siapakah Zulkifli

Siapakah Zulkifli


Siapakah Zulkifli


Fiqhislam.com - Sejatinya, tidak banyak kisah sejarah Nabi Zulkifli yang dituliskan dalam Alquran. Tercatat, hanya dua ayat yang terkait namanya, yakni pada surat Al Anbiyaa ayat 85 serta surat Shaad ayat 48.

Al Hafizh Ibn Katsir dalam bukunya yang terkenal, Kisah Para Nabi dan Rasul, menempatkan Zulkifli pada urutan ke-12. Dia berada di bawah Nabi Ayyub, yang dikatakan adalah ayah dari Zulkifli.

Meski demikian, masih ada silang pendapat di kalangan ulama terhadap status kenabian Zulkifli. Seperti diungkapkan Ibn Jarir dan Ibn Najih meriwayatkan dari Mujahid, ia bukanlah seorang nabi, melainkan seorang yang saleh dan hakim yang adil.

Begitu pula, pandangan Muhammad bin Jarir al Tabari. Ia menganggap Zulkifli adalah orang baik dan sabar yang selalu menolong kaumnya dan membela kebenaran, namun bukan seorang nabi.

Akan tetapi, sebagian ulama dan fukaha berpegang pada penjelasan Alquran akan Zulkifli. Ibn Katsir menyatakan, sanjungan Alquran kepada Zulkifli bersamaan dengan para nabi yang lain. ''Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang nabi,'' kata Ibn Katsir.

Menurut versi lain, ia nabi bagi penduduk Suriah dan sekitarnya. Ia juga membangun Kota Kifl di Irak.

Lantas, siapakah Zulkifli

Sebagian besar literatur sejarah mengukuhkan pendapat Ibn Katsir bahwa dia adalah putra dari Nabi Ayyub. Ibunya bernama Rahmah.

Nama asli Zulkifli adalah Basyar. Basyar-lah satu-satunya yang selamat dari reruntuhan rumah yang menewaskan semua anak Nabi Ayyub.

Dia mewarisi sifat mulia ayahnya, yakni sabar, adil, dan teguh dalam pendirian. ''Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami.'' (QS An Anbiyaa: 85-86).

Ia selalu mampu memegang amanat dan janji. Sejak kecil hingga dewasa, Basyar belum pernah berbohong kepada siapa pun. Semua janji senantiasa ditepati. Kepribadiannya itu menumbuhkan simpati dari banyak orang.

Di samping itu, masyarakat juga mengenalnya sebagai seseorang yang selalu bertingkah laku baik dan benar. Sikap dan pendiriannya tidak mudah goyah.

Ia hidup di sebuah negara yang dipimpin seorang raja yang arif bijaksana. Situs wikipedia menyebutkan sebagai Raja Ilyassa (Nabi Ilyassa AS). Adapun Ibn Katsir menuliskan Raja Al Yasa.

Raja sudah berusia lanjut. Setiap hari, hatinya gelisah karena belum memiliki calon pengganti yang sesuai. Dia pun memutuskan mengadakan semacam sayembara.

Suatu hari, raja mengumpulkan rakyatnya. Dia bertanya, ''Siapakah yang sanggup menerima tiga permintaanku, yakni sanggup berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, dan berlaku sabar (menahan amarah)?''

Tiada seorang pun yang menjawab. Akhirnya, seorang anak muda bernama Basyar mengacungkan tangan. Dengan penuh keyakinan, dia berkata, ''Aku.'' Raja pun menunjuknya sebagai penggantinya. Sejak itulah, ia dipanggil Zulkifli yang artinya sanggup.

Setelah menjadi raja, Zulkifli tetap berlaku sederhana. Ia tak melalaikan janjinya. Di waktu malam, ia beribadah dan di waktu siang berpuasa. Selain itu, ia juga bertindak sebagai hakim yang adil bagi segenap rakyatnya.

Nabi Zulkifli bekerja hampir tidak mengenal waktu, pagi, siang, maupun malam. Seluruh kebutuhan dasar rakyat dipenuhi. Urusan-urusan mereka diselesaikan secara adil, tanpa menimbulkan gejolak.

Namun, kondisi tak selamanya tenteram dan damai. Dikisahkan, suatu ketika terjadi pemberontakan dari yang durhaka kepada Allah. Raja Zulkifli memerintahkan prajurit dan rakyatnya untuk pergi ke medan tempur.

Betapa terkejut rasa melihat tak ada rakyatnya yang berani maju berperang. Mereka takut mati. Mereka hanya mau berperang jika Zulkifli mendoakan kepada Allah agar Allah menjamin hidup mereka.

Raja Zulkifli menyanggupi permintaan itu. Dia pun berdoa kepada Allah, yang segera dijawab Allah SWT. ''Aku telah mengetahui permintaan mereka, dan aku mendengar doamu. Semua itu akan Ku-kabulkan.''

Di bawah lindungan Allah, pasukan dan rakyat Raja Zulkifli menyongsong pertempuran. Kemenangan berhasil diraih. Sesuai janji Allah SWT, tak seorang pun dari mereka yang gugur. [yy/republika]