Balaghah dan Para Penguasa

Kategori: Artikel Islami

Balaghah dan Para Penguasa


Fiqhislam.com - Para penguasa memandang penting soal balaghah. Mereka mendalami dan berupaya menguasainya. Khalifah Al Ma'mun, misalnya, membuat batasan balaghah sambil mengutip ungkapan ayahnya, Khalifah Harun Al-Rasyid. Menurut Al-Ma'mun, balaghah adalah mengatur kalimat sehingga tak kehabisan napas. 

Selain itu, kata Al-Ma'mun, balaghah merupakan upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menyampaikan banyak makna dengan sedikit kata. Bahkan, ada ungkapan yang menyatakan bahwa tak ada sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada sumber kehidupan seefektif balaghah. 

Al-Manshir Abu Thahir Isma'il, seorang khalifah dari Dinasti Fatimiyah, yang berkuasa antara 945 hingga 952 Masehi, dianggap tak hanya menguasai teori, namun merupakan ahli pidato dengan tingkat balaghah yang tinggi. Ia mampu menyusun kata-kata indah dan penuh makna secara spontan. 

Pejabat lain yang juga piawai dalam keindahan bahasa adalah Ismail ibnu Ali, yang mendapat julukan  al-Khuthabi atau si ahli pidato. Ia sangat pandai dalam menyampaikan pidato-pidatonya secara spontan. Sejumlah rekannya menyatakan dalam kemampuanya ini Ali tak memiliki pesaing. 

Sedangkan, seorang keturunan penguasa dari Dinasti Tahiriyah yang bernama Ubaydillah Ibnu Abdullah Ibnu Thahir, selain menguasai balaghah juga menulis buku tentang kajian tersebut. Judul bukunya, Kitab al-Bara'ah wa al-Fashahah atau buku tentang ujaran yang jelas, bagus, dan Indah. 

Ubaydillah merupakan pemimpin besar Dinasti Tahiriyah yang tinggal di istananya di Kota Baghdad. Sebagai seorang sastrawan seperti ayah dan kakeknya yang terkenal, dia juga menulis sebuah kamus biografi para penyair yang berjudul Kitab al-Isyarah (buku tentang ungkapan-ungkapan simbolis).

Buku lainnya adalah Risalah fi al-Siyasah al-Mulukiyyah (risalah tentang politik pemerintahan). Surat-suratnya kepada seorang cendekiawan terkenal bernama Ibnu al-Mu'tazz juga dihimpun dan diterbitkan sebagai sebuah antologi. Ada pula seorang perdana menteri bernama Ibnu Hubayah yang gandrung pada balaghah. 

Hubayah pernah diberi hadiah berupa bak tinta yang terbuat dari kristal bertahtakan permata. Dia merasa sangat terpesona dengan hadiah itu dan mengundang sejumlah penyair untuk menggubah syair mengenai keindahan bak tinta itu. Lalu, datanglah seorang penyair yang membacakan dua bait syair yang berisi pujian.

Tak lama kemudian, muncul penyair terkenal bernama Hays Bays yang menyatakan syair yang dibuat oleh penyair sebelumnya tak berbicara sedikit pun mengenai bak tinta tersebut. Maka, perdana menteri menantangnya untuk membuat syair yang lebih baik

Hays Bays, secara spontan menciptakan dua bait syair yang membandingkan jernihnya kristal dan merahnya batu permata dari bak tinta tersebut dengan hari-hari perang dan damai yang dialami sang perdana menteri. Ia pun memuaskan sang perdana menteri melalui syair yang dibuatnya. [yy/republika]

Balaghah dan Para Penguasa


Fiqhislam.com - Para penguasa memandang penting soal balaghah. Mereka mendalami dan berupaya menguasainya. Khalifah Al Ma'mun, misalnya, membuat batasan balaghah sambil mengutip ungkapan ayahnya, Khalifah Harun Al-Rasyid. Menurut Al-Ma'mun, balaghah adalah mengatur kalimat sehingga tak kehabisan napas. 

Selain itu, kata Al-Ma'mun, balaghah merupakan upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menyampaikan banyak makna dengan sedikit kata. Bahkan, ada ungkapan yang menyatakan bahwa tak ada sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada sumber kehidupan seefektif balaghah. 

Al-Manshir Abu Thahir Isma'il, seorang khalifah dari Dinasti Fatimiyah, yang berkuasa antara 945 hingga 952 Masehi, dianggap tak hanya menguasai teori, namun merupakan ahli pidato dengan tingkat balaghah yang tinggi. Ia mampu menyusun kata-kata indah dan penuh makna secara spontan. 

Pejabat lain yang juga piawai dalam keindahan bahasa adalah Ismail ibnu Ali, yang mendapat julukan  al-Khuthabi atau si ahli pidato. Ia sangat pandai dalam menyampaikan pidato-pidatonya secara spontan. Sejumlah rekannya menyatakan dalam kemampuanya ini Ali tak memiliki pesaing. 

Sedangkan, seorang keturunan penguasa dari Dinasti Tahiriyah yang bernama Ubaydillah Ibnu Abdullah Ibnu Thahir, selain menguasai balaghah juga menulis buku tentang kajian tersebut. Judul bukunya, Kitab al-Bara'ah wa al-Fashahah atau buku tentang ujaran yang jelas, bagus, dan Indah. 

Ubaydillah merupakan pemimpin besar Dinasti Tahiriyah yang tinggal di istananya di Kota Baghdad. Sebagai seorang sastrawan seperti ayah dan kakeknya yang terkenal, dia juga menulis sebuah kamus biografi para penyair yang berjudul Kitab al-Isyarah (buku tentang ungkapan-ungkapan simbolis).

Buku lainnya adalah Risalah fi al-Siyasah al-Mulukiyyah (risalah tentang politik pemerintahan). Surat-suratnya kepada seorang cendekiawan terkenal bernama Ibnu al-Mu'tazz juga dihimpun dan diterbitkan sebagai sebuah antologi. Ada pula seorang perdana menteri bernama Ibnu Hubayah yang gandrung pada balaghah. 

Hubayah pernah diberi hadiah berupa bak tinta yang terbuat dari kristal bertahtakan permata. Dia merasa sangat terpesona dengan hadiah itu dan mengundang sejumlah penyair untuk menggubah syair mengenai keindahan bak tinta itu. Lalu, datanglah seorang penyair yang membacakan dua bait syair yang berisi pujian.

Tak lama kemudian, muncul penyair terkenal bernama Hays Bays yang menyatakan syair yang dibuat oleh penyair sebelumnya tak berbicara sedikit pun mengenai bak tinta tersebut. Maka, perdana menteri menantangnya untuk membuat syair yang lebih baik

Hays Bays, secara spontan menciptakan dua bait syair yang membandingkan jernihnya kristal dan merahnya batu permata dari bak tinta tersebut dengan hari-hari perang dan damai yang dialami sang perdana menteri. Ia pun memuaskan sang perdana menteri melalui syair yang dibuatnya. [yy/republika]

Mengenal Tradisi Balaghah

Mengenal Tradisi Balaghah


Mengenal Tradisi Balaghah


Fiqhislam.com - Keindahan bahasa memikat umat Islam. Ketertarikan ini kemudian mendorong kaum intelektual mengembangkan kajian tersendiri mengenai subjek ini, disebut dengan balaghah. Banyak ilmuwan bermunculan dan menguasai kajian ini dan melahirkan sejumlah karya. 

Balaghah, memiliki makna segala hal yang merujuk pada retorika atau kejelasan dan keindahan bahasa. Hubungan balaghah dengan Alquran sangat erat. Sebab, selama ini Alquran dinilai sebagai puncak balaghah dan menjadi rujukan dalam membuat syair, pidato, dan pengembangan ilmu persuratan atau leksikografi dalam dunia Islam. 

Meskipun Alquran menegaskan bahwa tak akan ada yang mampu menyamai keindahan bahasanya, para intelektual Muslim berupaya menyamainya. Sejumlah penyair Muslim melakukan hal itu, di antaranya Al-Mutanabbi dan Al Ma'arri. Bahkan, keindahan bahasa terkadang membuat orang melupakan penderitaannya. 

Seorang intelektual Muslim di masa pertengahan, Ja'far Yahya ibnu Khalid al-Barmaki, mengungkapkan, balaghah merupakan upaya untuk menyampaikan pemikiran yang baik dan menyatakan banyak hal dengan sedikit kata. Pandangan ini sama seperti yang dilontarkan cendekiawan lainnya, Suraqah al-Bariqi, yang meninggal pada 699 Masehi. 

Saat al-Bariqi ditanya mengapa dirinya tak menyampaikan kata tambahan dalam khutbah resmi, ia menjawab, apabila seseorang telah menyampaikan seluruh gagasan, orang tersebut telah mencapai tujuannya. Dan selebihnya, kata dia, merupakan rekaan. Keindahan bahasa ini, juga tak jarang mewujud sebagai pelipur lara. 

George A Makdisi dalam Cita Humanisme Islam memberikan contoh peristiwa yang terjadi pada 208 Hijriyah atau 823 Masehi. Saat itu, Makkah dilanda banjir besar dan membuat wilayah itu porak-poranda. Khalifah segera mengirimkan bantuan material untuk meringankan beban rakyatnya.  Terselip pula sepucuk surat bela sungkawa. 

Kata-kata indah dalam surat khalifah begitu memesona rakyatnya. Bahkan, mereka lebih memerhatikan kandungan isi surat itu dibandingkan bantuan material yang disampaikan sang khalifah. Di sisi lain, aspek balaghah yang disukai umat Islam tak hanya dalam bentuk tampilan luar seperti susunan kalimat formal, tetapi juga isinya. 

Seorang penyair bernama Al-Asma'i, syairnya dikenal memiliki ketinggian balaghah, tapi tak berisi. Sedangkan  Abu Ubaydah syair-syairnya padat berisi, namun kurang memiliki balaghah. Hal itu juga terlihat pada cendekiawan Muslim, Tsa'lab. Pada zamannya, ia dikenal berilmu tinggi, tapi ia tak bisa menulis dengan balaghah yang tinggi pula.

Bahkan, surat-surat yang dia tulis tidak jauh berbeda dengan surat-surat yang ditulis oleh orang awam. Tak heran, jika Abdul al-Hamid, seorang sekretaris khalifah Dinasti Umayyah yang masyhur, menyatakan, orang yang tak memiliki kemampuan balaghah tak memiliki kebesaran meskipun kedudukannya setinggi langit. [yy/republika]

 

Tags: Balaghah
Download hanya digunakan pada browser eksternal