pustaka.png
basmalah.png


9 Dzulqa'dah 1442  |  Sabtu 19 Juni 2021

Kala Bangkai & Daging Babi Lebih Halal darinya...

Kala Bangkai & Daging Babi Lebih Halal darinya...


Fiqhislam.com - Khalifah bertanya, "Siapakah itu Abu Hazim?" mereka menjawab, "Dialah Salamah bin Dinar, seorang alim, cendekia dan imam di kota Madinah. Beliau termasuk salah satu tabiin yang pernah bersahabat baik dengan beberapa sahabat utama." Khalifah berkata, "Kalau begitu, panggillah beliau kemari, namun berlakulah sopan kepada beliau!" Para pembantu dekat khalifah pun pergi memanggil Salamah bin Dinar. Setelah Abu Hazim datang, khalifah menyambut dan membawanya ke tempat pertemuannya.

Khalifah: "Wahai Abu Hazim, maukah engkau mendampingi kami agar kami bisa mendapatkan sesuatu darimu dan Anda mendapatkan sesuatu dari kami?"
Abu Hazim: "Tidak, wahai Amirul Mukminin."
Khalifah: "Mengapa?"
Abu Hazim: "Saya khawatir kelak akan condong kepada Anda sehingga Allah Subhanahu wa Taala menghukum saya dengan kesulitan di dunia dan siksa di akhirat."
Khalifah: "Utarakanlah kebutuhan Anda kepada kami wahai Abu Hazim."
Abu Hazim tidak menjawab sehingga khalifah mengulangi pertanyaannya: "Wahai Abu Hazim, utarakan hajat-hajatmu, kami akan memenuhi sepenuhnya."
Abu Hazim: "Hajat saya ialah selamat dari api neraka dan masuk surga."
Khalifah: "Itu bukan wewenang kami, wahai Abu Hazim."
Abu Hazim: "Saya tidak memiliki keperluan selain itu wahai amirul Mukminin."
Khalifah: "Wahai Abu Hazim, berdoalah untukku."
Abu Hazim: "Ya Allah, bila hamba-Mu Sulaiman ini adalah orang yang Kau cintai, maka mudahkanlah baginya jalan kebaikan di dunia dan di akhriat, Dan jika dia termasuk musuh-Mu, maka berilah dia hidayah kepada apa yang Engkau sukai dan Engkau ridhai, Amin."
Salah satu hadirin berkata, "Alangkah buruknya perkataanmu tentang Amirul Mukminin. Engkau sebutkan khalifah muslimin barangkali termasuk musuh Allah Subhanahu wa Taala, kamu telah menyakiti perasaannya."
Abu Hazim: "Justru perkataanmu itulah yang buruk. Ketahuilah bahwa Allah telah mengambil janji dari para ulama agar berkata jujur: "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya." (QS. Ali Imran: 187)

Beliau menoleh kepada khalifah seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin umat-umat terdahulu tinggal dalam kebaikan dan kebahagiaan selama para pemimpinnya selalu mendatangi ulama untuk mencari kebenaran pada diri mereka. Kemudian muncullah kaum dari golongan rendah yang mempelajari berbagai ilmu, mendatangi para amir untuk mendapatkan suatu kesenangan dunia. Selanjutnya para amir terebut tak lagi menghiraukan perkataan ulama, maka mereka pun menjadi lemah dan hina di mata Allah Subhanahu wa Taala. Seandainya segolongan ulama itu tidak tamak terhadap apa yang ada di sisi para amir, tentulah amir-amir tersebut akan mendatangi mereka untuk mencari ilmu. Tetapi karena para ulama menginginkan apa yang ada di sisi para amir, maka para amir tak mau lagi menghiraukan ucapannya."

Khalifah: "Anda benar. Tambahkanlah nasihat untukku, wahai Abu Hazim, aku benar-benar tidak mendapati hikmah yang lebih dekat dengan lidahnya daripada Anda."
Abu Hazim: "Bila Anda termasuk orang yang suka menerima nasihat, maka apa yang saya utarakan tadi cukuplah sebagai bekal. Tetapi bila tidak dari golongan itu, maka tidak perlukah aku memanah dengan busur yang tak ada talinya."
Khalifah: "Wahai Abu Hazim, aku berharap Anda mau berwasiat kepadaku."
Abu Hazim: "Baiklah, akan saya katakan dengan ringkas. Agungkanlah Allah Subhanahu wa Taala dan jagalah jangan sampai Dia melihat Anda dalam keadaan yang tidak disukai-Nya dan tetaplah Anda berada di tempat yang diperintahkan-Nya."
Setelah itu, Abu Hazim mengucapkan salam dan mohon diri. Khalifah berkata, "Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan wahai seorang alim yang suka menasihati."

Setibanya di rumah, Abu Hazim mendapati sekantung dinar dari Amirul Mukminin yang disertai surat berbunyi: "Pergunakanlah harta ini, dan bagi Anda masih ada persediaan yang semisalnya di sisiku." Namun beliau mengembalikan harta tersebut disertai surat balasan: "Wahai Amirul Mukminin, saya berlindung kepada Allah apabila pertanyaan-pertanyaan Anda kepada saya hanya Anda anggap iseng dan jawaban saya pun menjadi bathil. Demi Allah saya tidak rela itu terjadi pada diri Anda, lalu bagaimana saya bisa merelakannya untuk diri saya sendiri? Wahai Amirul Mukminin, bila dinar-dinar ini adalah imbalan atas kata-kata yang saya sampaikan kepada Anda, maka memakan bangkai dan daging babi dalam keadaan terpaksa adalah lebih halal daripadanya. Namun apabila ia memang hak saya dari baitul mal muslimin, apakah Anda memberikannya sama besar dengan bagian muslimin yang lainnya?" [yy/inilah]

 

Tags: hikmah | nasehat | nasihat