12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Balaghah dan Para Penguasa

Balaghah dan Para Penguasa


Fiqhislam.com - Para penguasa memandang penting soal balaghah. Mereka mendalami dan berupaya menguasainya. Khalifah Al Ma'mun, misalnya, membuat batasan balaghah sambil mengutip ungkapan ayahnya, Khalifah Harun Al-Rasyid. Menurut Al-Ma'mun, balaghah adalah mengatur kalimat sehingga tak kehabisan napas. 

Selain itu, kata Al-Ma'mun, balaghah merupakan upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan menyampaikan banyak makna dengan sedikit kata. Bahkan, ada ungkapan yang menyatakan bahwa tak ada sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada sumber kehidupan seefektif balaghah. 

Al-Manshir Abu Thahir Isma'il, seorang khalifah dari Dinasti Fatimiyah, yang berkuasa antara 945 hingga 952 Masehi, dianggap tak hanya menguasai teori, namun merupakan ahli pidato dengan tingkat balaghah yang tinggi. Ia mampu menyusun kata-kata indah dan penuh makna secara spontan. 

Pejabat lain yang juga piawai dalam keindahan bahasa adalah Ismail ibnu Ali, yang mendapat julukan  al-Khuthabi atau si ahli pidato. Ia sangat pandai dalam menyampaikan pidato-pidatonya secara spontan. Sejumlah rekannya menyatakan dalam kemampuanya ini Ali tak memiliki pesaing. 

Sedangkan, seorang keturunan penguasa dari Dinasti Tahiriyah yang bernama Ubaydillah Ibnu Abdullah Ibnu Thahir, selain menguasai balaghah juga menulis buku tentang kajian tersebut. Judul bukunya, Kitab al-Bara'ah wa al-Fashahah atau buku tentang ujaran yang jelas, bagus, dan Indah. 

Ubaydillah merupakan pemimpin besar Dinasti Tahiriyah yang tinggal di istananya di Kota Baghdad. Sebagai seorang sastrawan seperti ayah dan kakeknya yang terkenal, dia juga menulis sebuah kamus biografi para penyair yang berjudul Kitab al-Isyarah (buku tentang ungkapan-ungkapan simbolis).

Buku lainnya adalah Risalah fi al-Siyasah al-Mulukiyyah (risalah tentang politik pemerintahan). Surat-suratnya kepada seorang cendekiawan terkenal bernama Ibnu al-Mu'tazz juga dihimpun dan diterbitkan sebagai sebuah antologi. Ada pula seorang perdana menteri bernama Ibnu Hubayah yang gandrung pada balaghah. 

Hubayah pernah diberi hadiah berupa bak tinta yang terbuat dari kristal bertahtakan permata. Dia merasa sangat terpesona dengan hadiah itu dan mengundang sejumlah penyair untuk menggubah syair mengenai keindahan bak tinta itu. Lalu, datanglah seorang penyair yang membacakan dua bait syair yang berisi pujian.

Tak lama kemudian, muncul penyair terkenal bernama Hays Bays yang menyatakan syair yang dibuat oleh penyair sebelumnya tak berbicara sedikit pun mengenai bak tinta tersebut. Maka, perdana menteri menantangnya untuk membuat syair yang lebih baik

Hays Bays, secara spontan menciptakan dua bait syair yang membandingkan jernihnya kristal dan merahnya batu permata dari bak tinta tersebut dengan hari-hari perang dan damai yang dialami sang perdana menteri. Ia pun memuaskan sang perdana menteri melalui syair yang dibuatnya. [yy/republika]

Tags: Balaghah